LEBIH SEHAT DAN TAMPAN SEPULANG DARI SUMBERAWAN

Cuaca sejuk seperti jadi berkah yang terus mengalir sepanjang hari Jumat kemarin di Singosari, Malang. Sesekali angin bertiup menambah kesejukan. Duh, betapa sayang jika melewatkan waktu yang berlalu jika berdiam saja di rumah. Kami tinggalkan rumah dan mulai berjalan keluar selepas menunaikan sholat Jumat.

Jarak sekitar enam kilometer dari Singosari--sesuai pada petunjuk arah--yang kami tempuh melewati pemukiman penduduk. Jalanan tidak ramai oleh kendaraan dan membingungkan ketika sampai pada pertigaan terakhir tujuan kami, karena tidak ada lagi petunjuk jalan yang mengarahkan dengan jelas. Setelah bertanya kepada penduduk di sana, arah ke kiri ditunjukkan sebagai jalan menuju Candi Sumberawan yang berada di desa Toyonarto.

Satu plang yang bertuliskan Candi Sumberawan berada sekitar 500 meter dari tempat kami bertanya sebelumnya. Jalan menuju ke candi berwarna kecoklatan, berada di antara perkebunan warga. Petunjuk arah yang sangat kecil dan tidak terlihat dari jauh kurang membantu perjalanan hingga kami kembali bertanya pada penduduk yang baru pulang dari kebunnya lalu berputar arah menuju candi.



 Paving block tersusun rapi pada jalan sepanjang seratus meter sebelum candi, menurut warga yang kami temui dananya berasal dari swadaya masyarakat yang peduli terhadap bangunan candi tersebut. Pohon-pohon pinus berdiri anggun di sekitar candi dan menciptakan suasana yang rindang. Selain itu ada juga beberapa warung terbuat dari potongan bambu.

Jalan masuk setelah dari gerbang menuju ke suatu bangunan semacam pos masuk. Pengunjung diminta menuliskan data diri dan tujuan ke sana, serta “partisipasi” seiklasnya. Bapak Nuriadi yang berada di pos itu sebagai juru pelihara candi, beliau dapat memberikan informasi tentang candi jika ditanya.

Candi Sumberawan ini merupakan stupa besar yang menjadi tempat pemujaan umat Budha pada zaman Majapahit sekitar abad ke-14 sampai ke-15 Masehi. Sayang pada bagian atas stupanya sudah tidak utuh lagi. Menurut bapak Nuriadi, bagian atasnya sudah tidak ditemukan saat pemugaran oleh Belanda pada jaman penjajahan dulu sekitar tahun 1930an.



Dua sumber mata air di sekitar candi menjadi daya tarik lain dari tempat ini. Sumberkuro adalah nama mata air yang ada di utara candi karena ada patung kura-kura di sana, disebutkan airnya berkhasiat untuk kesehatan. Mata air lainnya yang berada di selatan candi disebutkan berkhasiat untuk karir, ketampanan atau kecantikan. Di sana pengunjung dapat mandi dan meminum airnya. Jika ingin mandi, harus ada satu orang yang menjaga di pintu untuk menjaga orang lain masuk.

Setelah minum air yang segar dari mata air Sumberkuro dan membawa pulang satu  botol, saya sempatkan mencuci muka di mata air satunya. Air yang bersih dan dingin memberikan kesejukan ketika menyentuh kulit wajah. Saya langsung merasa lebih tampan daripada sebelumnya.



Di sana saya bertemu dengan mas Ganis yang merupakan pemerhati candi dan situs-situs purba di Jawa Timur. Menurutnya lokasi ini dikelola oleh tiga instansi yang berbeda. Bangunan candi oleh dinas purbakala yang merupakan bagian dari dinas Pariwisata, mata air oleh PDAM, serta hutan pinus oleh dinas Kehutanan. Mas Ganis mengakui kalau akses jalan ke candi masih memprihatinkan dan butuh tindakan dari ketiga instansi tersebut.

Menurut saya akses jalan menuju candi, khususnya 1 kilometer terakhir ke sana harus diperbaiki. Selain karena aspal jalannya sudah rusak hingga tanah menutupi hampir semua badan jalan. Petunjuk arah ke candi hendaknya diperjelas agar memudahkan pengunjung yang belum tahu lokasinya. Menurut pak Nuriadi, juru pelihara candi, setiap harinya selalu ada yang mengunjungi candi, pada akhir minggu jumlah jauh lebih banyak bisa sampai 100an orang. Waktu kami di sana ada satu keluarga yang datang dari Surabaya untuk mandi dan melakukan ritual.Jumlah pengunjung juga meningkat ketika hari raya umat Budha.



Di komplek wisata candi Sumberawan, pengunjung tidak hanya dapat menikmati bangunan candi dan cerita sejarahnya. Pengunjung akan mendapatkan kesegaran dengan mandi di kedua sumber mata air tersebut, pilihlah sesuai keinginan. Serta juga dapat menikmati segarnya  air langsung dari sumbernya. Jika kalian ke sana, saya yakin kalian akan lebih tampan atau cantik setelah mandi dari sumber air tersebut daripada sebelumnya, dan akan  lebih sehat setelah minum air dibandingkan kalian kehausan. Jadi datanglah ke Candi Sumberawan agar lebih cantik atau tampan serta lebih sehat.

Minggu, 18 Januari 2015. Malang.


P.S: Sewaktu tulisan ini dimuat, saya sudah sampai di Bali. Modal jempol dari Malang sampai Denpasar. Pada postingan berikutnya saya ceritakan. 

1 komentar:

  1. Wah, dari tahun 2011 sampai 2015, jalan ke sananya ya masih rusak toh? Kalau nggak di dekat gerbang ke Sumberkuro itu ada bilik kecil dengan plang larangan "dilarang masuk". Apa masih ada?

    BalasHapus