Tulisan ini berawal dari ingatan tentang Langbuana, Langbuana adalah nama untuk motor matic yang digunakan mbak Leah Saklidudenov selama solo traveling Banyuwangi-Flores. Menurut mbak Leah, nama itu berasal dari kata “melanglang buana” yang ditemuinya dalam suatu bacaan. Karena motor matic itu digunakannya untuk menjelajah alias melanglang buana maka lekatlah nama Langbuana. Saat menempuh perjalanan berjam-jam, Langbuana menjadi teman berceritanya, kepalanya dibelai sebagai permintaan maaf jika masuk jalan jelek, dan mendapat kecupan hangat saat sampai tujuan. Benda mati yang dimiliki serasa hidup dan memiliki hubungan emosional, begitulah kekuatan sebuah nama.

Nama mengandung banyak arti, bisa jadi nama sebagai latar belakang peristiwa, harapan dan doa, atau perlambangan seperti keberuntungan, kebijaksanaan, dan lain sebagainya. Forrest Gump memberi nama Jenny untuk kapal penangkap udangnya sebagai pengingat kepada gadis pujaannya, Tom Hanks juga memberi nama Wilson pada bola voli untuk diajak berbicara saat ia terjebak dalam film Castaway. Tidak hanya makluk hidup yang layak diberi nama, benda-benda yang kita milikipun berhak untuk diberi nama. Karena itu saya juga memberi nama pada benda-benda yang saya miliki sekarang.
Berbagilah walaupun sedikit, karena dengan berbagi engkau tidak akan merasa kekurangan.

Pengalaman tinggal dan jalan-jalan selama sepuluh hari di Lombok dapat membantu saya menulis tips jalan-jalan hemat dan bahagia ini. Hemat tidak hanya berarti menekan pengeluaran, tapi juga melakukan tindakan yang tepat dan sedikit menambah usaha untuk mengurangi pengeluaran.

Semua yang ditulis di bawah ini pada umumnya sudah saya lakukan, dan sebagian lagi pengalaman dari teman-teman yang saya temui di Lombok, tepatnya di Rumah Singgah Lombok Backpacker. Poin-poin penghematan yang dapat dilakukan adalah.

1.   Akomodasi

Rumah Singgah Lombok Backpacker adalah salah satu pilihan untuk tinggal selama di Lombok. Datangilah dan rasakan kehangatan sambutan dari Bapak, Mamak, dan anggota Lombok Backpacker, serta di sini juga dapat menikmati masakan khas Lombok. Mengenai biaya tinggal di sini tidak perlu dirisaukan, jika ingin membantu sebagai biaya air dan listrik silahkan seikhlasnya, jika tidak cukuplah anggap sebagai rumah sendiri. Karena itu jangan sungkan untuk mencuci piring atau gelas kotor, menyapu rumah, menguras bak dan kegiatan lain layaknya di rumah sendiri, dan tentu saja menjaga keamanan dan kenyamanan.

Selain dari akomodasi di Rumah Singgah anda juga akan mendapatkan referensi mengenai tempat-tempat  wisata di Lombok, informasi penyewaan kendaraan, tempat makan, relasi sesama traveller, dan bisa juga dapat travelmate untuk trip selanjutnya, jika lebih beruntung travelmate dapat meningkat jadi lifemate a.k.a pasangan hidup. Jadi jangan takut untuk datang sendiri ke Lombok. Selain itu teman-teman dari Lombok Backpacker dengan senang hati akan menemani anda ke tempat-tempat wisata dengan cuma-cuma, jika mereka ada kesempatan tentunya.

Rumah Singgah Lombok Backpacker


2.   Transportasi

Menyewa kendaraan tentu adalah pilihan bijak selama di Lombok, lokasi yang cukup jauh dari satu tempat wisata ke tempat lainnya dan belum tersedianya transportasi umum yang mencukupi adalah alasannya. Jika ingin lebih hemat dan cepat motor adalah pilihannya dengan tarif 60 ribu/hari, sedangkan jika menginginkan kenyamanan mobil dapat jadi pilihan dengan tarif 250 ribu/hari belum termasu BBM dan driver. Agar lebih hemat lagi, disarankan menyewa motor manual karena jalan ke tempat-tempat wisata yang berkelok-kelok dan naik-turun.

Sebagai perbandingan, waktu saya dan rombongan ke Tanjung Beloam dan sekitarnya. Kami sama-sama mengisi fulltank bensin motor sebelum berangkat. Bensin motor manual yang saya kendarai masih cukup sampai di rumah, sedangkan motor matic teman harus diisi pada setengah jalan perjalanan pulang.

Tidak seperti di Bali, di mana motor sewaan bisa serah terima di Bandara, saya belum menemui sewa kendaraan di Lombok yang bisa serah terima di bandara atau di pelabuhan. Jika ada, tentu saja itu dapat lebih mengurangi pengeluaran.

3.   Konsumsi

Salah satu pengeluaran yang tidak bisa dihindari selama jalan-jalan adalah konsumsi. Namun di Lombok, pengeluaran untuk konsumsi dapat lebih ditekan. Nasi Balapan adalah pilihan yang tepat untuk berhemat dari sarapan sampai makan malam. Nasi dengan lauk daging ayam suir, ikan pindang, potongan tempe, sayur, dan mie goreng dapat dinikmati dengan harga empat sampai lima ribu/bungkus. Penilaian pribadi saya tentang rasa nasi Balapan ini cukup enak, dan lebih terasa enak jika dimakan setelah berenang sepuasnya.

Jika ingin menikmati ikan bakar, anda dapat membeli ikan segar yang ditangkap nelayan lalu dibakar di Rumah Singgah beramai-ramai. Tentu sangat nikmat, bukan. Hal ini dilakukan oleh beberapa teman sepulang dari Gili Kondo, ikan tongkol seharga empat puluh ribu dapat dinikmati oleh sekitar lima belas orang dengan sambal pedas buatan Mamak. Hmmmmm.

4.   Oleh-oleh

Tentu saja keluarga dan teman-teman sering menitip oleh-oleh jika anda mau jalan-jalan. Jika ke Lombok mungkin mereka ingin dibelikan kaos atau songket Lombok. Lalu bagaimana cara berhemat dalam hal ini?

Jika anda ingin membeli oleh-oleh semacam kaos, songket, tas, serta perhiasan dari mutiara, semuanya dapat dibeli di Rumah Singgah. Mamak telah menyediakan semuanya dengan tujuan membantu para traveller agar lebih mudah mendapatkan oleh-oleh khas Lombok tanpa harus menyediakan waktu khusus ke pusat oleh-oleh. Mengenai harganya tidaklah lebih mahal dari pusat oleh-oleh. Saya memang belum membuktikan, tapi beberapa teman sudah membuktikan kalau harga oleh-oleh di Rumah Singgah ada yang lebih murah daripada di pusat oleh-oleh.

Hemat di sini tidak hanya dalam masalah harga, tapi juga waktu. Apalagi bagi anda yang hanya memiliki waktu 2-3 hari di Lombok tentu belum cukup untuk menjelajahi tempat-tempat menarik di sana.

5.   Itinerary

Ini adalah bagian penting lainnya dari penghematan. Ke manapun anda ingin jalan-jalan, penyusunan itinerary atau rencana perjalanan haruslah dibuat dengan tepat berdasarkan pertimbangan waktu, biaya, dan tenaga. Rencana perjalanan yang tepat akan membuat perjalanan lebih hemat dari ketiga aspek di atas.

Di Lombok misalnya, anda dapat memasukan Tanjung Beloam, Tanjung Ringgit, dan Pantai Pink dalam satu hari perjalanan. Atau menyelipkan untuk menikmati sunset di Pantai Senggigi sepulangnya dari Gili Trawangan, atau jika masih kuat dan memiliki cukup waktu, sepulangnya dari Gili Trawangan bisa dilanjutkan ke air terjun Tiu Kelep.

6.   Lain-lain

Pada bagian ini saya akan tuliskan langkah penghematan yang saya dan teman-teman lakukan ketika mengunjungi Gili Trawangan. Dari informasi yang kami terima, biaya konsumsi di Gili Trawangan sedikit lebih mahal daripada tempat-tempat lain di Lombok, dan ternyata benar.

Berikut ini adalah cara kami berhemat selama 1 hari 1 malam di Gili Trawangan dengan rombongan sebanyak 10 orang. Kami sampai di pelabuhan Bangsal sekitar jam 11 siang, sebelum berangkat kami membeli nasi Balapan di luar komplek pelabuhan untuk makan siang seharga 5 ribu/bungkus dan 5 botol air mineral ukuran 1,5 liter seharga 5 ribu/botol.

Makan malam kami pilih di Pasar Seni, di sana tersedia menu mulai dari harga 15 ribu tanpa air minum, jika mau bawa minum sendiri silahkan, kalau tidak di sana tersedia air mineral 1,5 liter seharga 10 ribu/botol. Kami waktu itu memutuskan membeli 2 botol untuk bersepuluh. Salah satu tempat termurah membeli air mineral adalah di warung kecil ke arah sunset point, di sana kami membeli air mineral 1,5 liter seharga 7 ribu/botol. Untuk sarapan setiap pagi ada ibu-ibu bersepeda menjual minuman hangat dan nasi Balapan, biasanya nasi ditawarkan seharga 10 ribu/bungkus, tapi bisa juga dipesan seharga 5 ribu dengan lauk seadanya. Dengan cara menawarpun harga jagung bakar yang dijual 10 ribu/tongkol dapat menjadi 15 ribu untuk 2 tongkol.

Penginapan kami memilih di Secret Garden, tidak jauh dari dermaga. Kamar yang kami pilih adalah kamar khusus backpacker dengan tarif 50 ribu/ranjang. Dalam kamar tersedia empat ranjang tingkat dua, AC, toilet, wastafel, shower dan kamar mandi tanpa pintu, karena hanya ditutupi dengan kain semacam gordyn.
 
Perjalanan adalah pilihan, termasuk cara menikmatinya 
Perjalanan adalah pilihan, termasuk cara melakukannya. Saya melakukan penghematan ketat mengingat jauh dan lamanya perjalanan keliling Indonesia yang sedang saya jalani. Semua tips di atas bisa juga dapat anda lakukan, atau cukup dijadikan sebagai referensi. Karena perjalanan memiliki cara masing-masing untuk dijalani, termasuk walaupun tidak anda pilih sekalipun.


Selasa, 24 Maret 2015. Bima
Apakah tempat wisata yang ingin kamu kunjungi di Lombok? Gili Trawangan. Itulah jawaban yang akan saya berikan untuk pertanyaan di atas sebelumnya. Jawaban seorang awam yang hanya tahu Lombok dari cerita-cerita teman yang banyak kata “konon”nya, atau dari media yang sengaja mengandung unsur promosi pariwisata.

Pada dua hari pertama di Lombok saya mendapat kesempatan mengunjungi pantai  Selong Belanak, Kuta, Tanjung Aan dan sekitarnya. Keadaan tempat-tempat tersebut sama sekali di luar ekspektasi saya, lebih bagus daripada yang saya bayangkan dan lebih indah daripada pantai-pantai yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Cerita perjalanan tentang pantai Kuta dan sekitarnya bisa lihat di postingan ini.

Hari ketiga di Lombok saya tinggal di Rumah Singgah Lombok Backpacker di daerah Mataram. Bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia yang sama-sama ingin menikmati indahnya alam Lombok atau hanya sekadar singgah sebelum melanjutkan perjalanan. Di sini saya ditanya ingin ke mana selama di Lombok, tentu saja jawaban saya seperti di paragraf pertama tadi. Jawaban yang sangat berbeda jika pertanyaan itu disampaikan sekarang.

Tanjung Beloam adalah tempat pertama yang saya kunjungi dengan teman-teman dari Jakarta yang didampingi oleh teman dari Lombok Backpacker. Tujuh belas belas orang berangkat dari Rumah Singgah sekitar jam sembilan pagi, menempuh perjalanan selama dua setengah jam. Mendekati Tanjung Beloam jalan mulai banyak berlobang dan jalan tanah menjadi becek karena hujan semalam.

Akses masuk ke Tanjung Beloam bisa dibilang baru dibuka, karena akses lewat resort Jeeva Beloam tidak terbuka untuk umum. Jalan tanah selebar lebih kurang dua meter cukup nyaman ditempuh dengan jalan kaki. Jika malas jalan kaki, bisa sedikit nekat mengendarai sepeda motor menempuh jalan tanah yang licin. Kami memilih memarkir motor di rumah warga terdekat dengan membayar sepuluh ribu tiap motor sekalian biaya masuk ke Tanjung Beloam.
Tanjung Beloam
 Dari balik semak terdengar bunyi gentong dan lenguhan kerbau, serta gemuruh ombak yang menandakan tempat yang kami tuju sudah dekat. Saya berjalan paling belakang dan mempercepat langkah karena mendengar teriakan histeris teman-teman yang di depan. Padang rumput kecil nan hijau, hamparan laut yang menenangkan, tiupan angin segar, pantai dengan pasir putih yang terisolasi batu karang, serta bukit batu yang menjulang menyambut kami setelah berjalan sekitar dua puluh menit. Inilah yang membuat teman-teman berteriak histeris, terutama perempuan, mungkin kamu dapat membayangkan dan tahu penyebabnya.

Saya duduk sejenak di atas rumput yang masih lembab karena gerimis. Memandang ke lautan lepas, dinding tanjung yang tampak kemerahan di kejauhan, putih riak gelombang yang berjalan perlahan, dan membiarkan angin sejuk membelai wajah. Tentram. Damai. Bahagia. Suasana yang masih alami, jauh dari kebisingan kota dan jangkauan signal internet. Di sini kamu bisa menikmati kedamaian yang disuguhkan alam, ketenangan dan kebahagiaan menghampiri perasaanmu tanpa harus update “at Tanjung Beloam” di Path atau Instgram.
 
Solo backpacker tidak selamanya sendiri
Selepas berenang dan terjun bebas dari atas karang yang meninggalkan beberapa luka di kaki, kami menikmati makan siang di atas batu karang di bibir tanjung. Nasi dengan lauk potongan-potongan kecil ayam kampung, seekor cumi, dan mie goreng begitu nikmat pada siang itu.

Menempuh setengah jam perjalanan selanjutnya kami sampai di Tanjung Ringgit. Lima ribu rupiah menjadi biaya masuk untuk setiap motornya yang bisa dikendarai sampai ke bibir tanjung. Sebuah meriam sisa peninggalan Jepang teronggok di sini. Meriam yang menjadi situs budaya ini masuk dalam wilayah desa Sekaroh, kecamatan Jerowaru. Selain pemandangan yang indah, tebing-tebing tanjung ini bisa menakutkan bagi penderita phobia ketinggian seperti saya.
 
Tanjung Ringgit
Untuk akses ke bibir pantai di bawah Tanjung Ringgit, pengunjung dapat memasuki lobang yang berada tidak jauh dari meriam. Lobang yang tidak begitu besar itu menjadi rumah bagi ratusan kelelawar, tentu saja butuh nyali lebih besar untuk memasukinya. Jika nyali yang dimiliki lebih besar lagi, mercusuar setinggi empat puluh meter yang ada di sana juga dapat dinaiki.
 
Saya belum cukup berani seperti Anggi dalam foto ini
Pantai Pink menjadi tujuan terakhir hari itu yang berada di antara Tanjung Ringgit dan Beloam. Biaya lima ribu untuk setiap sepeda motor kami bayar kepada petugas yang berseragam di pintu masuk. Jalan beton menurun sekitar dua ratus meter mengantarkan ke bibir pantai. “Mana pink-nya? Kok gak kelihatan” ucapan spontan dari beberapa teman ketika kami memarkir motor di bibir pantai.
 
Pantai Pink yang tidak begitu pink
Di karang yang menjorok ke laut banyak pemancing yang sedang beradu kesabaran dengan nasib. Di dekat mereka terdapat tempat untuk snorkling yang cukup bagus. Saya mencoba belajar snorkling sampai seekor bulu babi memberi hadiah pada kaki kanan yang membuat saya harus berhenti. Sebagai orang awam yang belum tahu penanganannya, saya mencongkel dengan jarum yang berakibat makin masuknya bulu babi tersebut ke dalam kulit. Ternyata penanganan yang benar adalah dengan memukul-mukul bagian yang tertusuk sampai bulu babi itu hancur agar tidak sampai menimbulkan demam pada malam harinya.

***

Pantai Selong Belanak saya kunjungi pada hari pertama di Lombok didampingi Hendra, anak dari bang Irfan yang memberi saya tumpangan selama dua hari pertama di Lombok. Dari Penujak, daerah sekitar bandara baru di Lombok perjalanan ke Pantai Selong Belanak ditempuh selama dua puluh menit. Aspal yang masih tampak baru akan membuat perjalanan nyaman sampai ke tujuan. Sebelum sampai di pantai, mata akan dimanjakan oleh pemandangan dari ketinggian. Masyarakat di sana menyebut tempatnya dengan Jurang Selong.

Jurang Selong adalah jalan menurun yang cukup curam sebelum mencapai pantai. Di kiri-kanan jalan terdapat beberapa tempat parkir motor maupun mobil untuk berhenti sejenak menikmati keindahan alam tanpa pungutan biaya. Bukit-bukit hijau, pucuk-pucuk pohon kelapa yang melambai ditiup angin, hamparan laut di kejauhan yang membentu garis lurus di horison, dan raungan mesin kendaraan yang mendaki dapat dinikmati di sini.
 
Jurang Selong
Empat orang turis luar berjemur di atas kursi santai sambil menikmati bir dingin, dua orang lainnya tampak sedang belajar bermain selancar di ombak yang tidak begitu besar, sekelompok wisatawan lokal bermain ombak sambil mengambil foto dengan berbagai macam ekpresi, dan puluhan perahu kecil nelayan bergoyang-goyang di pantai yang masih sepi pengunjung. Untuk masuk ke sini biaya parkirnya lima ribu rupiah, namun banyak pengunjung masuk lewat akses gratis yaitu ke arah timur gerbang utama pantainya.
 
Pantai Selong Belanak
Kami berjalan ke ujung pantai arah Timur ke deretan batu-batu dan bukit hijau. Di sini banyak pemancing yang berdiri terendam setengah badan di laut yang tidak begitu dalam. Pantai Selong Belanak memiliki pasir halus agak keputihan, sruktur yang landai, air yang jernih, dan terumbu karang yang masih terjaga. Pantai ini cukup panjang jika kamu ingin menikmatinya sambil jogging dari ujung ke ujungnya. Barangkali akan menjadi track jogging paling menarik dalam hidupmu.

***
Air jatuh dari sela-sela akar dan batang tumbuhan rambat yang tumbuh di atas tebing. Bulir-bulir air yang terus berjatuhan tanpa henti dari kejauahan tampak seperti untaian tirai benang-benang halus warna putih di antara hijaunya tumbuhan rambat. Ada empat tingkatan menyerupai tangga pada tebing setinggi kira-kira empat puluh meter yang mempercantik air terjun Benang Kelambu ini. Tirai-tirai air yang halus oleh masyarakat desa Taratak, kecamatan Batukliang, kabupaten Lombok Tengah disebut dengan Kelambu yang sekalian menjadi nama air terjun.
 
Air Terjung Benang Kelambu
Air terjun Benang Kelambu menjadi tempat pertama yang kami datangi karena terletak paling jauh setelah melewati air terjun Benang Stokel. Di kawasan Air terjun Benang Kelambu terdapat kolam buatan untuk mandi atau berenang dalam air segar yang berasal dari air terjun. Bagi kami dinding kolam setinggi dua meter itu menjadi tempat pemanasan uji nyali sebelum terjun lebih tinggi di dekat air terjun Benang Stokel.
 
Pemanasan sebelum yang lebih tinggi

Air terjun Benang Kelambu memiliki keunikan bentuk yang membuatnya berbeda dari air terjun lainnya. Tingkatan-tingkatan yang ada, tirai-tirai halus air yang jatuh, serta batu-batu dan tumbuhan yang ada di bawah mempercantik suasana yang sangat alami di kawasan air terjun. Barangkali karena keindahannya beberapa teman penasaran dan bertanya setelah saya posting foto air terjun Benang Kelambu di media sosial.

Menempuh setengah jam perjalanan ke arah jalan pulang, kami sampai di air terjun Benang Stokel yang sebelumnya hanya dilewati. Berdiri di bawah air terjun setinggi 30 meter serasa mendapat totokan-totokan yang sedikit kasar di bagian punggung dan kepala, namun tetap menarik untuk dicoba, karena hidup yang hanya sekali ini akan terasa membosankan jika hanya melakukan rutinitas tanpa hal-hal baru yang menantang.

Aliran air dari air terjun Benang Stokel membentuk air terjun yang lebih rendah di bawah jembatan di ujung kawasan air terjun. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar sepuluh meter dan kedalaman air di bawahnya sekitar lima meter dengan dasar pasir hingga aman untuk dilompati. Saya yang sebenarnya takut pada ketinggian menjadi pelompat kedua dari sembilan orang rombongan. Melakukan tiga kali lompatan menjadi momen tidak terlupakan dalam hidup, seperti yang dikatakan turis perempuan dari Jerman yang juga melompat bersama pasangannya “this is the best part of my life”.
 
Melawan takut
Berdiri di pinggir tebing batu, melihat buih-buih air di bawah, dan mendengar bunyi air yang jatuh jadi menyeramkan ketika ketakutan pada ketinggian datang. Saya hanya mengatakan pada diri sendiri kalau batas ketakutan saya hanya beberapa sentimeter di ujung jempol kaki dan sepersekian detik ketika melompat. Ketakutan seperti lawan dalam ring tinju, dia akan merontokkan gigimu jika kamu tidak melawannya. Lawanlah dan jalani hidup bebas tanpa batas.

***

Salah satu tempat yang paling ingin saya kunjungi di Lombok adalah Gili Trawangan. Cerita dari beberapa temanlah yang mendorong rasa penasaran saya untuk datang ke sini. Cerita yang saya dengar lebih banyak pada keadaan di Trawangan seperti ganja yang legal di sana, pesta-pesta di pinggir pantai, bule-bule berjemur dalam keadaan topless, serta tidak adanya kendaraan bermotor. Cerita-cerita di atas seharusnya ditambahi kata “konon” jika dihadapkan dengan keadaan yang saya temui kecuali untuk yang terakhir.

Kami sampai di Gili Trawangan sekitar jam dua belas siang. Menyeberang dari pelabuhan Bangsal dengan membayar tiket seharga delapan belas ribu, tiga ribunya untuk asuransi perjalanan kata petugasnya. Rombongan yang beranggotakan sepuluh orang menginap di Secret Garden yang menyediakan kamar khusus backpacker dengan tarif lima puluh ribu setiap ranjangnya per malam, dengan empat ranjang bertingkat dan dua kasur tambahan.

Setelah makan siang kami mengeliling Gili Trawangan dengan berjalan kaki, karena merasa biaya empat puluh ribu untuk sewa sepeda per harinya cukup mahal. Di sepanjang jalan dekat dermaga sudah dipenuhi oleh cafe, mini market, dive center dan toko-toko pakaian. Kami berenang tidak jauh dari dermaga, air laut yang jernih, gelombang kecil dan kedalaman sedang membuat hampir semua rombongan berenang. Selain itu kami juga menyewa perlengkapan snorkling untuk menikmati pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang tidak begitu banyak di sekitar tempat berenang.
 
Laki-laki sejati main ayunan bediri
Kami terus berjalan menyusuri pantai ke arah sunset point dan kembali berenang di beberapa tempat lainnya. Di depan Ombak Sunset hotel kami menghabiskan waktu cukup lama menunggu matahari tenggelam, namun awan tebal menutupi keindahan dari cahaya matahari sore dan gunung Agung yang diam. Berjalan dalam rombongan yang penuh canda tawa membuat perjalanan mengelilingi Gili Trawangan tidak begitu terasa, selain itu pulau yang tidak begitu besar ini membuat kami dapat menjumpai seseorang beberapa kali dalam berbagai kesempatan.
 
Rinjani yang tertutup awan
Jika saya mendapat kesempatan untuk kembali lagi ke Gili Trawangan tentu dengan rasa penasaran yang lain. Saya akan mencoba snorkling di tiga gili yang ditawarkan dengan harga tujuh puluh lima ribu, berharap dapat menikmati sunset yang indah dengan latar gunung Agung dan sunrise yang hangat dengan latar gunung Rinjani. Namun sebelum ke sini tentu masih banyak pilihan lain yang akan saya datangi terlebih dahulu seperti snorkling di Gili Kondo yang katanya salah satu gili terindah di Lombok, mendaki gunung Rinjani dan menikmati pemandangan yang indah serta langitnya yang luar biasa indah pada malam harinya, hingga mas Duta, salah satu admin Lombok Backpacker memberi nama anaknya Langit Rinjani. Karena itu jika kamu ingin menjelajah Lombok, jangan dulu ke Gili Trawangan.


Selasa, 18 Maret 2015. Bima
Perjalanan (v): Sebelum memulai banyak kendala yang akan terlihat, setelah memulai banyak kemudahan yang dapat dirasakan.

Hari kedua di Lombok saya mendapat kesempatan mengunjungi pantai Kuta dan sekitarnya. Ditempuh selama tiga puluh menit perjalanan dari rumah bang Irpan di daerah Penujak, dengan motor pinjaman dari bang Irpan dan ditemani anak pertamanya Hendra yang sekaligus jadi guide perjalanan.

Menemukan pantai Kuta tidak perlu takut kesasar, karena dari bandara hanya ada satu jalur ke arah selatan yang langsung menuju ke sana. Jalan yang tidak begitu besar namun mulus seperti paha dedek gemes ibu kota akan memanjakan perjalananmu.


Di sepanjang jalan masuk menuju pantai Kuta sudah banyak warung makan, pakaian, aksesoris, cafe, papan selancar, hotel, bungalow dan cottage. Suasana yang dapat menunjukkan kalau pantai ini memiliki pengunjung yang banyak. Menyusuri pantai ke arah timur adalah perjalanan yang dapat memakan waktu cukup panjang, karena banyak pantai dan tempat menarik lainnya akan ditemukan. Landmark pantai Kuta Lombok adalah tempat favorit pertama bagi pengunjung untuk mengambil foto, mungkin sebagai jejak bahwa telah mengunjunginya. Pantai Kuta hanya agak ramai di dekat landmarknya, ke sisi timurnya begitu sepi.

Banyak tempat yang lebih menarik di sekitar pantai Kuta, terus ke arah timur akan ditemukan bukit-bukit hijau kecil yang dapat didaki untuk melihat lekuk pantai dari ketinggian, gradasi warna air laut, belaian angin sejuk, serta pemandangan hijau yang belum compang-camping oleh bangunan-bangunan beton. Jelajahlah sepuasnya karena keindahan punya interpretasi tersindiri dalam menikmatinya.
 

Di pantai Seger ada patung Putri Maladika yang menjadi cerita rakyat dari masyarakat Lombok. Putri cantik yang menceburkan diri ke laut untuk menghindari terjadinya perang antara kerajaan-kerajaan yang mengutus pangeran mereka untuk menikahinya. Konon ceritanya putri ini menjelma menjadi cacing atau nyale setelah mencebur ke laut. Kejadian ini dirayakan sekali setahun dengan tradisi Bau Nyale atau menangkap nyale sekitar bulan Februari atau Maret tiap tahunnya.
 
Ceritanya ada enam pangeran yang ingin menikahi putri Mandalika
Tanjung Aan akan menunggu di depan ketika perjalanan diteruskan ke arah timur. Ombak kecil, pasir putih di pantai yang landai, jauh dari keramaian akan memanjakan pandangan dan perasaanmu. Pantai Batu Kotak dan Pantai Batu Payung merupakan interpretasi atas bentuk-bentuk batu yang sekalian dijadikan nama tempatnya terletak bersebelahan dengan tanjung Aan.



Banyak keindahan dan keunikan lain yang dapat ditemukan dan dinikmati di daerah sekitar pantai Kuta seperti hijaunya sawah-sawah di pinggir pantai, struktur unik dari bukit-bukit batu kecil, sepakbola bule yang separoh timnya perempuan berseragam lengkap, pohon kelapa yang berdiri rapi, rombongan kerbau dengan bunyi gentong yang bertalu-talu, dan keunikan lain yang dapat kau temukan setelah mengunjunginya. Suatu komposisi sempurna dari keindahan dapat dinikmati dari sini. Mungkin karena itu biaya parkir di sini rata-rata lima ribu rupiah setiap sepeda motornya.

Jumat, 13 Maret, 2015. Lombok


P.S: Sekarang saya tinggal di Rumah Singgah Lombok Backpacker, bertemu dengan banyak teman dari berbagai daerah dan jalan-jalan ke tempat indah di Lombok. Satu pesan yang cukup menarik adalah "Jangan buru-buru ke Gili Trawangan". Tentang jalan-jalan ke tempat-tempat indah lainnya akan jadi postingan selanjutnya dan alasan dari pesan di atas, jadi jangan dulu ke Gili Trawangan sebelum baca postingan selanjutnya. 
Perjalanan harus terus dilanjutkan karena berhenti terlalu lama dapat menciptakan kenyamanan yang menjebak dan terlalu sayang jika menunda menikmati keindahan lainnya di tempat-tempat baru.

Lombok adalah tujuan selanjutnya setelah enam minggu tinggal di Bali. Menggunakan transportasi umum yang berbayar tentu tidak masuk dalam rencana perjalanan ini.  Saya kembali melakukan hitchiking sama dengan perjalanan Malang-Bali sebelumnya. Setelah pamitan dengan mas Bayu dan keluarganya saya menunggu bus Sarbagita tujuan Batu Bulan di halte Kelan, dekat bandara. Setelah membayar tiga ribu lima ratus saya turun di halte sebelum lampu merah Tohpati, lalu jalan kaki sampai dekat plang nama jalan Prof. DR. Ida Bagus Mantra. Di jalan itu saya mulai membentangkan kalender bekas bertuliskan “Lombok” sambil mengacungkan jempol tangan kiri.

Pedagang ketupat di sana sudah memahami apa yang saya lakukan, menurut beliau sudah banyak orang yang ingin ke Lombok melakukan hal yang sama dengan saya. Jalan Prof. DR. Ida Bagus Mantra adalah akses utama ke Lombok lewat jalur darat. Tidak sampai lima menit, sebuah motor menghampiri saya. Pengendaranya berbicara dalam bahasa Lombok, karena saya tidak mengerti dia mengulangi dalam bahasa Indonesia. “Kamu mau ke Lombok kah? Bantu saya bawa motor, kita ambil motor saya yang satunya lagi, jadi kamu tak perlu bayar ongkos” kata bang Irpan, lalu dia membawa saya ke tempat motornya disimpan di daerah Sesetan.

Bang Irpan adalah pedagang motor bekas asal Lombok. Beliau membeli motor bekas di Bali untuk dijual di kampungnya. Motor-motor yang telah dibelinya dibawa ke Lombok dengan cara dikendarai, karena itu dia selalu mencari orang-orang yang mau ke Lombok untuk membawa motornya, semacam simbiosis mutualisme. Jam dua belas siang kami mulai jalan ke Padang Bai setelah sebelumnya diajak makan oleh beliau.

Satu setengah jam selanjutnya kami sampai di pelabuhan Padang Bai. Sebelum masuk ke area pelabuhan, motor yang saya bawa ditinggalkan, lalu saya dibonceng bang Irpan ke dalam pelabuhan. Hal ini kami lakukan agar berhasil melewati pemeriksaan SIM dan STNK sebelum memasuki pelabuhan, mengingat SIM C saya sudah habis masa berlakunya. Setelah menunggu satu setengah jam, barulah motor dapat masuk kapal dan berangkat ke Lombok.
Pelabuhan Padang Bai
KM Nusa Sejahtera membawa kami menuju pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Di kapal saya bercerita dengan beberapa penduduk asli Lombok dan tiga orang turis luar: Dave dan John dari Irlandia dengan aksen yang agak sulit dimengerti dan Marcel Turke dari Jerman yang menjadikan kondisi toilet kapal sebagai bahan lelucon karena begitu panas seperti sauna. Selama di kapal kami dapat melihat sekumpulan lumba-lumba yang berenang di sekitar kapal, dan keindahan matahari tenggelam di selat Lombok, serta bulan purnama saat malamnya.
Juru Mudi
Ruang kemudi menjadi tempat menarik buat saya, setelah minta ijin kepada petugas di sana mereka mengijinkan saya masuk. Pak Mahmudi, ahli mesin yang merupakan petugas tertua di kapal banyak bercerita tentang kondisi ruang kemudi. Selain itu beliau juga bercerita mengenai pandangan hidupnya, ada dua hal yang sangat berkesan buat saya, yaitu keberanian dalam mengambil pilihan dan hakikat dari kata “hamba Allah”. Jika pilihan sudah diambil percayalah kalau Tuhan sudah menyiapkan semuanya, begitupun kalau memutuskan untuk tidak mengambil pilihan. Mengenai kata hamba Allah, menurut pak Mahmudi “hamba” berarti ketulusan mengikuti perintah dan larangan, karena seorang hamba tidak akan pernah meragukan perintah dan larangan dari Tuhannya, yaitu Allah SWT.
Sunset di Selat lombok
Selama di ruang kemudi saya juga bercerita dengan beberapa petugas lain mengenai pekerjaan dan kondisi mereka. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya mendapatkan kesempatan memegang kemudi kapal dan mengikuti arah dari kompas. Pengalaman baru buat saya, dan tentunya tidak akan saya dapatkan jika masih berkutat dengan rutinitas atau jam kerja 9-5 sepanjang Senin-Jumat.
Menunggu bersandar di pelabuhan Lembar
Kapal yang kami tumpangi baru bisa bersandar setelah mengantri selama empat puluh lima menit di pelabuhan Lembar. Dari pelabuhan saya menuju ke rumah bang Irpan dan memutuskan menginap di sana. Besok harinya saya mengunjungi pantai Selong Belanak dan lusanya ke pantai Kuta dengan ditemani Hendra, anak pertama bang Irpan. Selama dua malam bang Irpan menerima saya tinggal di rumahnya dan memberikan motor untuk saya pakai jalan-jalan.

Tidak banyak yang bisa saya berikan buat keluarga bang Irpan selain sebungkus kacang Bali yang saya siapkan sebelumnya, membantu membuatkan email dan mendownloadkan aplikasi untuk hapenya, berbagi informasi mengenai pendidikan, menyapu rumahnya, serta mencuci piring kotor hingga disuruh berhenti oleh istrinya. “Katanya anggap rumah sendiri, saya di rumah sering nyuci piring, kak. Karena itu saya juga nyuci piring di sini” becandaan saya setelah selesai mencuci piring. Terima kasih banyak untuk bang Irpan dan keluarganya.
 
Saya dan keluarga bang Irpan
Sabtu, 7 Maret 2015. Lombok


P.S: Sekarang saya menginap di rumah singgah Lombok Backpacker. Cerita mengenai perjalanan ke pantai Selong Belanak dan pantai Kuta Lombok akan dimuat pada postingan selanjutnya. 
Februari sudah lewat lima hari yang lalu, tidak lebih dari lima catatan yang saya tulis. Sungguh berbeda dari bulan sebelumnya yang begitu produktif. Apakah karena saya tidak melakukan perjalanan? Malah sebaliknya, hampir setiap hari saya mengunjungi tempat-tempat wisata di Bali sebagai tour driver. Apakah saya jadi tidak punya waktu kosong? Sama sekali tidak, 2-3 hari dalam seminggu setidaknya bisa saya gunakan untuk menulis ketika tidak membawa tamu. Lalu kenapa saya tidak menulis? Adakah pembenaran untuk hal ini. Tidak.

Rutinitas menghadirkan kenyamanan, apa yang harus dilakukan besok sudah diketahui beberapa hari sebelumnya. Tantangan terasa hilang saat mulai berjalan, karena kita hanya mengikuti jalan yang sudah disediakan. Sesuatu bagai sudah pasti untuk dihadapi, kita hanya perlu berhati-hati menjalaninya. Ketika rutinitas berhenti sementara, saat itu terasa bagai terbebas dari ikatan Begitulah pandangan saya terhadap rutinitas yang melemahkan diri atau lebih tepatnya saya lemah terhadap rutinitas.
Teruslah berjalan, berjalanlah terus
Apakah saya membenci rutinitas? Tidak. Malahan saya membutuhkan rutinitas selama di Bali untuk mendapatkan tambahan biaya perjalanan. Apakah saya menyalahkan rutinitas? Tidak. Saya menyalahkan diri saya yang lemah terhadap rutinitas, menyerahkan diri kepada rasa capek hingga jadi tidak produktif. Inilah yang menjadi kelemahan saya, kelemahan yang terasa menggerogoti kehidupan pada tahun-tahun yang lampau. Saya harus keluar dari rutinitas.

Saya butuh kegiatan baru, hal-hal baru, pengalaman baru, dan perjalanan ke tempat baru. Saya kembali merasa bersemangat ketika berhadapan dengan sesuatu hal yang baru. Saya lebih waspada dan hati-hati, lebih berenergi, lebih peka, lebih aktif, dan merasa lebih hidup ketika kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kembali membangkitkan saya yang lemah terhadap rutinitas. Saya akan terus berjalan untuk selalu merasa lebih hidup dan menikmati hidup.

Kamis, 5 Maret 2015. Lombok


Catatan terakhir perjalanan di Bali


Dalam waktu yang terus berputar kamu berjalan dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Siapapun engkau pilihan selalu ada, apakah kau akan seberani mereka yang memilih? Atau sepasrah mereka yang hanya menerima? Atau sepengecut mereka yang selalu menyalahkan? Itulah dirimu.

Bagi yang belum pernah ke Bali, tentu saja bingung mau mengunjungi objek wisata apa saja di antara banyak pilihan yang tersedia. Begitulah yang saya alami sebelumnya. Selain dari cerita teman-teman, informasi dari internet dan tentu saja blog-nya traveller menjadi referensi. Ada empat objek wisata yang saya pilih pada awalnya, yaitu Garuda Wisnu Kencana karena saya penasaran dengan patung-patung yang berukuran besar, Tari Kecak di Uluwatu dengan latar belakang sunset-nya, Museum Blanco karena keunikan frame dan lukisan itu sendiri, menikmati sunset di pantai Kuta yang ramai, dan parasailing di Tanjung Benoa karena penasaran setelah beberapa kali mengantar tamu ke sana.

Sunset di pantai Kuta

Hari kedua di Bali saya mengunjungi pantai kuta untuk memenuhi keinginan pertama. Setelah turun di halte dekat mall Galleria, saya berjalan kaki sekitar 1 kilometer lebih untuk sampai di pantai. Membawa dua tas dengan muatan padat dan berjalan di tengah cuaca panas membuat baju sampai jaket yang saya pakai basah oleh keringat. Rasa capek itu terkalahkan oleh rasa puas setelah sampai di pantai.

Saya menikmati angin sejuk di bawah pepohonan sambil menulis catatan perjalanan, diiringi gemuruh ombak yang tiada putus-putus. Pengunjung pantai belum terlalu ramai karena matahari masih tinggi. Beberapa turis luar berjemur dan membaca buku, menikmati bir dingin sambil bercerita, beberapa turis lokal sibuk mengambil foto dengan tongsis atau selfie dengan gadget masing-masing, di laut pemain selancar menikmati gulungan ombak, dan pedagang keliling menghampiri para pengunjung pantai menawarkan dagangannya.
  
Mengabadikan keindahan di pantai Kuta
Menjelang matahari menyentuh garis antara laut dan cakrawala, pantai semakin ramai. Langit memancarkan warna kemerahan, kuning dan ungu. Kumpulan awan menjadi semacam goresan lukisan di kanvas langit, pantulan cahaya matahari di laut bagai suatu jalan suci yang akan segera pergi, pengunjung pantai makin sigap mengabadikan momen keindahan dengan gadget masing-masing. Ketika rasa penasaran terpenuhi, di situlah saya merasa bahagia.

Patung Besar di Garuda Wisnu Kencana

Keinginan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) sudah ada dalam pikiran saya jauh sebelum perjalanan ini, berawal dari melihat foto teman dengan latar belakang patung besar dan potongan-potongan batu kapur yang berdiri rapi sangat menggoda. Saya kembali jalan kaki dari Legian sampai halte bus dekat mall Galleria sebelum menumpangi bus Sarbagita ke GWK.

Sebelumnya sempat ada rencana untuk membatalkan keinginan ke GWK karena pertimbangan biaya masuknya yang cukup besar yaitu 50 ribu. Angka yang cukup besar bagi backpacker yang sudah menghabiskan separoh budget yang dimilikinya pada hari ke dua puluh perjalanannya.
 
Wisnu
Sebelum melihat dari dekat dua patung besar di GWK, yang ada dalam pikiran saya adalah kedua patung itu merupakan bukit atau batu yang dipahat sedemikian rupa seperti patung beberapa kepala presiden Amerika. Setelah melihat dari dekat barulah saya menyadari kalau kedua patung besar itu terbuat dari potongan-potongan tembaga yang beratnya mencapat ratusan ton.

Hanya dua saja patung berukuran besar yang dapat dinikmati di GWK sat ini, patung tangan Wisnu belum bisa diakses wisatawan sedangkan patung yang paling besar masih dalam proses pembangunan dan baru akan selesai pada tahun 2016, dan nantinya akan menjadi patung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 126 meter.
  
Tari Kecak di Uluwatu

Saya bukanlah penggemar tari-tarian, namun setelah membaca salah satu blog pariwisata di Bali saya langsung penasaran untuk menyaksikan Tari Kecak. Karena biaya yang sangat terbatas sedangkan keinginan harus dituntaskan saya mencari alternatif untuk memenuhi semuanya. Saya menunggu pementasan tari Kecak di GWK yang dimulai pada pukul 18.20. Karena waktu menunggu yang cukup lama, maka saya bisa melakukan banyak kegiatan di GWK, salah satunya adalah INI.

Tari Kecak di GWK kurang lebih selama 30 menit dan itu belum memenuhi ekspektasi saya yang tinggi dari blog yang saya baca. Sebelum meninggalkan Bali saya ingin menyaksikan tari Kecak di Uluwatu. Kesempatan itu datang pada minggu ketiga saya di Bali, karena menjadi tour driver keluarga pak Anwardin dari Jogja. Ana, cucu beliau sangat ingin menonton tari Kecak di Uluwatu dan sebagai tour driver saya dapat mendampingi mereka.
 
Adegan Hanoman kabur ketika akan dibakar 
Saya menyaksikan tari Kecak pertama kalinya di Uluwatu bukan sebagai penonton resmi yang duduk di tribun. Saya berdiri di luar panggung bersama para driver dan guide untuk dapat menyaksikan kelucuan Hanoman, liciknya Rahwana dan memukaunya atraksi permainan api. Namun pada minggu keempat di Bali, saya dapat menonton tari Kecak sebagai penonton resmi yang duduk di tribun dan menyaksikan tari Kecak selama satu jam dengan latar belakang sunset yang indah. Apakah saya membayar tiket seharga 100 ribu yang rasanya begitu mahal? Tidak, saya dapat menonton tari Kecak karena menjadi fasilitator Karash yang menjadi provider training karyawan Petrofin di Bali.

Museum Blanco

Museum Blanco adalah salah satu tempat yang sangat ingin saya kunjungi. Kesempatan untuk mengunjunginya datang pada tiga hari terakhir saya di Bali karena mendampingi mbak Anita, mbak Ririn dan Widya jalan-jalan di Bali. Hujan turun dalam perjalanan ke desa Tegallalang dan Kintamani, dan akhirnya perjalanan ke Kintamani dialihkan ke musem Blanco.

Kami sampai di Museum Blanco tidak lama setelah hujan berhenti, suasana sangat sejuk dan nyaman. Museum ini terletak di pinggir tebing dan dikelilingi bagunan villa dan sawah. Sebelum masuk ke museum, kami disambut oleh beberapa ekor burung kakak tua peliharaan keluarga Blanco. Burung-burung jinak yang dapat berdiri di tangan namun akan marah jika kita mencoba mengelus kepalanya.
 
Widya, mbak Ririn, Mbak Anita, dan Saya di Museum Blanco
Karya lukisan dalam museum didominasi oleh objek manusia yang sebagian besar merupakan keluarga dari Antonio Blanco, beberapa lukisan memiliki objek wanita tanpa penutup dada. Frame dari setiap lukisan adalah hal menarik dari museum Blanco, karena frame menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lukisan itu sendiri. Menikmati setiap lukisan diiringi musik syahdu berbahasa Spanyol dan penerangan yang tepat makin lengkap ketika didampingi oleh staff museum.

Bli Komang (saya lupa namanya) menjelaskan cerita mengenai lukisan-lukisan yang dipajang di museum. Sangat menarik sekali pemaparan tentang latar belakang lukisan dan teka-teki yang dimiliki oleh beberapa lukisan, salah satunya adalah berapa jumlah botol dalam satu lukisan. Ruang lukisan untuk 17 tahun ke atas memiliki sensasi tersendiri. Lukisan adegan “bikin anak” yang tertutup pintu, kelamin manusia yang menghamili tikus, ular masturbasi, foto perempuan dengan gaya telanjang menantang adalah bagian dari ruangan ini. Jika anda membawa anak kecil disarankan untuk tidak membawanya ke ruangan ini, atau anda harus siap menjawab pertanyaan hebat dari mereka.

Parasailing di Tanjung Benoa

Beberapa kali mengantar tamu yang ingin menikmati permainan air di Tanjung Benoa membuat saya penasaran untuk mencoba permainan parasailing. Parasailing satu-satunya permainan yang sangat ingin saya coba. Melayang selama 15 menit di udara dengan ketinggian 40 menter di atas permukaan laut sungguh terasa menantang. Saya ingin menaklukan ketakutan pada ketinggian. Namun karena beberapa hal keinginan ini belum terpenuhi walaupun sudah direncanakan sebelumnya.

Saya sangat bersyukur atas kesempatan dapat mengunjungi tempat-tempat wisata yang diinginkan. Pada umumnya semua itu dapat diakses dengan cuma-cuma kecuali mengunjungi GWK pertama kalinya. Empat tempat wisata itulah yang saya pilih di antara banyak pilihan yang tersedia di Bali. Pilihanmu adalah bagian dari dirimu dan akan menunjukkan siapa dirimu. Bagaimana dengan kalian, tempat apa saja yang ingin kalian kunjungi saat datang ke Bali? Jangan sungkan untuk berbagi di sini..

Kamis, 5 Maret 2015. Lombok


P.S: Tulisan ini baru selesai setelah saya sampai di Lombok. Perjalanan Bali-Lombok saya dapatkan dengan cuma-cuma karena “dikasih” motor dari Bali oleh pedagang motor bekas asal Lombok. Pada postingan berikutnya akan saya ceritakan.