BALI-LOMBOK HITCHIKING STORY: DIKASIH MOTOR OLEH PEDAGANG

Perjalanan harus terus dilanjutkan karena berhenti terlalu lama dapat menciptakan kenyamanan yang menjebak dan terlalu sayang jika menunda menikmati keindahan lainnya di tempat-tempat baru.

Lombok adalah tujuan selanjutnya setelah enam minggu tinggal di Bali. Menggunakan transportasi umum yang berbayar tentu tidak masuk dalam rencana perjalanan ini.  Saya kembali melakukan hitchiking sama dengan perjalanan Malang-Bali sebelumnya. Setelah pamitan dengan mas Bayu dan keluarganya saya menunggu bus Sarbagita tujuan Batu Bulan di halte Kelan, dekat bandara. Setelah membayar tiga ribu lima ratus saya turun di halte sebelum lampu merah Tohpati, lalu jalan kaki sampai dekat plang nama jalan Prof. DR. Ida Bagus Mantra. Di jalan itu saya mulai membentangkan kalender bekas bertuliskan “Lombok” sambil mengacungkan jempol tangan kiri.

Pedagang ketupat di sana sudah memahami apa yang saya lakukan, menurut beliau sudah banyak orang yang ingin ke Lombok melakukan hal yang sama dengan saya. Jalan Prof. DR. Ida Bagus Mantra adalah akses utama ke Lombok lewat jalur darat. Tidak sampai lima menit, sebuah motor menghampiri saya. Pengendaranya berbicara dalam bahasa Lombok, karena saya tidak mengerti dia mengulangi dalam bahasa Indonesia. “Kamu mau ke Lombok kah? Bantu saya bawa motor, kita ambil motor saya yang satunya lagi, jadi kamu tak perlu bayar ongkos” kata bang Irpan, lalu dia membawa saya ke tempat motornya disimpan di daerah Sesetan.

Bang Irpan adalah pedagang motor bekas asal Lombok. Beliau membeli motor bekas di Bali untuk dijual di kampungnya. Motor-motor yang telah dibelinya dibawa ke Lombok dengan cara dikendarai, karena itu dia selalu mencari orang-orang yang mau ke Lombok untuk membawa motornya, semacam simbiosis mutualisme. Jam dua belas siang kami mulai jalan ke Padang Bai setelah sebelumnya diajak makan oleh beliau.

Satu setengah jam selanjutnya kami sampai di pelabuhan Padang Bai. Sebelum masuk ke area pelabuhan, motor yang saya bawa ditinggalkan, lalu saya dibonceng bang Irpan ke dalam pelabuhan. Hal ini kami lakukan agar berhasil melewati pemeriksaan SIM dan STNK sebelum memasuki pelabuhan, mengingat SIM C saya sudah habis masa berlakunya. Setelah menunggu satu setengah jam, barulah motor dapat masuk kapal dan berangkat ke Lombok.
Pelabuhan Padang Bai
KM Nusa Sejahtera membawa kami menuju pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Di kapal saya bercerita dengan beberapa penduduk asli Lombok dan tiga orang turis luar: Dave dan John dari Irlandia dengan aksen yang agak sulit dimengerti dan Marcel Turke dari Jerman yang menjadikan kondisi toilet kapal sebagai bahan lelucon karena begitu panas seperti sauna. Selama di kapal kami dapat melihat sekumpulan lumba-lumba yang berenang di sekitar kapal, dan keindahan matahari tenggelam di selat Lombok, serta bulan purnama saat malamnya.
Juru Mudi
Ruang kemudi menjadi tempat menarik buat saya, setelah minta ijin kepada petugas di sana mereka mengijinkan saya masuk. Pak Mahmudi, ahli mesin yang merupakan petugas tertua di kapal banyak bercerita tentang kondisi ruang kemudi. Selain itu beliau juga bercerita mengenai pandangan hidupnya, ada dua hal yang sangat berkesan buat saya, yaitu keberanian dalam mengambil pilihan dan hakikat dari kata “hamba Allah”. Jika pilihan sudah diambil percayalah kalau Tuhan sudah menyiapkan semuanya, begitupun kalau memutuskan untuk tidak mengambil pilihan. Mengenai kata hamba Allah, menurut pak Mahmudi “hamba” berarti ketulusan mengikuti perintah dan larangan, karena seorang hamba tidak akan pernah meragukan perintah dan larangan dari Tuhannya, yaitu Allah SWT.
Sunset di Selat lombok
Selama di ruang kemudi saya juga bercerita dengan beberapa petugas lain mengenai pekerjaan dan kondisi mereka. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika saya mendapatkan kesempatan memegang kemudi kapal dan mengikuti arah dari kompas. Pengalaman baru buat saya, dan tentunya tidak akan saya dapatkan jika masih berkutat dengan rutinitas atau jam kerja 9-5 sepanjang Senin-Jumat.
Menunggu bersandar di pelabuhan Lembar
Kapal yang kami tumpangi baru bisa bersandar setelah mengantri selama empat puluh lima menit di pelabuhan Lembar. Dari pelabuhan saya menuju ke rumah bang Irpan dan memutuskan menginap di sana. Besok harinya saya mengunjungi pantai Selong Belanak dan lusanya ke pantai Kuta dengan ditemani Hendra, anak pertama bang Irpan. Selama dua malam bang Irpan menerima saya tinggal di rumahnya dan memberikan motor untuk saya pakai jalan-jalan.

Tidak banyak yang bisa saya berikan buat keluarga bang Irpan selain sebungkus kacang Bali yang saya siapkan sebelumnya, membantu membuatkan email dan mendownloadkan aplikasi untuk hapenya, berbagi informasi mengenai pendidikan, menyapu rumahnya, serta mencuci piring kotor hingga disuruh berhenti oleh istrinya. “Katanya anggap rumah sendiri, saya di rumah sering nyuci piring, kak. Karena itu saya juga nyuci piring di sini” becandaan saya setelah selesai mencuci piring. Terima kasih banyak untuk bang Irpan dan keluarganya.
 
Saya dan keluarga bang Irpan
Sabtu, 7 Maret 2015. Lombok


P.S: Sekarang saya menginap di rumah singgah Lombok Backpacker. Cerita mengenai perjalanan ke pantai Selong Belanak dan pantai Kuta Lombok akan dimuat pada postingan selanjutnya. 

0 comments:

Posting Komentar