PELUNCURAN KAPAL PHINISI DI SANGIANG

Bagian pertama

Perjalanan kadang tidak memberi apa yang kau cari, tapi menghadiahi dengan apa yang layak kau miliki.

Hari kamis kemarin saya diajak seorang teman ke pulau Satonda. Saya menerima ajakan itu dengan penuh sukacita sebagai penutup hari-hari terakhir  di Bima. Saya mulai melakukan persiapan, menghubungi teman yang tinggal di dekat sana, dan membayangkan hal-hal apa saja yang akan saya lakukan selama di sana. Tapi sehari sebelum keberangkatan, kabar pembatalan saya terima karena ada beberapa kendala. Hufftt...
 
Kapal yang akan dluncurkan dengan latar belakang gunung Sangiang


Suatu postingan di FB dari bang Ayang Syaifullah yang merupakan penduduk desa Sangiang tentang kalondo lopi atau peluncuran kapal langsung saya tanggapi dengan menghubungi beliau. Bang Ayang mengatakan untuk datang sehari sebelum acara, karena peluncuran akan dimulai sejak subuh dan malam sebelumnya akan ada acara syukurannya. Akhirnya hari-hari terakhir saya di Bima sebelum ke Lombok diisi dengan mengikuti acara kalondo lopi yang akan dilaksanakan hari Minggu tanggal 17 Mei 2015.
Sabtu siang saya sampai di desa Sangiang dan langsung menuju dermaga menemui bang Ayang dan teman-teman lainnya. Dari gazebo atau sarangge tempat kami duduk, bagian depan kapal kayu besar itu kelihatan mencolok di antara rumah-rumah penduduk. “Langsung naik saja ke kapalnya kalau mau lihat-lihat” kata bang Ayang setelah kami selesai makan siang.
“Ini adalah karya seni” begitulah pikiran pertama saya ketika melihat kapal kayu jenis Phinisi modern ini dari dekat. Kapal kayu itu berdiri anggun, ujung bagian depannya menjulang kokoh ke langit biru. Presisi kayu yang sempurna membentuk lekukan indah badan kapal. Gading-gading atau kerangka kapal disusun rapi menghasilkan keseimbangan bentuk. Perpaduan intuisi, perasaan, dan pengalaman menciptakan suatu karya seni luar biasa tanpa bantuan komputer, tanpa ada benang sebagai patokan, tanpa gambar desain sebagai acuan, dan tanpa segala macam jenis perhitungan modern.
Presesi kayu-kayu yang sempurna yang menjadi bagian lambung kapal
Menjelang sore makin banyak penduduk desa Sangiang yang berkumpul dan bekerja di sekitar kapal untuk mempersiapkan acara syukuran nanti malam dan peluncuran besok subuh. Dua unit jangkar seberat 125 kg dinaikkan dengan cara ditarik bersama-sama, rel luncur dilapisi gemuk atau grease, kaki-kaki penyeimbang kapal diperiksa dan diperkuat, baut-baut kapal juga tidak luput dari pemerikasaan dan dipererat, serta dek kapal dibersihkan lalu dipasang tikar untuk acara syukuran. Lampu-lampu berwarna putih terang mulai menerangi kapal yang diberi nama Al Fatah ini, sementara di ufuk barat matahari mulai tenggelam, meninggalkan warna kemerahan yang membanjiri langit dan permukaan laut.
Selepas Isya penduduk yang pada umumnya laki-laki memakai baju koko dan kopiah putih telah mengelilingi kapal. Mereka dimanjakan oleh hidangan gulai dari tiga ekor sapi yang dipotong khusus untuk acara peluncuran. Menurut ceritanya, tiga ekor sapi ini sebagai penanda dari kapasitas muatan kapal. Jika di bawah 100 ton maka yang dipotong kambing, di atas 100 ton yang dipotong sapi, seperti kapal ini yang berkapasitas sekitar 600 ton. Selain dari hidangan yang nikmat, para penduduk yang datang juga diberi bingkisan yang berisi makanan untuk dibawa pulang.
Suasana syukuran dan doa bersama di atas dek kapal
Para tetua yang memakai sorban dan kopiah putih duduk melingkar di atas dek kapal untuk memimpin acara syukuran dan doa bersama sebelum peluncuran kapal. Setelah itu, pada tengah malam seorang yang dipilih meletakkan semacam sesajen berupa nasi dan lauk dengan daun pisang di atas lunas kapal. Setelah pengajian selesai, suasana di atas kapal riuh oleh dua kelompok yang bermain poker serta penontonnya, sebagian lagi berkumpul sambil bercerita dan tertawa, dan anak-anak kecil merokok sembunyi–sembunyi di bagian kamar kapal yang belum selesai. Kertas-kertas remi dihempaskan penuh semangat, dan ledekan serta candaan berseliweran pada pemain yang telinganya dibebani batu sebagai hukuman.
Adzan subuh berkumandang penuh semangat dari masjid Nurul Qolbi yang berada dekat dermaga. Sebagian besar orang yang tidur di kapal terbangun, lalu bergegas ke masjid. Langit di belakang gunung Sangiang mulai tampak keunguan. Dari permukaan laut di kaki gunung Sangiang semburat kemerahan perlahan mucul dan semakin berkuasa. Para penduduk mulai melakukan proses peluncuran. Dua katrol dengan kekuatan masing-masing 10 ton dipasang pada lunas luar kapal. Sekitar dua puluh orang laki-laki bersarung tangan putih tebal mulai berkumpul di sekitar katrol. Mereka adalah para penarik rantai katrol yang bekerja secara sukarela. Derit rantai mulai menggema pagi itu, diiringi suara penuh semangat dari para pekerja. Setengah jam berlalu. Tidak ada perubahan apapun. Kapal besar itu masih bergeming.
Para penarik rantai katrol
Rantai terus ditarik sampai suatu bunyi ledakan terdengar. Orang-orang berteriak kaget, lalu mengerubungi sumber ledakan. Sumbu katrol sebelah kiri kapal patah dan lentingan gear-nya merusak penutupnya. Proses peluncuran kapal berhenti sejenak. Katrol yang rusak diganti dengan katrol lain. Lalu sebagian penduduk bekerja sama mengambil sebatang balok besar dari kayu Ulin untuk mengungkit lunas kapal. Derit rantai kembali terdengar. Balok kayu diayun naik-turun mengungkit lunas kapal dari belakang agar mengurangi beban katrol. Tiba-tiba terdengar bunyi gesekan dari rel luncur. Kapal dengan berat sekitar 40 ton itu bergerak maju sejauh 30 sentimeter. Suasana menjadi pecah dan penuh eforia, bagaikan suasana gol kemenangan dicetak pada masa injury time. Saya merinding berada dalam suasana ini.
Selama proses peluncuran, setiap istirahat para penarik rantai katrol dan orang-orang yang terlibat di sekitarnya disuguhi hidangan berupa gorengan, rokok, kopi, dan air minum secara bergantian. Mereka adalah aktor utama dari proses kalondo lopi ini. Ketika rantai katrol semakin tegang, derit rantai penarik makin keras, suasana makin riuh, orang-orang yang berdiri di sekitar memberi semangat para penarik rantai, ibu-ibu turut berteriak memberi semangat dari kejauhan, dan ayunan balok pengungkit lunas semakin cepat. Klimaksnya adalah majunya kapal sekitar 30 sentimeter. Setiap kali bergerak diiringi teriakan dan angkat tangan kemenangan.
Balok pengungkit lunas kapal dari belakang
Matahari mulai sejajar dengan kepala, Al Fatah belum menempuh setengah perjalanan rel luncurnya. Katrol masih terus ditarik. Tiba-tiba rantai penarik katrol putus dan bagian yang putus melenting mengenai dada seorang pekerja. Saya melihat dada bapak itu mengelupas kulitnya karena kerasnya lentingan tersebut. Sejak itu saya mulai takut berada di dekat katrol. Proses peluncuran kembali ditunda selama proses menyambung rantai yang putus. Perkiraan awal peluncuran ini, pada jam 10 pagi saat air pasang sedang tinggi kapal sudah masuk ke laut. Tapi keadaan yang terjadi tidak mengamini perkiraan yang disampaikan. Adzan Zuhur terdengar dari pengeras suara masjid Nurul Qolbi. Sebagian besar orang-orang yang ada di sekitar kapal mulai membubarkan diri. Air laut mulai surut. Kalondo lopi dilanjutkan lagi besok harinya.
Al Fatah 

Bersambung...

2 komentar:

  1. seru tuh bisa liat langsung pembuatan sampe peluncuran kapal phinisi


    mampir-mampirlah ke blog ala-ala gue di www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  2. Benar-benar menyenangkan mas. Turis asal Inggris yang ada dalam cerita itu sangat total dalam meliput acara peluncuran ini. Sampai menyewa Drone videofrafer untuk merekam momen ini. Blognya bagu sekali mas.

    BalasHapus