Ada dua hal yang belum saya tuntaskan pada saat kunjungan pertama di Lombok. Dua hal ini hukumnya wajib menurut saya. Pertama, mendaki Rinjani. Kedua, snorkeling di Gili Kondo dan sekitarnya, yaitu Gili Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kapal. Gunung Rinjani adalah keindahan terbaik yang terletak di ketinggian. Sedangkan Gili Kondo dan sekitarnya adalah keindahan terbaik bawah laut Lombok. Sempurna.
 
Terumbu karang yang terjaga dan ikan yang banyak
Saya sangat bersuka cita menyambut kesempatan mengunjungi Gili Kondo, saat menemani hari terakhir liburan si Irviene selama di Lombok. Bersama delapan orang teman lainnya dari Rumah Singgah Lombok Backpacker kami berangkat dari Mataram. Perjalanan ke Gili Kondo searah dengan perjalanan ke Pelabuhan  Khayangan. Membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam menggunakan sepeda motor.



Gili Trawangan bisa saja menjadi gili yang paling dikenal oleh orang di luar Lombok, tapi masalah keindahan banyak gili (pulau kecil) lainnya yang lebih bagus menurut saya.  Salah satunya adalah Gili Nanggu. Berjarak sekitar lima belas menit perjalanan dari pelabuhan Lembar. Berdekatan dengan Gili Nanggu ada Gili Sudak, Gili Kedis, dan Gili Tangkong yang memiliki pesona masing-masing.
 
Gili Nanggu pada siang itu

Puncak adalah pencapaian tertinggi dari suatu pendakian. Dari sini pandangan lepas ke sekeliling, laut dengan pulau-pulaunya, perkampungan dengan rumah-rumah penduduknya, kaki gunung dengan kebun-kebunnya dapat dinikmati dari sini. Puncak adalah titik akhir dari jalan menanjak selama pendakian, dari sini kamu dapat melihat mereka yang masih bergerak pelan menuju ke arahmu, mungkin saja ini dapat melahirkan kesombongan dari dalam diri. Puncak hanya menyediakan jalan untuk turun, dan harus ditempuh setelah puas menikmati segala yang disuguhkannya. Puncak Rinjani memang begitu indah, tapi tidak bisa dinikmati selamanya, kecuali dalam kenangan.
 
Pagi di puncak Rinjani
Jam setengah delapan kami mulai bergerak turun. Setengah berlari dan di beberapa bagian saya dan Lisa benar-benar berlari menuruni jalan berpasir. Tapi pemandangan yang indah di kiri-kanan memaksa kami untuk berhenti dan mengambil foto. Di sisi kanan terlihat savana hijau terhampar dengan beberapa garis melengkung di dalamnya, bagunan Pos 3 ekstra pun tampak terselip di antara indahnya savana. Di sisi kiri, Segara Anak hadir dalam berbagai sudut pandang dan objek di sekitarnya, seperti gunung api kecil yang selalu mengeluarkan asap dan tebing-tebing pasir berbagai bentuk. Satu tempat yang begitu menarik adalah melewati jalan dengan tebing pasir setinggi pinggang di kiri-kanannya, seakan berjalan dalam miniatur sungai.
Bagian pertama

Saya yakin Tuhan telah memilihkan waktu dan teman yang tepat bagi saya untuk mendaki dan menikmati keindahan Rinjani. Pada bulan Maret kemarin saat saya sampai di Lombok pertama kalinya, pendakian resmi masih belum dibuka. Rinjani ditutup untuk pendakian umum secara rutin sejak awal Januari sampai akhir Maret karena alasan cuaca, keamanan pendaki, serta untuk pemulihan ekosistem sepanjang jalur pendakian. Saya mengajar sebagai relawan di kabupaten Bima selama dua bulan, sambil menunggu kesempatan untuk mendaki Rinjani datang.
 
Rinjani yang anggun
Jumat pagi saya dan Lisa yang menjadi teman pendakian sudah sampai di terminal Mandalika, Mataram, untuk mencari tumpangan pikap ke Sembalun, desa di kaki gunung Rinjani. Setelah mengitari pasar di belakang terminal, akhirnya kami mendapatkan tumpangan pikap dengan membayar tujuh puluh ribu untuk berdua. Duduk di bak mobil menempuh perjalanan selama tiga jam kami nikmati dengan membaca buku dan saling bercerita. Sepanjang perjalanan banyak tatapan panjang mengarah kepada kami berdua, mungkin mereka melihat ada keanehan atau sesuatu yang menarik. Kami tidak bisa menolak tatapan itu, mungkin memang begitulah keadaannya.



Kehilangan meningkatkan level seorang traveller ~ Luthfi Maizakusuma
 
Segara Anak Rinjani
Bukankah kebahagiaan terasa utuh ketika segala yang diinginkan terpenuhi. Di ujung bulan kelima perjalanan, saya baru saja memenuhi  keinginan-keinginan yang lama terpendam, yaitu mendaki gunung Rinjani dan snorkeling di Gili Kondo dan sekitarnya. Lebih menyenangkan lagi saya menikmati Gili Kondo dengan Irviene, teman dekat sewaktu di Jakarta, dan mendaki Rinjani dengan Lisa, solo traveler dari Jerman yang akan saya ceritakan pada postingan berikutnya.