HIDUP MACAM APA INI: PAGI DI DANAU, SIANG DI GUNUNG, SORE DI PANTAI

Cerita perjalanan di Bali bagian dua

Bagaimanakah perasaanmu jika diawal kesadaran setelah bangun telingamu dimanjakan oleh suara riak air yang lembut, matamu dipikat oleh hamparan air danau yang berkilau karena memantulkan cahaya dengan beberapa perahu yang berayun pelan, serta gunung yang menjulang menunggu untuk di daki. Bagaikan pagi terindah selama perjalanan ini.
 
Suasana bangun tidur
Cerita perjalanan saya dari pantai Kuta sampai ke GWK dari pagi sampai siang yang ada dalam postingan sebelumnya dilanjutkan perjalanan mendaki gunung Batur pada malamnya. 

Daerah Ungasan sudah mulai sepi dengan kegiatan penduduknya. Kang Dede yang saya temui sebelumnya di GWK telah menunggu untuk memulai perjalanan ke kaki gunung Batur dengan menggunakan sepeda motor. Jam sebelas malam kami mulai menembus gelap menuju Kintamani. Lalu lintas yang masih ramai hanya pada beberapa tempat tertentu, selebihnya motor dapat dipacu lebih cepat. Memasuki daerah Kintamani kabut tebal dan cuaca dingin menyelimuti. Menelusuri jalan yang berkelok-kelok jadi lebih menantang karena jarak pandang tidak lebih dari lima meter. Begitu juga rombongan anjing liar yang mengejar saat kami melintas dekat mereka.

Tiga jam perjalanan yang ditempuh cukup untuk membuat bokong panas dan punggung kram karena menahan beban. Kang Dede memilih dermaga sebagai tempat beristirahat. Di atas potongan-potongan kayu yang menjadi lantai dermaga kami menggelar matras dan segera masuk ke dalam sleeping bag masing-masing. Dalam hitungan detik saya sudah jatuh ke dalam tidur yang nyenyak, sangat nyenyak.
 
Kang Dede, teman perjalanan
Suara riak air yang lembut menghampiri telinga saya saat bangun, mata dimanjakan oleh hamparan air yang berkilauan, dan beberapa cahaya senter nampak bergerak menuju puncak gunung Batur. Setelah mencuci muka dan sholat di dermaga danau Batur, kami menikmati sarapan yang sudah disiapkan sejak malam. Perjalanan ke kaki gunung Batur dimulai saat hari mulai terang, sedikit terlambat namun tetap indah.

Motor yang kami tunggangi membawa sampai ke tikungan terakhir sebelum Pura di pinggang gunung. Perjalanan dengan motor melewati kebun bawang dan hutan hijau yang rapi mampu menghemat waktu setidaknya satu jam. Jam 6.45 kami mulai berjalan kaki menuju puncak, di kejauahan terlihat beberapa pendaki sudah memulai perjalanan turun.

Tidak sampai satu jam kami sampai di puncak gunung Batur. Beberapa pendaki mengambil foto sebelum turun dengan latar belakang gunung Agung dan danau Batur yang sudah tampak dengan jelas. Kera-kera mengerubungi berharap ada pendaki yang memberi mereka makanan. Beberapa ekor anjing liar tidur-tidur malas di lantai. Matahari tampak sudah berada di atas gunung Agung, jalan mendaki dan berliku, kebun dan sawah penduduk, tambak ikan dan pemukiman di pinggir danau terlihat bagai suatu lukisan yang sangat indah.

Walaupun sudah sampai di puncak, rasa ingin tahu lebih dan ingin melihat lebih dari sisi lain mendorong saya untuk mengelilingi kawah gunung Batur. Trek berpasir harus dihadapi sebelum berjalan mengelilingi kawah yang jalannya relatif mudah. Kawah di sebelah kiri nampak menganga dan tebing-tebingnya mengeluarkan asap tipis. Sebelah kanan hijau hutan dan kebun penduduk menjadi komposisi dari keindahan alam di sana.

Kalau kalian pernah membaca cerita saya di Bromo pada postingan sebelumnya, kalian akan tahu kalau saya takut pada ketinggian. Ketinggian yang saya takuti adalah jika di kiri dan kanan saya tidak ada benda atau tebing atau apapun yang lebih tinggi dari tubuh. Ada beberapa jalan ketika mengelilingi kawah yang membuat saya takut. Akibat yang ditimbulkan oleh rasa takut itu adalah, saya merasa jurang dan tebing di kiri-kananlah yang bergerak, bukan tubuh saya. Perjalanan ini bukan untuk menerima rasa takut, tapi untuk menghancurkannya.

 
Foto ini dapat menjelaskan perasaan saya saat itu.
Gunung Batur berdiri di atas danau Batur yang tidak jauh dari laut, dengan ketinggian 1717 Mdpl. Suhu di puncaknya tidak begitu dingin setelah matahari terbit. Pertama kalinya saya merasa gerah berada di gunung, perjalanan mengelilingi kawah hingga turun hanya menggunakan kaos dalam.Kami sampai di parkiran motor jam setengah sebelas. Di sana kami bercerita-cerita dengan Randa dan rombongannya dari Unpas Bandung yang sebelumnya bertemu saat turun dari kawah. Mereka mengajak kami ikut makan pada siang itu.

Perjalanan balik ke Ungasan mulai jam satu siang, melawan rasa capek dan kantuk saat mengendarai motor. Di Masjid Polda Denpasar kami beristirahat dan menunaikan sholat Ashar. Dari Denpasar indahnya matahari sebelum tenggelam mulai terlihat. Saya minta kang Dede untuk mampir ke pantai terdekat sebelum sampai di rumah.

Pada waktu yang tepat kami sampai di pantai Jimbaran. Langit sudah memerah, beberapa pengunjung berlarian dengan riang di pantai yang landai, sebagian lagi sibuk mengambil foto, beberapa duduk tenang menikmati suasana, dan di tempat-tempat makan yang menyediakan seafood suasana cukup riuh. Saya memilih berkeliling sejenak, lalu berhenti untuk menikmati langit yang memerah dan bentuk awan yang menarik. Hanya langit merah dan awan yang indah, di sini matahari tidak terlihat tenggelam di laut karena posisinya tenggelamnya di belakang pohon-pohon dan bangunan yang berdiri di bagian selatan pantai.
 
Sunset di Jimbaran
Malamnya saya merenung, hidup semacam apa yang saya jalani hari ini. Pagi di danau, siang di gunung, sore di pantai, semuanya untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya. Kebahagiaan terasa utuh dalam perasaan. Apakah hal yang seperti ini membuat saya lari dari kerumitan Jakarta? Tidak. Perjalanan ini adalah pencarian bukan pelarian. Mencari sesuatu yang tidak saya dapatkan dalam kehidupan sebelumnya. Cerita di atas adalah bagian-bagian yang telah saya temukan. Di perjalanan selanjutnya akan lebih banyak yang dapat ditemukan, dan tentu saja akan saya bagi dengan kalian.

Senin, 26 Januari 2015. Bali


P.S: Tulisan ini saya selesaikan di gazebo pantai Balangan yang nyaman dan indah, dengan hembusan angin yang sejuk, deru ombak, dan Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan-nya Payung Teduh. Syahdu. 
Tempat menulis cerita perjalanan ini

8 komentar:

  1. Baca dari KASKUS, terdampar di Blog aslinya. Hahahaha.
    Rencana di Bali sampai kapan gan?
    Inspiratif gan, nanti kalo ane udah bosen kerja, mau ngikutin perjalanannya.

    "All that is gold does not glitter,
    Not all those who wander are lost;" JRR Tolkien.

    BalasHapus
  2. Sampai akhir Februari gan.
    Ayo gan, ditunggu di perjalanannya.
    Quote-nya keren banget tuh gan..

    BalasHapus
  3. Naik Rinjani Gan kalau sampai Maret masih ada di Lombok nanti!! Wajib jib. Nggak usah takut kalau gak ada partner. Rinjani gunung rame kok :) (sekarang Rinjani Masih tutup)

    BalasHapus
  4. Rencananya memang mau naik Rinjani gan,
    Jadwal perjalanan ane fleksibel kok, menyesuaikan dengan kesempatan dan keuangan. hahahaha.
    Agan Fadli ada rencana mau naik Rinjani?

    BalasHapus
  5. I miss Bali, apalagi Gunung Batur dan pemandangan danaunya yang indah.


    www.littlenomadid.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, pemandangan di sana bagus banget. Kalau mau mendaki gunung Batur juga tidak terlalu capek.
      Blog kamu kereeeeen Velysia.

      Hapus
  6. Keren banget gan, apalagi di paragraf PS yang terakhir, bener" suasana yang syahdu !!

    BalasHapus