Sejauh apapun kamu berjalan, jarak tidak akan selesai engkau tempuh, waktu tidak akan terasa cukup untuk dihabiskan. Tapi engkau bisa mengingat sejauh apa telah berjalan dan selama apa waktu kau habiskan.Tulisan ini menjadi satu tanda pengingat dalam perjalanan saya. Mengingat jauh perjalanan yang telah saya tempuh, lama waktu yang telah saya habiskan, dan hal-hal apa saja yang telah saya dapatkan.

Foto oleh kang Dede
Sejak memulai perjalanan pada 1 Januari 2015, Bali adalah kota ketiga yang saya singgahi setelah Semarang dan Malang. Di sini saya akan menetap lebih lama daripada dua kota sebelumnya. Menjelajahi tempat-tempat wisata dan belajar banyak hal dalam bidang tour dan travel. Beberapa cerita selama perjalanan sudah saya tulis dan muat di blog ini. Pada tulisan ini saya tidak  bercerita mengenai perjalanan ke tempat-tempat wisata, melainkan perjalanan ke dalam diri yang bisa disebut sebagai pelajaran.

Meninggalkan Semarang bagaikan meninggalkan rumah kedua, karena di sana saya tinggal selama dua tahun. Berkembang bersama dengan teman-teman dari Hysteria dan Lacikata dan sama-sama menjalani hidup di perantauan dengan keluarga  Ikatan Mahasiswa Minang Semarang. Selain itu saya juga meninggalkan Ijran, adik kandung saya yang masih kuliah di Undip. Merekalah  yang juga turut  mendukung perjalanan ini. Selain musibah, jarak yang jauh akan memberi tahu siapa yang benar-benar menjadi temanmu.

Sebulan perjalanan ini telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang banyak. Selain pelajaran yang diambil dari pengalaman, ada juga pelajaran yang benar-benar diajarkan oleh orang lain. Saya belajar memasak samba lado tanak, masakan khas Minang dari Jeni, teman yang memberi tempat tinggal di Malang. Belajar melukis dari mas Salim, pelukis di jembatan penyeberangan pasar Singosari, hingga saya dapat memberi hadiah pada seorang teman dengan karya sendiri. Belajar seni tawar-menawar dari da Eri, penjual obat kosmetik di Malang. Dan sekarang saya sedang belajar tentang mengelola bisnis rental kendaraan dan tour travel dari mas Bayu, owner By Tripphoria di Bali.
 
Belajar Meluki dari Mas Salim
Saya bisa menempuh perjalanan sejauh ini, menulis dan menceritakannya juga berkat bantuan banyak orang. Notebook saya bisa lancar tersambung dengan wifi setelah diinstall ulang oleh Ivan, lulusan SMK yang sedang mencari pekerjaan sewaktu di Malang. Mas Bayu yang mengizinkan saya tinggal di rumahnya dan menggunakan kendaraannya untuk mengunjungi tempat-tempat di Bali, serta orang-orang yang sudah saya ceritakan sebelumnya.
 
Ivan
Semenjak memulai perjalanan, banyak hal yang berubah pada diri saya. Perut saya sekarang tidak hanya diisi oleh masakan Padang seperti biasanya. Saya tidak lagi memilih-milih makanan, karena bagi saya saat ini hanya ada dua jenis makanan, yaitu: makanan yang enak dan makanan yang enak banget. Deodorant saya sudah berganti dari yang semprot jadi roll on, pasta gigi khusus jadi pasta gigi biasa, dan sabun cair jadi sabun batangan. Hakikat dari kebutuhan menjadikan semua itu masih dapat membuat saya nyaman dan bahagia selama perjalanan ini. Selain itu sekarang saya juga lebih berani berbicara bahasa Inggris dengan bule-bule yang saya temui di Bali, sebelumnya saya sangat takut melakukannya.

Perubahan yang terjadi dalam diri saya tidak hanya mengenai kebiasaan dan barang-barang yang saya gunakan. Perubahan mendasar yang saya rasakan saat ini adalah hidup terasa lebih sederhana dan lebih mudah bahagia. Saya selalu bersyukur dan menyadari begitu banyak nikmat yang telah saya terima. Saya begitu mudah untuk bahagia sekalipun oleh hal-hal kecil dan saya merasa lebih bersosial dengan kehidupan sekarang. Kebahagiaan terbesar tidak lagi datang jika keinginan-keinginan memiliki barang-barang tertentu terpenuhi, misalnya memiliki jam tangan mahal, pakaian bagus, atau kendaraan keren yang sebelumnya menghantui pikiran saya.

Saya merasa telah berkecukupan dalam hidup saat ini dengan memiliki beberapa potong pakaian, sepotong sleeping bag, dua pasang sepatu yang mulai robek, sepasang sandal, satu notebook, dua handphone yang satunya dapat menghubungkan ke internet, dan dua tas untuk membawa semuanya. Keinginan untuk mengganti semua yang saya miliki di atas dengan yang lebih bagus masih begitu kecil saat ini, tapi mimpi untuk memiliki yang lebih bagus tetap saya pelihara. Merasa telah berkecukupan menguasaai diri saya saat ini, mengalahkan perasaan merasa kekurangan yang sering terjadi sebelumnya.

Sendirian melakukan perjalanan ini membuat saya dapat lebih bebas berjalan dan mengenal orang banyak. Tidak ada muncul rasa kesepian, karena dari setiap orang yang ditemui dapat terciptan hubungan yang dekat dan percakapan yang hangat. Ada keluarga-keluarga baru yang saya dapatkan dan saling memberi kabar, dan ada teman-teman baru untuk berbagi kisah.
 
Berbahagia menikmati keadaan
Yang ada dalam pikiran saya sekarang adalah bisa terus melanjutkan perjalanan, mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran, berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain sebanyak-banyaknya, mengunjungi tempat-tempat baru dan indah di Indonesia, berbagi lewat tulisan dan foto, memiliki akses internet yang lancar, serta ingin selalu bahagia.

Kamu bisa berjalan sejauh-jauhnya sampai ke ujung bumi, kamu juga bisa berpetualang selama-lamanya sampai mati, tapi kamu akan jadi sia-sia jika tidak belajar dan berubah dari perjalanan itu.


Sabtu, 31 Januari 2015. Bali
Perjalanan selalu menyimpan misteri disetiap langkahnya. Arah dapat berganti, tujuan dapat berubah, rute bisa beralih, namun niat tetap harus dipertahankan.

Tulisan di atas dikutip oleh Gema Perdana dalam komentarnya pada catatan KELILING INDONESIA. Komentar dari Gema mengingatkan saya pada perjalan kemarin. Perjalanan untuk menemukan lima belas pantai serta rutenya di bagian selatan pulau Bali. Saya hanya diberi petunjuk kalau list pantai yang diterima sudah satu jalur dari Utara-Selatan pulau Bali.

Mungkin dalam pikiran kalian mulai muncul pertanyaan kenapa saya harus menemukan ke-lima belas pantai tersebut. Pada postingan selanjutnya akan saya ceritakan alasannya dan cerita kehidupan saya di Bali saat ini. Jadi sering-seringlah berkunjung ke sini.

Cahaya matahari mulai terasa hangat menyentuh kulit. Perjalanan hari itu dimulai untuk menemukan pantai Kedonganan. Bermodal maps dari handphone saya menelusuri pantai di dekat bandara Ngurah Rai. Pantai Kelah adalah pantai yang pertama kali saya temukan. Pantai Kelah mungkin kurang familiar bagi para wisatawan di Bali. Pantai ini menjadi tempat berkumpulnya nelayan dan menjual ikan hasil tangkapannya di koperasi terdekat. Selain dari ikan segar yang dapat ditemukan di sana, bau amis juga akan menghampiri hidung pengunjung.

Pantai Kedonganan berada dekat pantai Kelah, tepatnya di selatannya. Pantai yang landai dan pasir berwarna keemasan merupakan pemandangan yang saya temui. Pagi itu pantai sangat sepi dari pengunjung, beberapa pelayan di sana sedang bersiap membuka kafe atau tempat makannya. Kedonganan menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati makan siang atau makan malam di tepi pantai. Meja dan kursi untuk makan disusun di atas pasir dengan tenda-tenda berwarna terang. Suasana yang dapat membuat makan terasa begitu istimewa jika kalian benar-benar menyukai pantai dan seafood.
 
Pantai Kedonganan
Menjelang siang saya mencari pantai Tegal Wangi dengan tetap mengandalkan maps dari handphone. Posisi pantai berada di dekat hotel Ayana, belok kanan sebelum gerbang hotel adalah jalan menuju ke sana. Jalanan lengang, beberapa ekor anjing liar tampak berseliweran.

Pura Tegal Wangi adalah satu-satunya bangunan di pantai Tegal Wangi. Beberapa motor terparkir di depan pintu gerbang yang terkunci. Di kiri jalan sebelum pura ada tembok setinggi dua meter dengan plang larangan masuk ke dalamnya. Ada pantai kecil kira-kira sebesar lapangan badminton tersembunyi di balik tembok itu, di antara tebing batu karang. Saat itu beberapa pengunjung tampak sedang asik bermain ombak di sana. Jalan tanah di sebelah kiri pura membawa ke tebing batu karang yang menjadi tempat menarik bagi para pemancing.
 
Pantai Tegal Wangi
Mengikuti petunjuk di maps handphone saya menelusuri jalan kecil menuju pantai Balangan, tujuan berikutnya. Jalan kecil melintasi perumahan-perumahan baru dan jalanan yang sepi. Sekitar tiga kilometer setelah meninggalkan pantai, saya dicegat oleh seorang turis yang kelihatannya tersasar. Dialah Mr Hu Pei dari Shang Hai. Melalui bahasa tubuhnya yang menirukan gaya bebas dalam berenang saya mengartikan kalau dia ingin ke pantai.

Pantai Tegal Wangi saya kunjungi untuk kedua kalinya hari itu. Setelah dapat melihat laut Mr Hu Pei sangat gembira dan mengacungkan jempolnya beberapa kali. Setelah menikmati pantai sejenak dan berfoto dia mengeluarkan kartu hotelnya, melalui bahasa Tarzan meminta saya membawanya balik ke sana yang jaraknya sekitar delapan kilometer dari pantai. Beliau tidak mengerti bahasa Inggris dan saya sama sekali tidak tahu bahasa China, selain bahasa Tarzan, Google Translate membuat kami merasa masih sebagai manusia dengan berbicara. “Dengan ini kita bisa berbicara. Saya akan bantu kamu” kata-kata itu saya terjemahkan ke dalam bahasa China dan perlihatkan kepada dia.

Tujuan saya untuk menemukan pantai selanjutnya tertunda. Hotel Aston di Ungasan menjadi tujuan selanjutnya untuk mengantarkan Mr Hu Pei. Setelah sampai beliau meminta saya untuk menunggunya di lobby hotel, sementara dia ke kamarnya. Beliau memberi saya uang dua puluh ribu lalu meminjam handphone lalu meminta kertas dan pulpen. Dia menuliskan nama dan alamatnya dalam dua jenis tulisan serta nomor handphone-nya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan melalui Google Translate tentang perasaan dia di Bali, berapa lama di Bali dan kapan akan kembali ke negaranya.

Mr Hu Pei juga meminta saya menuliskan nama dan nomor handphone. Melalui bahasa tubuh dan kata-katanya sebelum berpisah, saya mengartikan kalau dia mengundang untuk datang ke Shang Hai dan mampir ke alamat yang dia tuliskan sebelumnya. Saya melihat ekpresi bahagia dari wajahnya, lalu dia meminta security hotel untuk mengambil foto kami berdua.
 
Saya dan Mr Hu Pei
Rute saya beralih untuk mengunjungi pantai Balangan, karena dari Ungasan juga ada jalan menuju ke sana. Saya memilih jalan yang lurus menuju pantai, sebelum masuk membayar uang dua ribu untuk parkir motor. Belok ke kanan setelah pos masuk, ada permukaan batu karang yang menjorok ke laut dibentuk menyerupai altar. Tempat itu sering digunakan untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Tempat yang sangat indah untuk mengabadikan momen bahagia dalam kehidupan.

Tidak jauh dari sana, ada tangga menuju pantai yang bersih dengan pasir berwarna keemasan dan ombak yang cukup besar. Kafe-kafe di sana menyediakan kursi santai yang dilengkapi tenda di hamparan pasir yang tidak begitu luas. Turis luar mendominasi pengunjung pantai Balangan dengan berselancar dan menikmati bir dingin di kursi-kursi santai.

Dengan mengendarai motor, saya mengunjungi sisi lain dari pantai Balangan. Belok kanan setelah melewati pos menuju arah pulang, menelusuri jalan menuju villa dan hotel akhirnya sampai di jalan tanah dan berbatu karang, masuk dari jalan ini tidak dipungut biaya. Di sisi selatan pantai Balangan, kafe-kafe berdiri menjorok ke laut dengan lidah-lidah ombak sampai ke kolongnya. Di sini saya tidak melihat turis lokal satupun, hanya beberapa turis luar sedang duduk menikmati minuman mereka di kafe-kafe kayu itu.

Sebuah gazebo berdiri di ujung karang dekat saya memarkir motor. Saya memilih duduk di sana untuk menghindari panasnya matahari dan menikmati pantai Balangan. Saya terjebak dengan suasana yang sangat nyaman dan sejuk di gazebo. Akhirnya membuka notebook dan menyelesaikan cerita sebelum postingan ini di sana dengan diiringi lagu Payung Teduh. Misi saya untuk menemukan lima belas pantai menjadi tidak selesai pada hari itu.

Selama menulis cerita saya membayangkan betapa bahagianya jika meja kerja memiliki pemandangan dan suasana seperti di gazebo ini. Angin sejuk, deru ombak yang menenangkan, biru laut yang menyegarkan, pandangan lepas sampai kehorison, dan gerakan pohon-pohon kelapa yang seirama. Tidak ada post it yang berisi deadline menempel di mana-mana, pandangan yang tertumbuk pada dinding-dinding yang beku, atau teman-teman sekantor yang bisu terpaku pada layar komputer di depannya.
 
Gazebo favorit di pantai Balangan
Saya menemukan suasana yang tepat untuk selalu bahagia dan terus produktif menulis. Saya menulis catatan ini dengan perasaan bahagia dan membaginya kepada kalian dengan perasaan yang sama. Jika kalian membaca tulisan ini di tempat kerja semoga kalian ikut bahagia, karena memang bahagia bisa di mana saja, namun tempat-tempat tertentu dapat membuat kalian merasa lebih bahagia daripada berada di tempat kerja. Maka, jalan-jalanlah.


Rabu, 28 Januari 2015. Bali
Cerita perjalanan di Bali bagian dua

Bagaimanakah perasaanmu jika diawal kesadaran setelah bangun telingamu dimanjakan oleh suara riak air yang lembut, matamu dipikat oleh hamparan air danau yang berkilau karena memantulkan cahaya dengan beberapa perahu yang berayun pelan, serta gunung yang menjulang menunggu untuk di daki. Bagaikan pagi terindah selama perjalanan ini.
 
Suasana bangun tidur
Cerita perjalanan saya dari pantai Kuta sampai ke GWK dari pagi sampai siang yang ada dalam postingan sebelumnya dilanjutkan perjalanan mendaki gunung Batur pada malamnya. 

Daerah Ungasan sudah mulai sepi dengan kegiatan penduduknya. Kang Dede yang saya temui sebelumnya di GWK telah menunggu untuk memulai perjalanan ke kaki gunung Batur dengan menggunakan sepeda motor. Jam sebelas malam kami mulai menembus gelap menuju Kintamani. Lalu lintas yang masih ramai hanya pada beberapa tempat tertentu, selebihnya motor dapat dipacu lebih cepat. Memasuki daerah Kintamani kabut tebal dan cuaca dingin menyelimuti. Menelusuri jalan yang berkelok-kelok jadi lebih menantang karena jarak pandang tidak lebih dari lima meter. Begitu juga rombongan anjing liar yang mengejar saat kami melintas dekat mereka.

Tiga jam perjalanan yang ditempuh cukup untuk membuat bokong panas dan punggung kram karena menahan beban. Kang Dede memilih dermaga sebagai tempat beristirahat. Di atas potongan-potongan kayu yang menjadi lantai dermaga kami menggelar matras dan segera masuk ke dalam sleeping bag masing-masing. Dalam hitungan detik saya sudah jatuh ke dalam tidur yang nyenyak, sangat nyenyak.
 
Kang Dede, teman perjalanan
Suara riak air yang lembut menghampiri telinga saya saat bangun, mata dimanjakan oleh hamparan air yang berkilauan, dan beberapa cahaya senter nampak bergerak menuju puncak gunung Batur. Setelah mencuci muka dan sholat di dermaga danau Batur, kami menikmati sarapan yang sudah disiapkan sejak malam. Perjalanan ke kaki gunung Batur dimulai saat hari mulai terang, sedikit terlambat namun tetap indah.

Motor yang kami tunggangi membawa sampai ke tikungan terakhir sebelum Pura di pinggang gunung. Perjalanan dengan motor melewati kebun bawang dan hutan hijau yang rapi mampu menghemat waktu setidaknya satu jam. Jam 6.45 kami mulai berjalan kaki menuju puncak, di kejauahan terlihat beberapa pendaki sudah memulai perjalanan turun.

Tidak sampai satu jam kami sampai di puncak gunung Batur. Beberapa pendaki mengambil foto sebelum turun dengan latar belakang gunung Agung dan danau Batur yang sudah tampak dengan jelas. Kera-kera mengerubungi berharap ada pendaki yang memberi mereka makanan. Beberapa ekor anjing liar tidur-tidur malas di lantai. Matahari tampak sudah berada di atas gunung Agung, jalan mendaki dan berliku, kebun dan sawah penduduk, tambak ikan dan pemukiman di pinggir danau terlihat bagai suatu lukisan yang sangat indah.

Walaupun sudah sampai di puncak, rasa ingin tahu lebih dan ingin melihat lebih dari sisi lain mendorong saya untuk mengelilingi kawah gunung Batur. Trek berpasir harus dihadapi sebelum berjalan mengelilingi kawah yang jalannya relatif mudah. Kawah di sebelah kiri nampak menganga dan tebing-tebingnya mengeluarkan asap tipis. Sebelah kanan hijau hutan dan kebun penduduk menjadi komposisi dari keindahan alam di sana.

Kalau kalian pernah membaca cerita saya di Bromo pada postingan sebelumnya, kalian akan tahu kalau saya takut pada ketinggian. Ketinggian yang saya takuti adalah jika di kiri dan kanan saya tidak ada benda atau tebing atau apapun yang lebih tinggi dari tubuh. Ada beberapa jalan ketika mengelilingi kawah yang membuat saya takut. Akibat yang ditimbulkan oleh rasa takut itu adalah, saya merasa jurang dan tebing di kiri-kananlah yang bergerak, bukan tubuh saya. Perjalanan ini bukan untuk menerima rasa takut, tapi untuk menghancurkannya.

 
Foto ini dapat menjelaskan perasaan saya saat itu.
Gunung Batur berdiri di atas danau Batur yang tidak jauh dari laut, dengan ketinggian 1717 Mdpl. Suhu di puncaknya tidak begitu dingin setelah matahari terbit. Pertama kalinya saya merasa gerah berada di gunung, perjalanan mengelilingi kawah hingga turun hanya menggunakan kaos dalam.Kami sampai di parkiran motor jam setengah sebelas. Di sana kami bercerita-cerita dengan Randa dan rombongannya dari Unpas Bandung yang sebelumnya bertemu saat turun dari kawah. Mereka mengajak kami ikut makan pada siang itu.

Perjalanan balik ke Ungasan mulai jam satu siang, melawan rasa capek dan kantuk saat mengendarai motor. Di Masjid Polda Denpasar kami beristirahat dan menunaikan sholat Ashar. Dari Denpasar indahnya matahari sebelum tenggelam mulai terlihat. Saya minta kang Dede untuk mampir ke pantai terdekat sebelum sampai di rumah.

Pada waktu yang tepat kami sampai di pantai Jimbaran. Langit sudah memerah, beberapa pengunjung berlarian dengan riang di pantai yang landai, sebagian lagi sibuk mengambil foto, beberapa duduk tenang menikmati suasana, dan di tempat-tempat makan yang menyediakan seafood suasana cukup riuh. Saya memilih berkeliling sejenak, lalu berhenti untuk menikmati langit yang memerah dan bentuk awan yang menarik. Hanya langit merah dan awan yang indah, di sini matahari tidak terlihat tenggelam di laut karena posisinya tenggelamnya di belakang pohon-pohon dan bangunan yang berdiri di bagian selatan pantai.
 
Sunset di Jimbaran
Malamnya saya merenung, hidup semacam apa yang saya jalani hari ini. Pagi di danau, siang di gunung, sore di pantai, semuanya untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya. Kebahagiaan terasa utuh dalam perasaan. Apakah hal yang seperti ini membuat saya lari dari kerumitan Jakarta? Tidak. Perjalanan ini adalah pencarian bukan pelarian. Mencari sesuatu yang tidak saya dapatkan dalam kehidupan sebelumnya. Cerita di atas adalah bagian-bagian yang telah saya temukan. Di perjalanan selanjutnya akan lebih banyak yang dapat ditemukan, dan tentu saja akan saya bagi dengan kalian.

Senin, 26 Januari 2015. Bali


P.S: Tulisan ini saya selesaikan di gazebo pantai Balangan yang nyaman dan indah, dengan hembusan angin yang sejuk, deru ombak, dan Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan-nya Payung Teduh. Syahdu. 
Tempat menulis cerita perjalanan ini

Cerita di Bali bagian pertama

Kadang engkau tidak perlu membutuhkan peta untuk berjalan, karena angin, bintang, dan segala bagian alam dapat menunjukkan jalan buatmu.

Matahari pagi pertama di Bali sangat menarik untuk dinikmati membuat saya segera bangkit dari tidur untuk segera ke pantai Matahari Terbit. Kopi hitam membuat mata benar-benar tidak ingin dipejamkan lagi. Begitupun kunci motor dari Bli Regan—security PT. Sapta Prima Cargo-- membuat kami ingin segera berjalan ke tujuan.
 
Pantai Sanur pada pagi hari
Mata saya terpaku menikmati matahari yang masih disembunyikan awan, sambil terus berjalan menyusuri pantai hingga sampai di pantai Sanur. Ombak kecil dan pantai yang landai dinikmati oleh beberapa pengunjung dengan berenang. Beberapa pemancing nampak sabar menunggu ikan memakan umpan. Langit mulai biru dan cahaya dari matahari makin terang menambah keindahannya.

Matahari pada hari itu tidak saya lepaskan begitu saja, saya juga ingin menikmatinya saat ia tenggelam. Siang saya menumpangi bus Sarbagita dari Sanur menuju Kuta dengan membayar Rp 3.500,-. Turun di halte dekat patung Dewa Ruci lalu saya melanjutkan jalan kaki sampai pantai Kuta. Baju dan jaket yang saya pakai basah oleh keringat sesampainya di gerbang pantai Kuta. Berbekal kalender bekas dengan tulisan “Banyuwangi” dan “Pasuruan” saya ngemper di pasir untuk memberi kenyamanan pada bagian punggung.

Setelah tidak menemukan mushola akhirnya saya menunaikan sholat Ashar di balai adat arah ke selatan pantai Kuta. Langit masih terang, saya menikmati Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada-nya Leo Tolstoy di tengah hembusan angin sambil menunggu tenggelamnya matahari. Pantai makin ramai, selain bermain selancar dan berenang, sebagian pengunjung sibuk mengambil foto dengan berbagai gaya. Matahari, langit, laut, pasir, keriuhan pengunjung adalah paduan keindahan sore itu di pantai Kuta.
 
Di Mana Ada Cinta Di Sana Tuhan Ada
Gelap yang mulai menyelimuti dan rasa lelah mendorong saya mencari penginapan untuk segera mandi bersitirahat. Menelusuri Popies Lane I dan II saya hanya menemukan harga termurah penginapan Rp 80.000 untuk satu orang. Langkah kaki tiba-tiba membawa saya ke Monumen Bom Bali di jalan Legian. Baterai hape yang hampir habis dan perut keroncongan menjadikan Indomaret di dekat sana jadi pilihan utama untuk mengisi keduanya.

Free Wifi yang tersedia tidak bisa saya manfaatkan dengan maksimal, begitu juga oleh laki-laki di sebelah saya, Reza. Setelah bercerita saya mengetahui kalau dia juga mengundurkan diri dari pekerjaannya di Jakarta sebelum tahun baru. Hal yang sama terjadi dengan saya. Reza sudah sepuluh hari tinggal dan menikmati hidup tanpa tuntutan pekerjaan di Bali. Dan dia menawarkan saya tinggal di kostnya setelah meminta izin kepada bapak kost-nya. Kebutuhan penginapan terpenuhi, malampun segera berlalu.

Pagi hari di Legian tidak seramai malamnya. Setelah membeli air mineral yang harganya dua kali lipat dari harga normal di Indomaret dekat Monumen Bom Bali saya dan Reza menuju pantai Kuta. Angin sejuk ditambah sesekali buih dari pecahan ombak menyentuh kulit. Beberapa pedagang dan pemijat menawarkan jasanya sebagai pelaris pada pagi itu. Tapi yang lebih menarik adalah para pemain selancar yang mencoba menaklukan ombak atau mereka yang terjatuh saat belajar.

Siangnya saya berjalan kaki lagi ke halte di depan Galeria dekat patung Dewa Ruci dari Legian. Di halte saya bertemu seorang ibu yang kakinya baru saja digilas sepeda motor. Ibu ini telah berjalan kaki selama empat jam karena tidak punya uang setelah keluar dari rumah majikannya. Beliau belum mendapatkan gaji dari seminggu bekerja karena Ibu majikannya sedang keluar. Saya membantu menghubungi anaknya untuk segera menjemput ibunya yang tidak kuat lagi berjalan.

Kaos dalam dan jaket yang melekat di tubuh basah seperti habis dicuci. Air mineral 1,5 liter yang saya beli pagi tinggal sepertiga botol lagi. Saya mengademkan diri dalam bus Sarbagita menuju GWK. Tidak banyak penumpang dalam bus ini walaupun jarak tempuhnya cukup jauh. Setengah jam berikutnya saya sampai di GWK.

Uang lima puluh ribu pemberian mas Widodo saya belikan tiket masuk GWK. Dari pintu masuk saya berjalan lurus sampai ke pagar besi di antara celah batu kapur. Di sana saya bertemu Marinus penjaga pintu gerbang untuk para pekerja proyek pembanguan GWK. Setelah bercerita saya mencoba tidur di salah satu kursi kayu yang ada di dekat gerbang itu. Suasana sejuk, sepi, musik daerah yang mengalun lembut dan suara burung jalak Bali menjadikan saat itu begitu nikmat untuk istirahat.
 
Patung Wisnu
Selain untuk menikmati dua patung besar--Garuda dan Wisnu-- karya pak Nyoman Nuarta di GWK saya juga ingin melihat tari Kecak yang akan dipentaskan pada jam setengah tujuh malam. Ke dua patung besar itu ternyata terbuat dari lempengan tembaga yang sebelumnya saya kira hasil pahatan dari batu kapur di sana. Beberapa patung berukuran kecil dan ukiran di dinding dapat juga dinikmati selama di GWK. Selama menunggu saya mendatangi mushola untuk menunaikan sholat Ashar. Bagunan Mushola itu bergaya minimalis dan keadaan di dalamnya sangat bersih dan lengkap hingga rencana saya bertambah.
 
Musholla di GWK yang nyaman dan lengkap banget
Kamar mandi mushola cukup luas memiliki fasilitas  toilet duduk, wastafel, kaca, dan shower. Setelah buang air besar, saya lanjutkan mandi di bawah guyuran shower lalu bercukur. Saya menunaikan sholat dalam keadaan segar tanpa bau keringat lalu bersiap menyaksikan pertunjukan tari Kecak.
 
Salah satu patung yang berukuran kecil di GWK
Sebelum menyaksikan tari Kecak saya berbicara dengan kang Dede, karyawan GWK yang menangani penyewaan Segway.  Beliau mengajak saya untuk naik gunung Batur malamnya. Perjalanan mendadak ke gunung Batur akan saya ceritakan pada postingan berikutnya. Saya makan malam dengan harga khusus berkat bantuan seorang teman sebelum menyaksikan tari Kecak.

Tari Kecak mengangkat cerita pengorbanan Garuda untuk membebaskan ibunya dari perbudakan setelah kalah taruhan dalam menebak warna kuda Uchisrawa. Tirta Amerta yang disimpan di surga adalah syarat untuk pembebasan ibunda. Tari Kecak menyampaikan cerita lewat tarian yang indah dan narasi yang unik, percakapan para tokoh di-dubbing oleh narator, serta beberapa gerakan lucu seperti goyang itik Zaskia Gotik atau goyang kepala ala Trio Macan melahirkan kejenakaan.

Rasa bahagia mengiringi perasaan saya selama perjalanan. Kemudahan-kemudahan terjadi begitu saja tanpa sebelumnya melintas dalam pikiran. Saya menyadari setiap yang terjadi dalam perjalanan ini saling terkait satu dengan yang lainnya, tidak ada yang sia-sia. Satu hal lagi yang saya sadari adalah saya sangat bahagia, begitu mudah untuk bahagia, hingga selalu merasa bahagia.
-Sujud syukur-

Jumat, 23 Januari 2015. Bali


P.S: Tulisan ini selesai ditulis setelah melawan rasa lelah dari perjalanan pagi di danau, siang di gunung dan sore di pantai yang akan diceritakan pada postingan berikutnya.
Waktu akan berputar di belakangmu jika engkau terus berjalan ke depan. Berjalanlah terus, teruslah berjalan.

Malang kota pertama dalam perjalanan keliling Indonesia akan saya tinggalkan setelah delapan belas hari tinggal di sana. Senin pagi tanggal 19 Januari 2015 saya kembali berdiri melakukan hitchhiking di tempat sebelumnya waktu ingin ke Bromo, di dekat perputaran mobil di utara pasar Singosari.

Mas Santoso yang mengendarai motor Supra X 125 menawarkan tumpangan pertama menuju Purwosari, setelah lima belas menit saya menunggu. Beliau adalah sales cat Avian yang sedang PO ke daerah Purwosari menurunkan saya di pertigaan menuju Pasuruan. Di sini jalur terbagi dua; satu ke Utara yaitu menuju Surabaya, satunya lagi ke Timur dengan Pasuruan sebagai kota terdekat.


Mas Santoso

Saya melakukan hitchhiking lagi ditambah tulisan “Pasuruan” di belakang kalender bekas. Sepuluh menit berikutnya Honda Freed hitam berhenti di dekat saya. Pak Budi yang bekerja di perusahaan suplier batu bara untuk PLTU Paiton memberi tumpangan kedua untuk separoh jarak yang akan saya tempuh. Dia mengantarkan saya sampai ke pom bensin Paiton yang berjarak sekitar 1 kilometer setelah PLTU.

Sepanjang jalan kami bercerita, termasuk alasan beliau memberi tumpangan kepada saya. Menurut pak Budi dia tidak biasa memberikan tumpangan, tapi kali ini dia memberi saya tumpangan karena melihat gaya berpakaian saya yang tidak mencurigakan dan memang seperti seorang traveller. Setelan saya waktu itu, topi, kaos putih, jaket jeans biru muda, celana jeans abu-abu, dan sepatu kets, serta backpack.

Satu hal yang sangat menarik ketika bercerita dengan pak Budi adalah banyaknya informasi yang dia miliki. Beliau bisa menjelaskan keadaan daerah-daerah sepanjang perjalanan kami, termasuk ketika saya menanyakan kenapa banyak sekali himbauan KB di sepanjang jalan Probolinggo. Daerah Pantura yang melintasi Probolinggo merupakan daerah dengan tingkat pengidap HIV tertinggi di Jawa Timur menurut beliau.
 
Pak Budi
Di pom bensin bintang lima Paiton itu saya menunaikan sholat Zuhur setelah itu makan nasi rawon di seberangnya. Setelah gerimis yang berubah menjadi hujan reda, saya menunggu tumpangan dengan mengganti tulisan yang akan saya bentangkan menjadi “Banyuwangi”. Mobil Panter biru metalik berhenti tepat di depan saya dan kaca depannya terbuka. Pak Andi menawarkan saya tumpangan sampai Wongsorejo, sekitar 10 kilometer sebelum pelabuhan Ketapang.

Pak Andi berhenti di pom bensin itu untuk menunaikan sholat Zuhur setelah menempuh perjalanan dari Surabaya. Beliau bekerja sebagai distributor pakan ternak udang untuk daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Setiap minggunya pak Andi menempuh perjalanan Surabaya-Banyuwangi dan sebaliknya. Selain memberi tahu keadaan daerah dan objek wisata di sepanjang perjalanan, Pak Andi memberi saya kesempatan untuk mengambil foto identitas-identitas dari suatu tempat dan juga monumen, tugu serta patung yang ikonik dari suatu tempat, seperti monumen 1000 Kilometer Anyer-Panarukan, Patung Tari Gambang, Watu Dodol dan beberapa lainnya.


Pak Andi mengantarkan saya sampai pelabuhan Ketapang, lalu beliau mentraktir makan nasi pecel di seberang pelabuhan. Pak Andi kembali lagi ke Wongsorejo setelah kami menunaikan sholat magrib dan saya mencari tumpangan selanjutnya menuju Bali.
 
Saya dengan Pak Budi setelah sholat Magrib diMasjid seberang pelabuhan
Di depan pos penjualan tiket masuk ke pelabuhan saya mengacungkan jempol lagi mencari tumpangan selanjutnya setelah minta izin sama polisi yang ada di sana. Tidak sampai lima menit, security pelabuhan datang menegur saya, dia melarang saya menunggu tumpangan dalam komplek pelabuhan, jika ingin menunggu dia meminta saya menunggu di luar pelabuhan, dan dia menyarankan saya membeli tiket kapal saja. Karena hujan turun cukup deras, akhirnya saya putuskan untuk membeli tiket kapan seharga delapan ribu.

Hujan masih saja turun dan makin deras sesampainya saya di pelabuhan Gilimanuk jam 8 malam. Malam itu saya tidur di mushola pelabuhan bersama beberapa orang pedagang asongan dan petugas pelabuhan. Setelah menunaikan sholat Subuh saya tidur lagi sebentar lalu mandi di toilet pelabuhan. Jam setengah 9 saya mulai mencari tumpangan di dekat gerbang pelabuhan.

Beberapa agen bus menawarkan tumpangan ke Denpasar, namun saya sangat menekan biaya untuk perjalanan yang masih panjang, saya memutuskan mencari tumpangan truk atau mobil pribadi. Selama menunggu tumpangan saya bercerita dengan agen bus ke Singaraja dan Karang Asem, dan satu orang tentara yaitu bapak Ketut Sadya yang mengatakan akan membantu saya mencari tumpangan.  

Hampir satu jam menunggu tidak ada tumpangan yang diharapkan, namun saya tetap yakin akan mendapatkan tumpangan ke Denpasar walaupun beberapa orang-orang yang saya temui di sana mengatakan susah mencari tumpangan gratis. Beberapa truk berlalu begitu saja, sampai ada truk kontainer hijau berjalan pelan dan dua orang agen bus tadi berteriak kepada sopirnya lalu menyuruh saya mengejar truk yang berhenti sekitar 20 meter dari tempat saya berdiri.

Mas Widodo menyetir sendiri truk kontainer itu dari Surabaya menuju Denpasar. Setelah saya duduk dan mengatur letak barang bawaan beliau langsung menawarkan rokok. Saya katakan kalau saya sudah hampir tiga tahun berhenti merokok, lalu beliau memberi saya sebotol susu kedelai, minuman sekaligus sarapan pagi itu. Kami bercerita tentang kegiatannya yang rutin sekali seminggu menempuh perjalanan Surabaya-Denpasar dan sebaliknya termasuk resiko seorang sopir meninggalkan keluarganya yang menjadi pengalaman pahit beliau.

Separoh perjalan kami berhenti untuk makan siang dan minum kopi. Mas Widodo mengambil kertas bon makan saya dan berjalan duluan ke kasir saat nasi saya masih tinggal setengah. Kami melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai selatan pulau Bali. Pemandangan sawah yang bertingkat indah di sebelah kiri dan cantiknya pantai di sebelah kanan membuat mata saya selalu terjaga di sepanjang perjalanan, selain dari banyaknya bangkai anjing liar di pinggir jalan dan bau busuk yang ditimbulkannya.

Cuaca Denpasar sedang teriknya ketika kami sampai jam setengah dua siang. Truk menurunkan muatannya di gudang bahan-bahan bangunan di daerah jalan Cargo. Selama muatan dibongkar mas Widodo beristirahat untuk memulihkan tenaganya dan saya menumpang sholat Zuhur di kantor staff gudang tersebut. Kami melanjutkan perjalanan dan sampai di kantor Bali Age, perusahaan pemilik truk ini jam empat sore.

Kantor perusahaan cargo di jalan By Pas Ngurah Rai menjadi tujuan kami terakhir hari itu. Di sini kami beristirahat dan saya mulai merencanakan perjalan menikmati alam bali besok harinya serta mengumpulkan informasi dari para staff di sini.
 
Mencuci kepala Optimus Prime Hijau
Setelah makan siang, sebelum berangkat ke Kuta saya sempatkan membersihkan interior dan dan mencuci bagian depan truk kontainer yang saya tumpangi ini. Pengalaman yang unik mencuci mobil sebesar ini yang saya sebut sebagai Optimus Prime hijau, setelah menumpanginya selama hampir tujuh jam perjalanan. Sebelum pamit saya menghadiahi mas Widodo selembar kaos polo yang saya bawa dari Jakarta untuk anak laki-lakinya. Mas Widodo mengejutkan saya setelah dia meminta diambilkan tas kecil dari dalam mobilnya, beliau memberi saya selembar uang 50ribu, katanya untuk membantu perjalanan saya.
 
Mas Widodo dan tunggangannya
Banyak kemudahan-kemudahan yang tidak terduga saya terima selama perjalanan dan saya sangat mensyukurinya. Saya menjaga diri untuk selalu bersikap baik dan sopan kepada setiap orang yang ditemui. Dari setiap bantuan yang diberikan oleh orang-orang di atas, saya belum bisa membalas semuanya. Jika ada kesempatan saya berusaha membantu mereka dengan tenaga yang dimiliki, jika tidak saya mendoakan agar mereka selalu bahagia dalam kehidupannya.

Tidak hanya dari orang-orang di atas, di Bali saya juga mendapat pinjaman sepeda motor dari Bli Regan untuk jalan-jalan ke sepanjang pantai Sanur dan sekitarnya. Perjalanan saya di Bali akan diceritakan pada postingan berikutnya.

Rabu, 21 Januari 2015. Bali


P.S: Saat memposting tulisan ini, saya sedang ngemper di pantai Kuta menunggu keindahan matahari tenggelam.
Cuaca sejuk seperti jadi berkah yang terus mengalir sepanjang hari Jumat kemarin di Singosari, Malang. Sesekali angin bertiup menambah kesejukan. Duh, betapa sayang jika melewatkan waktu yang berlalu jika berdiam saja di rumah. Kami tinggalkan rumah dan mulai berjalan keluar selepas menunaikan sholat Jumat.

Jarak sekitar enam kilometer dari Singosari--sesuai pada petunjuk arah--yang kami tempuh melewati pemukiman penduduk. Jalanan tidak ramai oleh kendaraan dan membingungkan ketika sampai pada pertigaan terakhir tujuan kami, karena tidak ada lagi petunjuk jalan yang mengarahkan dengan jelas. Setelah bertanya kepada penduduk di sana, arah ke kiri ditunjukkan sebagai jalan menuju Candi Sumberawan yang berada di desa Toyonarto.

Satu plang yang bertuliskan Candi Sumberawan berada sekitar 500 meter dari tempat kami bertanya sebelumnya. Jalan menuju ke candi berwarna kecoklatan, berada di antara perkebunan warga. Petunjuk arah yang sangat kecil dan tidak terlihat dari jauh kurang membantu perjalanan hingga kami kembali bertanya pada penduduk yang baru pulang dari kebunnya lalu berputar arah menuju candi.



 Paving block tersusun rapi pada jalan sepanjang seratus meter sebelum candi, menurut warga yang kami temui dananya berasal dari swadaya masyarakat yang peduli terhadap bangunan candi tersebut. Pohon-pohon pinus berdiri anggun di sekitar candi dan menciptakan suasana yang rindang. Selain itu ada juga beberapa warung terbuat dari potongan bambu.

Jalan masuk setelah dari gerbang menuju ke suatu bangunan semacam pos masuk. Pengunjung diminta menuliskan data diri dan tujuan ke sana, serta “partisipasi” seiklasnya. Bapak Nuriadi yang berada di pos itu sebagai juru pelihara candi, beliau dapat memberikan informasi tentang candi jika ditanya.

Candi Sumberawan ini merupakan stupa besar yang menjadi tempat pemujaan umat Budha pada zaman Majapahit sekitar abad ke-14 sampai ke-15 Masehi. Sayang pada bagian atas stupanya sudah tidak utuh lagi. Menurut bapak Nuriadi, bagian atasnya sudah tidak ditemukan saat pemugaran oleh Belanda pada jaman penjajahan dulu sekitar tahun 1930an.



Dua sumber mata air di sekitar candi menjadi daya tarik lain dari tempat ini. Sumberkuro adalah nama mata air yang ada di utara candi karena ada patung kura-kura di sana, disebutkan airnya berkhasiat untuk kesehatan. Mata air lainnya yang berada di selatan candi disebutkan berkhasiat untuk karir, ketampanan atau kecantikan. Di sana pengunjung dapat mandi dan meminum airnya. Jika ingin mandi, harus ada satu orang yang menjaga di pintu untuk menjaga orang lain masuk.

Setelah minum air yang segar dari mata air Sumberkuro dan membawa pulang satu  botol, saya sempatkan mencuci muka di mata air satunya. Air yang bersih dan dingin memberikan kesejukan ketika menyentuh kulit wajah. Saya langsung merasa lebih tampan daripada sebelumnya.



Di sana saya bertemu dengan mas Ganis yang merupakan pemerhati candi dan situs-situs purba di Jawa Timur. Menurutnya lokasi ini dikelola oleh tiga instansi yang berbeda. Bangunan candi oleh dinas purbakala yang merupakan bagian dari dinas Pariwisata, mata air oleh PDAM, serta hutan pinus oleh dinas Kehutanan. Mas Ganis mengakui kalau akses jalan ke candi masih memprihatinkan dan butuh tindakan dari ketiga instansi tersebut.

Menurut saya akses jalan menuju candi, khususnya 1 kilometer terakhir ke sana harus diperbaiki. Selain karena aspal jalannya sudah rusak hingga tanah menutupi hampir semua badan jalan. Petunjuk arah ke candi hendaknya diperjelas agar memudahkan pengunjung yang belum tahu lokasinya. Menurut pak Nuriadi, juru pelihara candi, setiap harinya selalu ada yang mengunjungi candi, pada akhir minggu jumlah jauh lebih banyak bisa sampai 100an orang. Waktu kami di sana ada satu keluarga yang datang dari Surabaya untuk mandi dan melakukan ritual.Jumlah pengunjung juga meningkat ketika hari raya umat Budha.



Di komplek wisata candi Sumberawan, pengunjung tidak hanya dapat menikmati bangunan candi dan cerita sejarahnya. Pengunjung akan mendapatkan kesegaran dengan mandi di kedua sumber mata air tersebut, pilihlah sesuai keinginan. Serta juga dapat menikmati segarnya  air langsung dari sumbernya. Jika kalian ke sana, saya yakin kalian akan lebih tampan atau cantik setelah mandi dari sumber air tersebut daripada sebelumnya, dan akan  lebih sehat setelah minum air dibandingkan kalian kehausan. Jadi datanglah ke Candi Sumberawan agar lebih cantik atau tampan serta lebih sehat.

Minggu, 18 Januari 2015. Malang.


P.S: Sewaktu tulisan ini dimuat, saya sudah sampai di Bali. Modal jempol dari Malang sampai Denpasar. Pada postingan berikutnya saya ceritakan. 
Perjalananmu adalah takdirmu, jangan biarkan orang lain yang menentukannya. Berjalanlah menurut hati dan pikiranmu.

Tulisan ini adalah lanjutan dari perasaan bahagia saya ingin berbagi cerita dari perjalanan ke Bromo kemarin. Perjalanan untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan dan untuk mengalahkan ketakutan diri.

Sedikit rasa pesimis bersarang dalam pikiran saya saat mencari tumpangan ke Probolinggo dari Singosari, Malang, dengan bekal tulisan “Probolinggo. Bisa bantu nyetir” di belakang kalender bekas. Ini pertama kalinya dalam hidup saya mencari tumpangan ke suatu tempat yang saya tidak tahu persis rutenya. Karena itu saya memutuskan untuk melakukannya paling lama dua jam, jika tidak mendapatkan tumpangan saya akan menggunakan transportasi umum saja.

Menjadi perhatian bagi beberapa pejalan kaki
Satu jam berlalu tidak ada kendaraan yang merespon acungan jempol saya yang dalam istilah traveling disebut hitch hiking. Rasa pesimis mulai menghantui. Beberapa sopir truk melambaikan tangannya yang mungkin berarti mereka tidak ke tempat yang saya tuju. Cuaca mulai terasa panas dan perlahan keringat keluar dari pori-pori wajah. Tiba-tiba Daihatsu Grand Max hitam berhenti sekitar sepuluh meter di belakang saya. Sopirnya memberi isyarat, dan saya mendapatkan tumpangan pertama.

Toni, mahasiswa ITN Malang yang berasal dari Sorong, Papua, memberikan tumpangan pertama. Dia mengatakan di daerah asalnya sudah biasa memberi tumpangan pada orang lain, baik dikenal maupun tidak. Namun ketika dia melakukan hal yang sama di sini, memberikan tumpangan kadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak sopan dan anggapan negatif lainnya.

Toni yang ingin menjemput keluarganya ke pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menurunkan saya di pertigaan Purwosari. Walaupun tujuan kami berbeda, tumpangan dari dia sangat membantu karena makin mendekatkan saya dengan tujuan dan membangkitkan optimisme saya terhadap perjalanan  ini.
Toni pemberi tumpangan pertama dan pembangkit rasa optimis saya 
Baru saja saya ingin membentang kalender bekas untuk mencari tumpangan berikutnya, tiba-tiba motor Beat putih berhenti di depan saya. “Saya sudah melihat sampean di Malang tadi. Saya mau ke Pasuruan, nanti sampean bisa mencari tumpangan lain di sana” begitulah kata pak Agus setelah membuka kaca helmnya.

Tidak ada waktu terbuang untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Di atas motor, pak Agus menjelaskan daerah sepanjang perjalanan, di mana banyak berdiri pabrik makanan dan minuman yang sangat familiar. Sebagai distributor kosmetik, pak Agus sering ke daerah sekitar Pasuruan sampai ke Probolinggo. Hari itu belum jadwalnya ke Probolinggo jadi saya menumpang sampai Pasuruan saja.

Pak Agus sangat mengejutkan saya ketika kami akan berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih, saya menjabat tangan beliau. Dalam jabat tangannya pak Agus menyelipkan selembar uang 20 ribu. Sungguh saya terkejut menerima kebaikan yang berkali lipat dari bapak ini. Tidak ada yang bisa saya berikan untuk dia selain doa keselamatan dan kebahagiaan untuknya.
 
Tidak butuh caption lagi untuk kebaikan Pak Agus
Saya menunggu tumpangan di jalan ke arah Probolinggo yang tadi ditunjukkan oleh pak Agus. Di depan pasar Kebon Agung saya membentangkan kalender bekas tadi. Lebih dari satu jam saya tidak melihat truk melintas ke arah Probolinggo dan mobil biasapun tidak banyak yang melintas di sana. Berbeda dengan arah sebaliknya. Ternyata jalan Panglima Sudirman tidak boleh dilewati oleh truk yang menuju ke arah Probolinggo atau ke arah timur.

Saya mengumpulkan informasi dari beberapa orang tentang jarak dan waktu perjalanan, serta ongkos bus dari Pasuruan-Probolinggo. Setelah yakin bahwa ongkosnya tidak besar untuk waktu tempuh sekitar satu jam, saya menaiki bus ke Probolinggo. Tujuh ribu menjadi pengeluaran pertama saya dalam perjalanan ini.

Di terminal Probolinggo saya sampai pada jam dua belas siang. Beberapa tukang ojek menawarkan jasanya dengan berbagai cara. Salah satu yang paling unik adalah seorang tukang ojek yang membentak, seperti seorang ayah menegur anaknya yang salah saat menghampiri saya. Saya menolak tawarannya dan memahami kalau cara dia menawarkan jasanya sudah merupakan gaya bahasa aslinya, bukan suatu yang disengaja untuk mengancam.

Melanjutkan perjalanan dari Probolinggo ke Cemoro Lawang rencananya menggunakan mobil Elf dengan ongkos 35 ribu/orang jika penuh. Setelah menunggu sampai jam empat sore, hanya ada 7 calon penumpang sedangkan kapasitas mobilnya 15 orang. Jika ingin berangkat maka setiap penumpang membayar 75 ribu. Harga yang meningkat dua kali lipat membuat saya mencari alternatif tumpangan ke Cemoro Lawang.

Pak Maksum, sopir Elf mengatakan mobil sayur adalah pilihan tumpangan ke Cemoro Lawang. Mobil pertama yang kami tanya saat mengisi bensin di pom dekat terminal Probolinggo langsung membawa kami ke Sukapura, dari sini Cemoro Lawang berjarak sekitar 18 kilometer lagi. Hujan mengiringi perjalanan, mas Sukur sopir L300 mengajak kami bertiga duduk di depan agar tidak kehujanan. Beliau mengantarkan kami sampai pom bensin Sukapura, sekitar 2 kilometer setelah rumahnya.

Berdesakan dalam mobil L300 karena hujan
Sekitar sepuluh menit menunggu, mobil pick up pertama yang kami tanya memberikan tumpangan sampai desa Nadas, sekitar 4 kilometer sebelum Cemoro Lawang. Mas Samiar yang baru pulang dari Probolinggo untuk mengambil air compressor Jeep-nya membawa kami sampai ke rumahnya. Mas Samiar dan keluarganya merupakan petani sayur yang juga memiliki 2 unit Jeep untuk membawa pengunjung ke bromo.

Pak Yono, orang tua mas Samiar menawari kami penginapan dan tumpangan Jeep ke Bromo dengan harga 400 ribu. Harga yang cukup murah untuk dua jenis pelayanan tersebut, namun karena memutuskan untuk jalan kaki kami menolaknya. Kami hanya menyewa pick up mereka untuk mengantarkan ke Cemoro Lawang dengan membayar 50 ribu untuk bertiga.

Mushola di belakang pos masuk ke Bromo adalah tujuan kami malam itu. Satu orang menghampiri kami menawarkan penginapan, saya menjelaskan keadaan perjalanan kami dan meminta ijin tidur di Mushola. Untuk makan malam kami meminta air panas dari petugas yang kebetulan sedang merebus air untuk mandi.

Jam dua malam kami bangun, setengah jam kemudian mulai jalan kaki menuju Pananjakan 2. Di tengah perjalan pemilik kuda menawari tumpangan dari harga 150 ribu sampai 50 ribu. Hanya Gilang yang mengambil tawaran itu karena sudah mulai capek. Jam empat subuh kami sampai di Pananjakan 2 untuk menunggu terbitnya matahari.
                                                                                       
Di Pananjakan 2 kami tidak beruntung dapat menikmati keindahan terbitnya matahari. Ibu Mintasih, penjual minuman di sana  meminta kami bersabar dulu, menurut dia di sana banyak hal tidak terduga bisa terjadi, misalnya kabut bisa tiba-tiba saja naik. Saya duduk di dekat ibu Mintasih untuk menghangatkan diri dengan arang yang dia bakar. Kami bercerita mengenai keadaan di Bromo, keluarganya, pekerjaannya, dan bahasa Inggrisnya, serta perjalanan saya. Ibu Mintasih yang asli suku Tengger dan tinggal di lereng Pananjakan 1 memberi saya dan Ulil teh manis panas. Minuman yang memberikan kehangatan di tengah tiupan angin dan kabut tebal.

Saya dan teh manis panas dari ibu Mintasih penjual minuman di Pananjakan 2
Dari Pananjakan 2 kami melanjutkan perjalan ke kawah Bromo. Setelah sempat nyasar ke kebun sayur untuk mencari jalan pintas, kami menumpang mobil petani sampai ke depan hotel Cemara Indah. Dari sini kami kembali berjalan kaki menelusuri dataran pasir setelah menuruni tebing yang juga merupakan jalan kuda membawa pengunjung.

Keinginan mencapai puncak kawah Bromo terpenuhi dalam kabut tebal, angin kencang dan bau belerang yang menyesak. Jam sepuluh kami memutuskan kembali ke Cemoro Lawang untuk membersihkan diri dan bersiap pulang. Dari Bromo saya mendapat tumpangan sepeda motor dari Sahrul, mahasiswa Unair yang bersama teman-temannya juga berkunjung ke Bromo.

Setelah turun di Cemoro Lawang, Sahrul menawari saya tumpangan sampai ke Probolinggo karena satu arah dengan tujuannya, yaitu Surabaya. Suatu tawaran yang sangat membantu perjalanan saya, karena sebelumnya saya berencana untuk menumpang mobil sayur lagi. Saya mengendarai motornya sampai di Probolinggo. Setelah itu Sahrul melanjutkan perjalanannya dan saya mencari tumpangan selanjutnya.

Bersama Sahrul dan motornya yang akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya
Tidak sampai lima menit menunggu, truk pengangkut sepeda motor berhenti di depan saya yang mengacungkan jempol dan memegang kardus bertuliskan “Pasuruan”. Mas Rifa’i adalah sopir truk asal kota Batu yang baru pulang dari Jember memberikan bantuan selanjutnya. Menurut mas Rifa’i teman-temannya sesama sopir truk juga sering memberikan tumpangan gratis bagi para traveller yang membawa backpack dan tulisan pada kertas, kebanyakan para traveller itu adalah warga asing.

Selfie dengan mas Rifa'i sebelum turun
Di depan Pasar Kebon Agung saya berpisah dengan mas Rifa’i karena dia akan melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo. Pengawai dealer motor bekas yang pada hari sebelumnya memperhatikan saya menunggu tumpangan, menanyakan kegiatan saya. Saya jelaskan lalu beliau memberi saya kardus bekas untuk dituliskan kota tujuan saya selanjutnya, Malang.

Setengah jam berlalu saya mengacungkan jempol dan memegang kardus bertuliskan “Malang/ Purwosari”. Keringat membasahi badan dan wajah saya. Tepat jam dua siang, Honda Jazz warna keemasan berhenti di belakang saya. Mobil itu dikendarai oleh bapak Dian Candra, anggota Sabara Polres Pasuruan. Beliau dalam perjalanan Pasuran-Malang ke tempat orang tuanya memberikan tumpangan berikutnya. Bapak Dian yang akan menikah pada 14 Februari nanti bercerita kalau beliau juga sering memberikan tumpangan bagi orang lain.
Bapak Dian Candra
Dari perjalanan ini saya menyadari bahwa banyak sekali kemudahan dan bantuan yang saya terima dari orang-orang di atas. Status, profesi, suku, agama, dan segala identitas lainnya tidak menjadi batasan dalam berbuat baik. Mungkin ada keraguan pada sikap cuek yang menjangkiti masyarakat pada era ini, namun orang-orang di atas membuktikan kepada saya kalau mereka bukanlah bagian dari masyarakat itu. Toni, mas Rifa’i, bapak Dian adalah orang-orang yang sudah sering memberikan tumpangan kepada orang lain sebelum saya. Saya yakin pada waktu mendatang mereka masih akan melakukan hal yang sama. Satu lagi keyakinan saya adalah, masih banyak Toni, ibu Mintasih, pak Agus, Sahrul, mas Sukur, mas Samiar, mas Rifa’i dan bapak Dian lainnya di Indonesia ini.

Masihkah engkau ragu untuk memulai perjalanan, kawan?


Jumat, 16 Januari 2015. Malang