Jelajah Bima bagian kedua


Langit menyisakan sedikit guratan merah di antara warna biru yang  berkuasa. Cuaca sejuk dan udara yang bersih memanjakan orang-orang yang berlari atau sekadar jalan-jalan santai pada pagi itu. Jalanan aspal yang berkelok-kelok  sudah dilewati puluhan orang yang didominasi anak sekolahan sejak subuhnya. Sebagian besar memakai pakaian olahraga, dan sebagian lainnya berpakaian kasual, serta beberapa gadis belasan tahun tampak menggunakan make-up yang menyamarkan kebeliaan mereka.
 
Kota Bima saat pagi
Bagai garis akhir dari suatu perlombaan, Dana Traha menjadi tujuan semua orang-orang yang ditemui pagi itu. Dana Traha adalah komplek pemakaman kesultanan Bima  yang terletak di puncak bukit tepat di atas kota Bima. Ketika terang belum sepenuhnya menjamah kota Bima, masyarakat sudah banyak berkumpul di sini. Melepas penat atau sekadar menikmati cahaya matahari yang menembus sela dedaunan dan menciptakan garis cahaya yang indah di antara kabut tipis.
Bagian kedua
Salah satu puncak di Tambora sebelum tertutup kabut
Sekitar setengah jam melewati hamparan puncak Kaldera yang tertutup kabut tebal, kami sampai di tempat plang Puncak Kaldera. Ketegangan menguap dari wajah masing-masing. Dari sini jalan menuju Pos 5 terlihat lebih jelas. Saya mengijinkan anggota rombongan yang ingin duluan berjalan karena lutut mulai terasa bermasalah. Pada separoh perjalanan menuju Pos 5, suatu sentakan terasa pada bagian lutut kaki kanan. Rasa sakitnya membuat saya harus berhenti melangkah. Saya mempersilahkan rombongan untuk meneruskan perjalanan dan meninggalkan saya di belakang. Perlahan dengan cara mengurangi tekanan pada bagian lutut yang sakit saya melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya sampai di Pos 5 beriringan dengan rombongan terakhir yang bergerak turun sekitar satu jam setelah kami.

Sarapan dan makan siang dijamak pada jam sebelas siang menjelang perjalanan turun. Di perjalanan saya kembali berada paling belakang dengan bang Herman. Berjalan agak perlahan mengingat kondisi lutut saya dan kaki bang Herman yang dulunya pernah patah. Obat gosok yang dioleskan sebelumnya mampu meringankan rasa sakit di lutut. Selain itu tongkat kayu juga mampu mengurangi tekanan pada kaki saat turun. Pos 4, lalu Pos 3 kami lalui hanya dengan berhenti untuk minum, memungut sampah, dan bertegur sapa dengan pendaki yang berpapasan.
Bagian 1

Pagi di Puncak Kaldera
Dua ratus tahun yang lalu dia masih berdiri kokoh dan menjulang tinggi, konon menjadi yang tertinggi di negeri ini. Lalu sebuah letusan memangkas separuhnya, letusan yang akibatnya dirasakan oleh hampir separuh manusia di bumi. Tambora, dalam bahasa Bima yang berarti ajakan moksa atau ajakan untuk menghilang, sekarang menyambut untuk dikenang.

Tambora Menyapa Dunia adalah event yang digagas oleh pemerintah NTB untuk mengenang letusan dahsyat Gunung Tambora yang terjadi dua abad yang lalu. Berbagai acara untuk memeriahkan diselenggarakan, termasuk mulai dibukanya pendakian untuk umum sejak tanggal 1 April 2015. Ratusan atau mungkin ribuan pendaki melakukan perjalanan menuju puncak Tambora, melihat sisa-sisa dari letusan yang maha besar, dan saya senang menjadi salah satu dari mereka.
Cerita perjalanan pertama di Bima

Pada hari-hari pertama di Tololai, Ambalawi, saya sangat penasaran untuk menjelajah daerah sekitarnya. Alasan utamanya adalah daerah ini berada di sepanjang pantai bagian Utara pulau Sumbawa dengan ombak yang relatif kecil dan air yang jernih. Berenang menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati kondisi laut seperti ini. Referensi dari penduduk lokal menjadi acuan saya tentang tempat yang bagus di daerah mereka. Pantai Oi Fanda adalah satu tempat yang disebutkan seorang penduduk dan diiyakan oleh yang lainnya.

Menjelang sore pada hari ketiga di Tololai dengan ditemani pak Wawan dan pak Indir saya dan mas Budi teman seperjalanan sejak dari Lombok berangkat ke pantai Oi Fanda. Menempuh perjalanan sekitar 10 menit dari desa Nipa, melewati jalan tanah dan berbatu karena belum tersentuh pembangunan. Beberapa bagian jalan ambrol akibat pengikisan oleh air laut, karena itu pengendara harus lebih hati-hati jika ingin ke sini.
Selama tiga bulan perjalanan ini saya merasa ada tiga hal yang begitu berkesan. Pada bulan pertama saya merasa baru menemukan apa yang saya cari, bulan kedua saya mengetahui apa yang seharusnya saya lakukan, dan bulan ketiga ini saya memahami bagaimana seharusnya saya melakukan sesuatu.

Ketika tinggal di Rumah Singgah Lombok Backpacker saya bercerita dengan Mamak dan Bapak pemilik rumah. Satu kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang adalah “Keikhlasan itu bukan dibuktikan dari kamu mengatakan ‘saya iklas’ ketika memberi atau melakukan sesuatu, tapi keikhlasan itu akan terlihat pada kebahagiaan orang-orang yang diberi atau dibantu”.