5 HARI 3 MALAM MENJELAJAHI PULAU KOMODO DAN SEKITARNYA


Bagian Ketiga: Diiringi Lumba-lumba ke Pulau Padar yang Mempesona

Sisa purnama semalam masih tergantung di atas bukit. Langit berwarna ungu dengan bias putih di kakinya. Permukaan laut bagai hamparan tikar yang maha luas dengan riak kecilnya. Kesunyian pulau Kalong terpecah oleh suara kapal kami yang mulai bergerak perlahan ke Selatan. Sementara air mendidih telah disiapkan untuk menyeduh kopi atau teh sebagai penyambut pagi.

Pulau Padar adalah tujuan utama perjalanan hari ini. Dalam remang cahaya subuh, kapal bergerak cepat agar sampai lebih awal. “Ada lumba-lumba di depan” teriak bang Ary kepada tamu kapal yang sedang menikmati teh di dek kapal. Semua kepala melongo ke arah yang disebutkan, lalu diiringi jari telunjuk yang mengiringi pergerakan lumba-lumba. Ada sepuluh ekor lumba-lumba yang mengiringi kapal sekitar dua puluh menit pada awal perjalanan. Hingga tamu yang masih tidurpun dapat dibangunkan untuk melihat ikan yang memiliki kercerdasan tinggi ini. Mereka bergantian muncul ke permukaan dan sesekali mengeluarkan suaranya yang mirip jeritan itu. Matahari yang muncul perlahan dari balik bukit di sisi Timur menutup pertunjukan alam pagi itu. 
Aih...keindahan perempuan dan alam.
Keindahan pulau-pulau kecil serta cekungan karang dihempas ombak lautan lepas yang besar menjadi pemandangan menarik menjelang Pulau Padar. Setelah itu kapal mulai masuk ke teluk yang tenang. Memasuki teluk ini bagai merasa menjadi bagian salah satu scene film Anaconda. Kapal bergerak perlahan di antara dua tebing bukit. Suasana begitu tenang, seakan-akan teluk itu adalah sungai besar yang di depannya penuh dengan kejutan. Dari kejauhan terlihat dua kapal terapung tenang di salah satu pantai di teluk itu, ketika sampai ternyata ada dua kapal lagi di balik tebing batu. Suasana yang cukup ramai hari itu.

Puncak yang akan dituju dan orang-orang yang berada di sana tampak dari bibir pantai. “Kayaknya lebih tinggi dari Gili Lawa” kata seorang teman sambil mematut-matut puncak tertingginya. Tanjakan sedang menjadi pembuka pendakian pagi itu. Dari atas ini saja, keindahan dua bidang pantai sudah bisa dinikmati. Jalan tanah yang kering menyusuri pinggang bukit mengantarkan ke puncak bukit berikutnya. Keindahan bukit-bukit kecil, empat bidang pantai  yang saling berpunggungan, serta warna airnya yang berbeda sudah terlihat dari sini. Sangat indah, walaupun masih setengah perjalanan.

Sebelum sampai di puncak, kami berpapasan dengan sepasang calon pengantin yang baru saja selesai melakukan pemotretan pre wedding. Tempat ini telah memukau banyak orang. Pulau Padar tidak hanya dikunjungi oleh anak-anak muda, tapi saya juga bertemu dengan pengunjung yang berusia sekitar enam puluh atau tujuh puluhan tahun. Keindahan pantai-pantainya, bukit-bukit kecilnya, pulau-pulau kecil di sekitarnya, serta biru laut dan gradasi warnanya di dekat pantai adalah paduan keindahan yang sempurna. Semua hal itu adalah pesona Pulau Padar yang telah membuat banyak orang ingin segera mengunjunginya.
Pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Padar

Perjalanan hari terakhir itu dilanjutkan ke arah matahari terbit. Pulau Kanawa adalah tujuan selanjutnya. Menempuh sekitar satu setengah jam perjalanan kami sampai di pulau yang memiliki resort dan dermaga kayu itu. Warna pasirnya yang putih sudah memikat mata sejak dari kejauahan. Kapal bersandar sementara di dermaga untuk menurunkan tamu yang ingin snorkeling. Melompat dari atap kabin kembali saya lakukan. Sensasinya begitu menyenangkan ketika tubuh masuk lebih jauh ke dalam air yang jernih.

Tidak hanya pasirnya yang putih dan airnya yang jernih, hamparan terumbu karang di Pulau Kanawa ini sangat indah. Berbagai bentuk dan warna terumbu karang tumbuh rapat di area dangkal yang luas, hingga bisa terlihat dengan jelas.  Saya mengibaratkan snorkeling di sini seperti berjalan di taman bunga yang luas di daratan. Selama snorkeling di sini saya dapat melihat beberapa jenis ikan yang belum pernah ditemui sebelumnya, seperti kerapu macan dan beberapa jenis yang saya belum ketahui namanya. Terumbu karang di sini menghadirkan keunikan dan sensasi berbeda dibandingkan snorkeling di tempat lain sebelumnya.
 
Pulau Kanawa: Foto Dolan Karo Konco
Matahari mulai condong ke Barat. Kapal melaju ke arah pulang, tapi masih ada satu tempat lagi untuk disinggahi yaitu Pulau Kelor. Snorkeling dan trekking adalah kegiatan yang dapat dilakukan di sini. Beberapa tamu turun untuk trekking dan bermain di bibir pantai, sisanya memilih untuk bersantai di kapal menikmati suasana yang sejuk. Medan trekking yang tidak begitu tinggi ternyata lebih curam daripada trekking di Gili Lawa dan Pulau Padar. Dari puncaknya terlihat ujung pulau yang dikelilingi pasir putih, gradasi warna air laut, serta bukit-bukit di daratan Flores menjadi latar belakangnya. Inilah keunikan dari pulau yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari Labuan Bajo.
 
Pulau Kelor
Perjalanan lima hari tiga malam ini benar-benar menjadi kejutan besar. Selama ini tempat-tempat di atas hanya berada dalam angan-angan saja untuk dikunjungi. Tapi perjalanan ini menjadikannya kenyataan, bahkan melebihi harapan. Kejadian ini memang terjadi begitu saja, tapi ada proses panjang yang dilewati. Jika ada yang bertanya berapa biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan ini, tentu saja saya bingung menjawabnya. Karena perjalanan ini saya dapatkan secara cuma-cuma, dan malahan dibayar. Pada postingan selanjutnya saya akan ceritakan bagaimana dapat melakukan perjalanan ini.
 
Pasir putih di Pulau Kelor
Tabik!

Bersambung...

Kamis, 13 Agustus 2015. Kampung Komodo





0 comments:

Posting Komentar