PELUNCURAN KAPAL PHINISI DI SANGIANG

Bagian terakhir
Langkah yang sudah dimulai harus terus diayun hingga sampai. Tidak ada jalan pulang jika perjalanan belum usai.

Peluncuran hari kedua
Peluncuran kapal rencananya dilanjutkan mulai jam 9 pagi hari Senin. Para pekerja sukarela mulai berdatangan sejak jam 7 pagi. Mereka adalah penduduk desa Sangiang yang masih menjunjung tinggi semangat gotong royong. Untuk sementara mereka meninggalkan pekerjaan masing-masing demi menyelesaikan proses peluncuran kapal milik H. Adhlan, yang juga salah seorang penduduk desa Sangiang.  
Sejak pagi kaum ibu telah menyiapkan sarapan untuk semua orang yang datang. Gulai sapi yang rasanya enak sekali kembali menjadi menu utama. Bapak H. Adhlan turun langsung mengajak semua yang hadir untuk sarapan sebelum memulai pekerjaan. Terlihat wajah-wajah penuh kepuasan saat menikmati sarapan yang disuguhkan. Lalu seseorang membagi-bagikan rokok kepada para pekerja sebelum rantai penarik katrol kembali berderit.
Gulai sapi yang maknyuss sekali
Hari ini Al Fatah akan dibantu peluncurannya dengan ditarik menggunakan kapal lainnya, jika posisinya sudah mendekati bagian rel luncur yang menurun. Air laut mulai naik. Lidah-lidah ombak makin tinggi menggapai bilah-bilah rel luncur sepanjang 30 meter itu. Para penarik katrol makin bersemangat karena jarak kapal ke laut makin terasa dekat. Akhirnya Al Fatah sampai juga di bagian rel luncur yang menurun. Artinya penarikan dengan kapal akan dimulai.
Saya memilih ikut naik ke kapal penarik di tengah laut, bersama bapak Adhlan dan dua orang turis dari Inggris, serta beberapa ABK. Kapal ini memiliki panjang sekitar 20 meter dan lebar 6 meter. Dikemudikan langsung oleh bapak Adhlan sebagai pemiliknya. Selain ditarik oleh kapal, Al Fatah juga ditarik oleh tenaga manusia dari ke dua sisinya, seperti lomba tarik tambang dengan formasi “V” terbalik. Sekitar 20an orang di setiap sisi kapal terlihat sudah siap dan memberikan aba-aba kepada kapal penarik. Para penarik katrol tetap melanjutkan tugasnya. Kapal penarik yang saya tumpangi bersiap untuk melakukan akselerasi.
Tali penarik antara kedua kapal yang dihubungkan dengan sebatang kayu mulai tegang. Puluhan orang yang menarik kapal tampak bersusah payah dengan sekuat tenaga. Al Fatah masih bergeming. Tiba-tiba sambungan tali penarik kapal terlepas. Tali seukuran lengan orang dewasa itu terhempas ke laut dan menciptakan garis buih putih yang indah. Seorang ABK langsung terjun  mengambil sambungan yang terlepas. Sementara kapal penarik berputar mendekat, untuk kembali mengambil ancang-ancang. Setelah tali penarik dihubungkan lagi. Kapal yang saya tumpangi kembali melakukan akselesarasi. Sekali, dua kali, tiga kali akselerasi dari kapal penarik dilakukan namun belum ada pergerakan apapun dari Al Fatah. Sampai tiba-tiba tali penarik itu putus dan terhempas ke laut,  menciptkan buih putih yang indah. Kadang kegagalan juga dapat menciptkan suatu keindahan, bukan.
Pemandangan saat proses penarikan
ABK kapal yang saya tumpangi membuang jangkar ke laut. Mesin kapal dimatikan. Kapal kecil yang sebelumnya kami tumpangi untuk sampai ke kapal penarik kembali datang menjemput. “Kita akan periksa keadaan di sana dulu” kata pak Adhlan ketika saya tanyakan mengapa kami kembali ke darat. Ternyata yang jadi masalahnya adalah posisi kapal yang belum sepenuhnya berada di bagian rel luncur yang menurun.
Derit rantai katrol terus terdengar. Kayu pengungkit lunas kembali diayun naik-turun. Kapal kembali bergerak maju sekitar 30 sentimeter dan diiringi teriakan keberhasilan. Keadaan dimulai dari awal, kapal kembali bergerak maju sekitar 30 sentimeter selanjutnya. Setelah itu kapal kecil yang akan membawa kami ke kapal penarik datang menjemput. Menurut perhitungan, sekali tarikan lagi kapal sudah benar-benar sampai di bagian menurun rel luncur.
Mesin kapal penarik yang saya tumpangi terdengar meraung kencang. Asap hitam keluar makin tebal dari dua ujung knalpotnya. Kami bersiap untuk melihat Al Fatah meluncur ke laut. Menurut ceritanya, saat kapal meluncur kencang akan keluar asap dari bagian rel luncurnya. Saya menunggu bagian ini. Membayangkannya sebagai suatu bentuk seremonial alami atas keberhasilan dari pekerjaan panjang selama dua tahun sebelumnya.
Raungan mesin kapal makin kencang setelah tuas persnelingnya di dorong ke dapan. Buih air laut berwarna putih kehijauan tampak memanjang dari belakang kapal. Tali penarik terangkat, menegang. Raungan mesin menjadi lebih kencang. “Swim...swiiiiimmm...swiiiimmmm....” teriak histeris turis perempuan asal Inggris dari atas kapal penarik. Para penarik kapal di darat tampak bergerak cepat. Kapal penarik yang saya tumpangi mulai bergerak. Al Fatah melucur kencang ke laut. Asap mengepul dari rel luncur. Semua ABK di kapal penarik juga ikut terbawa histeris. Di darat, para penarik kapal tampak mengangkat kedua tangannya sebagai perayaan keberhasilan.
Asap tipis dari gesekan rel luncur memeriahkan keberhasilan peluncuran kapal
Al Fatah sudah masuk ke dunianya, laut. Laut dengan ombak dan gelombang besar, dan akan menempuh perjalanan dari satu pulau ke pulau lainnya di Nusantara, bahkan negara lain di dunia ini. Al Fatah berdiri tenang menikmati belaian ombak di badannya. Beberapa ikan kecil tampak mulai bermain di bawahnya. Kapal memang akan aman jika berada di dermaga, tapi dia tidak diciptakan untuk itu. Kapal besar diciptakan untuk mengarungi lauatan dalam, dengan ombak dan gelombang yang juga besar. Seperti kehidupan ini, bukan.
Al Fatah dan laut yang telah menjadi dunianya
TENTANG PEMBUATAN AL FATAH
Pengerjaan Al Fatah sudah dimulai sejak pertengah tahun 2013. Kala itu bapak Adhlan meminta bapak Baso menjadi kepala tukang. Menurut perhitungan, kapal akan selesai dalam waktu satu tahun pengerjaan. Namun karena ada kendala bahan, jadi tertunda hingga dua tahun. Kayu Ulin atau kayu Besi adalah bahan utama untuk kapal ini, mulai dari lunas, badan, tiang, dan sebagian besar gadingnya. Kayu alaba dan kayu sambi disisipkan pada bagian gading dan sebagian kecil badan kapal. Kayu Ulin untuk kapal ini didatangkan dari daerah Buton karena mulai langkanya kayu ini di daerah NTB dan pulau Sulawesi bagian selatan.
Bapak Baso yang mengepalai pengerjaan kapal ini adalah lelaki 40 tahunan keturunan asli desa Ara, kecamatan Bonto Bahari, kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai kampung pembuatan kapal Pinisi terbesar di Indonesia. Beliau meneruskan keturunannya sebagai ahli pembuat kapal kayu, dan menjadi satu-satunya karena semua saudara laki-lakinya memilih bidang pekerjaan lain. Menurutnya bakat sebagai pembuat kapal sudah kelihatan sejak kecil. Beliau sudah mulai membantu dan belajar membuat kapal sejak SMP dengan ayah dan kakeknya.
Bapak Baso
Untuk pengerjaan kapal ini, pak Baso hanya berpatokan pada permintaan tinggi kapal dan panjang lunas saja dari si pemilik kapal. Bapak Adhlan hanya meminta tinggi kapalnya 4.90 meter dan panjang lunasnya 14 meter. Dari patokam inilah dihasilkan kapal selebar 11.20 meter dan panjang 35 meter, kira-kira seukuran panjang lapangan futsal. Selama pengerjaan pak Baso mengepalai 5 orang tukang dan 8 orang pembantu tukang yang berasal dari calon ABK. “Berdasarkan pandangan mata dan perasaan saja, mas” jawab pak Baso ketika saya tanyakan pertimbangan apa yang digunakan selama pembuatan kapal ini.

Saya meyakini pikiran saat pertama kali melihat kapal ini. Kapal Phinisi ini benar-benar suatu karya seni yang luar biasa dari tangan dan perasaan manusia. Jiwa, perasaan dan energi diserahkan untuk pengerjaannya selama bertahun-tahun. Sangatlah pantas acara peluncurannya begitu meriah, sakral, dan penuh eforia, sebagai perayaan atas karya besar dari manusia.
 
Karya seni dari jiwa, perasaan, energi dan ketekunan manusia

Selasa, 26 Mei 2015. Lombok

3 komentar:

  1. wuih, terasa heroik padahal hanya membaca, apalagi melihat langsung para peristiwanya. terima kasih sudah berbagi cerita.

    BalasHapus
  2. Benar sekali, melihat langsung pelncuran kapal ini seru sekali. Terima kasih sudah berkunjung.

    BalasHapus
  3. Benar sekali, melihat langsung pelncuran kapal ini seru sekali. Terima kasih sudah berkunjung.

    BalasHapus