CATATAN BULAN KEENAM PERJALANAN: HADIAH TERINDAH UNTUK DIRI SENDIRI



Tidak ada tahun yang berulang. Hanya tanggal dan bulan yang setia berputar. Tapi kenangan akan abadi dalam tahun-tahun yang hilang, melalui tanggal dan bulan yang setia mengenang.


Ide tulisan ini saya dapatkan sekitar dua bulan lalu. Hasil obrolan dengan bang Alan di sepanjang perjalanan dari dusun Tololai menuju kota Bima. Segaja disimpan untuk hari ini, agar sesuai dengan keadaan. Kala itu bang Alan mengatakan “Saya ingin keliling Indonesia sepertimu. Sebagai hadiah untuk diri saya, setelah berusaha dan bekerja selama ini”. Saya baru menyadari jika perjalanan yang sedang dilakukan ini dapat juga menjadi hadiah buat diri sendiri.


Hari ini 1 Juli 2015, genap enam bulan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia. Selain itu hari ini juga menandakan ulang tahun saya yang ke 27. Berdasarkan kata-kata bang Alan sebelumnya, saya menghadiahi diri sendiri dengan perjalanan yang telah dimulai sejak setengah tahun yang lalu. Selama 181 hari ini saya bagai merangkai dan menghias hadiah yang akan diberikan kepada diri sendiri.
Menyaksikan peluncuran kapal Phinisi yang hanya terjadi sekali dalam lima tahun

Hadiah itu mulai dirangkai sejak surat pengunduran diri diajukan ke perusahaan tempat bekerja sebelumnya pada awal Desember 2014. Setelah mendapat restu dari orang tua, khusunya Ibu. Rangkaian berikutnya adalah memesan tiket kereta api Jakarta-Semarang dan Semarang-Malang. Lalu diikuti membangun rumah untuk menghimpun cerita selama perjalanan, yaitu blog ini. Rangkaiannya dilanjutkan dengan menjual dan memberikan beberapa barang-barang kepada teman-teman. Berburu carrier seken di jalan Surabaya, Jakarta Pusat, turut menjadi rangkaiannya. Hingga rangkaian awal dari hadiah ini berakhir pada 28 Desember 2014, saat saya mulai meninggalkan Jakarta dari stasiun Senen.

Di Semarang hadiah ini dirangkai dengan memberikan beberapa pakaian kepada Ijran, adik kandung saya yang kuliah di Undip, dan mengisi stok film di laptop dari koleksi filmnya komunitas Hysteria. Cahaya kembang api dan suara letusannya menghiasi langit Semarang pada malam tahun baru. Saya menikmatinya sendirian, dan ini menjadi rangkaian penutup, sebelum meninggalkan Semarang malam berikutnya dari stasiun Poncol.
 
Foto ini diambil pada 1 Januari 2015, awal perjalanan ini


Rangkaian hadiah ini makin berkesan sejak di Malang. Mulai dari berjualan pakaian di jembatan penyeberangan, ditegur petugas pasar, belajar melukis dari pelukis jalanan, belajar teknik negosiasi dari penjual obat di pinggir jalan, belajar memasak, menemui keluarga pacar waktu itu, sampai hitchhiking ke Bromo pulang-pergi sebagai pemanasan. Hadiah terindah untuk diri sendiri ini makin berisi setelah perjalanan dilanjutkan. Bali, tujuan berikutnya.

Berganti-ganti tumpangan hasil hitchhiking dari Malang sampai Ketapang. Ditegur satpam pelabuhan karena menunggu tumpangan dalam area pelabuhan, tidur di mushola pelabuhan karena hujan deras di luar, mengejar truk untuk dapat tumpangan, dan tidur di gudang kargo adalah rangkaian tak terlupakan dari hadiah ini dalam perjalanan untuk sampai di Bali. Mengunjungi berbagai tempat wisata di Bali dengan cuma-cuma karena bekerja sebagai tour driver salah satu rangkaian manis dari hadiah ini.
 

Hitchhiking masih menjadi andalan dalam perjalanan ke Lombok. Rangkaian indah berikutnya selama di Lombok adalah menjadi wisatawan seutuhnya. Mengunjungi berbagai tempat wisata dalam dua kali kedatangan, pada awal Maret dan akhir Mei. Menginap dan bertemu dengan banyak orang di Rumah Singgah Lombok Backpacker salah satu bagian terbaik dari rangkaian hadian ini selama berada di Lombok.
    
Perjalanan dalam merangkai hadiah terhebat untuk diri sendiri berlanjut ke Bima. Tepatnya di dusun Tololai, desa Mawu, kecamatan Ambalawi, kabupaten Bima. Mengajar sebagai relawan selama dua bulan di MIS Darul Ulum adalah bagian terindah dari hadiah ini. Di Bima hadiah ini lebih banyak dipoles dengan berbagai kejadian seru selama mengajar yang benar-benar membuka mata, hati dan pikiran saya.


Labuan Bajo menjadi tempat menikmati hadiah terindah untuk diri sendiri ini dan menuliskannya. Di sini juga saya sedang menyusun mimpi-mimpi baru untuk masa depan nantinya. Mengunjungi pulau Komodo dan jalan-jalan di sekitaran Labuan Bajo menjadi semacam lilin di atas hadiah ini.

Paragraf-paragraf di atas adalah bagian luar dari rangkaian yang menyimpan perjalanan mendaki empat gunung di empat pulau berbeda, menjelajahi puluhan pantai dan berenang di airnya yang bening, melompat dari air terjun setinggi delapan meter dengan mantra you only live once, menonton beberapa pertunjukan yang memukau, menyaksikan peluncuran kapal yang terjadi sekali dalam lima tahun, mengunjungi beberapa desa adat dan museum, bertemu dengan ratusan teman-teman baru, dan mendapatkan keluarga baru dari setiap kota yang dikunjungi.



Saya bahagia sekali dapat memberi hadiah untuk diri sendiri dengan perjalanan ini. Perjalanan yang mampu menghilangkan ketakutan pada ketinggian, meningkatkan intuisi dalam berbagai keadaan, berdamai dengan keadaan genting, lebih mudah bahagia, menikmati segala perbedaan, serta membuat saya merasa lebih menjadi manusia Indonesia.

Tidak ada tahun yang berulang. Hanya tanggal dan bulan yang setia berputar. Tapi kenangan akan abadi dalam tahun-tahun yang hilang, melalui tanggal dan bulan yang setia mengenang. Tabik!


Rabu, 1 Juli 2014. Labuan Bajo   



10 komentar:

  1. Tulis lagi yang banyak kak, gimana kegiatan ramadhan disana kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaaap, Ramadhan di sini lancar dan sama saja kayak di tempat-tempat lain.

      Hapus
  2. Suka dengan tulisanya mas guri, ditunggu cerita selanjutnya.

    Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Inggit.
      Ditunggu yah postingan selanjutanya.. Terima kasih sudah main-main ke sini

      Hapus
  3. Selamat ulang tahun " LangkahJauh... #walau telat banget.. #keep traveling yo....good luck..

    @ranselahok
    www.ranselahok.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Ransel Ahok. Blognya kereeen euy..

      Hapus
  4. Menghadiahi diri sendiri memang perlu ya, Kak. Nice article! Anw, Happy Birthday. Kapan-kapan main ke Larantuka Flores Timur, Kak. Moment terbaik ketika masa Paskah, ada ritual Semana Santa yang oke punya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya penting juga menghadiahi diri sendiri. Acara samanta santa itu kapan ya? Kalau ada kesempatan nanti saya ke sana.

      Hapus
  5. setiap tahun, setidaknya sekali saya menginjak temapat/daerah baru yg belum pernah saya kunjungi, walaupun tak begitu jauh
    tapi serupa dengan kamu mas, menghadiahkan diri sendiri lewat sebuh perjalanan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena hadiah bisa berbentuk apa saja, termasuk perjalanan. Cheers

      Hapus