MENDAKI RINJANI BERSAMA BIDADARI

Bagian pertama

Saya yakin Tuhan telah memilihkan waktu dan teman yang tepat bagi saya untuk mendaki dan menikmati keindahan Rinjani. Pada bulan Maret kemarin saat saya sampai di Lombok pertama kalinya, pendakian resmi masih belum dibuka. Rinjani ditutup untuk pendakian umum secara rutin sejak awal Januari sampai akhir Maret karena alasan cuaca, keamanan pendaki, serta untuk pemulihan ekosistem sepanjang jalur pendakian. Saya mengajar sebagai relawan di kabupaten Bima selama dua bulan, sambil menunggu kesempatan untuk mendaki Rinjani datang.
 
Rinjani yang anggun
Jumat pagi saya dan Lisa yang menjadi teman pendakian sudah sampai di terminal Mandalika, Mataram, untuk mencari tumpangan pikap ke Sembalun, desa di kaki gunung Rinjani. Setelah mengitari pasar di belakang terminal, akhirnya kami mendapatkan tumpangan pikap dengan membayar tujuh puluh ribu untuk berdua. Duduk di bak mobil menempuh perjalanan selama tiga jam kami nikmati dengan membaca buku dan saling bercerita. Sepanjang perjalanan banyak tatapan panjang mengarah kepada kami berdua, mungkin mereka melihat ada keanehan atau sesuatu yang menarik. Kami tidak bisa menolak tatapan itu, mungkin memang begitulah keadaannya.


Selepas sholat Jumat kami sampai di kantor Taman Nasional Gunung Rinjani untuk melakukan registrasi. Saya membayar dua puluh rima ribu untuk rencana pendakian selama lima hari dan Lisa membayar seratus lima puluh ribu untuk satu kali pendakian. Di kantor TNGR kami bertemu satu rombongan pendaki asal Lombok yang juga akan naik siang itu dari jalur Bawa Nangu. “Boleh numpang, pak?” pertanyaan saya kepada salah satu dari mereka. Lalu kami menaikkan barang-barang ke mobil semi terbuka yang ditumpangi dan duduk di belakang sambil menikmati angin sejuk khas pengunungan.
 
Menikmati tumpangan Pikap selama tiga jam
Pendakian dari jalur Bawa Nangu kami mulai tepat pada pukul setengah dua siang. Perjalanan awal menyusuri rumah-rumah penduduk, kebun sayur dan sawah, lalu masuk hutan. Lima menit menyusuri hutan, perut saya terasa kembung dan nafas menjadi berat. Saya berusaha mengejar Lisa yang sudah duluan, tapi dia sudah terlalu jauh. Saya paksakan terus berjalan sampai tiba-tiba muntah di tengah perjalanan. Carrier dilepaskan begitu saja, saya hempaskan tubuh ke tanah, keringat dingin keluar dari pori-pori.

Saya berusaha menangkal pikiran-pikiran buruk yang datang. Saya titip pesan kepada Lisa agar menunggu sejenak lewat seorang pendaki yang melintas. Saya kembali berjalan dan terus memelihara pikiran-pikiran baik. Saya tidak ingin kesempatan ini hilang karena sakit yang datang tiba-tiba. Setelah berhasil menyusul Lisa, saya diberi balsem untuk meringankan rasa kembung. Kami kembali melanjutkan perjalanan dan perlahan rasa kembung mulai hilang dan nafas saya kembali normal.

Perjalanan menembus hutan disambut oleh savana yang memanjakan mata. Jalan tanah yang mengarah ke sisi timur Rinjani membelah savana yang hijau. Terlihat berkelok dan menanjak di kejauhan. Di tengah perjalanan hujan turun sejenak. Menciptakan bau yang khas dari tanah dan rumput basah. Bau yang saya sukai. Menjelang Pos 1 kami melewati beberapa jembatan beton yang menghubungkan lembah-lembah kecil di tengah savana. Begitu menarik keberadaan bangunan ini di alam bebas. Di jembatan pertama inilah kami bertemu rombongan pemancing dari Lombok Timur. Rombongan yang nantinya akan menjadi bagian dari cerita ini.

Satu setengah jam perjalanan dari Bawa Nangu kami sampai di Pos 1. Beristirahat sejenak untuk minum dan mengambil foto. Perjalanan menuju Pos 2 dimulai. Menempuh savana yang tak bosan-bosan dipandang serta menikmati anggunnya puncak Rinjani yang timbul-tenggelam di balik kabut. Tidak hanya pemandangan di depan mata yang indah, di belakang ada kampung dan rumah-rumah penduduk, kebun dan bukit-bukit yang mengitarinya, serta hutan dan savana yang telah dilewati seakan tidak mau kalah menghadirkan keindahan bagi mata para pendaki. 
 
Pemandangan yang memanjakan mata selama perjalanan
Kabut tebal menyelimuti Pos 2 saat kami sampai di sana, sekitar satu jam berikutnya. Saya menunaikan sholat Ashar di sini, setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3. Kabut tebal masih menyelimuti savana di awal perjalanan, seakan para pendaki yang berada di depan lenyap ditelan kabut karena jarak pandang yang terbatas. Kami terus berjalan dan kabut mulai menghilang. Awan membentuk garis-garis halus di langit biru. Perjalanan kurang lebih satu setengah jam menuju Pos 3 jadi begitu tidak terasa. Mata tidak pernah lelah menikmati salah satu karya terindah Tuhan di pulau Lombok ini.

Jam setengah enam kami sampai di Pos 3 ekstra, lokasi yang berada sekitar lima menit perjalanan sebelum Pos 3 yang sebenarnya. Di sini kami mendirikan tenda karena mendengar kabar di Pos 3 sudah begitu padat. Langit malam itu diterangi cahaya bulan yang hampir bulat seutuhnya, serta ribuan bintang yang berkerlip. Di kejauhan tampak beberapa cahaya kecil dari senter para pendaki bergerak perlahan. Malam pertama di Rinjani begitu indah dibanjiri oleh cahaya.


Pagi di Pos 3
Langit berwarna ungu diselingi segaris warna kuning keputihan saat saya bangun. Udara sejuk langsung terasa memenuhi rongga dada di tengah dingin yang menyergap. Barisan tenda warna-warni mulai bergeliat. Seseorang melantunkan adzan dengan syahdu di tengah ketenangan alam pagi itu. Lisa menyiapkan oat untuk sarapan dan saya mengambil air bersih ke sungai kecil yang tidak begitu jauh dari tenda. Jam setengah delapan kami mulai berjalan ke Pelawangan Sembalun, memulai lebih pagi agar mendapat cuaca sejuk selama perjalanan melewati Bukit Penyesalan.

Cerita-cerita tentang Bukit Penyesalan yang akan dilewati mencegah saya untuk tidak terjebak oleh pandangan mata, dan ekspektasi yang diciptakannya. Di atas bukit ada bukit, bukit lainnya baru akan terlihat setelah menyelesaikan bukit sebelumnya. Jika ekspektasi mengikuti apa yang dilihat oleh mata, maka kamu akan menyesal. Karena bukit yang dikira hanya satu atau dua masih terus bersambung dengan bukit-bukit lainnya dan tentu saja jalannya terus menanjak. Dari sinilah berasal nama Bukit Penyesalan. Rasa sesal dan mungkin juga kesal akan lahir dari ekpektasi yang tidak sesuai kenyataan.
 
Menempuh jalan sepanjang Bukit Penyesalan
Kami sampai di Pelawangan Sembalun jam sebelas siang. Disambut oleh barisan tenda warna-warni memagari punggung bukit yang menjadi pos terakhir sebelum menuju puncak. Di sini kami akan menghabiskan setengah hari lebih untuk beristirahat dan bercerita hangat dengan para pendaki. Kabut tebal masih betah menyelimuti sekeliling Pelawangan. Setelah makan siang saya menikmati Kalatidha-nya Seno Gumira Ajidarma di dalam tenda. Lisa keluar untuk mengambil foto dan berbincang dengan beberapa orang yang ditemuinya. Sekitar jam empat sore kabut menghilang, dan saya baru menyadari ternyata Segara Anak berada di bawah kami. Tampak tenang dan menggoda untuk disambangi.

Sebelum sore menjelang saya mengambil air bersih yang jaraknya cukup jauh dari tenda. Selain memenuhi botol minum saya menyempatkan diri mencuci kaki, tangan dan muka di sini. Rasanya begitu segar baik ketika diminum maupun saat menyentuh kulit. Sesampai di tenda bagian kulit yang kena air terasa perih. Saya seperti menderita demam ringan. Berhubung tengah malamnya akan melakukan pendakian ke puncak, saya langsung memakai pakaian lengkap. “Don’t die before we go up” kata Lisa saat melihat saya masuk ke dalam sleeping bag dengan jaket, kaos kaki, sarung tangan dan mengikat kepala dengan scraf. Saya menyembunyikan senyum terhadap kekhawatiran Lisa. Lalu dia memberi saya sebutir obat yang sangat kecil dan diminta untuk diletakkan di bawah lidah. Dia mengatakan hanya memakan obat itu saat benar-benar butuh energi. Entah jenis apa obat yang dia berikan, saya tidur cepat malam itu.
 
Barisan tenda di Pelawangan Sembalun
Tengah malam saya terbangun. Terdengar desauan angin meniup-niup tenda. Jam di hape menunjukkan pukul satu. Saya melongokkan kepala ke luar tenda. Langit biru terang berhias cahaya bulan dan awan tipis, di jalur menuju puncak tampak puluhan cahaya senter bergerak naik. Setelah membangunkan Lisa, saya memasak air panas dan Lisa menyiapkan oat untuk sarapan kami. Susu jahe memberikan kehangatan dari dalam. Menjelang berangkat kami menitipkan carrier ke dalam tenda rombongan alumni SMA 1 Budi Utomo Jakarta yang berada di sebelah tenda kami. Berita tentang kehilangan carrier pendaki di Rinjani tentu saja mengkhawatirkan saya dan Lisa. Carrier itu adalah barang berharga bagi kami untuk menyimpan barang-barang selama perjalanan. Menitipkan ke tenda yang ada penjaganya dapat menjadi pilihan yang tepat daripada membawanya ke puncak.

Kami menembus malam di antara barisan tenda yang berdiri rapat di sepanjang punggung bukit. Sebagian penghuninya tampak sedang makan dan bersiap sebelum memulai perjalanan ke puncak. Beberapa tenda mengeluarkan suara dengkuran dari pendaki yang masih tertidur nyenyak. Nafas makin cepat ketika melewati jalur menanjak dan berpasir. Debu beterbangan dari kaki-kaki pendaki. Saya menutup hidung dengan scraf untuk melindungi pernafasan dari debu. Tubuh mulai hangat dan keringat perlahan mulai keluar dari pori-pori.

Beberapa pendaki tampak beristirahat dan memberi jalan kepada pendaki lain di jalur yang menanjak. Saya dan Lisa terus berjalan agar suhu tubuh tetap terjaga. Lisa melepas jaket yang dipakainya, saat terkena cahaya terlihat keringat mengkilat dari kulit tanganya. Kami sampai di puncak bukit yang di bawahnya membentang Segara Anak. Namun ini bukanlah puncak yang dituju, mungkin baru sepertiga perjalanan yang dilewati. Jalan menanjak berpasir di punggung bukit dengan Segara Anak di sebelah kanan dan tebing curam di sebelah kiri harus dilewati untuk menuju puncak. Saya beristirahat beberapa kali di balik batu untuk melepas lelah dan berlindung dari angin yang membawa dingin, sementara Lisa terus berjalan ke puncak hanya dengan sesekali berhenti.

Saya sampai di puncak pukul setengah enam saat matahari masih enggan menampakkan wujudnya dan langit masih bewarna keunguan, sementara Lisa sampai di puncak setengah jam lebih cepat. Kami duduk berbaris menghadap ke arah matahari terbit. Seorang turis menyanyikan lagu Happy Birthday yang diikuti oleh teman-temannya lalu diiringi oleh sebagian besar orang-orang yang sudah sampai di puncak pagi itu. Entah siapa yang berulang tahun, lagu itu menggema riuh menyambut kehadiran matahari.

Langit mulai berwarna kekuningan, matahari perlahan keluar dari peraduannya, beberapa pulau kecil tampak makin jelas di kejauhan, kamera berebutan mengabadikan keindahan, dan rasa syukur menguap kepada Sang Pencipta atas diberikan kesempatan menikmati semua kejadian ini. Hard Sun dan Rise dari Eddie Vedder menemani saya dan Lisa menikmati keindahan pagi di puncak Rinjani. Setelah itu kami ikut mengantri untuk berfoto dengan memegang plang puncak Rinjani sebagai keafdolan dari suatu pendakian.
 
Pendakian Rinjani: Sah


Bersambung... Ke bagian dua...

Selasa, 9 Juni 2015. Bima 

7 komentar:

  1. Saya cemburu denganmu. Saya hanya bisa melihat puncak Rinjani yang berkabut saat menuju Gili Trawangan tahun lalu dalam sebuah acara jurnalistik di sana. Seandainya saya orang bebas sepertimu... duh... selamat Kawan, selamat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kesempatan untuk mendaki Rinjani segera datang pak, agar kecemburuannya hilang. :)

      Hapus
  2. Congrats udah nyampe puncak. Cakep banget rinjani, pengen balik sana lagi.

    www.littlenomadid.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali Velysia, Rinjani memang begitu indah untuk dirindukan. Terima kasih telah jalan-jalan ke sini. Blog kamu salah satu yang tempat favorit untuk jalan-jalan di dunia maya.

      Hapus
  3. widii, rinjani! kapan saya bisa mencumbunya ya :D

    BalasHapus
  4. Saya jadi rindu Rinjani, meskipun harus menerima kenyataan berseraknya sampah. Tapi ikut lega dan senang ketika ada kabar kegiatan bersih gunung di awal pembukaan pendakian awal bulan April ini. Semoga sustainable, bukan hanya kegiatannya, tapi juga perilaku pendakinya :)

    Foto-fotonya... breathtaking :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, setiap awal bulan April selalu ada clean up. Semoga pendaki setelahnya ikut menjaga kebersihannya.

      Hapus