JALAN-JALAN GRATIS KELILING BALI DENGAN MODAL BISA NYETIR

Cerita perjalanan di Bali bagian empat

Sudah hampir dua minggu saya tidak menuliskan catatan perjalanan, bukan karena tidak  berjalan, melaikan sebaliknya. Hampir setiap hari saya mengunjungi tempat-tempat wisata di Bali. Tempat-tempat yang sebelumnya tidak masuk dalam rencana perjalanan karena berbagai keterbatasan, namun kesempatan dan kemudahan  menghampiri saya untuk mengunjungi tempat-tempat yang saya ceritakan di bawah ini.

Memasuki hari kedua Februari saya menemani mbak Desi dari Papua yang sedang liburan di Bali. Beliau tidak memilih pantai apapun untuk dikunjungi, semua tujuannya mengarah ke utara dan timur pulau Bali. Tempat pertama yang dikunjungi adalah desa Tegallalang atau yang familiar dengan TegallalangTerrace Rice di Ubud. Kami menempuh perjalanan selama tiga jam dari Kuta, karena kesasar dan sering mampir untuk bertanya.
 
Tegallalang Terrace Rice di Ubud
Mbak Desi adalah tipe wisatawan yang tidak puas hanya dengan melihat sekilas lalu sibuk mengambil foto di tempat yang dikunjungi. Dia memilih turun melintasi pematang sawah yang berkelok, dan menurun-mendaki untuk dapat lebih puas menikmati pemandangan dari berbagai sisi. Tidak heran setelah puas menjelajah dia ingin beristirahat sambil menikmati kelapa muda yang banyak dijual di sana.

Perjalanan berikutnya adalah pemandian Tampak Siring yang ditempuh sekitar setengah jam dari Terrace Rice Tegalalang. Cuaca pada siang itu berubah dengan cepat, mulai dari panas terik, gerimis, hingga hujan. Gerimis menyambut saat kami sampai di komplek Tampak Siring. Selain pemandian di sini juga ada Istana Tampak Siring yang tidak sempat kami kunjungi.

Pengunjung dewasa membayar lima belas ribu sebagai tiket masuk. Setelah membeli tiket kami diikuti oleh bli Ketut, dia menjelaskan sekilas lingkungan sekitar pemandian, peraturan di sana, tempat loker dan penyewaan kain untuk mandi. Bli Ketut yang merupakan photographer di sana lalu menawarkan jasanya setelah menjelaskan hal-hal tadi.

Mbak Desi membayar dua puluh lima ribu untuk sewa kain yang dipakai mandi dan loker penyimpanan barang. Di pemandian kami disambut oleh bli Putu yang menjelaskan aturan mandi yang benar khusus untuk pengunjung non Hindu. Sebelum mandi pengunjung disarankan untuk berdoa atau mensucikan pikiran dan perasaan sambil memegang sesajen yang telah disiapkannya.
 
Mandi di Tampak Siring
Air yang dingin, ikan-ikan, kelopak bunga warna warni yang mengapung di permukaan dan tiga belas pancoran menyambut kami di kolam pertama. Setiap pancoran memiliki khasiat yang berbeda, mulai dari kesehatan, rezeki, hingga kebijaksanaan, termasuk dua pancoran yang sebaiknya dilewati karena digunakan untuk kematian. Air dingin dan cuaca sejuk memberikan kesegaran setelah mandi, termasuk rasa lapar. Hujan sekilas melepas kami sebelum meninggalkan Tampak Siring yang menjadi tujuan terakhir hari itu.

Taman Ujung Sukasada adalah tujuan hari berikutnya bersama mbak Desi setelah menempuh dua setengah jam perjalanan dengan motor dari Kuta. Kami melewati jalan by pass sepanjang pantai timur pulau Bali. Di Klungkung kami dicegat oleh serombongan polisi yang melakukan pemeriksaan. Saya ditilang karena SIM C saya sudah habis masa berlakunya dengan membayar lima puluh ribu dan menandatangani surat tilangnya.

Bangunan utama memiliki empat kamar dibangun di atas kolam yang dapat diakses dari dua sisi. Jembatan menuju ke bangunan utama menjadi tempat kesukaan pengunjung mengambil foto. Bangunan lain yang bergaya Yunani kuno berada di bagian atas juga sangat menarik untuk tempat pengambilan foto. Jika punya waktu lama, pengunjung bisa lebih lama menikmati pemandangan taman, kolam, dan biru laut dari gazebo yang ada di sana.
 
Salah satu tempat yang jadi favorit untuk foto pre wedding
Perjalanan berikutnya dilanjutkan ke Pura Besakih sekitar satu setengah jam perjalanan. Jalan yang ditempuh adalah jalan desa yang kecil, berkelok-kelok dan beberapa bagian berlobang dan bergelombang. Di pintu gerbang komplek Pura kami diberhentikan oleh bli Wayan dan diajak ke meja informasi. Beliau menjelaskan informasi mengenai pura dan kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung di sana. Setelah itu beliau memberikan info berapa biaya yang diberikan tamu kepada guide seperti dia.
 
Bli Wayan saat menjelaskan informasi tentang Pura Besakih
Hari-hari selanjutnya saya jalan-jalan ke Bedugul, Tanah Lot, Tanjung Benoa, Kintamani, Pasar Sukowati, Pura Uluwatu, Pura Gunung Payung, Pantai Pandawa, Pantai Nusa Dua, Pantai Balangan, Pantai Jimbaran dan pusat oleh-oleh. Kesempatan itu semuanya saya dapatkan karena saya jadi tour driver di By Tripphoria milik mas Bayu. Keahlian menyetir menjadi modal saya dalam pekerjaan ini.

Jika kalian sudah membaca cerita ini sebelumnya, itu adalah semacam training untuk mengetahui tempat-tempat wisata di Bali. Selama Februari ini saya menetap di Bali, belajar dan bekerja dengan mas Bayu sebagai pemilik By Tripphoria. Dari pengalaman sejauh ini, saya melihat beberapa cara untuk berwisata hemat di Bali, misalnya hemat untuk transportasi, makan, dan permainan wahana air. Pada postingan selanjutnya akan saya ceritakan.

Kamis, 12 Februari 2015. Bali

P.S:
Bagi teman-teman yang ingin menikmati beberapa foto perjalanan saya bisa dilihat di:
Instagram: @siguriitu
Path: Guri Ridola



0 comments:

Posting Komentar