5 HARI 3 MALAM MENJELAJAH PULAU KOMODO DAN SEKITARNYA

Bagian kedua: Indahnya Gili Lawa dan mendebarkannya bersampan tengah malam

Kejutan yang hadir dalam perjalanan kerap kali di luar yang dapat dibayangkan. Berawal dari bertegur sapa dengan bang Ary dan bercerita sejenak. Akhirnya saya bisa ikut trip dengan kapal beliau. Setelah sholat Dzuhur di kapal pak Hussen, saya memindahkan tas berisi pakaian ke kapal bang Ary di sebelahnya. Kapal akan berangkat jam dua siang membawa rombongan dari Jakarta. Dua mobil berhenti di depan kapal. Seorang lelaki bertubuh agak gemuk turun dan melangkah dengan penuh semangat ke kapal. Beliau adalah bang Reno, tour leader dari Dolan Karo Konco yang memakai baju bertuliskan “Travel Warning: Indonesia Dangerously Beautiful”
 
Gili Lawa Darat
Jangkar ditarik dan diikatkan ke haluan kapal. Suara mesin kapal terdengar bersemangat meninggalkan dermaga. Langit biru terang. Kapal menuju ke utara. Gili Lawa adalah tujuan pertama. Kami sampai setelah dua setengah jam perjalanan menyusuri gugusan pulau di sekitar Labuan Bajo. “Lu turun temenin tamu gua ya, bawa kamera ini” kata bang Reno sambil menyerahkan Go Pro miliknya. “Siaaap, bang” jawab saya penuh semangat.

Matahari mulai mendekati horison saat kami sampai di bukit kecil di sisi barat Gili Lawa. Serombongan turis luar tampak asik berfoto di puncak yang bersebelahan dengan selat kecil Gili Lawa. Dari puncak ini Gunung Sangiang tampak di kejauhan. Menjadi siluet yang tenang. Langit disapu warna keemasan dan pantulan cahaya matahari memanjang di permukaan laut. Angin bertiup sejuk, membawa kedamaian di penghujung siang. Keindahan dari puncak ini  menjadi pemanasan dari keindahan Gili Lawa keseluruhannya.
 
Keceriaan sore denga latar belakang cahaya matahari tenggelam
Kami turun saat langit telah diselimuti gelap. Perahu fiber yang akan membawa ke kapal menunggu di bibir pantai. Setelah sampai di kapal, tamu disambut hidangan makan malam yang lezat, salah satunya adalah cumi asam manis. Bulan purnama bergerak perlahan di balik bukit. Sekumpulan kecil awan membingkai keindahannya di bawah langit biru tua. Para tamu tampak sangat menikmati suasana tenang di atas kapal. Jauh dari kebisingan dan kerumitan ibu kota.

Jam setengah enam kami mulai berjalan, setelah menuntaskan sarapan dan sholat Subuh. Jalan tanah di sisi timur akan mengantar ke puncak tertinggi di Gili Lawa. Sejak di pertengahan jalan, pemandangan indah Gili Lawa sudah bisa dinikmati dalam remang cahaya. Sesampai di puncaknya, matahari telah menampakkan diri. Pantulan cahayanya membentuk garis memanjang di permukaan laut. Dari sini kapal yang kami tumpangi bisa ditutup dari pandangan dengan satu jari, arus air di selat membentuk warna yang kontras dengan sekitarnya. Angin berhembus pelan. “Bersihin paru-paru di sini, seger banget” celetuk seseorang dari rombongan sambil menarik napas dalam-dalam.
 
Menyaksikan matahari terbit dari puncak Gili Lawa
Dari puncak inilah pada umumnya foto-foto Gili Lawa yang beredar di media sosial diambil. Setelah itu rombongan turun mengambil jalan memutar ke sisi Barat yang lebih landai. Saya berpisah dari rombongan dengan mengambil jalan ke sisi timur. Ada teluk kecil yang menarik perhatian. Jalan tanah tidak begitu jelas, karena jarang dilewati. Rumput menyembunyikan batu-batu di bawahnya. Penting sekali jika melewati jalan ini menggunakan sepatu. Saya berhenti di ujung bukit di atas teluk. Satu kapal Phinisi berdiam di sana menunggu penumpangnya yang mungkin sedang menyelam di bawahnya. Tempat ini begitu tenang dan indah. Teluk kecil ini dipagari bukit di sekitarnya, bahkan dari satu sudut pandang menyerupai laguna.
 
Sesekali pajang foto selfi boleh lah yah...
Langit sudah benar-benar terang saat kami sampai di kapal. Sarapan telah menyambut. Manta Point adalah tujuan berikutnya. Kami berenang dalam rombongan untuk saling menjaga keselamatan, karena arus di sini yang cukup kuat dan bisa datang tiba-tiba. Satu ekor manta atau ikan Pari terlihat berenang pelan di dasar laut dengan kedalaman sekitar sepuluh meter. Kami mengamati beberapa saat, lalu arus yang cukup kuat datang. Kami berenang mengikuti arus, dan kapal sudah menunggu di depan.

Matahari hampir sejajar dengan kepala saat kapal mulai berjalan. Tujuan berikutnya Pink Beach atau Pantai Merah. Para tamu berangkat dengan perahu kecil ke bibir pantai, saya terjun dari atap kabin kapal ke laut. Sensasi melompat dari ketinggian sekitar lima meter begitu mengasikkan. Belajar dari pengalaman hampir tenggelam sebelumnya, kali ini saya snorkeling menggunakan pelampung. Arus lebih kuat dari hari sebelumnya di sini, dan airnya cukup keruh hingga mempengaruhi jarak pandang. Tapi terumbu karangnya masih tetap indah dengan ikan-ikannya.
 
Pantai Merah a.k.a Pink Beach

Perjalanan hari itu masih terus berlanjut. Loh Liang menjadi persinggahan berikutnya. Ini adalah kali ke empat saya ke sini. Sementara para tamu trekking untuk melihat komodo, saya menikmati In a Strange Room karya Damon Galgut kiriman Buka Lapak Buku di atas kapal. Setelah itu menikmati sore di dermaga beton dengan mengambil beberapa foto sambil menunggu tamu yang baru pulang menjelang magrib. Mereka membawa cerita hanya dapat melihat satu ekor kadal besar itu karena sedang musim kawin. Langit mulai gelap. Kapal bergerak menuju Pulau Kalong untuk beristirahat menjelang besok pagi.
 
Buku bagus selama perjalanan
Saya membantu menyiapkan makanan buat para tamu di dapur kapal. Malam ini hidangannya istimewa yaitu ikan bakar, gado-gado, kentang goreng dan beberapa pilihan menu lainnya. Setelah itu saya mengikuti ABK kapal membeli ikan ke perahu bagan dengan sampan kecil. Rasa ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru adalah dorongan terbesarnya. Sampan dengan panjang sekitar tiga meter dan lebar setengah meter kami tumpangi bertiga. Di awal naik sampan bergoyang kencang, seakan kami bertiga akan tercebur ke laut. Setelah itu perlahan saya bisa menyeimbangkan diri dengan duduk bersimpuh di tengahnya.

Air laut cukup tenang malam itu, sampan kecil yang kami tumpangi melaju dengan kejutan-kejutan kecil dari goyangannya. Bibir sampan hanya berjarak beberapa jari saja dari permukaan laut. Saya memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan jika sampan ini terbalik. Tapi semua itu tidak terjadi. Kami kembali ke kapal dengan membawa ikan segar yang baru saja ditangkap.
 
Inilah sampan yang mendebarkan itu
Melakukan hal-hal baru yang cukup menantang membuat saya bergairah. Menyadarkan diri betapa banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk menambah warna kehidupan. Bangkit melepaskan diri dari kehidupan monoton dan rasa nyaman rutinitas, membuat hidup terasa memasuki lembaran baru. Lembaran yang memiliki kejutan di setiap ceritanya. Cerita inilah yang akan menciptakan kebahagiaan dari melakukan sesuatu, dan menghindari penyesalan karena tidak melakukan apapun.

Bersambung...

Minggu, 9 Agustus 2015. Labuan Bajo











16 komentar:

  1. Kayanya tau neh trip yang ditulis iniii.. :D hahaha! ditunggu lanjutannya :)

    BalasHapus
  2. Kayaknya saya juga tahu ini siapa yang komentar. Hahahaha.

    BalasHapus
  3. Sungguh pengalaman yang eksotis, Kakak. Keindahan Labuan Bajo yang membius, jadi pupuk subur menumbuhkan rasa ingin tahu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah...kalau gitu segeralah ke Labuan Bajo, Evi. Flores memang indah, dan Labuan Bajo hanyalah bagian kecilnya.

      Hapus
  4. Baru aja beberapa waktu yang lalu tugas interpreter meeting tentang labuan bajo. Penasaran kayak apa tempatnya, setelah baca ini jadi pingin ke sana! Ditunggu kisah perjalanan selanjutnya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Labuan Bajo memang memiliki pesona yang unik dengan gugusan pulaunya. Dan pulau-pulau itu memiliki keindahan tersendiri.

      Hapus
  5. Wah,, sungguh mengagumkan mengikuti cerita perjalanan :Langkah Jauh. Kalimat bak mantra berhasil menyihir aku ikut kedalam sana, ikut snorkling bersama, ikut didapan kapal. Keren..

    Salam,

    @ranselahok
    www.ranselahok.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Ransel Ahok. Saya mencoba berbagi apa yang saya lihat dan rasakan selama perjalanan melalui blog ini. Sering-seringlah main ke sini, aku juga akan berkunjung ke blog mu.

      Hapus
  6. Keren bang cara nulisnya
    Serasa ada disana deh
    Jadi ngiler cepet2 kesana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segeralah ke sana, Flores punya keunikan tersendiri..

      Hapus
  7. duh... ngileeeeerrrr! Salah satu 'to do list' aku sebelum tutup usia tuh ya.. ke Flores! Moga aja beneran bisa kesana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera bisa ke Flores ya. Amiiiiin..

      Hapus
  8. Kereen, Kak! Labuan Bajo selalu memukau :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Labuan Bajo juga memiliki tempat-tempat menarik untuk menikmati sunset dan gugusan pulau untuk dijelajahi.

      Hapus
  9. Bagussssssss cerita dan foto-fotonya. Doain bisa jalan-jalan kesana ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Satya.
      Wah...kamu waktu ke Ende kemarin gak sempat mampir ke sini yah? Semoga segera tercapai ya. Amiiin..

      Hapus