Dalam perjalanan, sepasang datang-pergi akan selalu dilalui. Begitulah setelah sebelas hari di Ternate saya harus pergi. Melanjutkan perjalanan ke Bitung, Sulawesi Utara. Perjalanan menggunakan kapal Ferry yang berangkat sore dan dijadwalkan sampai pagi. Tapi jadwal hanyalah sekadar jadwal. Kanyataan seringkali mengingkarinya.

Menurut jadwalnya, kapal akan berangkat pada jam lima sore. Dua jam sebelumnya saya sudah sampai di pelabuhan, diantar oleh Devanosa. Setelah berjalan bersama sejak dari Raja Ampat, akhirnya kami berpisah di Ternate. Jam empat sore saya masuk ke kapal tanpa ada pemeriksaan di gerbang dermaga. Di dalam kapal, saya menemui Chief atau wakil kapten kapal atas rekomendasi teman kuliah dulunya. Berkat pertemuan itulah perjalanan dari Ternate ke Bitung lancar dari segi biaya. Tapi biaya bukanlah satu-satunya yang membuat lancar perjalanan, bukan.
 
Sunset terakhir di Ternate
Selepas matahari tenggelam dan gelap mulai menyelimuti Ternate kapal baru meninggalkan dermaga. Di awal perjalanan saya menghabiskan nasi bungkus yang dibeli dari pedagang asongan sebelum kapal berangkat. Selepas mengobrol dengan beberapa penumpang di dek, saya kembali ke dek VIP yang dilengkapi pendingin ruangan dan ranjang bertingkat, serta kamar mandi. Saya memilih untuk tidur dan berharap pada saat bangun nanti sudah sampai di Bitung. Ternyata perjalanan dengan kapal Ferry dari Ternate ke Bitung tidak sesingkat tidur malam, seperti seharusnya terjadi.

Jam delapan pagi hari berikutnya, saya mendapati diri masih berada dalam kapal yang sedang diayun gelombang besar laut Maluku. Permukaan laut hilang dan tampak dari jendela kapal, berganti dengan langit kelabu yang menurunkan hujan. Dek kapal tergenang karena air hujan dan tempias gelombang yang menyelinap masuk. “Baru setengah jalan ini, mas” kata seorang kru kapal yang saya tanya kapan kapal ini akan sampai di Bitung “mungkin jam dua baru masuk Bitung”. Saya memesan teh manis hangat dan mengeluarkan roti dari dalam tas. Perjalanan panjang yang belum selesai ini membutuhkan sarapan sebelum menuntaskannya.
    
Gunung Gamalama dari jendela toilet kapal
Beberapa jam berikutnya gelombang besar masih setia mengiringi kapal yang saya tumpangi. Duduk di dek penumpang saya ditawari Cap tikus yang diminum serombongan penumpang untuk membunuh rasa bosan perjalanan. Saya lebih memilih membaca Titik Nol untuk membunuh rasa bosan. Jam dua siang kapal mulai masuk ke Selat Lembeh. Setengah jam berikutnya saya turun dan bertemu Rinto—teman sekontrakan waktu kuliah di Semarang—yang telah menunggu di pelabuhan Bitung.

Jam lapan pagi awak lah ka siko (pelabuhan) tadi” kata Rinto yang artinya jam delapan pagi dia sudah ke pelabuhan untuk menjemput. Cuaca buruk serta gelombang besarlah yang membuat perjalanan ini lebih panjang dari seharusnya. Dari jadwal yang seharusnya sampai jam delapan pagi, kenyataanya molor hingga jam setengah tiga sore. Tapi, kenyataan ini termasuk beruntung, karena pada musim angin barat kapal Ferry tidak bisa berlayar karena cuaca buruk yang dapat menyebabkan hal lebih buruk terjadi.
Monumen Trikora di pulau Lembeh dilihat dari selat Lembeh

Perjalanan laut di Indonesia dengan kapal Ferry kadang memiliki ketidak-pastian lebih besar daripada tranportasi darat. Ketidakpastian jadwal keberangkatan dan kedatangan, serta ketidak pastian berangkat atau tidak. Faktor alam (cuaca dan gelombang), teknis (kondisi kapal), dan ekonomis menjadi penyebabnya. Di beberapa tempat seperti di Labuan Bajo (NTT), Sape (Sumbawa), dan Waekabubak (Sumba) kapal Ferry seringkali tidak jalan karena faktor cuaca, khusunya Sape-Waekabubak atau sebaliknya. Beberapa kali saya alami kapal tidak jalan karena pertimbang ekonomis, yaitu sedikitnya jumlah kendaraan yang akan berangkat hingga tidak mampu menutupi biaya operasional. Karena itu kadang menyeberang dengan kapal Ferry bagaikan menyeberang dengan ketidak-pastian, khususnya di daerah timur Indonesia.

Labuan Bajo, 15 November 2016




“Itu Tidore” telunjuk Acho mengarah pada satu pulau di seberang.
“Dari sini (Ternate) ke Tidore berapa lama?”
“Sepuluh menit”
“Ongkos nyeberangnya?”
“Kalau orangnya saja sepuluh ribu, kalau motor dan orang dua puluh lima ribu”
“Besok ke sana yuk”
“Ayo”

Begitulah percakapan singkat saya dan Acho sehari sebelum kami berangkat ke Tidore. Perjalanan dimulai secara sederhana. Spontan. Tanpa rencana yang njelimet. Perjalanan ini seperti mewakili diri saya. Karena itu tanpa perlu banyak alasan, saya begitu mencintai perjalanan panjang yang telah jadi hidup ini. Tanpa terikat waktu ataupun daftar-daftar tertentu. Saya percaya, di setiap langkahnya, perjalanan akan menyingkapkan misterinya dan memberikan cerita yang berbeda.
 
Pemandangan dari atas benteng Tahula

Menjelang matahari tegak lurus di atas kepala, kami telah sampai di dermaga penyeberangan. Perahu ke Tidore baru akan berangkat jika jumlah motor yang akan mereka angkut telah mencapai 12 unit, motor kami adalah yang pertama mengantri. Tidak sampai setengah jam, dua belas motor sudah terkumpul di bibir dermaga. Hal ini menandakan mobilitas masyarakat Ternate-Tidore atau sebaliknya cukup tinggi.Karena itu ada kabar yang berhembus akan dibangun jembatan yang menghubungkan Ternate dan Tidore. Wow. Keren.

“Tidore itu tidak seramai Ternate” kata-kata Acho sehari sebelumnya terbukti ketika kami melintasi jalanan di Tidore. Jalanan terasa lapang karena jumlah kendaraan yang melintas sedikit. Hal ini membuat berkendara di Tidore terasa sangat nyaman. Di tambah karena kondisi jalan yang mulus, udara segar yang  berhembus dari laut, serta banyak pohon di kiri-kanan jalan. Rasanya seperti berjalan di komplek perumahan mewah. Saya membayangkan nikmatnya bersepeda atau lari di sini.
 
Suasana jalanan di Tidore
Tiba-tiba Acho menghentikan motor di dekat tugu berbentuk buah cengkeh. Tidak terasa kami telah sampai di tujuan pertama,benteng Tahula. Tangga menanjak berwarna hijau dengan kemiringan sekitar tujuh puluh lima derajat harus dilewati untuk sampai di benteng. Butuh perjuangan yang cukup berat untuk melewati tangga ini. Mungkin karena itulah benteng ini dibangun di ketinggian, agar tidak mudah ditaklukkan.

Benteng Tahula selesai dibangun pada 1615 oleh Spanyol dan diberi nama  Santiago de los Caballeros de Tidore.Nama yang bagus, bukan. Terletak di jalan Sultan Syaifuddin, desa Soa Sio, kecamatan Tidore. Benteng ini dibangun untuk melindungi kapal-kapal mereka saat berlabuh di laut Tidore. Setelah Spanyol meninggalkan Tidore, benteng ini dihancurkan oleh Belanda yang berkuasa pada saat itu.Bangunan yang berdiri sekarang adalah hasil renovasi dari sisa benteng yang masih ada. Masih terlihat menarik, namun kabel listrik yang dipasang di bangunan benteng terasa mengganggu keindahannya.
 
Bekas reruntuhan benteng Tahula
Rasa haus datang setelah menjelajahi benteng ini ditengah cuaca panas dan hembusan angin yang menyejukkan. Kami mencari mini market terdekat dan sekalian menjadi titik bertemu dengan Sadam dan Oji—teman Acho. Sadam mengajak ke kebunnya untuk menikmati kelapa muda. Ajakan yang sungguh-sungguh tidak bisa ditolak pada siang yang panas.

Delapan buah kelapa muda berkulit hijau telah menyambut saat kami sampai. Saya memuji pemanjat yang tepat memilih buah kelapa untuk dinikmati. Airnya yang segar dan daging buah yang lembut dapat menjadi pengganti makan siang.
Salah satu mural yang menarik perhantian di Tidore

Obrolan selama menikmati kelapa muda dengan Sadam dan Oji juga sangat membuka wawasan. Selama perjalanan sejak dari dermaga sampai ke kebun ini, saya banyak melihat tampa dudu (tempat duduk) atau pangkalan di kiri-kanan jalan yang dihias dengan gambar dan tulisan menarik. Mulai dari gambar animasi Jepang, bendera negara-negara peserta piala dunia, logo grup band, logo brand pakaian, mural, sampai tulisan kampanye pilkada menghiasi pangkalan-pangkalan itu. Seakan ada kompetisi, setiap pangkalan seperti bersaing menjadi yang terkeren.
“Itu tampa dudu  sudah harga mati di sini, bang. Kalau ada janji bertemu, di sana, kalau ngumpul, di sana.” Sadam menjelaskan perihal pangkalan itu “Kalau ada yang bakulai(berkelahi atau tawuran) itu tampa dudu yang dibakar duluan. Kalau sudah dibakar, itu harga diri sudah diinjak-injak.” lanjut Sadam sambil tertawa. Sayapun ikut tertawa, sambil mencerna kata-katanya yang terakhir.
Tampa dudu yang bertema kampanye 
Setelah dari kebun, Sadam dan Oji menemani kami ke Benteng Torre yang berada di kaki gunung Kie Matubu. Benteng Torre juga telah mengalami renovasi dari kehancurannya yang menyisakan sekitar 30% bangunan aslinya. Benteng ini menghadap ke pulau Halmahera dan memunggungi gunung Kie Matubu. Gunung Moti dan Makeang di sisi kanan terlihat seperti gunung kembar di hamparan biru lautan. Saya menyimpulkan, benteng-benteng di Tidore tidak hanya dibangun untuk bertahan, tapi juga untuk menikmati keindahan alam.
Pemandangan dari benteng Torre
Tentang gunung Kie Matubu, Sadam menceritakan kalau gunung ini tidak bisa didaki oleh sembarangan orang. Izin dari Sohi (kuncen) gunung sangat dibutuhkan. Jika mendaki “ilegal”´bersiaplah menghadapi keadaan yang tidak diinginkan, seperti tertutup kabut selama perjalanan atau angin kencang serta hujan. Konon, begitulah yang telah dialami Oji dan Sadam beberapa kali.
Awan-awan putih yang teronggok dilangit mulai tampak kemerahan. Kami memilih jalan pulang melingkar mengelilingi pulau. Selain tampa dudu, di sepanjang jalan di Tidore banyak sekali masjid. Maklum seluruh penduduknya beragama Islam. Pada saat saya sholat Ashar di salah satu masjid, jamaah dewasanya hanya saya, Sadam dan dua orang anak-anak.Semoga di masjid-masjid yang lain jamaahnya lebih banyak, harapan saya dalam hati.
Sunset yang indah dari Tidore
Ada ketenangan, kedamaian, dan kehangatan di kota kecil ini. Kota kecil yang telah mengambil tempat dalam ruang rindu saya nantinya. Kepada kota kecil Tidore yang sepi, rapi, dan nyaman, saya jatuh hati.
Jumat, 11 Desember 2015. Ternate
         






Gunung Gamalama berselimut kabut saat kapal cepat dari Morotai bersiap merapat ke pelabuhan Ternate subuh itu. Masjid terapung menjadi bangunan yang mencolok dibandingkan bangunan lain di pinggir selat Ternate. Beberapa penumpang berpindah dari kabin ke dek kapal yang terbuka. Untuk menikmati udara sejuk pagi, atau sudah tak sabar inginsegera bertemu seseorang yang menunggu di pelabuhan. Seperti teman seperjalanan saya, Devanosa.
 
Masjid terapung di pinggir selat Ternate
Dua teman kami—Acho dan Ilham—sudah menunggu di pelabuhan. Kami berempat beranjak ke tempat makan untuk sarapan. Setelah itu kami berpisah, saya dan Acho ke rumahnya, Devanosa dan Ilham ke rumah Adi—teman kuliahnya Devanosa sewaktu di Malang.

“Istirahat dulu, kalau capek. Nanti baru kita jalan” tawaran Acho ketika kami sampai di rumahnya.

Siang datang setelah saya selesai menuntaskan tidur yang kurang. Acho pun datang dengan tawarannya mengajak jalan-jalan di daerahnya. Saya katakan kepada Acho ingin di rumah saja dan menulis catatan perjalanan yang terbengkalai. Bukannya tidak menghargai tawaran baik dari seorang teman, tapi hari itu, dan beberapa hari setelahnya saya benar-benar hanya ingin di rumah, ingin menulis,menonton film, membaca buku, atau bermalas-malasan di kamar.
 
Benteng Tolukko
Di Ternate, semangat saya untuk jalan-jalan redup. Tidak seperti semangat ketika baru sampai di Raja Ampat atau di Labuan Bajo. Benteng Tolukko, Kastela, dan Kalamata tidak begitu membuat saya ingin segera mengunjunginya. Ketiga benteng itu merupakan saksi sejarah Ternate yang terkenal karena rempah yang menjadi rebutan kaum penjajah. Dalam waktu yang berbeda, ketiga benteng itu sempat juga dikunjungi, hanya karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Walaupun semangat mengunjunginya seperti bangkit dari tempat tidur saat pagi yang diguyur hujan deras.

Tempat wisata di Ternate yang dikunjungi selanjutnya adalah danau Tolire  dan danau Laguna, selalu ditemani Acho. Danau Tolire adalah danau air tawar berwarna hijau yang memiliki berbagai mitos soal penciptaannya, hingga mitos tentang lempar batu ke dalam danau. Konon, katanya tidak ada yang bisa melempar batu hingga jatuh ke permukaan danau. Pada saat mengunjunginya saya bisa melempar hingga dapat melihat batu itu jatuh ke permukaan air danau. Acho adalah saksi hidupnya. Tapi, saya melempar dari sisi yang latar belakangnya adalah pulau Hiri , bukan dari sisi tempat warung penjual makanan dan batu. Apakah dari sisi ini bisa diterima sebagai suatu keberhasilan?
 
Danau Tolire
Danau Laguna yang terletak di desa Ngade, kelurahan Fitu, Ternate Selatan menjadi tujuan selanjutnya. Danau air tawar ini juga berwarna hijau dengan latar belakang birunya laut dan pulau Maitara dan Tidore, hampir sama dengan danau Tolire yang berlatar belakang birunya laut dan pulau Hiri. Hal inilah yang membuat kedua danau ini disukai oleh para Instagramer karena sangat Instagram-able. Namun, karena semangat saya mengunjunginya biasa-biasa saja, maka foto yang saya didapatpun biasa-biasa saja. Hufftt...
Danau Laguna dengan latar belakang laut dan pulau Tidore dan Maitara

Dalam perjalanan menuju danau Tolire, ada satu objek wisata lain yang dapat disinggahi, yaitu Batu Angus. Batu Angus adalah komplek batu berwarna hitam yang merupakan hasil dari muntahan lava gunung Gamalama yang meletus pada tahun 1673. Sepulang dari Ternate, saya mendapatkan tidak ada foto bagus di tempat ini. Setidaknya tidak punya foto yang layak diposting di Instagram. Saya menyadari hal ini terjadi karena saya belum berdamai dengan perasaan dan keadaan saat mengunjunginya. Keinginan untuk berdiam di kamar lebih besar daripada keinginan untuk jalan-jalan, padahal ke Ternate adalah bagian dari perjalanan.
 
Batu Angus
Perjalanan selanjutnya di Ternate adalah ke teluk Sulamadaha.Perjalanan ini berbeda karena dilakukan bersama rombongan teman-teman Acho. Perjalanan dengan banyak orang dapat membuatnya lebih riang, walaupun juga dapat membuat terlambat karena menunggu beberapa orang. Teluk Sulamadaha memiliki terumbu karang yang terawat, berbagai jenis ikan dan penyu dapat dilihat saat snorkeling. Keunikan dari teluk Sulamadaha adalah dasar lautnya yang bergelombang. Makin ke tengah tidak selalu berarti akan semakin dalam. Di teluk Sulamadaha semangat saya mulai pulih hingga lebih bisa menikmati keadaan. Saya mengerti jika keadaan perasaan adalah awal dari perjalanan yang menyenangkan.



Satu tempat yang wajib dikunjungi di Ternate adalah desa yang menjadi titik pengambilan foto untuk uang kertas seribu rupiah. Dari sini kita akan melihat pulau Tidore dan Maitara yang menjadi latar belakang dari selat Ternate dan kegiatan nelayan di depannya. Ini adalah kali ketiga saya melihat pemandangan yang terdapat di uang kertas yang beredar di Indonesia. Setelah yang pertama di danau Bedugul, Bali, dan kedua di Kelimutu, Flores. Aih...Ternate membuat perjalanan saya genap lima puluh enam ribu.
 
Udah mirip belum?
Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya kepada Acho tentang pulau di seberang.
“Itu pulau Tidore”
“Berapa lama (menyeberang) ke sana?
“Sepuluh menit”
“Besok kita ke sana, yuk” penuh semangat saya mengajak Acho.
“Ayo”

Saya merasakan suatu semangat kembali nyala untuk melakukan perjalanan. Saya tidak tahu apa yang menarik dan akan dikunjungi di Tidore nantinya. Saya hanya ingin malam berlalu secepatnya, agar kami segera dapat mengunjungi pulau yang begitu familiar dalam pelajaran sejarah saat di sekolah dasar.

Ah...kenapa semangat saya kembali nyala pada hari-hari terakhir di Ternate, setelah melewatkan beberapa tempat menarik sebelumnya. Dalam perjalanan panjang ada waktunya untuk tidak ingin melakukan perjalanan. Berdiam diri di kamar dan menghabiskan waktu di depan laptop menjadi sangat menarik. Perjalanan yang telah menjadi hidup ini sepertinya butuh rehat sejenak. Seperti membaca kalimat-kalimat panjang, ada tanda koma dan titik untuk memberi kesempatan mengambil nafas. Mampir di Ternate adalah tanda koma dan titik bagi perjalanan ini.
 
Sunset yang indah di Ternate
Perjalanan akan terasa nikmat dan berarti bukan hanya karena destinasi, jarak, dan waktu. Tapi juga karena perasaan yang mengiringinya. Saya menyadari bahwa membawa perasaan yang riang dan lepas akan mengantarkanmu ke dalam perjalanan yang menyenangkan. Berdamailah dengan perasaan, keadaan, teman, dan harapan sebelum melakukan perjalanan. Karena perjalanan yang menyenangkan tidak hanya karena indahnya suatu tempat, tapi juga karena suasana yang hangat dan perasaan yang tidak terikat.

Perjalanan ke Tidore besok adalah awal dari kalimat baru perjalanan ini. Sudah siapkah kamu lanjut membacanya?

Sabtu, 18 Juni 2016. Batusangkar 









Menjelang matahari sejajar kepala, longboat kami telah bergerak meninggalkan kampung Friwen menuju Waisai. Saya dan Deva diantar bapak Hengky dan mama Rana. Permukaan laut bagai hamparan permadani biru saat kami melintasinya. Tenang. Tidak ada gelombang. Bagai suatu salam perpisahan yang syahdu.
 
Siang saat mulai meninggalkan Raja Ampat
Kapal cepat Sorong-Waisai
Peluit kapal cepat Waisai-Sorong bagai seorang perempuan cerewet memanggil penumpang. Walaupun kapal baru bergerak setelah satu jam saya duduk di dalamnya. Sebelum meninggalkan Raja Ampat, demi suatu keafdolan, saya menyempatkan diri berfoto di barisan tulisan “I Raja Ampat” di dekat pelabuhan.
 
Demi suatu keafdolan. Foto I Raja Ampat ada di postingan sebelumnya
Menumpangi kapal Express Bahari kami ke Sorong dua jam berikutnya. Kegiatan selanjutnya adalah membeli tiket kapal Pelni tujuan Sorong-Ternate. Di papan informasi, tercantum nama kapal yang akan kami tumpangi dengan keterangan tiket sudah habis. Ketegangan seperti sedang melakukan pemanasan sebelum menghajar saya dan Deva. Deva dan tukang ojeknya pergi ke agen lain untuk mengadu peruntungan kami. Hasilnya sama. Tiket habis. Huffttt...

Deva kembali mencari agen penjualan tiket yang lain dan saya menunggu di loket penjualan. Niat untuk tinggal lebih lama di Sorong atau naik kapal tanpa tiket menjadi pilihan yang sedang dipertimbangkan. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Deva. “Menurut agen di sini ada kapal sore ini berangkat ke Morotai, tapi tiketnya gak bisa dibeli di sini. Coba lo tanya di sana” pintanya dengan terburu-buru. Saya bergegas ke loket penjualan yang sedang antri dan menjelaskan kalau nama saya sudah dipanggil sebelumnya.

“Pak, tiket kapal ke Morotai masih ada?”
“Ada, sebentar lagi kapalnya berangkat”
“Masih bisa beli tiketnya”
“Bisa, berapa orang?”

Saya membeli dua tiket. Ketika ingin membayarnya, uang di kantong saya tidak cukup. Deva tidak menjawab panggilan telpon. Dia entah ada di mana. Waktu serasa berlari lebih cepat. Saya kembali ke loket penjualan dan menyerahkan semua uang yang ada dan menjanjikan akan segera melunasi. Petugas itu  menahan tiket kami karena pembayarannya belum lunas. Peluit kapal terdengar sampai ke tempat saya berdiri menunggu. Ketegangan makin terasa. Duh...
 
Melintasi jembatan di Pelabuhan Waisai
Beberapa menit berlalu dengan harap-harap cemas. Setengah jam lagi kapal akan berangkat. Deva turun dari ojeknya dan saya langsung meminta uang yang dibutuhkan untuk melunasi tiket. Ketegangan pertama terlewatkan. Tiket sudah di tangan. Fiuh...

Di tiket itu tertera waktu keberangkatan pukul 17.30 WIT. Peluit kapal terus menggema memanggil penumpang. Jam di tangan menunjukkan pukul 17.05.
“Anjriit. Bentar lagi dong. Gue belum makan lagi” gerutu Deva ketika kami meninggalkan loket pembelian tiket.
“Ayo cepat. Cepat. Kapal sudah mau berangkat” kata petugas di tempat pengecekan tiket di pelabuhan. Setengah berlari kami menuju tangga kapal yang mulai lengang penumpang itu. Setengah hati juga saya meninggalkan Sorong tanpa makan nasi Padang terlebih dulu.
 
Bagian belakang kapal Pelni untuk menghirup udara segar bebas asap rokok

Kebijakkan Pelni yang hanya menjual tiket sesuai kapasitas kapal patut diapresiasi. Hal ini dapat mencegah kapal kelebihan penumpang dan mengurangi resiko kecelakaan. Namun, ada hal lain yang masih harus jadi perhatian, yaitu penempatan penumpang berdasarkan nomor ranjang yang tertera di tiket. Karena setiap penumpang bebas memilih tempat sesuai kelasnya, beberapa penumpang mengambil tempat lebih dari yang seharusnya mereka dapatkan. Hal ini juga dimanfaatkan oleh beberapa ABK dan oknum lain untuk memperjual-belikan ranjang yang sebenarnya merupakan hal penumpang.

Kami mengelilingi beberapa dek untuk mencari tempat kosong. Hasilnya nihil. Semua ranjang terisi penuh. Kami datang terlambat. Akhirnya di depan tangga dek 6, di samping pedagang asongan kami menemukan tempat kosong. Di sini, kami merenungi kesalahan, yaitu tidak membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan. Apalagi saat itu mendekati Natal. Banyak penduduk Maluku Utara dan Sulawesi yang pulang kampung untuk merayakan Natal. Kesalahan itu membuat perjalanan kami sedikit berganti arah ke Morotai. Dari Morotai perjalanan ke Ternate dilanjutkan dengan kapal cepat selama satu malam. Kesalahan yang membuat kami membayar hampir dua kali lipat dari biaya normal Sorong-Ternate, dan waktu perjalanan yang lebih lama. Hufft....
 
KM Tatamailau yang membawa kami dari Sorong-Morotai
Setelah menata barang-barang, saya mengeluarkan dua lembar koran dan membentangkannya di lantai. Deva mengeluarkan sarung lalu membentangkan di atasnya. Kami dapat meluruskan badan dengan tenang. Sirkulasi udara di sini sangat baik, karena di kiri-kanan terdapat pintu yang selalu terbuka. Saya merasa tempat ini jauh lebih baik daripada di dalam dek yang penuh asap rokok. Dan, di tempat ini juga cahayanya sangat bagus, hingga kami bisa nyaman membaca dan saya menuntaskan tulisan ini. Tabik !

Minggu, 6 Desember 2015. Di atas KM Tatamailau




Pada suatu pagi yang indah, saya begitu bersemangat mengemas pakaian dan beberapa perlengkapan lain ke dalam dry bag. Devanosa bersama mama Rana--istri bapak Hengky--memasak dan menyiapkan makan ke dalam rantang. Bapak Hengky mengisi penuh dirigen 20 liter dengan bensin dan membawanya ke long boat yang menunggu di depan homestay. Indah dan Verdy—dua teman yang bertemu malam sebelumnya dan sepakat untuk patungan—berjalan ke arah kami dari homestay mereka. Pagi yang cerah, kami bersiap menikmati Raja Ampat yang indah.
 
Matahari tenggelam di Sawingrai
Long boat biru sepanjang lima meter langsung mengarah ke Pasir Timbul. Pulau pasir berwarna putih ini tampak mecolok di tengah biru laut, di sekelilingnya air laut berwarna hijau toska. Kami menikmatinya sejenak di tengah cuaca cerah. Beberapa ekor hiu sirip hitam bermain mendekati long boat. Ke arah utara tampak Pulau Roti yang yang menjadi latar belakang. Di sini juga ada tiga speed boat yang membawa para penyelam untuk beristirahat. Pasir Timbul salah satu tempat favorit di sini, karena letaknya strategis, di antara pulau Mansoar dan pulau Gam.
 
Pasir Timbul dan Pulau Roti
Perjalanan berikutnya dilanjutkan ke Yenbuba. Dermaga kayu yang panjang menjadi objek menarik di permukaan laut. Di tengah dermaga ada bangunan berbentuk rumah yangmenyimpan kotak sumbangan bagi para pengunjung, dengan tarif seiklasnya. Air yang bening menampakkan terumbu karang yang tumbuh rapat di dalamnya dan di tiang-tiang dermaga. Dibandingkan dengan snorkeling di tempat lain, di Yenbuba saya melihat jenis ikan lebih banyak dan ukurannya lebih besar. Begitupun dengan jenis terumbu karangnya yang warna-warni, terpelihara dan sangat minim kerusakan, tumbuh rapat dan sehat. Sungguh pengalaman yang menakjubkan dapat menyaksikan semuanya.
 
Terumbu karang dan ikan di bawah dermaga Yenbuba

Yenbuba

Keindahan yang hampir sama ditemukan saat snorkeling di Sauandarek, Arborek, dan Sawingrai yang menjadi tujuan selanjutnya. Terumbu karang yang tubuh rapat dan sehat, ikan yang banyak dan ukuran mulai dari yang kecil hingga besar. Saya akui memang, bawah laut Raja Ampat adalah keindahan yang dapat melunasi semua biaya yang dikeluarkan untuk menikmatinya.

Keindahan Raja Ampat, baik di atas maupun di bawah lautnya adalah berkah yang tidak ternilai harganya. Keindahan yang dapat membuat setiap orang betah dan ingin berlama-lama dalam menikmatinya. Tapi, keindahan tidak terjadi begitu saja, bukan. Keindahan tidak tercipta karena "sim salabim jadi indah, prok, prok, prok". Keindahan tercipta dan bertahan karena dijaga oleh manusia-manusia yang mencintainya. Seperti keindahan bawah laut Raja Ampat yang dijaga oleh sasi.
 
Ikan yang sangat banyak di daerah yang disasi

Snorkeling tanpa fin yang cukup menguras tenaga karena melawan arus

Sasi adalah suatu tradisi dalam menjaga alam secara turun temurun. Sasi dapat disebut sebagai hukum adat, kearifan lokal, atau kesepakatan bersama masyarakat tentang larangan mengeksploitasi alam—laut dan darat—selama waktu yang telah ditentukan. Sasi dipatuhi, ditaati, dan dijaga bersama dengan tindak, pikir, dan hati.  Ada hukuman tertentu bagi pelanggarnya, seperti sanksi sosial, membayar denda, dipasung, dan lebih parah berupa kutukan, atau mengalami kejadian di luar nalar karena sasi mengandung unsur mistis.

Sasi berlaku selama waktu yang ditentukan, misalnya enam bulan, satu tahun, bahkan ada yang sampai dua tahun. Jika sasi diterapkan di laut, selama waktu yang telah ditentukan tidak boleh mengambil hasil laut di daerah tersebut. Hal yang sama juga terjadi jika sasi diterapkan di darat, misalnya di hutan. Tujuan penerapan sasi adalah menjaga keseimbangan alam setelah hasilnya diambil atau dimanfaatkan. Penerapan sasi di laut akan memberi waktu untuk ikan bertelur dan berkembang biak. Jadi, jika saya menemukan jenis dan jumlah ikan lebih banyak dan ukurannya lebih besar di Raja Ampat, aturan sasi dapat menjadi salah satu alasannya.
 
Bocah-bocah yang turut memelihara keindahan alam dengan mematuhi sasi
Masyarakat di sekitar daerah yang menerapkan sasi akan “memanen” hasil laut ataupun darat setelah sasi berakhir. Waktu memanennya sekitar dua sampai empat minggu saja. Setelah itu, sasi kembali diterapkan. Saya ingat percakapan dengan bocah-bocah di dermaga Sawingrai, ketika kami menikmati keindahan matahari tenggelam di sana.
“Kenapa kalian tidak memancing, adek?” pertanyaan saya kepada mereka yang melihat ikan-ikan bermain di bawah dermaga.
“Tidak boleh tangkap ikan di sini, kakak. Daerah sini disasi” jawaban mereka yang mengandung kesadaran, walaupun usia masih belia. Begitulah masyarakat Raja Ampat mencintai alam tempat mereka tinggal, alam yang memberi mereka kehidupan, kepingan surga yang membuat banyak orang ingin menikmatinya, termasuk kamu, tentunya.
 
Yup!
Jika kamu datang ke Raja Ampat, untuk menikmati keindahan alamnya yang merupakan berkah dari Sang Pencipta dan dijaga oleh masyarakatnya, tapi kamu melakukan pengrusakan di sana. Itu adalah suatu bentuk kekurang-ajaran yang tidak termaafkan.

Selasa, 19 April 2016. Labuan Bajo

 
Karena foto dari saya kurang mampu menunjukkan keindahan bawah lautnya, silahkan cek blog mas Wira yang foto bawah lautnya bagus-bagus Wiranurmansyah





Saya sangat berharap kamu telah membaca menara keindahan di Raja Ampat sebelum membaca tulisan ini.

Keseimbangan diperlukan dalam kehidupan, agar terus berjalan dengan semestinya. Keseimbangan dalam melihat, mengamati, mendengar, dan merasakan dibutuhkan untuk menghasilkan suatu kesimpulan.
 
Menuju Waisai
Untuk menyeimbangkan tulisan tentang keindahan Raja Ampat, saya menuliskan tentang kerasnya kehidupan di sini. Khususnya keras bagi saya sebagai pejalan yang singgah selama enam belas hari di sini. Maaf jika judul artikel ini sedikit berlebihan. Tapi, semoga tidak.

Hari pertama menjejakkan kaki di pulau Gam, Raja Ampat, kondisi saya sakit, karena kelelahan dan vertigo. Saya berlindung dalam kamar yang dipasangi kelambu sepanjang hari, jika keluar ke beranda, obat nyamuk bakar selalu disiapkan. Hal ini untuk melindungi tubuh dari gigitan nyamuk malaria dan agas. Malaria adalah hantu yang bergetayangan di sini. Namun, penduduk di sekitar homestay tampak santai tanpa baju. Mungkin nyamuk di sini lebih menyukai darah pendatang. Padahal hanya telapak tangan dan muka saja yang tidak saya tutupi selama sakit.
 
Nyamuk dan agas juga meninggalkan bekas gigitasn di kakinya
Hari keempat adalah pertama kalinya saya mandi di homestay. Karena homestay tempat saya tinggal belum memiliki kamar mandi dan toilet, pilihannya adalah mandi ke sumur yang agak masuk ke hutan. Tantangan pertama sebelum mandi adalah dikerubungi nyamuk dan agas, apalagi jika mandi sebelum magrib, jumlah mereka semakin banyak. Air sumur yang payau, hingga pengunaan sabun dan shampo dua kali lebih banyak dari biasanya. Dalam keadaan seperti ini, saya membayangkan nikmatnya berdiri di bawah shower atau menimba air sepuasnya dari bak mandi. Begitulah cara saya menikmati keadaan ini.
 
Menimba air untuk masak dan cuci piring
Selama tinggal di sini, saya dan Devanosa—travelmate jalan-jalan gila di Bima-- memasak makanan sendiri untuk dimakan bersama dengan keluarga bapak Hengky pemilik homestay. Untuk berbelanja kebutuhan dapur, kami diantar bapak Hengky dengan long boat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Ikan, Waisai. Perjalanan selama tiga jam pulang pergi itu membutuhkan bensin sekitar 20 liter dengan harga Rp 12.500/liternya. Totalnya butuh Rp 250.000 untuk biaya transportasi ke pasar. Untuk penghematan, kami hanya berbelanja kebutuhan sekali seminggu, atau saat bapak Hengky ada keperluan ke Waisai. Karena hal ini, saya dan Devanosa begitu sedih mendapati tahu dan ikan kering persediaan kami dimakan anjing yang masuk ke dapur.

Di Pasar Ikan, Waisai, saya terkejut ketika mendengar harga-harga barang yang disebutkan pedangang. Satu ikat kecil sayur kangkung, tiga buah terong kecil, dan tomat satu piring kecil harga masing-masingnya Rp 5.000, petai yang seluruh kulitnya sudah menghitam dijual Rp 8.000/papannya, mangga golek ukuran sedang Rp 12.000/buah. Sebagai perbandingan dengan harga barang di pasar tradisional lain yang pernah saya kunjungi, di Sumba tiga ikat besar kangkung dijual Rp 5.000, di Ruteng dengan Rp 10.000 saya dapat delapan papan petai kualitas terbaik, di Labuan Bajo—yang dikenal sebagai tempat dengan harga bahan makanan termahal di Flores—mangga golek ukuran sedang saya beli Rp 5.000/buahnya. Oh, Raja Ampat, alammu adalah kepingan surga di dunia, tapi harga barang-barang di sini neraka, khususnya bagi saya yang sudah setahun berjalan dengan biaya yang terbatas.
 
Belanja ke pasar dengan long boat
Selama ini, kita seringkali mendengar kalau jalan-jalan ke Raja Ampat itu mahal. Benar. Tiket pesawat termurah Jakarta-Sorong pulang-pergi berkisar 3,5-4 juta. Sewa speed boat untuk ke Pianemo kisaran 5-8 juta dan ke Wayag kisaran 12-15 juta. Biaya homestay kisaran 300-450 ribu/orang/malam, sedangkan resort kisaran 600 ribu-1.5 juta/orang/malam. Mahal, bukan? Relatif, tentunya.

Jika kamu setuju harga-harga di atas mahal, sah-sah saja. Ulangilah baca tulisan ini dari atas, setidaknya kamu akan menemukan alasan mahalnya jalan-jalan ke Raja Ampat. Tapi, yakinlah, untuk setiap rupiah yang kamu bayar akan terganti dengan keindahan alamnya.

Kamis, 14 April 2016. Labuan Bajo





Dalam perjalanan, sangat penting mengetahui kapan memulai dan kapan berhenti. Tubuh dan pikiran butuh istirahat dari rutinitas kesibukan, maupun rutinitas kesenangan, seperti jalan-jalan. Agar tidak terkapar di perjalanan, apalagi terkapar di tanah surga. Kan sayang.
 
Pulau Padar
Perjalanan berlayar di gugusan pulau Komodo atau biasa dikenal live on board adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Selama tiga hari dua malam kegiatan akan diisi dengan snorkeling dan trekking. Menikmati keindahan bawah laut yang menawan dan lanskap perbukitan yang indah. Capek dan puas, atau capek tapi puas. Tergantung kamu merasakannya.

Panas matahari yang menjamah kulit adalah hal yang tidak bisa dihindari. Di hari terakhir, kamu akan menyadari jejak cahaya matahari akan terbawa ke kota asalmu. Mungkin sebagai oleh-oleh untuk teman sekantormu, atau sebagai penanda kamu baru saja liburan.
 
Pulau Gusung yang bisa bikin gosong kalau berlama-lama di sini
Tiga hari dua malam berlayar, mulai dari pagi hari pertama selesai malam hari ketiga. Biasanya, hari pertama selesai berlayar adalah untuk beristirahat. Tapi, akhir bulan lalu, kebiasaan itu berubah. Pada tengah malam ketiga, perjalanan dilanjutkan ke Denge—desa terakhir sebelum Waerebo. Pagi hari berikutnya kami sampai setelah menempuh tujuh jam perjalanan dengan mobil dari Labuan Bajo. Setelah sarapan sederhana dengan nasi dan mie rebus telur di rumah pak Blasius, perjalanan dilanjutkan. Trekking selama dua setengah jam menuju Waerebo. Perjalanan baru sedang dimulai.
 
Menikmati matahari padi di Gili Lawa
Di Waerebo, setelah makan siang, saya langsung tertidur pulas hingga sore. Kombinasi capek dan kurang tidur pada malam sebelumnya membuat tidur saat itu begitu nikmat dan cepat terjadi. Esok paginya perjalanan turun dari Waerebo dan pulang ke Bajo. Trekking selama dua jam dilanjutkan perjalanan tujuh jam  dengan mobil. Perjalanan yang cukup panjang. Tapi belum selesai.

Terhitung dari pagi setelah pulang dari Waerebo, hingga lima hari berikutnya berturut-turut, saya kembali berlayar menemani dua rombongan yang melakukan pengambilan foto pre wedding di Pulau Padar dan Gili Lawa. Pengambilan foto jauh lebih lama dan lebih menguras tenaga dibandingkan menemani trip biasa.
 
Gili Lawa
Perjalanan yang panjang untuk pertama kali. Menguras banyak energi. Menguji kemampuan diri. Melampaui batas diri. Bagi saya, perjalanan panjang ini dimanfaatkan untuk keluar dari kebiasaan-kebiasaan, mencoba hal-hal baru, dan melawan ketakutan. Bukankah perjalanan dan pelajaran itu begitu dekat.


Kamis, 7 April 2016. Labuan Bajo

#Langkahjauhtrip