Bagian Penutup: Pertemanan dan kejutan di dalamnya

Ada satu pertanyaan yang susah saya jawab tentang perjalanan 5 Hari 3 Malam ini, yaitu “Berapa biaya untuk perjalanan seperti ini?”. Saya tidak bisa menjawabnya jika berdasarkan pengalaman. Karena saya dapat menikmati perjalanan ini dengan cuma-cuma. “Bagaimana bisa dapat cuma-cuma?” mungkin saja pertanyaan itu segera muncul dalam pikiranmu. Jika benar, silahkan lanjutkan membacanya, karena saya akan ceritakan kejutan dari perjalanan ini.
 
Keindahan salah satu pantai di Pulau Padar
Berawal dari suatu postingan di Instagram beberapa hari sebelum puasa, saya berbalas komentar dengan seorang follower yang pernah tinggal di Labuan Bajo. Beliau adalah @defriariyanto. Malam berikutnya beliau menelpon Haji Radi yang merupakan pemilik rumah yang saya tumpangi di Labuan Bajo, dan kami juga  berbincang sesaat. Beliau meminta nomor saya dan kami berbalas pesan tentang pengalaman dan tempat-tempat indah di Labuan Bajo. Di ujung perbincangan, bang Defri mengatakan memiliki teman seorang kapten kapal. Dia akan menghubungi temannya itu untuk menanyakan apakah saya bisa ikut dengan kapalnya. Gayung bersambut, kabar baik saya terima selanjutnya. Menurut bang Defri saya bisa ikut dengan kapal temannya dan memberi nomor si kapten untuk dihubungi.

Tidak membuang waktu, saya segera menghubungi pak Hussen—kapten kapal yang dimaksudkan—dan menemui beliau keesok harinya. “Ikut sudah kalau kau mau” kata pak Hussen dalam perbincangan kami sore itu di teras rumahnya. Namun tujuan beliau selama bulan puasa tidak ada yang ke Pulau Padar dan Gili Lawa—dua tempat yang sangat ingin saya kunjungi. Saya menunggu sampai lebaran selesai dan tetap menjaga komunikasi dengan pak Hussen. Sampai lebaran selesaipun belum ada tamu yang dia bawa ingin mengunjungi ke dua tempat tersebut. Karena tidak ada pilihan lain, maka saya tetap ikut dengan kapal pak Hussen mengunjungi Pulau Rinca, Pulau Komodo dan Pantai Merah selama dua hari satu malam lalu kembai ke Labuan Bajo.

Ketika kapal bersandar di dermaga setelah perjalanan dua hari satu malam, saya berbincang dengan kapten kapal sebelah. Kebetulan kapten kapal itu adalah bang Ary yang merupakan keponakannya pak Hussen. Ketika saya memperkenalkan diri dan mengatakan berasal dari Jakarta.
“Kenal dengan Ashari Yudha?” tanya bang Ary.
“Itu teman saya, Bang”
“Dia dulu pernah ikut juga dengan saya, sama kayak mas ini. Numpang di kapal dan bantu jadi guide  tamu saya”
Setelah itu percakapan berlanjut tentang beberapa orang yang beliau kenal dan saya kenal juga, dan tentang cerita beberapa minggu sebelumnya saat kapal beliau dipakai oleh tim My Trip My Adventure. Dari percakapan itu juga saya mengetahui kalau trip beliau hari itu ke Pulau Padar dan Gili Lawa.
 “Boleh saya ikut, bang?” tanya saya langsung ke Bang Ary “Saya sudah training di kapal pak Hussen” kelakar saya untuk meyakinkan bang Ary tentang keinginan untuk membantu kegiatan di kapal nantinya. “Ayo sudah, pindahkan tasnya ke sini” jawab bang Ary.
 
Kunjungan kedua kalinya dalam bulan Agustus ke Pulau Padar
Perjalanan tiga hari dua malam dengan kapal bang Ary yang akhirnya membawa saya mengunjungi tempat-tempat indah di gugusan Pulau Komodo. Menikmati keindahan Gili Lawa, melihat Manta di Manta Point, snorkeling dan trekking di Pantai Merah, melihat atraksi lumba-lumba di dekat Pulau Kalong, menyaksikan keindahan Pulau Padar yang mempesona, snorkeling di Pulau Kanawa serta trekking di Pulau Kelor. Semua ini saya dapatkan dengan cuma-cuma dari segi biaya, tapi saya mencoba memberikan bantuan sebisa mungkin selama di kapal.

Dalam perjalanan lima hari tiga malam di atas dua kapal yang berbeda, saya berperan sebagai kru kapal dan pendamping tamu. Membantu memasak di dapur, menghidangkan makanan untuk tamu, mencuci piring, menarik jangkar,membantu mengemudikan kapal, mendampingi tamu snorkeling dan trekking, serta jadi tukang potret. Semua pekerjaan itu begitu mengasikkan dan juga merupakan hal baru untuk dinikmati, dan tentu saja dapat membantu saya menikmati semua tempat-tempat di paragraf sebelumnya. Saat tulisan ini saya selesaikan, saya baru saja selesai menikmati perjalanan dua hari satu malam ke tempat-tempat di atas sebagai kelanjutan dari cerita ini.
 
Kamu mau dimasakin apa?
Perjalanan ini memberikan kejutan melalui pertemanan, khususnya dari Instagram. Datang tanpa diduga, di luar yang bisa diperkirakan. Seorang teman dapat memberikan kejutan dari kejauhan walaupun belum pernah bertemu sebelumnya.  Dengan @defriaryanto dan @ashari_yudha si admin akun kece @catatanbackpacker saya belum pernah bertemu sama sekali. Kami hanya saling mengenal lewat Instagram dan berbagi cerita dan tips perjalanan lewat whatsapp. Aih...Mari berteman. Lalu tunggulah kejutan selanjutnya.

Sabtu, 22 Agustus 2015. Kampung Komodo

P.S: Bagi teman-teman yang ingin menikmati keindahan dari tempat-tempat yang saya kunjungi dalam rangkaian postingan ini, bisa mengikuti Langkahjauh Open Trip Flores: 3d2n Live on Board: 15-17 October 2015 รง Klik saja linknya untuk informasi lebih lengkap.
Tabik!



Bagian Ketiga: Diiringi Lumba-lumba ke Pulau Padar yang Mempesona

Sisa purnama semalam masih tergantung di atas bukit. Langit berwarna ungu dengan bias putih di kakinya. Permukaan laut bagai hamparan tikar yang maha luas dengan riak kecilnya. Kesunyian pulau Kalong terpecah oleh suara kapal kami yang mulai bergerak perlahan ke Selatan. Sementara air mendidih telah disiapkan untuk menyeduh kopi atau teh sebagai penyambut pagi.

Pulau Padar adalah tujuan utama perjalanan hari ini. Dalam remang cahaya subuh, kapal bergerak cepat agar sampai lebih awal. “Ada lumba-lumba di depan” teriak bang Ary kepada tamu kapal yang sedang menikmati teh di dek kapal. Semua kepala melongo ke arah yang disebutkan, lalu diiringi jari telunjuk yang mengiringi pergerakan lumba-lumba. Ada sepuluh ekor lumba-lumba yang mengiringi kapal sekitar dua puluh menit pada awal perjalanan. Hingga tamu yang masih tidurpun dapat dibangunkan untuk melihat ikan yang memiliki kercerdasan tinggi ini. Mereka bergantian muncul ke permukaan dan sesekali mengeluarkan suaranya yang mirip jeritan itu. Matahari yang muncul perlahan dari balik bukit di sisi Timur menutup pertunjukan alam pagi itu. 
Aih...keindahan perempuan dan alam.
Keindahan pulau-pulau kecil serta cekungan karang dihempas ombak lautan lepas yang besar menjadi pemandangan menarik menjelang Pulau Padar. Setelah itu kapal mulai masuk ke teluk yang tenang. Memasuki teluk ini bagai merasa menjadi bagian salah satu scene film Anaconda. Kapal bergerak perlahan di antara dua tebing bukit. Suasana begitu tenang, seakan-akan teluk itu adalah sungai besar yang di depannya penuh dengan kejutan. Dari kejauhan terlihat dua kapal terapung tenang di salah satu pantai di teluk itu, ketika sampai ternyata ada dua kapal lagi di balik tebing batu. Suasana yang cukup ramai hari itu.

Puncak yang akan dituju dan orang-orang yang berada di sana tampak dari bibir pantai. “Kayaknya lebih tinggi dari Gili Lawa” kata seorang teman sambil mematut-matut puncak tertingginya. Tanjakan sedang menjadi pembuka pendakian pagi itu. Dari atas ini saja, keindahan dua bidang pantai sudah bisa dinikmati. Jalan tanah yang kering menyusuri pinggang bukit mengantarkan ke puncak bukit berikutnya. Keindahan bukit-bukit kecil, empat bidang pantai  yang saling berpunggungan, serta warna airnya yang berbeda sudah terlihat dari sini. Sangat indah, walaupun masih setengah perjalanan.

Sebelum sampai di puncak, kami berpapasan dengan sepasang calon pengantin yang baru saja selesai melakukan pemotretan pre wedding. Tempat ini telah memukau banyak orang. Pulau Padar tidak hanya dikunjungi oleh anak-anak muda, tapi saya juga bertemu dengan pengunjung yang berusia sekitar enam puluh atau tujuh puluhan tahun. Keindahan pantai-pantainya, bukit-bukit kecilnya, pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta biru laut dan gradasi warnanya di dekat pantai adalah paduan keindahan yang sempurna. Semua hal itu adalah pesona Pulau Padar yang telah membuat banyak orang ingin segera mengunjunginya.
Pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Padar

Perjalanan hari terakhir itu dilanjutkan ke arah matahari terbit. Pulau Kanawa adalah tujuan selanjutnya. Menempuh sekitar satu setengah jam perjalanan kami sampai di pulau yang memiliki resort dan dermaga kayu itu. Warna pasirnya yang putih sudah memikat mata sejak dari kejauahan. Kapal bersandar sementara di dermaga untuk menurunkan tamu yang ingin snorkeling. Melompat dari atap kabin kembali saya lakukan. Sensasinya begitu menyenangkan ketika tubuh masuk lebih jauh ke dalam air yang jernih.

Tidak hanya pasirnya yang putih dan airnya yang jernih, hamparan terumbu karang di Pulau Kanawa ini sangat indah. Berbagai bentuk dan warna terumbu karang tumbuh rapat di area dangkal yang luas, hingga bisa terlihat dengan jelas.  Saya mengibaratkan snorkeling di sini seperti berjalan di taman bunga yang luas di daratan. Selama snorkeling di sini saya dapat melihat beberapa jenis ikan yang belum pernah ditemui sebelumnya, seperti kerapu macan dan beberapa jenis yang saya belum ketahui namanya. Terumbu karang di sini menghadirkan keunikan dan sensasi berbeda dibandingkan snorkeling di tempat lain sebelumnya.
 
Pulau Kanawa: Foto Dolan Karo Konco
Matahari mulai condong ke Barat. Kapal melaju ke arah pulang, tapi masih ada satu tempat lagi untuk disinggahi yaitu Pulau Kelor. Snorkeling dan trekking adalah kegiatan yang dapat dilakukan di sini. Beberapa tamu turun untuk trekking dan bermain di bibir pantai, sisanya memilih untuk bersantai di kapal menikmati suasana yang sejuk. Medan trekking yang tidak begitu tinggi ternyata lebih curam daripada trekking di Gili Lawa dan Pulau Padar. Dari puncaknya terlihat ujung pulau yang dikelilingi pasir putih, gradasi warna air laut, serta bukit-bukit di daratan Flores menjadi latar belakangnya. Inilah keunikan dari pulau yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari Labuan Bajo.
 
Pulau Kelor
Perjalanan lima hari tiga malam ini benar-benar menjadi kejutan besar. Selama ini tempat-tempat di atas hanya berada dalam angan-angan saja untuk dikunjungi. Tapi perjalanan ini menjadikannya kenyataan, bahkan melebihi harapan. Kejadian ini memang terjadi begitu saja, tapi ada proses panjang yang dilewati. Jika ada yang bertanya berapa biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan ini, tentu saja saya bingung menjawabnya. Karena perjalanan ini saya dapatkan secara cuma-cuma, dan malahan dibayar. Pada postingan selanjutnya saya akan ceritakan bagaimana dapat melakukan perjalanan ini.
 
Pasir putih di Pulau Kelor
Tabik!

Bersambung...

Kamis, 13 Agustus 2015. Kampung Komodo





Bagian kedua: Indahnya Gili Lawa dan mendebarkannya bersampan tengah malam

Kejutan yang hadir dalam perjalanan kerap kali di luar yang dapat dibayangkan. Berawal dari bertegur sapa dengan bang Ary dan bercerita sejenak. Akhirnya saya bisa ikut trip dengan kapal beliau. Setelah sholat Dzuhur di kapal pak Hussen, saya memindahkan tas berisi pakaian ke kapal bang Ary di sebelahnya. Kapal akan berangkat jam dua siang membawa rombongan dari Jakarta. Dua mobil berhenti di depan kapal. Seorang lelaki bertubuh agak gemuk turun dan melangkah dengan penuh semangat ke kapal. Beliau adalah bang Reno, tour leader dari Dolan Karo Konco yang memakai baju bertuliskan “Travel Warning: Indonesia Dangerously Beautiful”
 
Gili Lawa Darat
Jangkar ditarik dan diikatkan ke haluan kapal. Suara mesin kapal terdengar bersemangat meninggalkan dermaga. Langit biru terang. Kapal menuju ke utara. Gili Lawa adalah tujuan pertama. Kami sampai setelah dua setengah jam perjalanan menyusuri gugusan pulau di sekitar Labuan Bajo. “Lu turun temenin tamu gua ya, bawa kamera ini” kata bang Reno sambil menyerahkan Go Pro miliknya. “Siaaap, bang” jawab saya penuh semangat.

Matahari mulai mendekati horison saat kami sampai di bukit kecil di sisi barat Gili Lawa. Serombongan turis luar tampak asik berfoto di puncak yang bersebelahan dengan selat kecil Gili Lawa. Dari puncak ini Gunung Sangiang tampak di kejauhan. Menjadi siluet yang tenang. Langit disapu warna keemasan dan pantulan cahaya matahari memanjang di permukaan laut. Angin bertiup sejuk, membawa kedamaian di penghujung siang. Keindahan dari puncak ini  menjadi pemanasan dari keindahan Gili Lawa keseluruhannya.
 
Keceriaan sore denga latar belakang cahaya matahari tenggelam
Kami turun saat langit telah diselimuti gelap. Perahu fiber yang akan membawa ke kapal menunggu di bibir pantai. Setelah sampai di kapal, tamu disambut hidangan makan malam yang lezat, salah satunya adalah cumi asam manis. Bulan purnama bergerak perlahan di balik bukit. Sekumpulan kecil awan membingkai keindahannya di bawah langit biru tua. Para tamu tampak sangat menikmati suasana tenang di atas kapal. Jauh dari kebisingan dan kerumitan ibu kota.

Jam setengah enam kami mulai berjalan, setelah menuntaskan sarapan dan sholat Subuh. Jalan tanah di sisi timur akan mengantar ke puncak tertinggi di Gili Lawa. Sejak di pertengahan jalan, pemandangan indah Gili Lawa sudah bisa dinikmati dalam remang cahaya. Sesampai di puncaknya, matahari telah menampakkan diri. Pantulan cahayanya membentuk garis memanjang di permukaan laut. Dari sini kapal yang kami tumpangi bisa ditutup dari pandangan dengan satu jari, arus air di selat membentuk warna yang kontras dengan sekitarnya. Angin berhembus pelan. “Bersihin paru-paru di sini, seger banget” celetuk seseorang dari rombongan sambil menarik napas dalam-dalam.
 
Menyaksikan matahari terbit dari puncak Gili Lawa
Dari puncak inilah pada umumnya foto-foto Gili Lawa yang beredar di media sosial diambil. Setelah itu rombongan turun mengambil jalan memutar ke sisi Barat yang lebih landai. Saya berpisah dari rombongan dengan mengambil jalan ke sisi timur. Ada teluk kecil yang menarik perhatian. Jalan tanah tidak begitu jelas, karena jarang dilewati. Rumput menyembunyikan batu-batu di bawahnya. Penting sekali jika melewati jalan ini menggunakan sepatu. Saya berhenti di ujung bukit di atas teluk. Satu kapal Phinisi berdiam di sana menunggu penumpangnya yang mungkin sedang menyelam di bawahnya. Tempat ini begitu tenang dan indah. Teluk kecil ini dipagari bukit di sekitarnya, bahkan dari satu sudut pandang menyerupai laguna.
 
Sesekali pajang foto selfi boleh lah yah...
Langit sudah benar-benar terang saat kami sampai di kapal. Sarapan telah menyambut. Manta Point adalah tujuan berikutnya. Kami berenang dalam rombongan untuk saling menjaga keselamatan, karena arus di sini yang cukup kuat dan bisa datang tiba-tiba. Satu ekor manta atau ikan Pari terlihat berenang pelan di dasar laut dengan kedalaman sekitar sepuluh meter. Kami mengamati beberapa saat, lalu arus yang cukup kuat datang. Kami berenang mengikuti arus, dan kapal sudah menunggu di depan.

Matahari hampir sejajar dengan kepala saat kapal mulai berjalan. Tujuan berikutnya Pink Beach atau Pantai Merah. Para tamu berangkat dengan perahu kecil ke bibir pantai, saya terjun dari atap kabin kapal ke laut. Sensasi melompat dari ketinggian sekitar lima meter begitu mengasikkan. Belajar dari pengalaman hampir tenggelam sebelumnya, kali ini saya snorkeling menggunakan pelampung. Arus lebih kuat dari hari sebelumnya di sini, dan airnya cukup keruh hingga mempengaruhi jarak pandang. Tapi terumbu karangnya masih tetap indah dengan ikan-ikannya.
 
Pantai Merah a.k.a Pink Beach

Perjalanan hari itu masih terus berlanjut. Loh Liang menjadi persinggahan berikutnya. Ini adalah kali ke empat saya ke sini. Sementara para tamu trekking untuk melihat komodo, saya menikmati In a Strange Room karya Damon Galgut kiriman Buka Lapak Buku di atas kapal. Setelah itu menikmati sore di dermaga beton dengan mengambil beberapa foto sambil menunggu tamu yang baru pulang menjelang magrib. Mereka membawa cerita hanya dapat melihat satu ekor kadal besar itu karena sedang musim kawin. Langit mulai gelap. Kapal bergerak menuju Pulau Kalong untuk beristirahat menjelang besok pagi.
 
Buku bagus selama perjalanan
Saya membantu menyiapkan makanan buat para tamu di dapur kapal. Malam ini hidangannya istimewa yaitu ikan bakar, gado-gado, kentang goreng dan beberapa pilihan menu lainnya. Setelah itu saya mengikuti ABK kapal membeli ikan ke perahu bagan dengan sampan kecil. Rasa ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru adalah dorongan terbesarnya. Sampan dengan panjang sekitar tiga meter dan lebar setengah meter kami tumpangi bertiga. Di awal naik sampan bergoyang kencang, seakan kami bertiga akan tercebur ke laut. Setelah itu perlahan saya bisa menyeimbangkan diri dengan duduk bersimpuh di tengahnya.

Air laut cukup tenang malam itu, sampan kecil yang kami tumpangi melaju dengan kejutan-kejutan kecil dari goyangannya. Bibir sampan hanya berjarak beberapa jari saja dari permukaan laut. Saya memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan jika sampan ini terbalik. Tapi semua itu tidak terjadi. Kami kembali ke kapal dengan membawa ikan segar yang baru saja ditangkap.
 
Inilah sampan yang mendebarkan itu
Melakukan hal-hal baru yang cukup menantang membuat saya bergairah. Menyadarkan diri betapa banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk menambah warna kehidupan. Bangkit melepaskan diri dari kehidupan monoton dan rasa nyaman rutinitas, membuat hidup terasa memasuki lembaran baru. Lembaran yang memiliki kejutan di setiap ceritanya. Cerita inilah yang akan menciptakan kebahagiaan dari melakukan sesuatu, dan menghindari penyesalan karena tidak melakukan apapun.

Bersambung...

Minggu, 9 Agustus 2015. Labuan Bajo












Bagian Pertama: Hampir Tenggelam di Pantai Pink

Jam setengah delapan pagi saya sudah sampai di dermaga Tilong, Labuan Bajo. Kapal-kapal kayu yang membawa tamu wisata berbaris rapi seperti mau upacara. Saya mencari kapal milik pak Hussen. Kapal kayu berukuran sedang yang akan membawa berkeliling Pulau Komodo dan sekitarnya selama dua hari ke depan. Di atas kapal saya bertemu bang Din, anak buah kapal (ABK) yang membantu  pak Hussen sebagai kapten. Beliau menawarkan kopi selama menunggu tamu kapal datang.

Jam setengah  sembilan kapal meninggalkan dermaga di belakangnya. Buih air berwarna putih memanjang di belakang kapal. Di samping kanan kapal ada dua pelangi tercipta dari bias air pembuangan. Kapal mengarah ke Selatan. Melewati bukit-bukit kecil yang masih jadi bagian daratan Flores. Bukit-bukit berwarna kuning kecoklatan, sebagian berwarna hitam bekas dibakar. Kemarau sejak Juni mulai meninggalkan jejaknya. Namun bukit-bukit itu tetap indah, berpadu dengan warna biru langit dan laut.
 
Bukit-bukit di sepanjang perjalanan menuju Pulau Rinca
Beberapa bagian laut tampak berwarna hijau terang dalam perjalan ke Pulau Rinca. Warna yang sangat berbeda dengan sekitarnya. “Itu dangkalan” kata pak Hussen sambil mengemudikan kapal menghindari bagian tersebut. Dua setengah jam berlayar kami sampai di Loh Buaya, Pulau Rinca. Sekitar sepuluh kapal kayu sudah bersandar di dermaga kayu yang kecil itu. Pak Hussen berhasil menyelipkan kapal di sisi kiri dermaga.

Selepas gerbang masuk Loh Buaya, jalan tanah yang kering dan tampak retak di beberapa bagian mengantar kami ke pos pendaftaran Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca. Saya ikut rombongan tamu kapal, yaitu Jill dan Jacklyn dari Belanda serta bang Syafri sebagai guide mereka. Jill dan Jacklyn mendengarkan pengarahan tentang keadaan pulau Rinca dari ranger di bawah rindang pohon asam. Di sebelah mereka, terpajang tengkorak kerbau dan kijang sisa dimakan komodo.
 
Tengkorak binatang sisa dimakan komodo
Jalur trekking medium dipilih oleh Jill dan Jacklyn. Saya mengikuti mereka dari belakang. Komodo pertama sepanjang satu setengah meter ditemukan di dekat dapur petugas Taman Nasional Komodo (TNK). Beberapa pengunjung tampak berkeliling mengamatinya. Sedangkan yang lain berfoto di belakang komodo yang sedang tidur itu. Jalan selanjutnya agak menanjak saat memasuki hutan. Ranger berhenti sejenak dan menunjuk suatu lobang di tanah. “Itu sarang komodo, mereka hanya menggunakannya pada musim kawin”

Perjalanan terus menyusuri hutan, kotoran kerbau liar berserakan di jalan. Tapi sayang kami tidak dapat melihat kerbaunya. Dua pasang burung maleo, sarang lebah hutan, dan beberapa ekor kijang adalah binatang lain yang ditemui saat di hutan. Di ujung hutan kami disambut oleh sabana. Pemandangan lepas ke berbagai arah. Pohon-pohon lontar menjadi siluet di kejauhan. Rumput sudah berwarna kecoklatan. Jalan tanah kering dan retak. Kemarau lebih terasa di sini. Seekor komodo tidur di bawah batu dengan rindang pohon asam. Jalan mulai menurun. Kami menuju ke arah dermaga. Satu jam perjalanan dibutuhkan untuk jalur trekking medium ini.
Jill dan Jacklyn melintasi jalan tanah di medium trek

Loh Liang di Pulau Komodo adalah tujuan berikutnya. Air laut sedang surut saat kami sampai. Tiang-tiang beton dermaga tampak digerogoti tiram dan kerang. Saya memilih tinggal di kapal dan berenang, sementara tamu akan trekking di pulau Komodo. Melihat saya berenang, pak Hussen juga ikut dan mengajak bang Din. “Ambil sudah baskom dan parang. Pakai kau punya itu pelampung biar ndak capek. Kita cari mutiara (kerang)” perintah pak Hussen ke bang Din. Kami bertiga berenang mencari kerang yang menempel di tiang-tiang dermaga.

Dua baskom besar kerang laut kami dapatkan selama satu jam. Setelah itu saya berenang dengan peralatan snorkeling untuk melihat tiang-tiang dermaga menancap ke dasar laut. Sensasi snorkeling sangat berbeda. Ujung tiang tampak menghilang dalam gelapnya laut. Bagian luarnya diselimuti tiram dan beberapa terumbu karang. Ikan-ikan kecil tampak mencari makan di sekelilingnya. Sesekali saya merasakan ngeri apabila menyentuh tiang itu karena kulit tiram yang tajam, namun lebih merasa dermaga adalah karya seni. Saya menyukai dermaga dari segala sisinya, terlebih dermaga kayu.
 
Pak Hussen sedang membersihkan kerang sebelum direbus
Langit mulai berwarna kemerahan. Jill dan Jacklyn sudah pulang dan membawa cerita seru dapat melihat enam ekor komodo. Agustus adalan musim kawin bagi komodo. Dapat melihat mereka dalam jumlah cukup banyak adalah suatu keberuntungan. Kapal mengarah ke Pulau Kalong, tidak jauh dari kampung Komodo. Di dekat pulau yang menjadi sarang bagi koloni kalong kapal berhenti dan membuang jangkar. Matahari menghilang di balik pulau Komodo. Ratusan atau mungkin ribuan ekor kalong keluar dari rimbunan pohon bakau. Menghiasi langit di atasnya. Menjadi siluet di langit merah. Sore yang indah menyambut malam yang lebih indah. Purnama yang utuh menerangi tidur kami di tengah lautan yang tenang. Syahdu.

Matahari mucul perlahan dari balik pulau kecil. Laut dengan riaknya yang kecil disapu warna keemasan. Koloni kalong berputar-putar di sekitar hutan bakau sebelum menghilang di dalamnya. Bang Din tampak sibuk menyiapkan sarapan buat tamu kapal. Sebelum ke Pantai Pink, kapal berhenti sejenak di dermaga kayu kampung Komodo. Jill dan Jacklyn ingin melihat suasana kampung Komodo. Satu jam kemudian mereka kembali ke kapal dan langsung menuju Pantai Pink.
 
Matahari terbit di dekat Pulau Kalong
Sekitar dua puluh menit perjalanan kami sampai di pantai yang pasirnya berwarna kemerahan itu. Perahu fiber kecil menyambut untuk membawa ke bibir pantai. Sebelum berenang saya memilih mendaki ke bukit kecil di sisi barat pantai. Rerumputan di sini juga sudah menguning dan kecoklatan. Angin sejuk dan rindang pohon di puncak bukit melenakan sejenak. Dari sini Pantai Pink tampak keseluruhannya.

Setelah puas mengambil foto dan menjelajah bukitnya saya kembali ke bibir pantai untuk snorkeling. Air laut terasa dingin karena sedang musim angin tenggara. Arus cukup deras namun air laut masih jernih. Dari bibir pantai pasir putih yang menyerupai tangga mengarah ke terumbu karang yang tumbuh rapat. Berbagai jenis ikan warna-warni menyambut. Begitupun dengan terumbu karangnya yang lebih banyak berwarna merah. Terlalu asik mengamati pemandangan bawah laut, tidak terasa saya terbawa arus ke bagian timur pantai. Setelah keluar saya kembali snorkeling mulai dari bagian ujung barat pantai. Dari sinilah kejadian menegangkan berawal.

Setelah sampai di tengah gelombang terasa lebih besar. Beberapa kali air masuk lewat ujung snorkel. Selain itu masker juga kemasukan air. Akhirnya saya membuka masker dan berenang bebas ke pinggir. Di pertengahan kaki sebelah kanan mulai terasa tegang, mungkin karena fin yang sempit. Saya berusaha membuka fin dengan satu tangan, karena tangan satunya memegang masker. Saat membuka fin ini saya sempat terminum air laut. Rasa gelisah muncul. Fin dilepaskan dengan terburu-buru. Gelombang terasa makin besar. Kaki kanan tidak bisa digerakkan. Saya mulai panik.“Tolong bang...tolong” teriak saya kepada pemilik perahu yang bersandar di bibir pantai. Air laut kembali terminum. Waktu terasa berputar sangat lama. Saya berhasil meraih tongkat yang diulurkan dan mendorong tubuh ke bagian yang dangkal. Perjalanan selalu menghadirkan kejutan di setiap langkahnya. Kali ini kejutan yang mengajarkan untuk tidak ceroboh, dengan mengabaikan memakai pelampung.
 
Pantai Merah a.k.a Pink Beach

Setelah berenang kami kembali ke kapal untuk kembali ke Labuan Bajo. Di tengah perjalanan kapal bergoyang hebat karena gelombang yang besar. Saat bagian depan terhempas, tempias air laut membasahi dek kapal. Saya bercerita dengan Jacklyn yang tampak menikmati keadaan ini dan mengatakan bersyukur tidak mengalami mabuk laut. Jam setengah dua kami sampai di dermaga Tilong. Sebelum pulang saya bertegur sapa dengan kapten kapal di sebelah.
“Dari mana, mas?”
“Dari Jakarta, bang”
“Kenal dengan Ashari Yudha?”
“Kenal, Bang. Itu teman saya”
Dari pecakapan inilah berawal petualangan berikutnya. Mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi sebelumnya. Perjalanan kembali menghadirkan kejutan di luar yang dapat dipikirkan. Ke mana saja? Tunggu postingan selanjutnya.

Bersambung...


Kamis, 6 Agustus 2015. Labuan Bajo 

Juli berlalu dengan cepat. Dua kejadian besar terjadi di dalamnya; ulang tahun dan lebaran. Perjalanan yang sedang dilakukan telah menjadi kado terhebat untuk ulang tahun kali ini, sedangkan lebaran kali ini adalah kali ketiganya merayakannya tidak bersama keluarga. Pada bulan Juli ini juga saya merasa sangat bersyukur dengan masa lalu yang telah dilewati.


Saya percaya keadaan sekarang ini terbentuk dari keadaan-keadaan sebelumnya. Kejadian pada masa lalu mempengaruhi kejadian saat ini, dan kejadian saat ini akan mempengaruhi kejadian pada masa yang akan datang.

Pada sepuluh hari terakhir bulan Juli saya bekerja di Divers Paradise Komodo. Berawal dari membantu mengantarkan pesanan bunga ke rumah pemiliknya, saya ditawari pekerjaan tetap. Pekerjaan awal di sana sebagai tukang kebun, lalu beralih jadi pembuat bingkai banner, dan terakhir mengamplas dan mengecat huruf-huruf dari kayu.

Pekerjaan yang dijalani inilah yang membuat saya mensyukuri masa lalu. membuat saya mendapat tanggapan “very good” dari bapak Wolfgang, setelah membuat taman baru di samping kantornya. Setelah itu beliau memberi tugas selanjutnya membuat pagar kayu di samping taman. Pengalaman membantu orang tua membuat pagar kebun adalah modal berharga dalam menyelesaikan pekerjaan ini. Tanggapan dari bapak Wolfgang kembali membuat saya tersenyum senang pada akhir pekerjaan. Pengalaman membuat mobil kayu mainan dan membuat bingkai lukisan sendiri untuk pelajaran kesenian, membuat saya yakin mengerjakan bingkai dan memasang banner yang merupakan pekerjaan selanjutnya. 

Now Playing:  Lost Stars ~ Adam Levine

Masa kanak-kanak yang dijalani di kampung membentuk saya untuk membuat mainan sendiri, mengerjakan tugas kesenian sendiri, dan berkebun sendiri. Ujung jari yang menghitam karena pukulan palu yang meleset atau tangan luka karena parang dan gergaji adalah resiko kecil pada waktu itu, namun memberikan pengalaman berharga dan jadi keahlian pada saat ini.

Pengalaman-pengalaman dari kejadian masa lalu berdatangan pada hari ini. Pengalaman itu membentuk hari ini dengan caranya sendiri. Menciptakan keyakinan untuk bisa melakukan hal yang sama. Membuatnya menjadi lebih baik dengan perngembangan. Hal inilah yang membuat saya sangat mensyukuri masa lalu yang bermain dengan alam, bekerja membantu orang tua dan membuat mainan sendiri. Hari ini memang tidak bisa memperbaiki hari-hari yang telah berlalu, tapi hari-hari yang telah berlalu dapat memperbaiki hari ini.

Tabik!

Selasa, 4 Agustus 2015. Labuan Bajo