PETUALANGAN DUA PULUH DUA RIBU KE BROMO

Perjalananmu adalah takdirmu, jangan biarkan orang lain yang menentukannya. Berjalanlah menurut hati dan pikiranmu.

Tulisan ini adalah lanjutan dari perasaan bahagia saya ingin berbagi cerita dari perjalanan ke Bromo kemarin. Perjalanan untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan dan untuk mengalahkan ketakutan diri.

Sedikit rasa pesimis bersarang dalam pikiran saya saat mencari tumpangan ke Probolinggo dari Singosari, Malang, dengan bekal tulisan “Probolinggo. Bisa bantu nyetir” di belakang kalender bekas. Ini pertama kalinya dalam hidup saya mencari tumpangan ke suatu tempat yang saya tidak tahu persis rutenya. Karena itu saya memutuskan untuk melakukannya paling lama dua jam, jika tidak mendapatkan tumpangan saya akan menggunakan transportasi umum saja.

Menjadi perhatian bagi beberapa pejalan kaki
Satu jam berlalu tidak ada kendaraan yang merespon acungan jempol saya yang dalam istilah traveling disebut hitch hiking. Rasa pesimis mulai menghantui. Beberapa sopir truk melambaikan tangannya yang mungkin berarti mereka tidak ke tempat yang saya tuju. Cuaca mulai terasa panas dan perlahan keringat keluar dari pori-pori wajah. Tiba-tiba Daihatsu Grand Max hitam berhenti sekitar sepuluh meter di belakang saya. Sopirnya memberi isyarat, dan saya mendapatkan tumpangan pertama.

Toni, mahasiswa ITN Malang yang berasal dari Sorong, Papua, memberikan tumpangan pertama. Dia mengatakan di daerah asalnya sudah biasa memberi tumpangan pada orang lain, baik dikenal maupun tidak. Namun ketika dia melakukan hal yang sama di sini, memberikan tumpangan kadang dianggap sebagai sesuatu yang tidak sopan dan anggapan negatif lainnya.

Toni yang ingin menjemput keluarganya ke pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menurunkan saya di pertigaan Purwosari. Walaupun tujuan kami berbeda, tumpangan dari dia sangat membantu karena makin mendekatkan saya dengan tujuan dan membangkitkan optimisme saya terhadap perjalanan  ini.
Toni pemberi tumpangan pertama dan pembangkit rasa optimis saya 
Baru saja saya ingin membentang kalender bekas untuk mencari tumpangan berikutnya, tiba-tiba motor Beat putih berhenti di depan saya. “Saya sudah melihat sampean di Malang tadi. Saya mau ke Pasuruan, nanti sampean bisa mencari tumpangan lain di sana” begitulah kata pak Agus setelah membuka kaca helmnya.

Tidak ada waktu terbuang untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Di atas motor, pak Agus menjelaskan daerah sepanjang perjalanan, di mana banyak berdiri pabrik makanan dan minuman yang sangat familiar. Sebagai distributor kosmetik, pak Agus sering ke daerah sekitar Pasuruan sampai ke Probolinggo. Hari itu belum jadwalnya ke Probolinggo jadi saya menumpang sampai Pasuruan saja.

Pak Agus sangat mengejutkan saya ketika kami akan berpisah. Setelah mengucapkan terima kasih, saya menjabat tangan beliau. Dalam jabat tangannya pak Agus menyelipkan selembar uang 20 ribu. Sungguh saya terkejut menerima kebaikan yang berkali lipat dari bapak ini. Tidak ada yang bisa saya berikan untuk dia selain doa keselamatan dan kebahagiaan untuknya.
 
Tidak butuh caption lagi untuk kebaikan Pak Agus
Saya menunggu tumpangan di jalan ke arah Probolinggo yang tadi ditunjukkan oleh pak Agus. Di depan pasar Kebon Agung saya membentangkan kalender bekas tadi. Lebih dari satu jam saya tidak melihat truk melintas ke arah Probolinggo dan mobil biasapun tidak banyak yang melintas di sana. Berbeda dengan arah sebaliknya. Ternyata jalan Panglima Sudirman tidak boleh dilewati oleh truk yang menuju ke arah Probolinggo atau ke arah timur.

Saya mengumpulkan informasi dari beberapa orang tentang jarak dan waktu perjalanan, serta ongkos bus dari Pasuruan-Probolinggo. Setelah yakin bahwa ongkosnya tidak besar untuk waktu tempuh sekitar satu jam, saya menaiki bus ke Probolinggo. Tujuh ribu menjadi pengeluaran pertama saya dalam perjalanan ini.

Di terminal Probolinggo saya sampai pada jam dua belas siang. Beberapa tukang ojek menawarkan jasanya dengan berbagai cara. Salah satu yang paling unik adalah seorang tukang ojek yang membentak, seperti seorang ayah menegur anaknya yang salah saat menghampiri saya. Saya menolak tawarannya dan memahami kalau cara dia menawarkan jasanya sudah merupakan gaya bahasa aslinya, bukan suatu yang disengaja untuk mengancam.

Melanjutkan perjalanan dari Probolinggo ke Cemoro Lawang rencananya menggunakan mobil Elf dengan ongkos 35 ribu/orang jika penuh. Setelah menunggu sampai jam empat sore, hanya ada 7 calon penumpang sedangkan kapasitas mobilnya 15 orang. Jika ingin berangkat maka setiap penumpang membayar 75 ribu. Harga yang meningkat dua kali lipat membuat saya mencari alternatif tumpangan ke Cemoro Lawang.

Pak Maksum, sopir Elf mengatakan mobil sayur adalah pilihan tumpangan ke Cemoro Lawang. Mobil pertama yang kami tanya saat mengisi bensin di pom dekat terminal Probolinggo langsung membawa kami ke Sukapura, dari sini Cemoro Lawang berjarak sekitar 18 kilometer lagi. Hujan mengiringi perjalanan, mas Sukur sopir L300 mengajak kami bertiga duduk di depan agar tidak kehujanan. Beliau mengantarkan kami sampai pom bensin Sukapura, sekitar 2 kilometer setelah rumahnya.

Berdesakan dalam mobil L300 karena hujan
Sekitar sepuluh menit menunggu, mobil pick up pertama yang kami tanya memberikan tumpangan sampai desa Nadas, sekitar 4 kilometer sebelum Cemoro Lawang. Mas Samiar yang baru pulang dari Probolinggo untuk mengambil air compressor Jeep-nya membawa kami sampai ke rumahnya. Mas Samiar dan keluarganya merupakan petani sayur yang juga memiliki 2 unit Jeep untuk membawa pengunjung ke bromo.

Pak Yono, orang tua mas Samiar menawari kami penginapan dan tumpangan Jeep ke Bromo dengan harga 400 ribu. Harga yang cukup murah untuk dua jenis pelayanan tersebut, namun karena memutuskan untuk jalan kaki kami menolaknya. Kami hanya menyewa pick up mereka untuk mengantarkan ke Cemoro Lawang dengan membayar 50 ribu untuk bertiga.

Mushola di belakang pos masuk ke Bromo adalah tujuan kami malam itu. Satu orang menghampiri kami menawarkan penginapan, saya menjelaskan keadaan perjalanan kami dan meminta ijin tidur di Mushola. Untuk makan malam kami meminta air panas dari petugas yang kebetulan sedang merebus air untuk mandi.

Jam dua malam kami bangun, setengah jam kemudian mulai jalan kaki menuju Pananjakan 2. Di tengah perjalan pemilik kuda menawari tumpangan dari harga 150 ribu sampai 50 ribu. Hanya Gilang yang mengambil tawaran itu karena sudah mulai capek. Jam empat subuh kami sampai di Pananjakan 2 untuk menunggu terbitnya matahari.
                                                                                       
Di Pananjakan 2 kami tidak beruntung dapat menikmati keindahan terbitnya matahari. Ibu Mintasih, penjual minuman di sana  meminta kami bersabar dulu, menurut dia di sana banyak hal tidak terduga bisa terjadi, misalnya kabut bisa tiba-tiba saja naik. Saya duduk di dekat ibu Mintasih untuk menghangatkan diri dengan arang yang dia bakar. Kami bercerita mengenai keadaan di Bromo, keluarganya, pekerjaannya, dan bahasa Inggrisnya, serta perjalanan saya. Ibu Mintasih yang asli suku Tengger dan tinggal di lereng Pananjakan 1 memberi saya dan Ulil teh manis panas. Minuman yang memberikan kehangatan di tengah tiupan angin dan kabut tebal.

Saya dan teh manis panas dari ibu Mintasih penjual minuman di Pananjakan 2
Dari Pananjakan 2 kami melanjutkan perjalan ke kawah Bromo. Setelah sempat nyasar ke kebun sayur untuk mencari jalan pintas, kami menumpang mobil petani sampai ke depan hotel Cemara Indah. Dari sini kami kembali berjalan kaki menelusuri dataran pasir setelah menuruni tebing yang juga merupakan jalan kuda membawa pengunjung.

Keinginan mencapai puncak kawah Bromo terpenuhi dalam kabut tebal, angin kencang dan bau belerang yang menyesak. Jam sepuluh kami memutuskan kembali ke Cemoro Lawang untuk membersihkan diri dan bersiap pulang. Dari Bromo saya mendapat tumpangan sepeda motor dari Sahrul, mahasiswa Unair yang bersama teman-temannya juga berkunjung ke Bromo.

Setelah turun di Cemoro Lawang, Sahrul menawari saya tumpangan sampai ke Probolinggo karena satu arah dengan tujuannya, yaitu Surabaya. Suatu tawaran yang sangat membantu perjalanan saya, karena sebelumnya saya berencana untuk menumpang mobil sayur lagi. Saya mengendarai motornya sampai di Probolinggo. Setelah itu Sahrul melanjutkan perjalanannya dan saya mencari tumpangan selanjutnya.

Bersama Sahrul dan motornya yang akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya
Tidak sampai lima menit menunggu, truk pengangkut sepeda motor berhenti di depan saya yang mengacungkan jempol dan memegang kardus bertuliskan “Pasuruan”. Mas Rifa’i adalah sopir truk asal kota Batu yang baru pulang dari Jember memberikan bantuan selanjutnya. Menurut mas Rifa’i teman-temannya sesama sopir truk juga sering memberikan tumpangan gratis bagi para traveller yang membawa backpack dan tulisan pada kertas, kebanyakan para traveller itu adalah warga asing.

Selfie dengan mas Rifa'i sebelum turun
Di depan Pasar Kebon Agung saya berpisah dengan mas Rifa’i karena dia akan melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo. Pengawai dealer motor bekas yang pada hari sebelumnya memperhatikan saya menunggu tumpangan, menanyakan kegiatan saya. Saya jelaskan lalu beliau memberi saya kardus bekas untuk dituliskan kota tujuan saya selanjutnya, Malang.

Setengah jam berlalu saya mengacungkan jempol dan memegang kardus bertuliskan “Malang/ Purwosari”. Keringat membasahi badan dan wajah saya. Tepat jam dua siang, Honda Jazz warna keemasan berhenti di belakang saya. Mobil itu dikendarai oleh bapak Dian Candra, anggota Sabara Polres Pasuruan. Beliau dalam perjalanan Pasuran-Malang ke tempat orang tuanya memberikan tumpangan berikutnya. Bapak Dian yang akan menikah pada 14 Februari nanti bercerita kalau beliau juga sering memberikan tumpangan bagi orang lain.
Bapak Dian Candra
Dari perjalanan ini saya menyadari bahwa banyak sekali kemudahan dan bantuan yang saya terima dari orang-orang di atas. Status, profesi, suku, agama, dan segala identitas lainnya tidak menjadi batasan dalam berbuat baik. Mungkin ada keraguan pada sikap cuek yang menjangkiti masyarakat pada era ini, namun orang-orang di atas membuktikan kepada saya kalau mereka bukanlah bagian dari masyarakat itu. Toni, mas Rifa’i, bapak Dian adalah orang-orang yang sudah sering memberikan tumpangan kepada orang lain sebelum saya. Saya yakin pada waktu mendatang mereka masih akan melakukan hal yang sama. Satu lagi keyakinan saya adalah, masih banyak Toni, ibu Mintasih, pak Agus, Sahrul, mas Sukur, mas Samiar, mas Rifa’i dan bapak Dian lainnya di Indonesia ini.

Masihkah engkau ragu untuk memulai perjalanan, kawan?


Jumat, 16 Januari 2015. Malang

12 komentar:

  1. sangat menginspirasi mas tulisannya, dan mematahkan persepsi kalo traveling itu mahal. mampir juga mas ke blog saya triprajoko.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Tri Prajoko: Perjalanan itu adalah pilihan masing-masing, bisa mahal atau murahnya.
    Blog kamu bagus, tapi udah lama gak update ya..

    BalasHapus
  3. Menarik....
    saya juga pernah beberapa kali menumpang seperti itu.. heran sendiri, ternyata banyak orang baik yg belum sy temui sebelumnya.
    Salam kenal

    Fit-ananda.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, masih banyak orang baik di luar sana cuma saja mereka kurang menarik untuk masuk media, karena orang jahat lebih punya nilai berita. Blog kamu tidka bisa dibuka kenapa yah?

      Hapus
  4. cerita yg menginspirasi....
    Pertanyaan buat temen2 yg memutuskn resign demi utk keliling indonesia adlh yg pertama umur abg brapa?, yg kedua nggk khawatir nanti selesai keliling indonesia buat nyari2 kerja lg?
    jgn lupa bertamu ke blog saya indhpermatasari.blogspot.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentang umur saya, baca postingan terbaru pada awal Juli nanti yah :)
      Cita-cita saya sepulang perjalanan nanti adalah membiarkan ijazah saya tersimpan tenang di tempat sekarang, tanpa harus dibawa-bawa untuk melamar pekerjaan. Terima kasih sudah main-main ke sini Indah

      Hapus
  5. Keren banget ceritanya, keren banget blognya.
    Mas saya mau tanya dan minta tips dong, saya seorang solo traveller tapi masih area jawa tengah saja. Nah, rencana agustus ini saya mau solo travelling ke bromo. Tapi saya berpikir, kalau saya dengan sistem hitch hiking takutnya nggak aman karena saya perempuan. jadi saya memutuskan untuk planning menggunakan transpotasi kereta/bus dari jogja ke malang. Nah yg ingin saya tanyakan, dari malang itu untuk sampai ke bromo transpotasi apa yg bia digunakan? adakah bus kecil untuk ke bromo? selain itu, setelah sampai bromo apakah harus menyewa jeep untuk bisa sampai ke puncak nya? kalau misal di tempuh dengan jalan kaki bisa nggak?

    terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Betty
      Dari Malang-Probolinggo ada bus langsung, ongkosnya sekitar 30-35 ribu. Dari Probolinggo-Cemoro Lawang bisa naik Elf (mini bus) keterangan biaya dan ketentuan lainnya ada dalam cerita di atas.
      Kalau cuma untuk menikmati sunrise, kamu bisa jalan kaki sampai Pananjakan 2, sekitar 1,5 jam dari Cemoro Lawang. Cerita tentang ini ada di blog dengan judul Tidak Ada Sunrise, Pelanginpun Indah di Bromo. Selamat membaca

      Hapus
  6. "Masihkah engkau ragu untuk memulai perjalanan, kawan?" Netes setetes air mataku bang

    BalasHapus
  7. Husein. wah. Jadi bagaimana jawabanmu untuk pertanyaan itu?

    BalasHapus
  8. siapa bilang traveling harus mahal? :D keren!

    BalasHapus
  9. Masih tetap ragu, khususnya tentang keamanannya (seperti yang disampaikan oleh Mbak Betty di atas dan Mbak Fhe Khoiri di postingan sebelumnya, lagi2 karena saya perempuan). Salut banget buat Mbak Fitri Ananda yang pernah hitch hiking seperti Uda. Kira2 untuk memberanikan diri dan meredakan keraguan tersebut gimana ya Uda? Terlebih kalau bepergiannya sendiri.

    BalasHapus