JALAN-JALAN GILA BARENG DEVANOSA


Don’t try this on your journey

Pahami dan ikuti peringatan di atas, sebelum meneruskan membaca cerita ini. Tulisan ini tidak bermaksud mengajak kalian untuk melakukan hal-hal di bawah ini. Sedikit kegilaan dan keberuntungan membuat saya dan Deva dapat menikmati jalan-jalan gila ini, barangkali sebagai pelampiasan atas kekecewaan.
 
Devanosa
Rasa kecewa muncul sesampainya di Asi Mbojo pada jam satu siang, pintu-pintu di sana sudah tertutup dan terkunci. Deva masih memiliki waktu setengah hari untuk menikmati Bima, dan saya mesti mengisi dengan hal yang terbaik. Memang tidak banyak yang bisa dinikmati di kota Bima dalam setengah hari, tapi perjalanan menarik bisa saja terjadi di sini. Saya teringat pada pemandangan tambak bandeng di dekat bandara dari ketinggian. Kelihatannya begitu menarik saat kami melintasi jalan di sana sebelumnya. Namun, pikiran  menyampaikan masalah yang akan kami hadapi jika menuju ke sana. Ya, memang, perjalanan tidak selalu lancar, bahkan sejak dalam pikiran.

Motor pinjaman dari bang Alan tetap kami pacu ke arah bandara Bima. Motor itu adalah suatu berkah dan bisa menjadi sumber masalah dalam perjalanan, karena tidak memiliki plat nomor dan kaca spion, ditambah SIM C saya sudah habis masa berlakunya. Di pertigaan depan kantor Polres Kabupaten Bima yang terletak di desa Panda, setiap harinya selalu ada razia. Banyak pengendara yang memarkir motor di sepanjang jalan dekat lokasi razia. Para tukang ojek menawarkan jasanya untuk melewati pemeriksaan. Tapi saya meyakini pepatah di mana ada razia, di sana pasti ada jalan tikusnya.

Informasi penting tentang adanya jalan tikus di sana saya dapat dari pak Jay, saat kami ke kampungnya di dekat kawasan bandara. Jalan kecil di samping bangunan SD negeri ditunjukkan oleh seorang warga saat kami nyasar sebelumnya. Jalan tikus itu posisinya tepat di belakang pagar kantor Polres. Namun sebatang kayu melintang menghalangi jalan. Dua orang bocah belasan tahun menghampiri dan meminta uang sebesar sepuluh ribu agar kami dapat melintasi.

Saya serahkan uang empat ribu buat mereka berdua setelah melewati negosiasi singkat. Kami diijinkan melintasi jalan tanah yang hancur lalu disambut sungai kecil berair jernih tanpa jembatan. Beberapa kali Deva harus turun karena kondisi jalan yang cukup parah. Setelah melintasi sungai, jalan tikus itu membawa kami ke kebun penduduk sebelum kembali ke jalan beraspal. Kami jadi dua orang pejalan yang tak mau harapannya pupus karena razia, baru saja selesai melintasi jalan tikus.

Matahari memanasi Bima sejadi-jadinya setelah dua hari sebelumnya tidak terlihat di balik awan tebal. Motor yang kami tumpangi berbelok dari jalan aspal ke jalan tanah di dekat kantor radar bandara yang mirip pesawat alien. Lalu kami jalan kaki masuk ke dalam semak belukar di samping pagar, bagai pasangan mesum mencari lokasi sepi. Selain kami, mungkin yang melintasi jalan itu hanya ternak dan petugas radar saja. Tambak bandeng yang sekalian tambak garam itu begitu menggoda kami hingga menembus belukar penuh duripun dilewati di tengah cuaca terik siang hari. Gila.
Radar bandara
Setelah puas menikmati pemadangan tambak bandeng yang merupakan ujung dari Teluk Bima, kami melihat bangunan dengan sentuhan art deco yang memiliki bola besar di atapnya. Bangunan itu adalah radar cuaca milik BMKG Bima yang terletak di puncak bukit seberang jalan. Entah ada hubungan apa, tiba-tiba dari kepala kami serentak keluar pikiran “kita harus ke bangunan itu, karena pemandangan dari sana pasti bagus”.

Motor kembali ke jalan beraspal lalu berbelok menanjak ke kanan. Ternyata jalan aspal menanjak itu adalah jalan masuk ke dalam restoran. Lalu kami memilih naik ke jalan tanah persis di samping plang BMKG Bima. Bangunan yang dituju tampak semakin dekat. Namun ujung jalan itu tidak membawa kami ke tujuan, melainkan ke kandang kuda. Hufftt...

Kami menemukan jalan yang benar pada pilihan ketiga. Deva terpaksa kembali turun di beberapa bagian jalan yang rusak parah. Bahkan motor sampai tidak bisa jalan ditanjakan yang berlubang, hingga kami susah payah mengeluarkannya. Air minum menjadi rebutan setelah sampai. Panas, capek, berkeringat, tapi puas karena tujuan tercapai.
 
Model Victoria Secret soleha cabang Bima 
Setelah mengobrol dengan dua petugas penjaga menara, kami diijinkan naik ke lantai paling atas. Misi membajak kantor BMKG Bima tercapai. Balkon kecil berpagar besi adalah bagian terbaik dari menara itu. Kami berdiri di sana layaknya Jack Sparrow yang berdiri di tiang palka Black Pearl setelah kembali menguasainya. Dan membentangkan tangan menikmati angin dan pemandangan bagai Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet dalam Titanic. Bwahahaha...

Angin bertiup kencang membawa kesejukan. Mata dimanjakan oleh pemandangan lekuk indah pematang tambak bandeng, lintasan bandara, hijaunya sawah-sawah, dan bukit-bukit yang anggun di seberang Teluk Bima. Tentu saja berada di tempat ini kami ingin berfoto, termasuk foto dengan keseluruhan bangunan menara. Konsekuensinya adalah salah satu dari kami harus turun. Adu suit adalah pilihan yang paling tepat. Deva kalah telak dua-kosong hingga harus rela turun duluan. Hahaha...
 
Foto ini adalah hasil menang suit versus si Deva
Polisi masih razia di perjalanan pulang. Jalan tikus kembali jadi pilihan. Empat orang bocah belasan tahun mencegat kami di pintu masuk ke kebun. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya serahkan uang dua ribu. “Kasih sudah empat ribu, bang” kata bocah tanpa baju itu karena melihat di tangan saya masih ada selembar dua ribuan. Sebelum melintasi sungai, kami dicegat lagi oleh seorang pemuda yang baru saja selesai mencuci muka. Usianya sekitar dua puluhan dan juga meminta uang kepada kami. “Saya sudah bayar di depan, katanya kalau sudah bayar di sana, tidak perlu lagi bayar di sini”, sedikit kebohongan membuat kami bebas dari pemalakan berikutnya di jalan tikus ini. Tapi pemuda ini bukanlah akhir dari cerita. Di ujung jalan, kayu melintang kembali menghalangi jalan.

Bocah bertopi yang sebelumnya sudah saya kasih uang empat ribu kembali menagih jatah. Jurus yang dipakai untuk pemuda tadi tidak mempan di sini. Teman bocah ini yang kelihatan lebih tua tetap keukeuh minta kami membayar lagi. “Ini motor kepala Satpol PP Bima, kamu mau berurusan dengan dia?” kata saya sambil menatap bocah yang memegang kayu penghalang. Langkahnya mulai surut dan memberi kami lewat tanpa harus membayar lagi. Sedikit kecerdikan dibutuhkan untuk melewati pemalakan bertubi-tubi di jalur tikus ini.

Lepas dari jalur tikus motor melaju bebas di jalan sepanjang Teluk Bima. Saya dan Deva tertawa lepas mengingat kejadian yang baru saja kami alami. Menyusuri semak belukar berduri, membajak kantor BMKG Bima, nyasar ke kandang kuda, menghindar dari razia polisi, lewat jalur tikus, dipalak bertubi-tubi, serta gertakan membawa jabatan kepala Satpol PP kota Bima. Jabatan itu muncul dalam pikiran saya karena malam sebelumnya kami tidur di rumah beliau, dan itu sangat ampuh.

Tentang Devanosa

Dewi Patlia Novitasari a.k.a Devanosa adalah perempuan dua puluh empat tahun yang mempunyai misi menjejakkan kaki di tiga puluh empat provinsi di Indonesia sebelum usia dua puluh lima. Sekarang misinya tinggal tiga belas provinsi lagi, sebagian besar terletak di Sumatera yang akan dijalaninya setelah lebaran nanti. Saya mengenalnya lewat Instagram karena beliau adalah salah satu admin dari akun @catatanbackpacker. Pembawaan yang selalu ceria tampak dari wajah manisnya, membuat ia begitu cepat diterima dan berbaur dengan orang yang baru dikenalnya. Menurut saya itu adalah salah satu penyebab Deva bisa bertahan dan menikmati tujuh bulan solo traveling yang sudah dilaluinya.

Deva diberkahi sedikit kegilaan, keras kepala, serta keberanian mencoba sesuatu hal baru dalam perjalanan. Naik ke atap bus yang melintasi jalanan berkelok-kelok naik turun bukit sepanjang Bima-Wera adalah salah satu keinginannya. Keinginan yang akhirnya terpenuhi dengan naik ke atap mobil kijang pak Muhktar saat perjalanan ke Pulau Ular. Memanjat tebing batu yang curam di Pulau Ular tetap dilakukannya, walaupun bang Micki berusaha mencegahnya, menonjok laki-laki yang mencoleknya tiba-tiba, dan entah kegilaan apalagi yang telah dilakukannya dalam perjalanan sebelumnya. (Dev, saat lo baca tulisan ini, itu hidung jangan sampai kembang-kempis gitu juga kali)
 
Hanya perempuan keras kepala yang akan naik ke tebing ini dan turun dengan susah payah
Tiga hari di Bima kami nikmati bagai sahabat dekat yang terpisah bertahun-tahun, nyatanya belum pernah bertemu sebelumnya. Mungkin perasaan senasib sebagai sesama solo traveler dan tujuan yang sama dalam perjalanan adalah penyebabnya. Teruslah berjalan dan bahagia, Sist, mudah-mudahan perjalananmu semanis es krim artis yang kita nikmati sore itu.
 
No caption
Kamis, 30 April 2015. Bima

P.S: Cerita berikutnya mengenai perjalanan yang gak kalah serunya ke Uma Lengge dan Pulau Ular di Wera. Pantengin terus yah...


0 comments:

Posting Komentar