CATATAN SEBULAN PERJALANAN: DARI SABUN CAIR HINGGA SABUN BATANG

Sejauh apapun kamu berjalan, jarak tidak akan selesai engkau tempuh, waktu tidak akan terasa cukup untuk dihabiskan. Tapi engkau bisa mengingat sejauh apa telah berjalan dan selama apa waktu kau habiskan.Tulisan ini menjadi satu tanda pengingat dalam perjalanan saya. Mengingat jauh perjalanan yang telah saya tempuh, lama waktu yang telah saya habiskan, dan hal-hal apa saja yang telah saya dapatkan.

Foto oleh kang Dede
Sejak memulai perjalanan pada 1 Januari 2015, Bali adalah kota ketiga yang saya singgahi setelah Semarang dan Malang. Di sini saya akan menetap lebih lama daripada dua kota sebelumnya. Menjelajahi tempat-tempat wisata dan belajar banyak hal dalam bidang tour dan travel. Beberapa cerita selama perjalanan sudah saya tulis dan muat di blog ini. Pada tulisan ini saya tidak  bercerita mengenai perjalanan ke tempat-tempat wisata, melainkan perjalanan ke dalam diri yang bisa disebut sebagai pelajaran.

Meninggalkan Semarang bagaikan meninggalkan rumah kedua, karena di sana saya tinggal selama dua tahun. Berkembang bersama dengan teman-teman dari Hysteria dan Lacikata dan sama-sama menjalani hidup di perantauan dengan keluarga  Ikatan Mahasiswa Minang Semarang. Selain itu saya juga meninggalkan Ijran, adik kandung saya yang masih kuliah di Undip. Merekalah  yang juga turut  mendukung perjalanan ini. Selain musibah, jarak yang jauh akan memberi tahu siapa yang benar-benar menjadi temanmu.

Sebulan perjalanan ini telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang banyak. Selain pelajaran yang diambil dari pengalaman, ada juga pelajaran yang benar-benar diajarkan oleh orang lain. Saya belajar memasak samba lado tanak, masakan khas Minang dari Jeni, teman yang memberi tempat tinggal di Malang. Belajar melukis dari mas Salim, pelukis di jembatan penyeberangan pasar Singosari, hingga saya dapat memberi hadiah pada seorang teman dengan karya sendiri. Belajar seni tawar-menawar dari da Eri, penjual obat kosmetik di Malang. Dan sekarang saya sedang belajar tentang mengelola bisnis rental kendaraan dan tour travel dari mas Bayu, owner By Tripphoria di Bali.
 
Belajar Meluki dari Mas Salim
Saya bisa menempuh perjalanan sejauh ini, menulis dan menceritakannya juga berkat bantuan banyak orang. Notebook saya bisa lancar tersambung dengan wifi setelah diinstall ulang oleh Ivan, lulusan SMK yang sedang mencari pekerjaan sewaktu di Malang. Mas Bayu yang mengizinkan saya tinggal di rumahnya dan menggunakan kendaraannya untuk mengunjungi tempat-tempat di Bali, serta orang-orang yang sudah saya ceritakan sebelumnya.
 
Ivan
Semenjak memulai perjalanan, banyak hal yang berubah pada diri saya. Perut saya sekarang tidak hanya diisi oleh masakan Padang seperti biasanya. Saya tidak lagi memilih-milih makanan, karena bagi saya saat ini hanya ada dua jenis makanan, yaitu: makanan yang enak dan makanan yang enak banget. Deodorant saya sudah berganti dari yang semprot jadi roll on, pasta gigi khusus jadi pasta gigi biasa, dan sabun cair jadi sabun batangan. Hakikat dari kebutuhan menjadikan semua itu masih dapat membuat saya nyaman dan bahagia selama perjalanan ini. Selain itu sekarang saya juga lebih berani berbicara bahasa Inggris dengan bule-bule yang saya temui di Bali, sebelumnya saya sangat takut melakukannya.

Perubahan yang terjadi dalam diri saya tidak hanya mengenai kebiasaan dan barang-barang yang saya gunakan. Perubahan mendasar yang saya rasakan saat ini adalah hidup terasa lebih sederhana dan lebih mudah bahagia. Saya selalu bersyukur dan menyadari begitu banyak nikmat yang telah saya terima. Saya begitu mudah untuk bahagia sekalipun oleh hal-hal kecil dan saya merasa lebih bersosial dengan kehidupan sekarang. Kebahagiaan terbesar tidak lagi datang jika keinginan-keinginan memiliki barang-barang tertentu terpenuhi, misalnya memiliki jam tangan mahal, pakaian bagus, atau kendaraan keren yang sebelumnya menghantui pikiran saya.

Saya merasa telah berkecukupan dalam hidup saat ini dengan memiliki beberapa potong pakaian, sepotong sleeping bag, dua pasang sepatu yang mulai robek, sepasang sandal, satu notebook, dua handphone yang satunya dapat menghubungkan ke internet, dan dua tas untuk membawa semuanya. Keinginan untuk mengganti semua yang saya miliki di atas dengan yang lebih bagus masih begitu kecil saat ini, tapi mimpi untuk memiliki yang lebih bagus tetap saya pelihara. Merasa telah berkecukupan menguasaai diri saya saat ini, mengalahkan perasaan merasa kekurangan yang sering terjadi sebelumnya.

Sendirian melakukan perjalanan ini membuat saya dapat lebih bebas berjalan dan mengenal orang banyak. Tidak ada muncul rasa kesepian, karena dari setiap orang yang ditemui dapat terciptan hubungan yang dekat dan percakapan yang hangat. Ada keluarga-keluarga baru yang saya dapatkan dan saling memberi kabar, dan ada teman-teman baru untuk berbagi kisah.
 
Berbahagia menikmati keadaan
Yang ada dalam pikiran saya sekarang adalah bisa terus melanjutkan perjalanan, mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran, berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain sebanyak-banyaknya, mengunjungi tempat-tempat baru dan indah di Indonesia, berbagi lewat tulisan dan foto, memiliki akses internet yang lancar, serta ingin selalu bahagia.

Kamu bisa berjalan sejauh-jauhnya sampai ke ujung bumi, kamu juga bisa berpetualang selama-lamanya sampai mati, tapi kamu akan jadi sia-sia jika tidak belajar dan berubah dari perjalanan itu.


Sabtu, 31 Januari 2015. Bali

0 comments:

Posting Komentar