Lima hal ini tidak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelum melakukan perjalanan. Saya hanya berjalan sendiri dan terus berjalan sejak 1 Januari 2015 hingga Juni 2016 dengan tujuan  ingin keliling Indonesia. Namun, sejatinya berjalan sendiri hanyalah sebagian kecil dari perjalanan panjang yang dilakukan, karena saya selalu mendapat kawan baru dalam perjalanan, dan di tempat yang dituju, jadi tidak benar-benar sendiri. Lalu, kenapa masih disebut perjalanan sendiri? Jawaban yang masuk akal adalah karena saya memulai perjalanan dengan sendiri, dan diakhiri sendiri.  

Jika kamu membaca blog ini sejak dari awal, kamu akan mengetahui perjalanan-perjalanan sendiri yang telah saya lakukan. Jika belum, kamu bisa membacanya setelah menuntaskan tulisan ini. Tulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman dari perjalanan yang telah saya lakukan. Di bawah ini adalah beberapa hal yang baru saya sadari setelah melakukan solo traveling, saya sebut sebagai perjalanan sendiri.

1. Kejadian selama perjalanan berawal dari dalam pikiranmu sendiri

Berjalan sendiri tidaklah semenakutkan yang ada dalam pikiran banyak orang--saya tidak sempat memikirkan perjalanan ini menakutkan. Menurut saya, keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan sendiri itu sama dengan keamanan dan kenyamanan berjalan berdua, bertiga, atau berombongan. Misalnya, teman saya satu rombongan pernah membayar ongkos lebih mahal karena calo di terminal Ubung, Bali, dan teman yang berjalan sendiri pernah dipaksa untuk naik angkutan tertentu di tempat yang sama. Contoh lain satu rombongan wisatawan dari Jakarta kurang menikmati perjalanan sailing trip di Labuan Bajo, karena terjadi perselisihan di antara mereka. Seorang solo traveler susah berbaur dengan peserta sailing trip yang lain, karena itu dia lebih akrab dengan para kru kapal di tempat yang sama. Keamanan dan kenyamanan tidak tergantung pada jumlah orang saat berjalan. Karena kemananan dan kenyamanan tercipta dari pikiran dan perasaanmu saat berjalan.



Sejak awal memulai, saya selalu memelihara pikiran dan perasaan baik terhadap perjalanan yang akan dilakukan. Lebih tepatnya berpraduga baik untuk setiap keadaan yang akan dihadapi dan orang yang akan ditemui. Misalnya, saya yakin akan mendapatkan tumpangan yang tepat ketika hitchhiking. Alhamdulillah selama hitchhiking saya lebih sering dapat tumpangan mobil pribadi dibandingkan truk. Saya yakin akan bertemu orang yang tepat dan baik selama perjalanan. Seperti waktu di Aceh beberapa minggu yang lalu, saya memilih seorang sopir taksi setelah melewati puluhan sopir lain yang menawarkan jasanya. Okie tidak hanya menjadi sopir taksi yang membawa saya dari bandara ke Banda Aceh, tapi juga terasa sebagai guide yang sangat informatif, hingga dia menemani saya ngopi, makan malam, dan mencarikan hotel. Saya sangat yakin pikiran dan praduga baik yang dipelihara sejak awal perjalanan akan menjadi kenyataan pada akhirnya.

2. Perjalanan sendiri bagai duduk di meja rumah makan Padang

Berjalan sendiri itu ibarat kamu duduk di meja rumah makan Padang, piring-piring di depanmu menyajikan gairah perjalanan, kenekatan memulai, ketakutan dan keberanian menjalani kenyataan perjalanan, rasa kagum terhadap hal baru, orang-orang baru yang ditemui, dan tempat yang didatangi, kebebasan menentukan arah langkah, keterbukaan menerima perbedaan, kedewasaan menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan, kebimbangan dan kecanggungan, keakraban dan persaudaraan yang instan, ketabahan menghadapi musibah, ketahanan untuk terus berjalan, dan kedisiplinan untuk mengabadikan perjalanan  dalam gambar, video, serta catatan. Kamu bebas memilih menu yang tersedia dan hanya akan membayar sesuai yang kamu ambil.


Selama perjalanan panjang, salah satu ketakutan terbesar saya telah dihancurkan. Ketakutan pada ketinggian menghantui sejak menyadarinya pada 2007 yang lalu, pada saat mendaki gunung Marapi, di Sumatera Barat. Mendaki gunung Batur, Rinjani, dan Tambora adalah perperangan yang menumpasnya. Melompat di air terjun Benang Stokel di Lombok dan Cunca Wulang di Flores setinggi delapan meter menjadi perayaannya. Dua kali kehilangan dompet dan isinya tidak mengurangi keyakinan saya untuk melanjutkan perjalanan. Tanpa dompet dan kartu-kartu identitas saya bisa menggunakan seluruh transportasi, kecuali kereta api--karena memang tidak ada di Indonesia bagian Timur. Selama berjalanan sendiri, saya telah memilih menu-menu yang tersedia, membayar semuanya, dan menikmati rasanya. Dari semua yang dipilih, ada beberapa yang ingin diulangi, sebagian lain ingin dikenang sebagai cerita saja, karena tidak semua hidangan itu sesuai dengan selera, bukan.


3. Magnet di tubuhmu menjadi lebih kuat saat berjalan sendiri

Hal yang membedakan saat berjalan sendiri dan berombongan adalah magnet dalam diri yang lebih kuat. Magnet yang membuat orang lain mendekat, bertanya, bercerita, dan memberikan bantuan. “Sendirian saja?” inilah pertanyaan yang paling sering diajukan, lalu menjadi awal percakapan. Magnet dalam diri itu akan membawa ke dalam perjalanan baru selanjutnya. Ke rumah-rumah masyarakat, ke perkumpulan-perkumpulan kegiatan, dan ke tempat-tempat yang tidak ada dalam rencana perjalanan sebelumnya.


Ketika mencari tumpangan dari Bali ke Lombok, seorang pengendara motor memberikan motornya untuk dibawa ke Lombok, hingga ditawari menginap di rumahnya. Di Titik Nol Kilometer, Sabang, seorang guide lokal menghampiri saya dengan sapaan "Sendirian saja, bang?". Percakapan lalu mengalir dan esoknya dia menemani saya jalan-jalan di sekitar pulau Weh. Rombongan pejalanpun sering mengajak saya bergabung dengan mereka saat berjalan menuju suatu tempat. Berjalan sendiri tidak akan menjadi benar-benar sendiri karena magnet ditubuhmu akan menarik tubuh-tubuh lain untuk mendekat, dan kaupun tidak sendiri lagi.


4. Saat berjalan sendiri, sebenarnya kami juga sedang berjalan ke dalam diri sendiri

Satu kemewahan yang didapatkan selama berjalan sendiri adalah kamu memiliki banyak waktu dengan dirimu sendiri. Di kursi bus yang menuju ke suatu kota, di atas sepeda motor yang meliuk-liuk mendaki bukit, di puncak gunung saat menikmati matahari terbit, di bibir pantai yang riuh saat matahari akan tenggelam, atau di atas kasur kamar hostel yang tenang menjelang kamu tidur, menjadi waktu terbaik untuk melihat ke dalam diri sendiri. Melihat apa saja yang telah diraih dan bagaimana dirimu meraihnya, merasakan perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam dirimu dan kau tersenyum saat menyadarinya, mengagumi dan memuji diri atas tindakan-tindakan nekat dan gila yang pernah dilakukan, serta menikmati pemahaman-pemahaman baru dan sudut pandang baru dalam caramu melihat dunia.
 

Selama dan setelah perjalanan saya merasa lebih memahami diri sendiri daripada sebelumnya. Memahami kekuatan dan kelemahan yang tidak diketahui sebelumnya. Melihat lebih jelas jalan ke masa depan yang akan ditempuh. Dari perjalanan sendiri sekitar satu setengah tahun, saya bagai melihat diri dari berbagai macam cermin yang disebut pengalaman. Lalu berbenah dengan tujuan-tujuan baru dalam kehidupan.  

5. Semakin lama dan jauh berjalan, kamu akan semakin dekat dengan keluarga dan sahabat

Ribuan kilometer yang menjadi pemisah antara kamu dan keluargamu akan menumbuhkan kehangatan dan keakraban yang lebih dalam hubungan kalian. Pertemuan setelah perjalanan jauh akan tercipta dengan penuh haru dan suka cita.  Pelukan menjadi lebih erat, lebih lama, dan air mata akan mengiringinya. Berbagi cerita perjalanan ke mereka akan banyak menghiasi percakapanmu. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada tingginya antusiasme mereka terhadap cerita-ceritamu.


Ketika pertama kali pulang ke rumah setelah hampir dua tahun tidak pulang, Ibu menyambut saya turun dari mobil. Kami berpelukan dan saya merangkulnya berjalan ke rumah. Di teras rumah saya kembali memeluknya, lebih erat dan lebih lama. Kebahagiaan besar menyelimuti kami berdua. Saya memperhatikan dengan dekat detail wajah Ibu: garis-garis usia di ujung matanya, mendengar udara yang masuk dan keluar tergesa-gesa dari hidungnya, melihat gerak bibirnya yang selalu mendoakan saya setiap selesai sholat, dan mengamati tubuhnya yang tampak makin menua. Saat itu saya merasa harus berbuat lebih banyak untuk kebahagiaan beliau.


Labuan Bajo, 4 April 2017
  
P.S: Tulisan ini adalah penutup cerita perjalanan sendiri yang belum selesai dituliskan semuanya di blog ini. Kelanjutan dari cerita perjalanan setelah dari Perjalanan Bitung - Ternate akan dilanjutkan di buku yang sedang saya tulis. Tabik!


Dalam perjalanan, sepasang datang-pergi akan selalu dilalui. Begitulah setelah sebelas hari di Ternate saya harus pergi. Melanjutkan perjalanan ke Bitung, Sulawesi Utara. Perjalanan menggunakan kapal Ferry yang berangkat sore dan dijadwalkan sampai pagi. Tapi jadwal hanyalah sekadar jadwal. Kanyataan seringkali mengingkarinya.

Menurut jadwalnya, kapal akan berangkat pada jam lima sore. Dua jam sebelumnya saya sudah sampai di pelabuhan, diantar oleh Devanosa. Setelah berjalan bersama sejak dari Raja Ampat, akhirnya kami berpisah di Ternate. Jam empat sore saya masuk ke kapal tanpa ada pemeriksaan di gerbang dermaga. Di dalam kapal, saya menemui Chief atau wakil kapten kapal atas rekomendasi teman kuliah dulunya. Berkat pertemuan itulah perjalanan dari Ternate ke Bitung lancar dari segi biaya. Tapi biaya bukanlah satu-satunya yang membuat lancar perjalanan, bukan.
 
Sunset terakhir di Ternate
Selepas matahari tenggelam dan gelap mulai menyelimuti Ternate kapal baru meninggalkan dermaga. Di awal perjalanan saya menghabiskan nasi bungkus yang dibeli dari pedagang asongan sebelum kapal berangkat. Selepas mengobrol dengan beberapa penumpang di dek, saya kembali ke dek VIP yang dilengkapi pendingin ruangan dan ranjang bertingkat, serta kamar mandi. Saya memilih untuk tidur dan berharap pada saat bangun nanti sudah sampai di Bitung. Ternyata perjalanan dengan kapal Ferry dari Ternate ke Bitung tidak sesingkat tidur malam, seperti seharusnya terjadi.

Jam delapan pagi hari berikutnya, saya mendapati diri masih berada dalam kapal yang sedang diayun gelombang besar laut Maluku. Permukaan laut hilang dan tampak dari jendela kapal, berganti dengan langit kelabu yang menurunkan hujan. Dek kapal tergenang karena air hujan dan tempias gelombang yang menyelinap masuk. “Baru setengah jalan ini, mas” kata seorang kru kapal yang saya tanya kapan kapal ini akan sampai di Bitung “mungkin jam dua baru masuk Bitung”. Saya memesan teh manis hangat dan mengeluarkan roti dari dalam tas. Perjalanan panjang yang belum selesai ini membutuhkan sarapan sebelum menuntaskannya.
    
Gunung Gamalama dari jendela toilet kapal
Beberapa jam berikutnya gelombang besar masih setia mengiringi kapal yang saya tumpangi. Duduk di dek penumpang saya ditawari Cap tikus yang diminum serombongan penumpang untuk membunuh rasa bosan perjalanan. Saya lebih memilih membaca Titik Nol untuk membunuh rasa bosan. Jam dua siang kapal mulai masuk ke Selat Lembeh. Setengah jam berikutnya saya turun dan bertemu Rinto—teman sekontrakan waktu kuliah di Semarang—yang telah menunggu di pelabuhan Bitung.

Jam lapan pagi awak lah ka siko (pelabuhan) tadi” kata Rinto yang artinya jam delapan pagi dia sudah ke pelabuhan untuk menjemput. Cuaca buruk serta gelombang besarlah yang membuat perjalanan ini lebih panjang dari seharusnya. Dari jadwal yang seharusnya sampai jam delapan pagi, kenyataanya molor hingga jam setengah tiga sore. Tapi, kenyataan ini termasuk beruntung, karena pada musim angin barat kapal Ferry tidak bisa berlayar karena cuaca buruk yang dapat menyebabkan hal lebih buruk terjadi.
Monumen Trikora di pulau Lembeh dilihat dari selat Lembeh

Perjalanan laut di Indonesia dengan kapal Ferry kadang memiliki ketidak-pastian lebih besar daripada tranportasi darat. Ketidakpastian jadwal keberangkatan dan kedatangan, serta ketidak pastian berangkat atau tidak. Faktor alam (cuaca dan gelombang), teknis (kondisi kapal), dan ekonomis menjadi penyebabnya. Di beberapa tempat seperti di Labuan Bajo (NTT), Sape (Sumbawa), dan Waekabubak (Sumba) kapal Ferry seringkali tidak jalan karena faktor cuaca, khusunya Sape-Waekabubak atau sebaliknya. Beberapa kali saya alami kapal tidak jalan karena pertimbang ekonomis, yaitu sedikitnya jumlah kendaraan yang akan berangkat hingga tidak mampu menutupi biaya operasional. Karena itu kadang menyeberang dengan kapal Ferry bagaikan menyeberang dengan ketidak-pastian, khususnya di daerah timur Indonesia.

Labuan Bajo, 15 November 2016




“Itu Tidore” telunjuk Acho mengarah pada satu pulau di seberang.
“Dari sini (Ternate) ke Tidore berapa lama?”
“Sepuluh menit”
“Ongkos nyeberangnya?”
“Kalau orangnya saja sepuluh ribu, kalau motor dan orang dua puluh lima ribu”
“Besok ke sana yuk”
“Ayo”

Begitulah percakapan singkat saya dan Acho sehari sebelum kami berangkat ke Tidore. Perjalanan dimulai secara sederhana. Spontan. Tanpa rencana yang njelimet. Perjalanan ini seperti mewakili diri saya. Karena itu tanpa perlu banyak alasan, saya begitu mencintai perjalanan panjang yang telah jadi hidup ini. Tanpa terikat waktu ataupun daftar-daftar tertentu. Saya percaya, di setiap langkahnya, perjalanan akan menyingkapkan misterinya dan memberikan cerita yang berbeda.
 
Pemandangan dari atas benteng Tahula

Menjelang matahari tegak lurus di atas kepala, kami telah sampai di dermaga penyeberangan. Perahu ke Tidore baru akan berangkat jika jumlah motor yang akan mereka angkut telah mencapai 12 unit, motor kami adalah yang pertama mengantri. Tidak sampai setengah jam, dua belas motor sudah terkumpul di bibir dermaga. Hal ini menandakan mobilitas masyarakat Ternate-Tidore atau sebaliknya cukup tinggi.Karena itu ada kabar yang berhembus akan dibangun jembatan yang menghubungkan Ternate dan Tidore. Wow. Keren.

“Tidore itu tidak seramai Ternate” kata-kata Acho sehari sebelumnya terbukti ketika kami melintasi jalanan di Tidore. Jalanan terasa lapang karena jumlah kendaraan yang melintas sedikit. Hal ini membuat berkendara di Tidore terasa sangat nyaman. Di tambah karena kondisi jalan yang mulus, udara segar yang  berhembus dari laut, serta banyak pohon di kiri-kanan jalan. Rasanya seperti berjalan di komplek perumahan mewah. Saya membayangkan nikmatnya bersepeda atau lari di sini.
 
Suasana jalanan di Tidore
Tiba-tiba Acho menghentikan motor di dekat tugu berbentuk buah cengkeh. Tidak terasa kami telah sampai di tujuan pertama,benteng Tahula. Tangga menanjak berwarna hijau dengan kemiringan sekitar tujuh puluh lima derajat harus dilewati untuk sampai di benteng. Butuh perjuangan yang cukup berat untuk melewati tangga ini. Mungkin karena itulah benteng ini dibangun di ketinggian, agar tidak mudah ditaklukkan.

Benteng Tahula selesai dibangun pada 1615 oleh Spanyol dan diberi nama  Santiago de los Caballeros de Tidore.Nama yang bagus, bukan. Terletak di jalan Sultan Syaifuddin, desa Soa Sio, kecamatan Tidore. Benteng ini dibangun untuk melindungi kapal-kapal mereka saat berlabuh di laut Tidore. Setelah Spanyol meninggalkan Tidore, benteng ini dihancurkan oleh Belanda yang berkuasa pada saat itu.Bangunan yang berdiri sekarang adalah hasil renovasi dari sisa benteng yang masih ada. Masih terlihat menarik, namun kabel listrik yang dipasang di bangunan benteng terasa mengganggu keindahannya.
 
Bekas reruntuhan benteng Tahula
Rasa haus datang setelah menjelajahi benteng ini ditengah cuaca panas dan hembusan angin yang menyejukkan. Kami mencari mini market terdekat dan sekalian menjadi titik bertemu dengan Sadam dan Oji—teman Acho. Sadam mengajak ke kebunnya untuk menikmati kelapa muda. Ajakan yang sungguh-sungguh tidak bisa ditolak pada siang yang panas.

Delapan buah kelapa muda berkulit hijau telah menyambut saat kami sampai. Saya memuji pemanjat yang tepat memilih buah kelapa untuk dinikmati. Airnya yang segar dan daging buah yang lembut dapat menjadi pengganti makan siang.
Salah satu mural yang menarik perhantian di Tidore

Obrolan selama menikmati kelapa muda dengan Sadam dan Oji juga sangat membuka wawasan. Selama perjalanan sejak dari dermaga sampai ke kebun ini, saya banyak melihat tampa dudu (tempat duduk) atau pangkalan di kiri-kanan jalan yang dihias dengan gambar dan tulisan menarik. Mulai dari gambar animasi Jepang, bendera negara-negara peserta piala dunia, logo grup band, logo brand pakaian, mural, sampai tulisan kampanye pilkada menghiasi pangkalan-pangkalan itu. Seakan ada kompetisi, setiap pangkalan seperti bersaing menjadi yang terkeren.
“Itu tampa dudu  sudah harga mati di sini, bang. Kalau ada janji bertemu, di sana, kalau ngumpul, di sana.” Sadam menjelaskan perihal pangkalan itu “Kalau ada yang bakulai(berkelahi atau tawuran) itu tampa dudu yang dibakar duluan. Kalau sudah dibakar, itu harga diri sudah diinjak-injak.” lanjut Sadam sambil tertawa. Sayapun ikut tertawa, sambil mencerna kata-katanya yang terakhir.
Tampa dudu yang bertema kampanye 
Setelah dari kebun, Sadam dan Oji menemani kami ke Benteng Torre yang berada di kaki gunung Kie Matubu. Benteng Torre juga telah mengalami renovasi dari kehancurannya yang menyisakan sekitar 30% bangunan aslinya. Benteng ini menghadap ke pulau Halmahera dan memunggungi gunung Kie Matubu. Gunung Moti dan Makeang di sisi kanan terlihat seperti gunung kembar di hamparan biru lautan. Saya menyimpulkan, benteng-benteng di Tidore tidak hanya dibangun untuk bertahan, tapi juga untuk menikmati keindahan alam.
Pemandangan dari benteng Torre
Tentang gunung Kie Matubu, Sadam menceritakan kalau gunung ini tidak bisa didaki oleh sembarangan orang. Izin dari Sohi (kuncen) gunung sangat dibutuhkan. Jika mendaki “ilegal”´bersiaplah menghadapi keadaan yang tidak diinginkan, seperti tertutup kabut selama perjalanan atau angin kencang serta hujan. Konon, begitulah yang telah dialami Oji dan Sadam beberapa kali.
Awan-awan putih yang teronggok dilangit mulai tampak kemerahan. Kami memilih jalan pulang melingkar mengelilingi pulau. Selain tampa dudu, di sepanjang jalan di Tidore banyak sekali masjid. Maklum seluruh penduduknya beragama Islam. Pada saat saya sholat Ashar di salah satu masjid, jamaah dewasanya hanya saya, Sadam dan dua orang anak-anak.Semoga di masjid-masjid yang lain jamaahnya lebih banyak, harapan saya dalam hati.
Sunset yang indah dari Tidore
Ada ketenangan, kedamaian, dan kehangatan di kota kecil ini. Kota kecil yang telah mengambil tempat dalam ruang rindu saya nantinya. Kepada kota kecil Tidore yang sepi, rapi, dan nyaman, saya jatuh hati.
Jumat, 11 Desember 2015. Ternate
         






Gunung Gamalama berselimut kabut saat kapal cepat dari Morotai bersiap merapat ke pelabuhan Ternate subuh itu. Masjid terapung menjadi bangunan yang mencolok dibandingkan bangunan lain di pinggir selat Ternate. Beberapa penumpang berpindah dari kabin ke dek kapal yang terbuka. Untuk menikmati udara sejuk pagi, atau sudah tak sabar inginsegera bertemu seseorang yang menunggu di pelabuhan. Seperti teman seperjalanan saya, Devanosa.
 
Masjid terapung di pinggir selat Ternate
Dua teman kami—Acho dan Ilham—sudah menunggu di pelabuhan. Kami berempat beranjak ke tempat makan untuk sarapan. Setelah itu kami berpisah, saya dan Acho ke rumahnya, Devanosa dan Ilham ke rumah Adi—teman kuliahnya Devanosa sewaktu di Malang.

“Istirahat dulu, kalau capek. Nanti baru kita jalan” tawaran Acho ketika kami sampai di rumahnya.

Siang datang setelah saya selesai menuntaskan tidur yang kurang. Acho pun datang dengan tawarannya mengajak jalan-jalan di daerahnya. Saya katakan kepada Acho ingin di rumah saja dan menulis catatan perjalanan yang terbengkalai. Bukannya tidak menghargai tawaran baik dari seorang teman, tapi hari itu, dan beberapa hari setelahnya saya benar-benar hanya ingin di rumah, ingin menulis,menonton film, membaca buku, atau bermalas-malasan di kamar.
 
Benteng Tolukko
Di Ternate, semangat saya untuk jalan-jalan redup. Tidak seperti semangat ketika baru sampai di Raja Ampat atau di Labuan Bajo. Benteng Tolukko, Kastela, dan Kalamata tidak begitu membuat saya ingin segera mengunjunginya. Ketiga benteng itu merupakan saksi sejarah Ternate yang terkenal karena rempah yang menjadi rebutan kaum penjajah. Dalam waktu yang berbeda, ketiga benteng itu sempat juga dikunjungi, hanya karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Walaupun semangat mengunjunginya seperti bangkit dari tempat tidur saat pagi yang diguyur hujan deras.

Tempat wisata di Ternate yang dikunjungi selanjutnya adalah danau Tolire  dan danau Laguna, selalu ditemani Acho. Danau Tolire adalah danau air tawar berwarna hijau yang memiliki berbagai mitos soal penciptaannya, hingga mitos tentang lempar batu ke dalam danau. Konon, katanya tidak ada yang bisa melempar batu hingga jatuh ke permukaan danau. Pada saat mengunjunginya saya bisa melempar hingga dapat melihat batu itu jatuh ke permukaan air danau. Acho adalah saksi hidupnya. Tapi, saya melempar dari sisi yang latar belakangnya adalah pulau Hiri , bukan dari sisi tempat warung penjual makanan dan batu. Apakah dari sisi ini bisa diterima sebagai suatu keberhasilan?
 
Danau Tolire
Danau Laguna yang terletak di desa Ngade, kelurahan Fitu, Ternate Selatan menjadi tujuan selanjutnya. Danau air tawar ini juga berwarna hijau dengan latar belakang birunya laut dan pulau Maitara dan Tidore, hampir sama dengan danau Tolire yang berlatar belakang birunya laut dan pulau Hiri. Hal inilah yang membuat kedua danau ini disukai oleh para Instagramer karena sangat Instagram-able. Namun, karena semangat saya mengunjunginya biasa-biasa saja, maka foto yang saya didapatpun biasa-biasa saja. Hufftt...
Danau Laguna dengan latar belakang laut dan pulau Tidore dan Maitara

Dalam perjalanan menuju danau Tolire, ada satu objek wisata lain yang dapat disinggahi, yaitu Batu Angus. Batu Angus adalah komplek batu berwarna hitam yang merupakan hasil dari muntahan lava gunung Gamalama yang meletus pada tahun 1673. Sepulang dari Ternate, saya mendapatkan tidak ada foto bagus di tempat ini. Setidaknya tidak punya foto yang layak diposting di Instagram. Saya menyadari hal ini terjadi karena saya belum berdamai dengan perasaan dan keadaan saat mengunjunginya. Keinginan untuk berdiam di kamar lebih besar daripada keinginan untuk jalan-jalan, padahal ke Ternate adalah bagian dari perjalanan.
 
Batu Angus
Perjalanan selanjutnya di Ternate adalah ke teluk Sulamadaha.Perjalanan ini berbeda karena dilakukan bersama rombongan teman-teman Acho. Perjalanan dengan banyak orang dapat membuatnya lebih riang, walaupun juga dapat membuat terlambat karena menunggu beberapa orang. Teluk Sulamadaha memiliki terumbu karang yang terawat, berbagai jenis ikan dan penyu dapat dilihat saat snorkeling. Keunikan dari teluk Sulamadaha adalah dasar lautnya yang bergelombang. Makin ke tengah tidak selalu berarti akan semakin dalam. Di teluk Sulamadaha semangat saya mulai pulih hingga lebih bisa menikmati keadaan. Saya mengerti jika keadaan perasaan adalah awal dari perjalanan yang menyenangkan.



Satu tempat yang wajib dikunjungi di Ternate adalah desa yang menjadi titik pengambilan foto untuk uang kertas seribu rupiah. Dari sini kita akan melihat pulau Tidore dan Maitara yang menjadi latar belakang dari selat Ternate dan kegiatan nelayan di depannya. Ini adalah kali ketiga saya melihat pemandangan yang terdapat di uang kertas yang beredar di Indonesia. Setelah yang pertama di danau Bedugul, Bali, dan kedua di Kelimutu, Flores. Aih...Ternate membuat perjalanan saya genap lima puluh enam ribu.
 
Udah mirip belum?
Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya kepada Acho tentang pulau di seberang.
“Itu pulau Tidore”
“Berapa lama (menyeberang) ke sana?
“Sepuluh menit”
“Besok kita ke sana, yuk” penuh semangat saya mengajak Acho.
“Ayo”

Saya merasakan suatu semangat kembali nyala untuk melakukan perjalanan. Saya tidak tahu apa yang menarik dan akan dikunjungi di Tidore nantinya. Saya hanya ingin malam berlalu secepatnya, agar kami segera dapat mengunjungi pulau yang begitu familiar dalam pelajaran sejarah saat di sekolah dasar.

Ah...kenapa semangat saya kembali nyala pada hari-hari terakhir di Ternate, setelah melewatkan beberapa tempat menarik sebelumnya. Dalam perjalanan panjang ada waktunya untuk tidak ingin melakukan perjalanan. Berdiam diri di kamar dan menghabiskan waktu di depan laptop menjadi sangat menarik. Perjalanan yang telah menjadi hidup ini sepertinya butuh rehat sejenak. Seperti membaca kalimat-kalimat panjang, ada tanda koma dan titik untuk memberi kesempatan mengambil nafas. Mampir di Ternate adalah tanda koma dan titik bagi perjalanan ini.
 
Sunset yang indah di Ternate
Perjalanan akan terasa nikmat dan berarti bukan hanya karena destinasi, jarak, dan waktu. Tapi juga karena perasaan yang mengiringinya. Saya menyadari bahwa membawa perasaan yang riang dan lepas akan mengantarkanmu ke dalam perjalanan yang menyenangkan. Berdamailah dengan perasaan, keadaan, teman, dan harapan sebelum melakukan perjalanan. Karena perjalanan yang menyenangkan tidak hanya karena indahnya suatu tempat, tapi juga karena suasana yang hangat dan perasaan yang tidak terikat.

Perjalanan ke Tidore besok adalah awal dari kalimat baru perjalanan ini. Sudah siapkah kamu lanjut membacanya?

Sabtu, 18 Juni 2016. Batusangkar