5 HARI 3 MALAM MENJELAJAH PULAU KOMODO DAN SEKITARNYA


Bagian Pertama: Hampir Tenggelam di Pantai Pink

Jam setengah delapan pagi saya sudah sampai di dermaga Tilong, Labuan Bajo. Kapal-kapal kayu yang membawa tamu wisata berbaris rapi seperti mau upacara. Saya mencari kapal milik pak Hussen. Kapal kayu berukuran sedang yang akan membawa berkeliling Pulau Komodo dan sekitarnya selama dua hari ke depan. Di atas kapal saya bertemu bang Din, anak buah kapal (ABK) yang membantu  pak Hussen sebagai kapten. Beliau menawarkan kopi selama menunggu tamu kapal datang.

Jam setengah  sembilan kapal meninggalkan dermaga di belakangnya. Buih air berwarna putih memanjang di belakang kapal. Di samping kanan kapal ada dua pelangi tercipta dari bias air pembuangan. Kapal mengarah ke Selatan. Melewati bukit-bukit kecil yang masih jadi bagian daratan Flores. Bukit-bukit berwarna kuning kecoklatan, sebagian berwarna hitam bekas dibakar. Kemarau sejak Juni mulai meninggalkan jejaknya. Namun bukit-bukit itu tetap indah, berpadu dengan warna biru langit dan laut.
 
Bukit-bukit di sepanjang perjalanan menuju Pulau Rinca
Beberapa bagian laut tampak berwarna hijau terang dalam perjalan ke Pulau Rinca. Warna yang sangat berbeda dengan sekitarnya. “Itu dangkalan” kata pak Hussen sambil mengemudikan kapal menghindari bagian tersebut. Dua setengah jam berlayar kami sampai di Loh Buaya, Pulau Rinca. Sekitar sepuluh kapal kayu sudah bersandar di dermaga kayu yang kecil itu. Pak Hussen berhasil menyelipkan kapal di sisi kiri dermaga.

Selepas gerbang masuk Loh Buaya, jalan tanah yang kering dan tampak retak di beberapa bagian mengantar kami ke pos pendaftaran Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca. Saya ikut rombongan tamu kapal, yaitu Jill dan Jacklyn dari Belanda serta bang Syafri sebagai guide mereka. Jill dan Jacklyn mendengarkan pengarahan tentang keadaan pulau Rinca dari ranger di bawah rindang pohon asam. Di sebelah mereka, terpajang tengkorak kerbau dan kijang sisa dimakan komodo.
 
Tengkorak binatang sisa dimakan komodo
Jalur trekking medium dipilih oleh Jill dan Jacklyn. Saya mengikuti mereka dari belakang. Komodo pertama sepanjang satu setengah meter ditemukan di dekat dapur petugas Taman Nasional Komodo (TNK). Beberapa pengunjung tampak berkeliling mengamatinya. Sedangkan yang lain berfoto di belakang komodo yang sedang tidur itu. Jalan selanjutnya agak menanjak saat memasuki hutan. Ranger berhenti sejenak dan menunjuk suatu lobang di tanah. “Itu sarang komodo, mereka hanya menggunakannya pada musim kawin”

Perjalanan terus menyusuri hutan, kotoran kerbau liar berserakan di jalan. Tapi sayang kami tidak dapat melihat kerbaunya. Dua pasang burung maleo, sarang lebah hutan, dan beberapa ekor kijang adalah binatang lain yang ditemui saat di hutan. Di ujung hutan kami disambut oleh sabana. Pemandangan lepas ke berbagai arah. Pohon-pohon lontar menjadi siluet di kejauhan. Rumput sudah berwarna kecoklatan. Jalan tanah kering dan retak. Kemarau lebih terasa di sini. Seekor komodo tidur di bawah batu dengan rindang pohon asam. Jalan mulai menurun. Kami menuju ke arah dermaga. Satu jam perjalanan dibutuhkan untuk jalur trekking medium ini.
Jill dan Jacklyn melintasi jalan tanah di medium trek

Loh Liang di Pulau Komodo adalah tujuan berikutnya. Air laut sedang surut saat kami sampai. Tiang-tiang beton dermaga tampak digerogoti tiram dan kerang. Saya memilih tinggal di kapal dan berenang, sementara tamu akan trekking di pulau Komodo. Melihat saya berenang, pak Hussen juga ikut dan mengajak bang Din. “Ambil sudah baskom dan parang. Pakai kau punya itu pelampung biar ndak capek. Kita cari mutiara (kerang)” perintah pak Hussen ke bang Din. Kami bertiga berenang mencari kerang yang menempel di tiang-tiang dermaga.

Dua baskom besar kerang laut kami dapatkan selama satu jam. Setelah itu saya berenang dengan peralatan snorkeling untuk melihat tiang-tiang dermaga menancap ke dasar laut. Sensasi snorkeling sangat berbeda. Ujung tiang tampak menghilang dalam gelapnya laut. Bagian luarnya diselimuti tiram dan beberapa terumbu karang. Ikan-ikan kecil tampak mencari makan di sekelilingnya. Sesekali saya merasakan ngeri apabila menyentuh tiang itu karena kulit tiram yang tajam, namun lebih merasa dermaga adalah karya seni. Saya menyukai dermaga dari segala sisinya, terlebih dermaga kayu.
 
Pak Hussen sedang membersihkan kerang sebelum direbus
Langit mulai berwarna kemerahan. Jill dan Jacklyn sudah pulang dan membawa cerita seru dapat melihat enam ekor komodo. Agustus adalan musim kawin bagi komodo. Dapat melihat mereka dalam jumlah cukup banyak adalah suatu keberuntungan. Kapal mengarah ke Pulau Kalong, tidak jauh dari kampung Komodo. Di dekat pulau yang menjadi sarang bagi koloni kalong kapal berhenti dan membuang jangkar. Matahari menghilang di balik pulau Komodo. Ratusan atau mungkin ribuan ekor kalong keluar dari rimbunan pohon bakau. Menghiasi langit di atasnya. Menjadi siluet di langit merah. Sore yang indah menyambut malam yang lebih indah. Purnama yang utuh menerangi tidur kami di tengah lautan yang tenang. Syahdu.

Matahari mucul perlahan dari balik pulau kecil. Laut dengan riaknya yang kecil disapu warna keemasan. Koloni kalong berputar-putar di sekitar hutan bakau sebelum menghilang di dalamnya. Bang Din tampak sibuk menyiapkan sarapan buat tamu kapal. Sebelum ke Pantai Pink, kapal berhenti sejenak di dermaga kayu kampung Komodo. Jill dan Jacklyn ingin melihat suasana kampung Komodo. Satu jam kemudian mereka kembali ke kapal dan langsung menuju Pantai Pink.
 
Matahari terbit di dekat Pulau Kalong
Sekitar dua puluh menit perjalanan kami sampai di pantai yang pasirnya berwarna kemerahan itu. Perahu fiber kecil menyambut untuk membawa ke bibir pantai. Sebelum berenang saya memilih mendaki ke bukit kecil di sisi barat pantai. Rerumputan di sini juga sudah menguning dan kecoklatan. Angin sejuk dan rindang pohon di puncak bukit melenakan sejenak. Dari sini Pantai Pink tampak keseluruhannya.

Setelah puas mengambil foto dan menjelajah bukitnya saya kembali ke bibir pantai untuk snorkeling. Air laut terasa dingin karena sedang musim angin tenggara. Arus cukup deras namun air laut masih jernih. Dari bibir pantai pasir putih yang menyerupai tangga mengarah ke terumbu karang yang tumbuh rapat. Berbagai jenis ikan warna-warni menyambut. Begitupun dengan terumbu karangnya yang lebih banyak berwarna merah. Terlalu asik mengamati pemandangan bawah laut, tidak terasa saya terbawa arus ke bagian timur pantai. Setelah keluar saya kembali snorkeling mulai dari bagian ujung barat pantai. Dari sinilah kejadian menegangkan berawal.

Setelah sampai di tengah gelombang terasa lebih besar. Beberapa kali air masuk lewat ujung snorkel. Selain itu masker juga kemasukan air. Akhirnya saya membuka masker dan berenang bebas ke pinggir. Di pertengahan kaki sebelah kanan mulai terasa tegang, mungkin karena fin yang sempit. Saya berusaha membuka fin dengan satu tangan, karena tangan satunya memegang masker. Saat membuka fin ini saya sempat terminum air laut. Rasa gelisah muncul. Fin dilepaskan dengan terburu-buru. Gelombang terasa makin besar. Kaki kanan tidak bisa digerakkan. Saya mulai panik.“Tolong bang...tolong” teriak saya kepada pemilik perahu yang bersandar di bibir pantai. Air laut kembali terminum. Waktu terasa berputar sangat lama. Saya berhasil meraih tongkat yang diulurkan dan mendorong tubuh ke bagian yang dangkal. Perjalanan selalu menghadirkan kejutan di setiap langkahnya. Kali ini kejutan yang mengajarkan untuk tidak ceroboh, dengan mengabaikan memakai pelampung.
 
Pantai Merah a.k.a Pink Beach

Setelah berenang kami kembali ke kapal untuk kembali ke Labuan Bajo. Di tengah perjalanan kapal bergoyang hebat karena gelombang yang besar. Saat bagian depan terhempas, tempias air laut membasahi dek kapal. Saya bercerita dengan Jacklyn yang tampak menikmati keadaan ini dan mengatakan bersyukur tidak mengalami mabuk laut. Jam setengah dua kami sampai di dermaga Tilong. Sebelum pulang saya bertegur sapa dengan kapten kapal di sebelah.
“Dari mana, mas?”
“Dari Jakarta, bang”
“Kenal dengan Ashari Yudha?”
“Kenal, Bang. Itu teman saya”
Dari pecakapan inilah berawal petualangan berikutnya. Mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat dikunjungi sebelumnya. Perjalanan kembali menghadirkan kejutan di luar yang dapat dipikirkan. Ke mana saja? Tunggu postingan selanjutnya.

Bersambung...


Kamis, 6 Agustus 2015. Labuan Bajo 

6 komentar:

  1. Balasan
    1. Tunggu yah, semoga hari Minggu sudah selesai dan diposting

      Hapus
  2. Balasan
    1. Kalau penasaran sama cerita, sudah ada lanjutannya, kang. Monggo dibaca postingan selanjutnya.

      Hapus
  3. Salam Gori. Saya mulai nyicil baca catatan perjalananmu satu-satu, supaya lebih hikmat menikmatinya. Pengalaman pertama: menarik & informatif. Saya juga menyukai sentuhan "personal" di tengah keindahan alam yang luas; misalnya, soal dermaga yg diamsal sebagai karya seni...Itu hal kecil yang tak hanya menghidupkan suasana, namun juga menjadi semacam tiram dan kerang yang menghinggapi kaki dermaga...membuat laut, pulau dan pelabuhan menjadi tampak beda...Salamaik ciek dulu!

    BalasHapus
  4. Hallo kak,boleh minta cp pak hussein?makasih kakkk,kalo bs kirim ke anggitskresno@gmail.com hehe makasi kakkk

    BalasHapus