Percayakah jika kamu berada di suatu tempat, kamu serasa berada di tempat lain yang jauh.

Setelah meninggalkan Labuan Bajo, Makassar adalah tujuan selanjutnya. Menjadi kota besar pertama yang saya datangi setelah dua bulan tinggal di Bima dan lima bulan di Labuan Bajo.  Berada di kota besar membuat hal-hal kecil terasa menjadi kejutan, misalnya lampu lalu lintas, kemacetan, mall, bioskop, dan perpustakaan.

Tidak hanya kejutan dari besarnya kota yang saya rasakan, tapi juga dari kegiatan, orang-orang, dan keadaan selama di sini. Hal-hal itu serasa membawa saya kembali ke Semarang, lima tahun yang lalu. Hal pertama yang menjadi pintu pengantar ke masa lalu adalah datang ke perpustakaan Kata Kerja di Wesabbe. Bertemu dan bercerita mengenai buku dan sastra dengan bang Aan Mansyur ditemani kopi hangat. Serta menenggelamkan diri ke dalam buku-buku yang menarik.


Di Kata Kerja orang-orang datang dan pergi, membaca dan meminjam-mengembalikan buku, bercerita dan berdiskusi, beristirahat sejenak dan menginap, atau sekadar menampakkan muka, koran minggu, cerpen, novel, puisi, serta pola hidup nocturnal. Hal ini sangat mirip dengan kehidupan di basecamp komunitas Histeria yang menjadi tempat saya berkegiatan selama di Semarang. Begitupun dengan kelas menulis yang saya ikuti di Kata Kerja, mengingatkan pada kegiatan rutin dalam komunitas Lacikata selama di Semarang. Hal lain yang makin menguatkan adalah nasi telor yang menjadi pilihan makanan saat berhemat. Harga dan cara penyajianpun sama dengan nasi telor yang sering saya makan saat di Semarang. Apakah perjalanan ini mesin waktu?

Akhir minggu pertama di Makassar, saya dua kali menemani Kevin dan teman-temannya latihan di studio band, sebelum mereka tampil sebagai band pembuka di salah salah satu konser. Setelah tampil, nasi kotakpun dibagikan untuk dinikmati bersama. Lagi-lagi ini mengingatkan pada kegiatan-kegiatan selama di Semarang. Dua hari berikutnya, Wuri mengirimkan foto tiket bioskop hasil dari penukaran poin Telkomsel. Hal yang banyak dilakukan mahasiswa pengguna kartu seluler tersebut. Dari poin ini saya dapat menonton di bioskop pertama kalinya perjalanan ini. Sensasinya seperti pertama kali menonton di bioskop dalam hidup. Takjub dengan layar yang lebar dan suara yang menggetarkan ruangan. Jangan-jangan mesin waktu itu benar-benar ada.
 
Mengikuti kelas menulis di Kata Kerja
Di Makassar saya hanya berencana untuk mampir seminggu paling lama, sebelum melanjutkan perjalanan ke Ambon. Rencana tinggal rencana. Keadaan dalam perjalanan seringkali mengingkari rencana yang dibuat sebelumnya. Akhirnya, saya tiga minggu tinggal di kota yang terkenal dengan cotonya ini. Alasan perasaanlah yang menjadi penyebabnya. Hal ini kembali mengingatkan pada kejadian akhir tahun 2010. Perjalanan terjadi atau beralih karena perasaan kepada seseorang. Saya yakin, perjalanan di Makassar seperti berjalan dalam mesin waktu.
Tabik!
 
Yang di sebelah saya adalah penulis puisi-puisi dalam AADC 2
Selasa, 15 Desember 2015. Ternate.







Cahaya kemerahan matahari senja kesulitan menembus awan gelap Toraja sore itu. Dingin mengungkung. Lampu-lampu menyala bagai kunang-kunang yang keluar dari sarang. Rintik-rintik kecil turun dan meninggalkan titik-titik gelap di pakaian. Sebelumnya, di kota yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani ini, kami menuntaskan sholat Ashar di masjid di tengah kota. Cukup mudah menemukan masjid dan warung makan muslim di dalam kota Rantepao. Setelah itu, demi suatu keafdolan kunjungan ke Toraja, kami mendatangi suatu kafe dalam perjalanan pulang.

Di Butang Resto & Cafe kami menikmati sore yang basah dengan pilihan kopi masing-masing. Segelas kopi arabica Toraja dalam cangkir loyang mengeluarkan asap tipis saat dihidangkan. Saya mencium aromanya yang memberikan kehangatan. Rasanya berbeda dengan kopi-kopi yang telah saya nikmati sebelumnya. Rintik-rintik hujan turun makin deras. Biasnya meninggalkan bulir air yang turun berliku-liku kecil di dinding kaca. Kehangatan demi kehangatan dari kopi mengalir melalui tenggorokan. Aih...
 
Deretan Tongkonan di tengah kota Rantepao
Bang Aan Mansyur merekomendasikan saya untuk menikmati kopi Toraja di warung kopi favoritnya. Perjalanan ini menjadi semacam perjalanan dari warung kopi ke warung kopi lainnya. KAA Coffee Shop adalah perhentian kami berikutnya. Ada dua jenis kopi yang terkenal di sini, yaitu Awan dan Sapan. Nama yang diambil dari nama daerah tempat tumbuhnya kopi ini. Setelah bercerita dengan pemilik warungnya, saya mengetahui kalau dua jenis kopi itu pernah diekspor ke luar negeri, dan bapak pemilik warung pernah mendampingi vice president Starbucks berkeliling Toraja dalam penelitiannya. Di sini secangkir kopi dihargai Rp 20.000, dua kali lipat dari harga kopi di kafe pertama.
 
Pilihan kopi dan snack di KAA Coffe Shop. Photo oleh alifwidiarta
Langit Toraja sudah diselimuti gelap seutuhnya. Kami berenam—Saya, Dio, Wuri, Agung, Alif, Rusli—pulang ke Rumah Singgah Toraja milik Agung. Rumah singgah ini diinisiasi untuk membantu penginapan cuma-cuma bagi orang yang ingin mengunjungi Toraja. Rumah ini hanya berjarak sekitar lima menit berkendara dari Kete’ Kesu. Agung yang masih  kuliah di UKI Toraja tinggal sendirian di rumah ini. Jadi bagi yang ingin menginap di sini bisa menghubunginya sejak jauh hari. Setelah sampai di rumah, kopi Toraja kembali hadir di tengah-tengah perbincangan kami pada malam terakhir di sana.

Jam 10 besok paginya kami bersiap meninggalkan Rantepao untuk tujuan selanjutnya, Pare-pare—tempat singgah sebelum ke Makassar. Di pasar Sudu, Enrekkang, sebelum gunung Nona, kami makan siang dengan nasi Padang. Pilihan yang sudah terjamin rasa dan standar harganya.

Gunung Nona, nama aslinya Buttu Kabobong—menurut saya lebih cocok itu disebut bukit, terkenal karena pada satu bagian tebing dan lembahnya mirip vagina. Begitulah cerita dari orang-orang yang saya tanya perihal keunikan dan alasan namanya Nona. Di kafe yang berhadapan langsung dengan tebing dan lembah mirip itu, kami memesan kopi, sebagai alasan agar dapat menikmati suasana dan mengambil beberapa foto. Dua gelas kopi hitam dihargai Rp 15.000 untuk menemani setengah jam kami duduk di sana. Saya rasa tempat ini jadi menarik sebagai tempat singgah dalam perjalanan jauh, bukan karena tujuan utama.
 
Silahkan imajinasikan sendiri bentuknya.
Perjalanan kembali dilanjutkan, dua jam berikutnya kami sampai di Pare-pare. Erwin telah menunggu di depan rumahnya. Di rumahnya kami melepas capek perjalanan dengan bercerita sambil leyeh-leyeh di teras menjelang sore. Setelah itu kami diajak ke salah satu kafe, dengan pemandangan kota Pare-pare di bawahnya. Malam datang dengan kelamnya. Perjalanan selanjutnya ke cakar atau pasar barang-barang seken. “Kalau ke Pare-pare harus singgah ke cakarnya, bang” begitulah pesan seorang teman sewaktu di Makassar.

Memasuki cakar saya tidak punya niatan untuk membeli apapun. Namun barang-barang yang dijual di sana sangat menggoda uang di kantong yang tidak seberapa. Mulai dari sepatu, sarung tangan, ikat pinggang, topi, dan pakaian. Hampir semua barang yang dipajang dalam kondisi bagus dan dijual dengan harga miring. Pada akhirnya saya membeli sneakers Adidas seharga Rp 100.000 dan bucket hat Rp 30.000 serta menyisakan rasa penasaran kepada celana surfing yang ditawarkan Rp 80.000 yang tidak sempat dibeli.
 
Yang butuh cinta sejati, silahkan berdiri di samping laki-laki itu
Sebelum pulang ke rumah, kami mampir lagi ke Monumen Cinta Sejati bapak Habibie dan ibu Ainun untuk menemani Wuri yang belum sempat ke sana. Ketika mengambil foto, saya melihat dan mendengar seseorang memprospek beberapa orang lainnya untuk ikut MLM yang namanya terkenal sekitar tahun 2003. Ternyata masih ada militan-militan penjual mimpi di kota ini. Kami sampai dirumah Erwin, lalu menuntaskan makan malam. Perpaduan capek dan kekenyangan, membuat saya tidur di teras rumah sampai keesokan paginya.

Perjalanan panjang ini melelahkan. Tapi, inilah hidup yang telah saya pilih, berjalan dan terus berjalan. Kesenanganpun dapat melelahkan. Hidup ini selalu rumit, kecuali kamu menganggapnya sederhana. Besok, saya akan berjalan dan terus berjalan lagi.
Tabik!

Senin, 14 Desember 2015. Ternate


  















Bagian Pertama

Bang, tanggal 9 (November)  ada Lovely Toraja dan Rambu Solo. Itulah pesan dari Agus—teman sewaktu di kapal Pelni tujuan Makassar--yang saya terima dua hari sebelum tanggal yang disebutkan. Namun Agus tidak bisa menjelaskan lebih lengkap informasi tentang acara tersebut. Toraja adalah salah satu tempat yang ingin dikunjungi selama di Sulawesi Selatan. Pesan Agus di atas menjadi godaan untuk segera ke sana. Setelah memberitahu Dio, kami langsung memutuskan berangkat ke Toraja pada tanggal itu dengan motor jantan milik kakaknya, Joey. Sedangkan Wuri—teman sewaktu di Labuan Bajo yang juga sedang di Makassar—berangkat dengan bus. 

Kami berangkat pukul 10.30 dari Makassar, saat matahari mulai terasa memanggang kota ini. Dua setengah jam berikutnya kami sampai di Pare-pare. Erwin—teman yang saya temui sewaktu di kampung Komodo—mengajak makan siang di kotanya yang juga merupakan kota kelahiran bapak B.J Habibie. Saling berbagi cerita pengalaman mengisi percakapan kami. Sebelum meninggalkan Pare-pare, kami menyempatkan dulu mengunjungi Monumen Cinta Sejati bapak Habibie dan ibu Ainun.
 
Barisan tengkorak di atas peti kayu berisi jenazah
Selepas magrib hujan turun di Enrekkang. Kami memutuskan berhenti sambil makan malam. Hujan menyisakan gerimis dan tanah basah di permukaan jalan. Perjalanan kembali dilanjutkan. Di Kalosi, di dekat jembatan yang sedang dibangun, motor yang kami tumpangi tiba-tiba saja roboh, bagai banteng kena serangan jantung mendadak. Saya mendapati tubuh terkapar di lumpur, begitupun Dio. Bagian tubuh sebelah kiri penuh lumpur dari bahu sampai ujung kaki. Setelah memastikan tidak ada bagian yang luka, kami tertawa. Entah mengapa, motor jatuh ini terasa lucu, atau mungkin, kami berusaha menghibur diri di tengah tragedi.

Jam menunjukkan angka 21.30 saat kami sampai di Rumah Singgah Toraja, Rantepao. Sambutan hangat kami terima dari Agung—pemilik rumah singgah—dengan kopi Toraja-nya. Wuri yang berangkat naik bus dari Makassar sudah sampai lebih dulu. Dinginnya Toraja kami nikmati dengan kopi dan percakapan yang hangat. Rasa capek dari sebelas jam perjalanan perlahan menguap.
 
Kete' Kesu
Pagi pertama di Toraja kami isi dengan mengunjungi Kete’ Kesu yang ditempuh sepuluh menit dari rumah singgah. Konon, di sini terdapat Tongkonan tertua di Toraja. Agung yang merupakan keluarga besar dari klan pemilik tongkonan ini menjadi pemandu kami. Sekitar sepuluh orang laki-laki tampak sibuk di salah satu tongkonan. “Mereka sedang bikin panggung untuk pesta pernikahan” kata Agung. Lalu kami diajaknya ke museum di tongkonan lainnya.
 
Jangan galau di depan museum, bang.
Koleksi museum itu terdiri dari peralatan pertanian yang digunakan nenek moyang orang Toraja, pakaian, senjata, perhiasan, perlengkapan perang, keramik, uang kuno, patung, kepingan tengkorak, bangkai burung langka yang sudah diawetkan, dan lukisan lelulur mereka. Salah satu hal yang menarik adalah tengkorak babi hutan. Bapak Soni—penjaga museum—menjelaskan kalau tengkorak itu adalah jelmaan setan yang berhasil dikalahkan oleh leluhur mereka. Ketika dipotong, badannya raib begitu saja, dan yang tersisa hanya bagian kepala. “Kalau kamu beruntung, fotonya dapat dilihat nantinya” jawab bapak Soni ketika saya menanyakan apakah tengkorak itu boleh difoto.
Mencoba sumpit Toraja

Di samping museum terdapat galeri yang menjual karya seni asli Toraja. Ukiran di kayu dengan motif tongkonan, kerbau, dan beberapa falsafah hidup suku Toraja dengan warna-warna menarik menggoda indera penglihatan saya. “Ini pakai warna alami dari tanah” kata ibu penjualnya ketika saya melihat ukiran dengan motif menyerupai matahari. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau, misalnya Rp 10.000 untuk 6 buah gantungan kuncil berbentuk tongkonan, dan jam dinding penuh ukiran seharga Rp 150.000.

Komplek pemakaman di dekat tongkonan itu menjadi tujuan kami selanjutnya. Dalam bayangan saya, saya akan melihat puluhan atau ratusan tengkorak tergeletak di dinding-dinding tebing batu yang menciptakan suasana yang meyeramkan. Namun, di awal saya menemukan komplek pemakaman berbentuk rumah batu dan tongkonan dari beton. Kuburan beton yang sangat besar berbentuk tabung melintang dengan bagian atas mengerucut menjadi bagian intinya. Rentangan kedua tangan saya tidak cukup untuk mengukur diameternya. Menurut Agung, tabung beton itu menyimpan jasad-jasad dari keluarga besar yang fotonya dipajang di atas tongkonan.
 
Kuburan di Tongkonan
Bayangan yang hadir dalam kepala saya baru terwujud setelah menaiki tangga beton. Di sebelah kiri, puluhan tengkorak tersimpan dalam peti kayu tua. Beberapa tengkorak disusun di atas batu. Tulang belulang ditumpuk di peti yang terbuka atau di atas tanah. Suasana menyeramkan yang sempat dibayangkan, tidak saya rasakan. Mungkin arwah dari tengkorak-tengkorak itu sudah biasa menerima kunjungan dari tengkorak-tengkorak yang masih dilapisi daging hidup ini.

Agung lalu mengajak kami ke dalam goa di ujung tangga. Di sini ada beberapa peti yang berisi jenazah dan botol-botol minuman serta rokok kegemaran jenazah saat masih hidup. Goa itu dingin, gelap, di lantainya terdapat beberapa genangan air. Stalagtic menghiasi langit-langitnya di antara coretan grafiti asal-asalan. Di tempat seperti ini, masih saja terjadi vandalisme yang merusak keindahan. Seni macam apa yang menjadi landasan mereka, dan kepuasaan macam apa yang mereka dapatkan dengan menuliskan nama, inisial, geng, dan pernyataan perasaan kepada seseorang di tempat ini. Entahlah.
 
Patung-patung kayu dari jenazah yang disimpan di Londa
Gerimis yang turun menutup perjalanan di Kete’ Kesu. Kami melanjutkan perjalanan ke komplek pemakaman Londa. Di sini kami membayar pemandu dengan lampu petromak sebesar Rp 50.000. Dari jauh terlihat peti-peti kayu yang dipasang di dinding batu, dan yang mencolok adalah patung-patung kayu jenazah yang ada di sana. Pemandu membawa kami ke goa yang menyimpan beberapa peti jenazah. Di pintu goa terdapat beberapa peti berukuran kecil. “Peti itu berisi jenazah anak-anak yang telah tumbuh gigi. Kalau yang belum tumbuh gigi disimpan dalam pohon” kata pemandu kami.
 
Pemandu dengan petromaknya
Salah satu peti jenazah di dalam goa tidak memiliki tutup. Tengkorak jenazah itu telihat jelas. Bagian kepalanya tersingkap di antara batang-batang rokok dan kepingan uang receh berwarna perak dan emas. Beberapa saya lihat kepingan Euro 20 cent. Melihat jenazah ini, pikiran saya langsung melayang pada salah satu scene film Pirates Carribean—tengkorak di tengah tumpukan harta karun.
 
Rokok dan uang receh di atas jenazah
Menjelang sore, di bawah langit mendung, kami menyempatkan diri ke Limbong—danau kecil yang dikelilingi tebing batu di puncak bukit. Jalan kecil berkelok-kelok dan tanjakan-turunan curam membawa kami ke sana. Setelah mendaki tangga, kami di sambut lolongan anjing-anjing yang berkeliaran di sana. Danau yang berwarna kehijauan itu tampak tenang di bawah kaput tipis yang menaunginya. Seorang pemancing memeriksa pancing-pancing yang dilepas satu persatu di dekat tebing batu. Menjelang mangrib, suasana di sini makin sendu. Tapi, gerimis perlahan turun, seakan meminta kami untuk segera pulang dan menikmati keindahan lain dari Toraja. Kopi.

Ini adalah bagian pertama dari cerita perjalanan saya ke Toraja. Pada postingan selanjutnya saya akan bercerita tentang kopi Toraja, Rumah Singgah Toraja, keadaan kota, bukit Nona, cakar di Pare dan perjalanan pulang ke Makassar. Tabik!

Sabtu, 5 Desember 2015. Raja Ampat




Bulan terakhir dalam tahun ini mulai merangkak. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi tahun akan berganti. Begitupun perjalanan yang dimulai sejak awal tahun ini akan bisa diingat dengan satuan tahun. Tapi, bukanlah itu hakikatnya, karena hitungan hanyalah sebagai penanda, sedangkan nilai perjalanan jauh lebih berharga.

Sudah sebelas bulan hidup saya melakukan perjalanan ini, dan inilah kehidupan yang saya jalani sampai sekarang: berjalan dan terus berjalan. Rasanya saya masih seperti orang yang berkemas pakaian kemarin, lalu mulai perjalanan hari ini. Gamang.


Selama bulan November, saya telah berpindah dari Labuan Bajo ke Makassar, Makassar ke Ambon, Ambon ke Raja Ampat. Selalu ada perasaan yang berbeda setiap meninggalkan satu tempat. Misalnya, setelah lima bulan di Labuan Bajo, dan hidup nyaman, ada ketakutan baru yang muncul terhadap perjalanan selanjutnya, ada kenekatan yang menciut, serta ada keberanian yang hilang.

Semua ketakutan perlahan lenyap seiring jumlah hari tinggal di Makassar. Kota ini serasa mengembalikan saya kepada kehidupan selama kuliah di Semarang. Setelah beradaptasi dengan cepat, saya mulai menikmatinya, lalu ada semacam keinginan untuk bertahan lebih lama. Beruntung, tiket perjalanan ke Ambon sudah dipesan, yang memaksa untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Berpindah ke Ambon, dan menginap di rumah seorang teman. Semua kenyamanan kembali tersedia. Mulai dari jadwal makan rutin tiga kali sehari, sampai mencuci pakaian dengan mesin. Kehidupan normal kembali dinikmati. Perjalanan ini terasa seperti berpindah dari satu kenyamanan ke kenyamanan selanjutnya.
 
Sebelum berangkat ke Sorong
Perjalanan baru terasa berat saat sakit menimpa tubuh saya sejak awal meninggalkan Ambon. Panas tinggi itu masih terjadi saat sampai di Sorong. Bahkan puncaknya, adalah malam pertama di Raja Ampat. Panas tinggi ini masih mengekang  selama empat hari pertama di Raja Ampat. Tidur lebih banyak mengisi hari-hari. Perihal kenyamanan, semua yang saya dapatkan di tempat sebelumnya, tidak terjadi sini. Sedikit gambaran kehidupan di sini—sebelum saya ceritakan lebih jelas pada postingan berikutnya— adalah mandi dengan air payau, bertahan dari gigitan nyamuk dan agas, memasak makanan sendiri, serta berbelanja sendiri dengan harga yang lumayan tinggi.

Keadaan ini terasa lebih berat ketika dihadapi dengan tubuh yang sakit. Ketakutan lain datang, yaitu malaria. Suatu malam saya bercerita dengan Deva, tentang perjalanan masing-masing dan pandangan kami terhadapnya. Sampai pada satu kesimpulan: memiliki uang yang cukup dan rasa nyaman pada suatu tempat adalah sumber kelemahan terbesar dalam perjalanan.
 
Naik Becak pertama kalinya di Ambon
Sebelum tidur, saya merenungkan kesimpulan kami sebelumnya. Lima bulan di Labuan Bajo dan jumlah uang yang saya miliki saat itu membuat saya “lemah’ daripada sebelumnya. Hingga ketika mulai berpindah, saya harus membangkitkan lagi nyali yang pernah ada. Selain itu, saya juga menyadari ada tiga hal yang dibutuhkan untuk berpindah dan terus berpindah; mental, fisik, dan modal. Ketiga itu sedapat mungkin dalam level terkuat, paling tidak untuk dua hal pertama.


Rabu, 2 Desember 2015. Raja Ampat

Pagi Minggu yang riuh menyambut saya di pelabuhan Pelni Makassar. Para kuli angkut dengan nomor-nomor di rompinya berebutan masuk saat pintu kapal mulai terbuka. Ibu-ibu pedagang asonganpun tak kalah gesit berebut masuk. Para penumpang bergegas turun dengan barang bawaan masing-masing, sebagian besar dijunjung di pundak. Saya mengamati keriuhan ini dari dek luar kapal.
 
Percayalah, modelnya bukan penulis yang sedang frustasi
Setelah semua keriuhan ini berlalu, saya dan tiga orang teman lainnya mulai turun. Tawaran taksi dan ojek kami lewati sampai di ujung jalan di luar pelabuhan. Rizki sudah dijemput pamannya, Agus dijemput temannya, dan bang Sahal sudah berangkat ke hotel setelah memesan tiket ke Selayar, saya memesan coto Makassar kaki lima sambil menunggu Dio menjemput.

Dio langsung membawa saya ke rumahnya di Daeng Tata. “Ko mau ke mana di sini”? tanyanya. “Saya cuma penasaran mau ke Fort Rotterdam”. Siang itu saya habiskan untuk beristirahat di rumahnya. Malam pertama di Makassar saya dibawa ke pantai Losari untuk menikmati pisang epe, bersama Patric dan Joy. Namun pameran lukisan di Makassart Gallery sangat menarik perhatian. Sambil menikmati lukisan yang dipajang di sana, saya mencoba mengingat kapan terakhir melihat pameran lukisan. Sudah lama sekali.
 
Salah satu lukisan yang dipajang di MakassArt Gallery
Suatu pesan yang mendadak mengajak Dio ke Zona Night Club. “Ko mau ikut?” tawarnya. “Mau, sih. Tapi saya gak minum ya”. Setelah menunggu temannya selesai tampil, akhirnya kami bisa masuk. Gemerlap lampu berbagai warna, variasi bunyi musik dari DJ yang sedang tampil, serta bartender yang memainkan botol-botol minuman menyambut tamu datang. Lalu tamu makin banyak datang. Menduduki kursi-kursi bewarna gelap. Sebagian mereka adalah perempuan dengan make up dan pakaian yang menarik mata lelaki. Dalam ingatan kembali muncul pertanyaan “kapan terakhir kali masuk klub malam?”.

Hari berikutnnya saya ditraktir makan Sop Konro Karebossi oleh Sofi-- perempuan manis Makassar yang saya kenal waktu di Labuan Bajo. Makan siang yang nikmat dengan cerita yang hangat. Setelah itu saya dan Dio mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Bangunan pertama yang kami masuki adalah Museum La Galigo dengan membayar Rp 5.000 /orang.
 
Nyaaaam...
Memasuki museum serasa terbawa ke suatu ruang dalam kenangan. Benda-benda yang mengingatkan pada suatu tempat, kejadian, atau waktu tertentu. Namun kenangan yang paling kuat selama berjalan-jalan dalam museum ini adalah: beberapa peralatan pertanian dan pelaminan yang dirasa mirip dengan peralatan dan pelaminan di daerah asal saya, yaitu, Sumatera Barat.

Satu bangunan yang menurut saya unik adalah bangunan bekas gereja yang terletak di tengah-tengah komplek benteng. Dua jendela di dinding dan lorong dengan atap melengkung di bawahnya seolah manjadi dua mata dan mulut yang menganga siap memangsa orang yang masuk ke dalamnya. Di lorong itu terdapat meniatur benteng, beberapa perlengkapan pertanian masa lalu dan benda bersejarah lainnya. Setelah itu saya dan Dio bersantai di ujung benteng arah ke pantai. Duduk di atas dinding tembok yang banyak dihiasi lubang bekas peluru.
Gedung yang senang makan orang

Es kelapa muda di seberang jalan menarik selera kami. Sambil menunggu Iqbal kami menikmati es kelapa muda yang menghadirkan kesegaran. Pertemuan nyata selalu menghadirkan cerita dan kesan lebih banyak daripada mention di media sosial. Entah mengapa, saya sangat menyukai pertemuan nyata dengan siapapun. Termasuk ketika Iqbal—teman di Instagram—mengajak untuk bertemu pertama kalinya.

Menjelang matahari tenggelam di laut Makassar, kami berjalan ke bekas tempat peluncuran kapal Phinisi. Menurut Dio di sana ada beberapa lukisan kapal Phinisi. Hanya ada dua lukisan saat kami sampai di sana. Setelah itu matahari yang hampir hilang dari langit menjadi lebih menarik. Tiba-tiba Dio datang. “Ko harus ke sini. Cepat. Mau ke Bira, kah?”

Dio dan saya ditawari ikut kapal phinisi ke Bira oleh bang Azwar, tukang interior kapal. Pelayaran selama delapan jam yang menarik sudah terbayang dalam pikiran. Namun jadwal keberangkatan belum bisa dipastikan. Diperkirakan minggu ini atau minggu berikutnya. Selama itu kami menunggu dan menanyakan ulang kepada bang Azwar. Kabar yang kami terima selanjutnya, kapal sudah penuh dan kami tidak bisa ikut. Hufffttt...

Keberuntungan berlum berpihak saat ini, namun Toraja menjadi pengganti yang sangat menarik dalam perjalanan ini. Ceritanya pada postingan selanjutnya.

Sabtu, 28 November 2015. Raja Ampat










Setelah hampir 5 bulan tinggal di Labuan Bajo perjalanan kembali dilanjutkan. Rute perjalanan kembali ke awal, di mana sebelumnya berniat ingin melanjutkan ke Alor. Makassar adalah tujuan berikutnya. Tiket kapal Wilis yang akan membawa ke sana sudah didapat. Di tiket tertera jadwal keberangkatan jam 14.30. saya sampai di Labuan Bajo setelah perjalanan panjang ke Kelimutu jam 13.30.

Segala kesibukkan dan ketegangan berkumpul dalam pikiran dan tindakan. Pamitan dengan teman dan keluarga-keluarga baru di Bajo dilakukan dengan terburu-buru, sambil menyempatkan membeli kenangan buat Haji Radi, orang tua angkat selama di Labuan Bajo. Jam di tangan menunjukkan pukul 14.30.
 
Sunset di dermaga kayu Labuan Bajo
Kapal masuknya telat, kemungkinan jam setengah 4 baru masuk. Pesan dari bang Sahal setelah mengecek jadwal kedatangan kapal ke dermaga. Saya tinggalkan ponsel sambil dicas. Lalu berbaring di lantai. Dalam waktu singkat langsung tertidur.

Setengah jam berikutnya saya terbangun. Rasa capek di tubuh menguap. Setelah pamitan penuh emosional dengan Haji Radi, saya naik ojek ke pelabuhan. Di perjalanan bertemu Ovela dan Asti, dua orang teman di Bajo, dan menyempatkan diri minum kopi di kost mereka. Klakson kapal yang menggema mengakhiri acara minum kopi. Saya bergegas ke dermaga di antar mereka berdua.

Satu kejadian menegangkan terjadi. Bang Sahal yang saya kira sudah di kapal ternyata masih di Tourist Information Center. Tali-tali pengikat kapal ke dermaga sudah dilepas. Kapal mulai bergerak perlahan. Saya melihat bang Sahal di pintu masuk pelabuhan berlari dengan carrier besar dipunggungnya. Setelah sampai di dermaga, beliau hanya pasrah melihat kapal yang sudah menjauh dari dermaga. Beberapa orang berteriak dengan nada pesimis. Lalu beliau lari ke sisi dermaga lainnya diikuti beberapa orang. Satu kapal kayu yang baru bersandar mengantarkannya ke kapal Pelni di tengah laut. Melewati tangga tali, bang Sahal akhirnya sampai di kapal. Ketegangan ini berakhir saat cahaya matahari di Labuan Bajo merah keemasan melapisi permukaan laut.
 
Bang Sahal di atas kapal yang mengantarnya ke kapal Wilis (Pelni)
Di atas kapal, saya bertemu dengan Agus dan Rizki. Mereka berjalan sendiri juga, seperti saya dan bang Sahal. Keakraban terjadi dengan cepat. Cerita saling bertukar di antara kami, diselingi canda dan tawa. Jatah makan malam kami di kapal sudah tidak tersedia, karena batas pengambilannya jam 5 sore. Akhirnya kami berempat membeli nasi kotak di dapur kapal seharga Rp 15.000. Harganya sebanding dengan rasanya. Makan malam yang enak menjadi pengantar yang tepat untuk tidur nyenyak.

Menjelang subuh kapal bersandar di pelabuhan Bima. Air hangat yang tersedia di kapal membuat tubuh terasa segar setelah mandi. Saya turun ke dermaga dan menunggu pak Jay, keluarga sewaktu di Bima. “Kurus sekarang, ya” kesan pertama yang meluncur dari beliau. “Nggak, pak. Mungkin karena rambut yang makin gondrong, jadi kelihatan kurus”. Setelah bercerita beberapa hal, kami berpisah. Kapal bergerak ke tujuan berikutnya. Makassar.
 
Makassar, bukan sekadar singgah, tapi tujuan
Langit kemerahan menyelimuti Makassar. Matahari lahir secara perlahan dan menunjukkan cahaya kekuningan. Dari pengeras suara di kapal terdengar “Satu jam lagi kapal akan bersandar”. Saya, bang Sahal, Rizki, dan Agus berkemas dan menunggu kapal bersandar di luar dek. Dalam hati, Makassar bukanlah sebagai tempat singgah sebelum ke Ambon. Tapi, Makassar adalah tujuan untuk...


Selasa, 24 November 2015. Di atas Kapal Gunung Dempo










Oktober berlalu dengan kewaspadaan. Tindakan-tindakan baru yang memiliki resiko telah dipilih. Bagaimanapun langkah telah diayun dan menunggu untuk terus dilanjutkan.

Pada bulan kesembilan perjalanan, kegiatan mengajar sukarela di kampung Komodo telah selesai. Pada bulan ini saya menyelenggarakan Open Trip untuk menikmati keindahan gugusan pulau Komodo. Kegiatan yang dinamai Langkahjauh Trip ini tidak pernah terpikir sebelumnya. Berteman dengan bang Reno (@dolankarokonco), bang Ari (kapten kapal Surya Indah) serta beberapa kali mendamping rombongan trip di Labuan Bajo membuat saya belajar mengelola trip dan memutuskan untuk menyelenggarakan trip sendiri.
 
Langkahjauh Trip kedua di Gili Lawa Darat
Trip yang rencananya hanya sekali pada tanggal 15-17 Oktober saja, menjadi bertambah dengan tanggal 9-11 Oktober. Tentu saja ini adalah suatu kejutan dan limpahan rezeki. Setengah dari peserta trip ini merupakan hasil rekomendasi dari teman-teman yang pernah saya temui selama di Labuan Bajo. Dua kali Langkahjauh Trip lancar tanpa kendala sama sekali.

Menyelenggarakan trip tentu saja memiliki resiko, misal: trip batal karena peserta tidak mencapai kuota minimal, kecelakaan selama perjalanan, dan ekspektasi peserta yang tidak terpenuhi. Saya bersyukur pengalaman kerja di bidang penjualan dan pemasaran sangat membantu dari sebelum, selama dan sesudah trip dilaksanakan. Selain itu enam kali mendampingi trip sebelumnya juga sangat membantu dalam penguasaan lapangan dan kemungkinan yang akan terjadi selama perjalanan.
 
Kebersamaan di Pulau Gusung
Minggu terakhir bulan Oktober saya dan bang Sahal memutuskan ke Kelimutu menggunakan sepeda motor. Perjalanan pulang pergi sejauh lebih kurang 1.000 kilometer ini dilaksanakan pada waktu Operasi Zebra oleh kepolisian yang konon katanya diselenggarakan di seluruh Indonesia. Saya tidak memiliki SIM sejak kehilangan dompet bulan Mei yang lalu. Karena itu setiap masuk kota, motor dikendarai oleh bang Sahal.
 
Kelimutu
Perjalanan ini sudah dibayangi resiko bahkan sebelum memulainya. Resiko demi resiko selalu lahir dari setiap tindakan. Beruntung perbandingannya wajar antara ukuran resiko dan kepuasaan dari tindakan yang dipilih. Berjalananlah terus, teruslah berjalan.


Jumat, 20 November 2015. Warung Sibu-Sibu, Ambon


Bagian terakhir

Kelimut-Labuan Bajo

Seperti datangnya kesialan, keberuntungan datang dari jalan-jalan yang penuh misteri.


Kelimutu pagi itu tampak begitu segar. Udara yang dingin dan bersih, tetumbuhan hijau tumbuh rapat dan cahaya matahari yang mulai hangat. Semua keindahan harus ditinggalkan. Menjelang jam tujuh pagi saya dan bang Sahal mulai turun. Kami bergegas agar dapat sampai di KM 19 sebelum jalan itu ditutup untuk perbaikan.

Teh hangat dan jahe serta beberapa potong biskuit cukup sebagai sarapan. Setelah mengambil tas yang dititipkan di warung dekat gerbang masuk kami langsung meluncur ke Ende. Jalan penuh liku dan menurun itu terasa sepi. Motor dapat dipacu secepatnya. Jam di tangan menunjukkan pukul delapan. Bagian jalan yang ditutup masih jauh di depan.”Kalau nggak dapat ya gak apa-apa. Kita tunggu sampai jam 9 aja” kata bang Sahal dari belakang.
 
Gunung Inerie
Kabar yang kami terima jalan mulai ditutup jam 8 dan baru dibuka sejam berikutnya. Motor terus melaju dan sesekali berpapasan dengan kendaraan lain. Jam 08.15 kami sampai di bagian jalan yang ditutup. Seorang pekerja tampak berjalan membawa bambu panjang dan bersiap melintangkannya di jalan. Kami berjalan pelan melewatinya, ternyata kami adalah kendaraan terakhir yang diijinkan melintas. Beruntung.

Satu jam berikutnya kami sampai di kota Ende. Sop buntut seharga Rp 25.000,- seporsi menjadi pilihan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan selanjutnya ke desa Bena.  Sebelum sampai di Bena kami berhenti di panorama Manulalu untuk mengambil foto dan melihat keindahan gunung Inerie dan beberapa kampung adat yang kelihatan dari sana.
 
Panorama Manulalu
Panas terik jam 1 siang menyambut kami di kampung adat Bena. Saya menuliskan nama di buku pengunjung dan memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak yang tersedia di sana. Mama Anastasia yang pada hari itu bertugas menceritakan perihal kampung Bena dan kehidupan masyarakatnya. “Rumah baru itu” dia menunjuk rumah kayu di seberang pos pendaftaran “tahun depan akan diupacarakan. Puluhan babi dan kerbau akan dipotong untuk meresmikannya nanti”. Namun mama Anastasia belum tahu tanggal dan bulan pastinya upacara perayaannya.
 
Kampung Bena
Selain melihat kehidupan masyarakat di kampung Bena yang sudah akrab dengan modernisasi dan kemajuan teknologi, seperti penggunaan peralatan elektronik di dalam rumah dan anak-anak mudanya yang melanjutkan pendidikan ke kota-kota besar, saya menghitung banyaknya rahang babi dan tanduk kerbau yang dipasang di depan rumah. Rumah di ujung yang sejajar kapela memiliki 22 tanduk kerbau di dindingnya dan inilah yang terbanyak. Bisa dihitung berapa biaya upacaranya. “Kerbau biasanya dipakai untuk upacara seharga 17-25 juta/ekor dan babi 6-8 juta/ekor” kata mama Anastasia.
 
Kumpulan rahang babi yang dipotong untuk upacara peresmian rumah 

Kumpulan tanduk kerbau yang dipotong untuk upacara peresmian rumah

Setelah dari kampung Bena kami menuju ke Bajawa. Namun jalan yang diambil malah ke kampung lain yang berujung jalan buntu. Sekitar satu jam waktu terbuang karena tersasar. Jam 3 sore kami sampai di Bajawa dan mencari warung nasi Padang di dekat masjid. Setelah makan dan sholat, perjalanan dilanjutkan ke Ruteng yang seharusnya dapat ditempuh sekitar empat jam. Namun di Borong ban motor bocor. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Kami membayar biaya tambal hanya sebesar Rp 10.000,- padahal saya sempat mengira bakal dikasih harga dua kali lipat.

Sekitar 200 meter sebelum lampu merah pertama di kota Ruteng ban motor kembali bocor. Udara dingin seperti menidurkan lebih cepat kota ini. Jalanan sepi dan tidak ada lagi tambal ban yang buka padahal baru jam setengah sepuluh. Setelah mendorong sekitar satu kilometer kami berhenti di warung lalapan di dekat masjid dan memesan makanan. Harga makanan di warung ini membuat saya dan bang Sahal tersenyum kecut, seporsi nasi dan sepotong kecil ayam dihargai Rp 30.000. Masjid terdekat menjadi pilihan menginap. Beruntung sekali takmir masjidnya sangat ramah dan mengijinkan kami tidur di sana sampai esok paginya.

Sambil menunggu ban dalam motor diganti kami sarapan di Kopi Mane di belakang masjid. Menikmati sop buntut dan kopi arabica setempat yang baru saja mendapat juara 1 dalam festival kopi di Jogja beberapa waktu sebelumnya. Kopi nikmat ini diolah langsung oleh si pemilik kafe dengan menyediakan gula merah dan gula putih sebagai pemanisnya. Kopi seharga Rp 10.000,-/cangkir ini membuat pagi terasa lebih bersemangat.
 
Sawah hijau subur dengan latar belakang bukit kerontang di Lembor
Empat jam perjalanan Ruteng-Labuan Bajo menurut saya sangat unik. Sepanjang perjalanan saya merasakan perbedaan suhu dari satu tempat dengan tempat lain yang berdekatan. Misalnya daerah Lembor yang hijau dan bersuhu dingin akan sangat berbeda dengan daerah setelahnya yang kerontang dan panas. Padahal ketinggian dan kontur tanahnya tidak jauh berbeda. Jadi selama perjalanan akan melihat daerah yang hijau subur, lalu tiba-tiba masuk daerah yang kerontang berwarna kecoklatan.

Dalam perjalanan pulang saya tiba-tiba menghentikan motor di kampung Roe. Ada keramaian yang menarik di pinggir jalan. Keramaian itu adalah pertunjukkan tari Caci dalam rangka acara Ta’a nggolo atau mengikat kebersamaan sesama masyarakat kampung Roe. Sekitar 15 orang laki-laki berdiri melingkar dan berputar sambil bernyanyi bersama bersuka cita. Teko berisi sopi (arak khas Flores) diedarkan ke beberapa penari. “Biar tidak sakit saat kena cambuk nanti” kata seorang bapak di samping saya yang sempat menawarkan sopi.
 
Penari Caci yang berbahagia

Tari Cari salah satu pertunjukkan yang menarik di Flores di mana dua orang penari berlaga. Satu menyerang dan satu lagi menahan secara bergantian. Bagian tubuh yang boleh dipukul dari pinggang ke atas. Tidak jarang bekas pukulan cambuk meninggalkan goresan luka dari kulit yang terkelupas di punggung penari. Dapat melihat pertunjukkan tari Caci dengan cuma-cuma bagai suatu keberuntungan besar yang kami alami. Bahkan salah satu panitia menahan kami pulang setelah acara makan siang bersama. Konon mereka telah memotong kerbau untuk acara ini.
 
Perhatikan ujung cambuk yang tepat di pinggang penari sebelah kiri
Salah satu jejak cambuk di punggung salah seorang penari

Setelah berpamitan untuk pulang saya langsung menuju ke parkiran dan mendapati ban motor kembali kempes. Karena yakin ini hanya bocor halus, saya mencari tambal ban terdekat dan segera mengisi angin. Konsekuensi dari hal ini adalah setiap 15 menit sebelum sampai di Labuan Bajo kami harus mengisi angin. Total tiga kali mengisi angin hingga akhirnya sampai di Labuan Bajo jam 13.30. Jadwal keberangkatan kapal ke Makassar jam 14.30. Saya belum menyiapkan apapun. Fiuuuuhh..

Rabu, 18 November 2015. Makassar

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tulisan di bawah ini










Bagian Kedua: Sosok Hitam Bisu di Kelimutu


Setelah makan siang dengan nasi Padang dan minum es kelapa di tengah panasnya suhu kota Ende kami melanjutkan perjalanan ke danau Kelimutu. Sekitar setengah jam selepas kota Ende perjalanan harus terhenti karena penutupan jalan yang sedang diperbaiki sehabis longsor. Beruntung perjalanan hanya tertunda selama tujuh menit, karena tepat pada jam 3 penutup jalan dibuka.

Melintasi jalan menanjak-menurun yang berliku-liku sepanjang perjalanan ke Kelimutu mengingatkan saya pada jalanan di Sumatera yang hampir sama karakternya. Namun jalan di Flores menurut saya lebih berat karena tikungan tajam yang sangat banyak dan sedikit sekali jalan lurusnya. Jam 4 sore kami sampai di pos pendaftaran sebelum memasuki danau Kelimutu.
“Kita sudah hampir tutup, kalau mau naik, sebelum gelap sudah harus turun. Kalau malam di atas harus steril dari pengunjung” kata petugas tiket mengingatkan kami.


Setelah mendaki sekitar sepuluh menit dari area parkir, kami sampai di view point dua danau. Namun view point tiga danaulah yang lebih menarik. Beberapa ekor monyet mengawasi dan mengintai sebelum sampai di sana, karena bungkusan keripik pisang di tangan bang Sahal.

Sesampainya di lokasi view point tiga danau, saya mengamati Tiwu Ata Polo atau Danau Merah yang letaknya terpisah sendiri. Tampak jauh di bawah, warna airnya merah kehitaman, pohon-pohon menjulang tinggi di setengah bagian pinggirnya, serta kabut tipis menggantung di atasnya. Kesan suram muncul ketika mengamatinya lebih lama, danau ini dipercaya tempat bersemayam arwah yang ketika hidup di dunia tidak berlaku baik. 
Tiwu Ata Polo

Setelah itu saya menikmati Tiwu Nua Muri Koo Fai atau Danau Hijau di sisi Timur. Saat di sana warna yang kami lihat adalah hijau tosca, menggemaskan bagai melihat anak kecil yang baru tumbuh gigi tertawa. Danau Hijau ini diyakini menjadi tempat bersemayamnya arwah anak-anak kecil yang meninggal.
 
Tiwu Nua Muri Koo Fai
Cahaya matahari mulai kekuningan dan kami turun menuju view point dua danau. Dari sini Tiwu Ata Mbupu atau Danau Biru dapat dilihat dari dekat. Danau ini begitu tenang dan menenangkan, bagai melihat seorang biksu yang sedang bertapa. Sementara mata saya terpaku pada permukaan danau yang pada saat itu berwarna hijau tua, tubuh membisu diterpa angin sejuk. Syahdu.
 
Tiwu Ata Mbupu
Setelah itu saya mendaki ke sisi kanan danau, melewati plang dengan tulisan “landslip” dengan niat dalam hati mendapatkan sudut pandang lain untuk menikmati dua danau ini. Awal perjalanan terasa lancar melewati jalanan tanah bergunduk-gunduk. Saya mencari jalan pintas ketika turun. Melewati jalan berbatu yang cukup curam. Ketika sampai di pinggir jalan yang dituju, tebing yang memisahkan kami tingginya sekitar tiga meter. Tidak ada yang lebih rendah dan saya terjebak di bagian yang curam.

Keringat mulai keluar diiringi rasa panik. Bekas pohon yang patah saat saya tergelincir menciptakan teror tersendiri. Saya berbalik mendaki tebing yang berbatu. Pada suatu langkah, jantung berdetak lebih kencang dan keringat mengalir lebih deras. Tanah yang saya injak bergoyang dan secepatnya mencari tempat berpegang. Jika terjatuh, bisa saja kecelakaan fatal akan dialami. Saya menyesal melanggar peringatan yang sudah tertulis dan terpampang di sana.

Saya merasa tenang setelah dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Di kejauhan, di ujung bukit antara Danau Biru dan Danau Hijau saya melihat sesosok hitam yang sedang duduk. Saya mecoba mengingat apakah melihatnya sebelumnya, namun tidak terlacak, lalu berpikir apakah ini hanya ilusi. Mata ditajamkan untuk melihat sosok diam yang bagai terserap menikmati suasana danau Kelimutu menjelang sore. Usaha untuk memastikan sosok hitam diam itu sia-sia karena jarak membentang di antara kami. Saya memelihara pikiran baik dan terus berjalan pulang.
 
View Point tiga danau
Jalanan menjelang pos Badan Taman  Nasional Kelimutu begitu lengang, suara binatang hutan mulai terdengar satu-satu. Kami berhenti di warung yang terletak persis di depan gerbang kantor BTNK dan memesan teh hangat dan Pop Mie sambil berbincang-bincang dengan beberapa petugas di sana.
“Nginap di mana mas malam ini?” tanya seorang petugas.
“Belum dapat penginapan, pak”
“Di desa Moni di bawah ini banyak itu penginapan”
“Iya, pak. Kalau di sini bisa numpang nginap, pak? Di Musholla misalnya”
Sejenak bapak petugas tadi tampak ragu menjawabnya.
“Sebulan yang lalu ada teman saya yang nginap di sini” lalu saya menyebutkan nama teman tersebut.
“Oh iya, mas. Di sini dingin lho, tidurnya di lantai saja, nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, pak. Kami bawa sleeping bag, kok”
“Kalau mas mau ke toilet, itu ada di belakang kantor”
“Terima kasih, pak” lalu saya dan bang Sahal berjalan ke Musholla setelah membayar teh dan mie yang masih dijual dengan harga wajar walau berada jauh dari pusat kota.

Saya dan bang Sahal menyembunyikan diri ke dalam sleeping bag masing-masing setelah menuntaskan sholat Isya. Musholla kantor BNTK ini cukup nyaman dan hangat hingga kami bisa tidur lelap setelah perjalanan yang melelahkan. Jam 4 subuh kami terbangun dan mulai bersiap melanjutkan perjalanan untuk menikmati sunrise di danau Kelimutu. Setelah menunaikan sholat Subuh dan merapikan musholla kami membeli tiket masuk lagi sebesar Rp 5.000,-/orang dan jumlah yang sama untuk karcis masuk motor. Di pintu masuk kami bertemu dengan Nino dan Francesco, teman bang Sahal selama LOB dari Lombok-Labuan Bajo dan memutuskan berjalan bersama.
 
View Point tiga danau dari kejauhan
Langit subuh itu dilapisi cahaya keemasan. Garis-garis merah halus memanjang datar di beberapa bagian. Kami mempercepat langkah.
The sun will coming. Hurry up!” kata Francesco
 “Do you want to run to the peak?
Yes, I do
Saya dan Francesco berlari mendaki meninggalkan Nino dan bang Sahal di belakang. Nafas berpacu di tengah dinginnya suasana danau Kelimutu. Di dekat tong sampah menjelang view point tiga gunung saya berhenti untuk beristirahat, sementara Francesco terus berlari ke atas. Dasar bule.

Sekitar enam orang pengunjung dan dua orang pedagang minuman hangat sudah sampai di view point tiga danau sebelum kami. Jam di tangah menunjukkan pukul 5 pagi.
“Mataharinya nanti keluar dari sana” kata seorang warga lokal sambil menunjuk ke balik Danau Hijau. “Pesan teh atau kopi dulu biar hangat” tawaran bapak itu selanjutnya. Saya dan bang Sahal memesan teh hangat dengan jahe segar yang langsung dimasukkan ke dalam teh.
 
Teh hangat dengan jahe
Segaris cahaya melengkung keemasan mucul perlahan di langit tepat di arah yang ditunjukkan si bapak tadi. Keluar perlahan dari balik kabut. Makin lama cahaya itu makin besar dan garis melengkung itu makin jelas membentuk lingkaran. Kamera berebutan mengabadikan keindahan lahirnya sumber cahaya ini. Sepasang turis mengambil foto saat berciuman dengan latar belakang langit yang penuh cahaya. Jam di tangan menunjukkan pukul 5.15 WITA.
 
Matahari pagi di atas Danau Kelimutu
Di view point ini kami bertemu dengan beberapa orang pengunjung lainnya, seperti Airis, solo traveler dari Filipina serta seorang pengunjung asal Sumba yang sudah lama tinggal di Kanada. Hampir semuanya memuji keindahan matahari terbit dari sini, seperti kata Airis “This is the best sunrise I ever seen”.
Setelahnya kami mengambil foto bersama sebelum berpisah.

Sebelum turun, kami menyempatkan lagi ke view point dua danau. sosok hitam duduk yang sebelumnya saya lihat masih ada di sana. Sosok tersebut adalah batang pohon mati. Danau Biru dan Danau Hijau masih tampak menawan seperti kemarin sore. Ketenangan dari warna dan permukaannya dapat memikat mata beberapa saat. Cukup berdiri saja di pagar pembatas tanpa harus melanggar peringatan yang sudah terpampang di sana. Keindahan alam tidak harus dinikmati dengan cara melanggar aturan. Suatu catatan untuk diri sendiri.

Jumat, 6 November 2015. Makassar

Tulisan ini adalah sambungan dari:
1. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian pertama

dan kelanjutannya

3. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian terakhir