Malu Bertanya Sesal Diongkos

Jam setengah tujuh pagi kereta Matarmaja yang saya tumpangi dari Semarang berhenti di stasiun Kota Baru, Malang. Sisa penumpang bergerak keluar dari kereta setelah menempuh perjalalanan selama lebih dari dua belas jam sejak dari Jakarta. Tukang ojek, tukang becak, sopir taksi, dan sopir angkot mengerubungi menawarkan jasa mereka. Menurut teman, saya harus menaiki angkot warna biru dengan tulisan AG, namun saat itu saya menaiki angkot dengan tulisan ALG setelah sebelumnya saya jelaskan tujuan ke Singosari. Sekitar sepuluh menit perjalanan saya turun di Stopan dan membayar ongkos sebesar Rp 5000,- lalu berganti ke angkot warna hijau dengan tulisan LA dengan tujuan pasar Singosari dan membayar Rp 3000,-.

Saya merasa sopir angkot pertama menarik ongkos lebih dari tarif sebenarnya. Karena sewaktu saya tanya kepada penumpang dalam angkot kedua tentang ongkos dari stasiun Kota Baru ke Stopan dia jawab hanya Rp 3000,-. Pengalaman mengajarkan saya untuk bertanya ke sesama penumpang tentang berapa ongkos yang seharusnya dibayarkan. Malu bertanya sesal diongkos. Saat turun angkot yang kedua saya membayar dengan uang pas sebesar yang disebutkan penumpang tadi.

Pagi di Malang datang lebih cepat. Teman saya pengelola toko jual beli perhiasan perak sudah membuka tokonya sejak jam 6 pagi di pasar Singosari. Toko perhiasannya sudah buka saat pedagang sayur masih sibuk melayani pembeli. Alasannya sederhana yaitu jika pengunjung membutuhkan uang untuk membeli sayur, mereka bisa menjual perhiasan yang dibeli dari tokonya. Suatu cara marketing yang unik yang membedakannya dengan toko perhiasan lain di pasar tersebut.

Candi Singosari
Saya mengunjungi candi Singosari yang dikelilingi rumah penduduk sebelum magrib, jaraknya sekitar lima ratus meter dari pasar Singosari. Saat itu gerbang masuk ke candi sudah dikunci. Halaman candi ditanami rumput yang tertata dengan baik menimbulkan keindahan tersendiri.

Selepas magrib saya ikut pengajian ke rumah tetangga dari tempat saya menginap. Setelah pengajian para tamu dihidangkan nasi Rawon yang rasanya begitu enak ditengah cuaca dingin Malang. Tidak hanya itu, sebelum pulangpun para tamu diberi Berkat, yaitu bungkusan berisi nasi lengkap dengan lauknya serta satu kotak jajanan pasar. Hal yang menarik dari pengajian itu adalah, tidak seorangpun membawa Al Quran atau Surat Yasin. Menurut teman saya orang-orang di pengajian itu sudah banyak yang hapal surat Yasin, jadi mereka melafalkan surat Yasin dari ingatan mereka. Ingatan saya tertuju pada plang di dekat pasar yang bertuliskan Singosari Kota Santri, selain itu saya juga banyak melihat anak-anak muda memakai sarung, baju koko, dan kopiah berseliweran di sekitar pasar.


Seperti pagi yang datang lebih cepat, malampun datang lebih cepat di sini. Jam 9 malam jalanan sudah sepi. Keseimbangan sederhana mulai muncul, suatu yang bermulai lebih awal juga akan berakhir lebih awal. Seperti pagi dan malam di Malang.


Sabtu,  3 Januari 2015. Malang 

0 comments:

Posting Komentar