JALAN-JALAN DI BALI: EMPAT LENGKAP LIMA BELUM SEMPURNA

Catatan terakhir perjalanan di Bali


Dalam waktu yang terus berputar kamu berjalan dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Siapapun engkau pilihan selalu ada, apakah kau akan seberani mereka yang memilih? Atau sepasrah mereka yang hanya menerima? Atau sepengecut mereka yang selalu menyalahkan? Itulah dirimu.

Bagi yang belum pernah ke Bali, tentu saja bingung mau mengunjungi objek wisata apa saja di antara banyak pilihan yang tersedia. Begitulah yang saya alami sebelumnya. Selain dari cerita teman-teman, informasi dari internet dan tentu saja blog-nya traveller menjadi referensi. Ada empat objek wisata yang saya pilih pada awalnya, yaitu Garuda Wisnu Kencana karena saya penasaran dengan patung-patung yang berukuran besar, Tari Kecak di Uluwatu dengan latar belakang sunset-nya, Museum Blanco karena keunikan frame dan lukisan itu sendiri, menikmati sunset di pantai Kuta yang ramai, dan parasailing di Tanjung Benoa karena penasaran setelah beberapa kali mengantar tamu ke sana.

Sunset di pantai Kuta

Hari kedua di Bali saya mengunjungi pantai kuta untuk memenuhi keinginan pertama. Setelah turun di halte dekat mall Galleria, saya berjalan kaki sekitar 1 kilometer lebih untuk sampai di pantai. Membawa dua tas dengan muatan padat dan berjalan di tengah cuaca panas membuat baju sampai jaket yang saya pakai basah oleh keringat. Rasa capek itu terkalahkan oleh rasa puas setelah sampai di pantai.

Saya menikmati angin sejuk di bawah pepohonan sambil menulis catatan perjalanan, diiringi gemuruh ombak yang tiada putus-putus. Pengunjung pantai belum terlalu ramai karena matahari masih tinggi. Beberapa turis luar berjemur dan membaca buku, menikmati bir dingin sambil bercerita, beberapa turis lokal sibuk mengambil foto dengan tongsis atau selfie dengan gadget masing-masing, di laut pemain selancar menikmati gulungan ombak, dan pedagang keliling menghampiri para pengunjung pantai menawarkan dagangannya.
  
Mengabadikan keindahan di pantai Kuta
Menjelang matahari menyentuh garis antara laut dan cakrawala, pantai semakin ramai. Langit memancarkan warna kemerahan, kuning dan ungu. Kumpulan awan menjadi semacam goresan lukisan di kanvas langit, pantulan cahaya matahari di laut bagai suatu jalan suci yang akan segera pergi, pengunjung pantai makin sigap mengabadikan momen keindahan dengan gadget masing-masing. Ketika rasa penasaran terpenuhi, di situlah saya merasa bahagia.

Patung Besar di Garuda Wisnu Kencana

Keinginan ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) sudah ada dalam pikiran saya jauh sebelum perjalanan ini, berawal dari melihat foto teman dengan latar belakang patung besar dan potongan-potongan batu kapur yang berdiri rapi sangat menggoda. Saya kembali jalan kaki dari Legian sampai halte bus dekat mall Galleria sebelum menumpangi bus Sarbagita ke GWK.

Sebelumnya sempat ada rencana untuk membatalkan keinginan ke GWK karena pertimbangan biaya masuknya yang cukup besar yaitu 50 ribu. Angka yang cukup besar bagi backpacker yang sudah menghabiskan separoh budget yang dimilikinya pada hari ke dua puluh perjalanannya.
 
Wisnu
Sebelum melihat dari dekat dua patung besar di GWK, yang ada dalam pikiran saya adalah kedua patung itu merupakan bukit atau batu yang dipahat sedemikian rupa seperti patung beberapa kepala presiden Amerika. Setelah melihat dari dekat barulah saya menyadari kalau kedua patung besar itu terbuat dari potongan-potongan tembaga yang beratnya mencapat ratusan ton.

Hanya dua saja patung berukuran besar yang dapat dinikmati di GWK sat ini, patung tangan Wisnu belum bisa diakses wisatawan sedangkan patung yang paling besar masih dalam proses pembangunan dan baru akan selesai pada tahun 2016, dan nantinya akan menjadi patung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 126 meter.
  
Tari Kecak di Uluwatu

Saya bukanlah penggemar tari-tarian, namun setelah membaca salah satu blog pariwisata di Bali saya langsung penasaran untuk menyaksikan Tari Kecak. Karena biaya yang sangat terbatas sedangkan keinginan harus dituntaskan saya mencari alternatif untuk memenuhi semuanya. Saya menunggu pementasan tari Kecak di GWK yang dimulai pada pukul 18.20. Karena waktu menunggu yang cukup lama, maka saya bisa melakukan banyak kegiatan di GWK, salah satunya adalah INI.

Tari Kecak di GWK kurang lebih selama 30 menit dan itu belum memenuhi ekspektasi saya yang tinggi dari blog yang saya baca. Sebelum meninggalkan Bali saya ingin menyaksikan tari Kecak di Uluwatu. Kesempatan itu datang pada minggu ketiga saya di Bali, karena menjadi tour driver keluarga pak Anwardin dari Jogja. Ana, cucu beliau sangat ingin menonton tari Kecak di Uluwatu dan sebagai tour driver saya dapat mendampingi mereka.
 
Adegan Hanoman kabur ketika akan dibakar 
Saya menyaksikan tari Kecak pertama kalinya di Uluwatu bukan sebagai penonton resmi yang duduk di tribun. Saya berdiri di luar panggung bersama para driver dan guide untuk dapat menyaksikan kelucuan Hanoman, liciknya Rahwana dan memukaunya atraksi permainan api. Namun pada minggu keempat di Bali, saya dapat menonton tari Kecak sebagai penonton resmi yang duduk di tribun dan menyaksikan tari Kecak selama satu jam dengan latar belakang sunset yang indah. Apakah saya membayar tiket seharga 100 ribu yang rasanya begitu mahal? Tidak, saya dapat menonton tari Kecak karena menjadi fasilitator Karash yang menjadi provider training karyawan Petrofin di Bali.

Museum Blanco

Museum Blanco adalah salah satu tempat yang sangat ingin saya kunjungi. Kesempatan untuk mengunjunginya datang pada tiga hari terakhir saya di Bali karena mendampingi mbak Anita, mbak Ririn dan Widya jalan-jalan di Bali. Hujan turun dalam perjalanan ke desa Tegallalang dan Kintamani, dan akhirnya perjalanan ke Kintamani dialihkan ke musem Blanco.

Kami sampai di Museum Blanco tidak lama setelah hujan berhenti, suasana sangat sejuk dan nyaman. Museum ini terletak di pinggir tebing dan dikelilingi bagunan villa dan sawah. Sebelum masuk ke museum, kami disambut oleh beberapa ekor burung kakak tua peliharaan keluarga Blanco. Burung-burung jinak yang dapat berdiri di tangan namun akan marah jika kita mencoba mengelus kepalanya.
 
Widya, mbak Ririn, Mbak Anita, dan Saya di Museum Blanco
Karya lukisan dalam museum didominasi oleh objek manusia yang sebagian besar merupakan keluarga dari Antonio Blanco, beberapa lukisan memiliki objek wanita tanpa penutup dada. Frame dari setiap lukisan adalah hal menarik dari museum Blanco, karena frame menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lukisan itu sendiri. Menikmati setiap lukisan diiringi musik syahdu berbahasa Spanyol dan penerangan yang tepat makin lengkap ketika didampingi oleh staff museum.

Bli Komang (saya lupa namanya) menjelaskan cerita mengenai lukisan-lukisan yang dipajang di museum. Sangat menarik sekali pemaparan tentang latar belakang lukisan dan teka-teki yang dimiliki oleh beberapa lukisan, salah satunya adalah berapa jumlah botol dalam satu lukisan. Ruang lukisan untuk 17 tahun ke atas memiliki sensasi tersendiri. Lukisan adegan “bikin anak” yang tertutup pintu, kelamin manusia yang menghamili tikus, ular masturbasi, foto perempuan dengan gaya telanjang menantang adalah bagian dari ruangan ini. Jika anda membawa anak kecil disarankan untuk tidak membawanya ke ruangan ini, atau anda harus siap menjawab pertanyaan hebat dari mereka.

Parasailing di Tanjung Benoa

Beberapa kali mengantar tamu yang ingin menikmati permainan air di Tanjung Benoa membuat saya penasaran untuk mencoba permainan parasailing. Parasailing satu-satunya permainan yang sangat ingin saya coba. Melayang selama 15 menit di udara dengan ketinggian 40 menter di atas permukaan laut sungguh terasa menantang. Saya ingin menaklukan ketakutan pada ketinggian. Namun karena beberapa hal keinginan ini belum terpenuhi walaupun sudah direncanakan sebelumnya.

Saya sangat bersyukur atas kesempatan dapat mengunjungi tempat-tempat wisata yang diinginkan. Pada umumnya semua itu dapat diakses dengan cuma-cuma kecuali mengunjungi GWK pertama kalinya. Empat tempat wisata itulah yang saya pilih di antara banyak pilihan yang tersedia di Bali. Pilihanmu adalah bagian dari dirimu dan akan menunjukkan siapa dirimu. Bagaimana dengan kalian, tempat apa saja yang ingin kalian kunjungi saat datang ke Bali? Jangan sungkan untuk berbagi di sini..

Kamis, 5 Maret 2015. Lombok


P.S: Tulisan ini baru selesai setelah saya sampai di Lombok. Perjalanan Bali-Lombok saya dapatkan dengan cuma-cuma karena “dikasih” motor dari Bali oleh pedagang motor bekas asal Lombok. Pada postingan berikutnya akan saya ceritakan.

0 comments:

Posting Komentar