Pagi ini siswa-siswa di kampung komodo bersiap dengan seragam terbaik mereka. Putih merah, putih biru, dan putih abu-abu berkumpul menuju satu titik, yaitu lapangan di depan sekolah untuk mengikuti upacara 17 Agustus 2015. Saya terpaksa melewati upacara kemerdekaan kali ini karena harus mendapatkan tumpangan ke Pantai Merah yang hanya tersedia saat pagi. Setelah mengeratkan ikatan tali sepatu, saya berjalan ke arah dermaga mengikuti bang Deni, pemilik perahu ojek yang beroperasi di Pantai Merah. Di Pantai Merah saya akan bertemu dengan rombongan teman-teman dari Bandung.

Perahu yang saya tumpangi mengarah ke Kalong untuk mengantarkan pesanan oli salah satu perahu di sana. Berawal dari diminta memutar haluan saat bang Deni menghidupkan mesin, akhirnya saya mengemudikan perahu sampai ke Panta Merah.  “Kita sudah pandai bawa perahu ya” kata bang Deni saat kami hampir sampai. “Sudah latihan beberapa kali, bang, sejak dari Bima dulu” jawab saya sambil tertawa. Tidak ada siapa-siapa saat saya menjejakkan kaki di pasir yang kemerahan itu. Pohon di sisi kiri pantai menjadi pilihan saya untuk duduk menunggu, sambil menikmati Pangeran Bahagia-nya Oscar Wilde.
 
Pantai Merah atau Pink Beach dari puncak bukit di belakang
Bukit yang melintang di belakang Pantai Merah menarik perhatian saya setelah satu jam pertama. Saya menempuh jalan yang sudah ada, namun tidak sejelas jalan menuju dua sisi bukit di kiri dan kanan pantai. Jalan yang mengantarkan sampai ke puncak tidaklah begitu berat. Setelah sampai di atas, pemandangan Pantai Merah yang melengkung dengan diapit dua tanjung kecil terlihat keseluruhan. Air laut yang biru terang, padang rumput dan beberapa pohon yang tumbuh disekitarnya, kapal-kapal wisata yang berdiam menunggu penumpang, serta speed boat yang melaju kencang dengan meninggalkan buih air yang panjang di belakangnya adalah keindahan yang saya nikmati saat itu. Satu hal lagi yang menarik dari puncak bukit ini adalah jaringan internet yang tersedia penuh.

Tidak puas hanya sampai di puncak bukit ini, saya turun ke lembah kecil di sisi belakangnya. Lembah ini berbentuk segitiga yang diapit dua bukit, serta sisi satunya langsung menghadap ke laut. Saya menimbang-nimbang resiko yang akan dihadapi, bertemu komodo, ular, atau babi hutan. Saya perhatikan permukaan jalan yang ditempuh hanya ada kotoran rusa dan kijang serta jejak babi hutan, tidak ada kotoran komodo yang seperti cat putih tumpah itu. Hal inilah yang membuat saya dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang, selain dari menempuh jalan tanah yang tampak jelas karena sering dilewati.
 
Lembah dan pantai di belakang Pantai Merah
Melintasi sabana dengan rumput setinggi pinggang, saya berusaha lebih waspada pada rimbunan semak dan pohon yang bisa saja menjadi tempat beristirahat ular atau komodo dari cuaca panas. Dengan kehati-hatian tingkat tinggi akhirnya saya sampai di bibir pantai yang lengang itu. Pantai ini memiliki pasir yang halus berwarna putih. Airnya begitu jernih hingga dapat melihat bebatuan dan karang yang ada di bawahnya. Sampah-sampah  menumpuk di semak-semak di bibir pantai karena dihanyutkan ombak. Jejak babi hutan menjadi corak dari kepolosan pasir pantai ini. Saya duduk berteduh di bawah pohon dekat tebing. Menikmati kesendirian yang tenang dan damai, dengan sedikit kecemasan terhadap ular atau komodo datang dari belakang.
Pantai yang lengang 
Setelah puas menikmati pantai yang sepi dan bersendiri saya kembali ke Pantai Merah. Mengambil jalan menyisir di lereng bukit ke arah kanan. Tanjakannya awalnya sedikit curam, namun setelahnya jauh lebih mudah. “Ke mana, guys? Seseorang menyapa saat saya berjalan menuju gazebo untuk beristirahat. Ternyata Ovela dari Salam Ransel sedang mendampingi rombongan tripnya. Bertemu dengan Ovela adalah suatu berkah yang menyelamatkan saya dari rasa haus, setelah menjelajah Pantai Merah sendirian dengan tidak membawa air minum.

Jam sudah menunjukkan jam satu siang. Saya berteduh di bawah pohon dekat gazebo sambil kembali membaca buku. Kapal-kapal wisata datang dan pergi, pengunjung pantai makin ramai. Satu jam berikutnya hanya ada beberapa kapal yang tersisa, pantai mulai sepi. Perut mulai terasa lapar, air mineral tinggal sedikit. Tidak jauh dari tempat saya duduk, sepasang turis asing bercumbu hangat di atas pasir yang landai. Duh...

Dua jam berikutnya kapal yang saya tunggu baru tampak memasuki Pantai Merah. Sepasang penumpangnya tampak sedang asik berjemur di kursi santai di dek atas. Mereka adalah Raisa dan Harival yang merupakan admin dari akun @travellerbaper yang saya kenal via Instagram. Setelah berkenalan dengan rombongan yang lain saya meluncur ke dapur kapal untuk makan siang terlebih dahulu. Setelah itu menemani mereka trekking di Pantai Merah.

Lepas dari Pantai Merah kapal menuju Pulau Padar melalui sisi sebelah timur. Pengalaman paling mendebarkan selama pelayaran terjadi di Selat Lintah. Selat Lintah ini adalah tempat bertemunya arus dari segala arah. Arus yang bertemu kadang menyerupai lambang Yin Yang di permukaan laut, membentuk garis yang bertubrukan, serta membentuk pusaran-pusaran dengan lobang di tengahnya. Langit yang mulai gelap serta angin bertiup kencang membuat suasana melewati daerah ini begitu berkesan.

Kami sampai di Pulau Padar saat langit hampir gelap seutuhnya. Tidur di Pulau Padar memberi kesempatan untuk saling berbagi dan bercerita, karena jaringan internet yang tidak tersedia. Keadaan ini dapat memaksa untuk menjadi lebih sosial dalam dunia nyata. Malam itu kami bercerita panjang lebar sehabis makan malam. Keceriaannya malam itu ditutup oleh suara letusan kembang api dan kilauan cahayanya yang indah.
 
Pagi di Pulau Padar
Cahaya kuning kemerahan merambat perlahan dari sisi Timur. Rombongan yang berjumlah sebelas orang bersiap untuk mendaki Pulau Padar. Sampan kecil telah bersiap mengantarkan ke bibir pantai. Matahari dengan anggun keluar dari balik bukit diikuti kereta cahayanya. Sampan kecil yang membawa penumpang lainnya mengapung di atas cahaya pagi. Pagi menjadi serpihan waktu yang setia menghadirkan keindahan.

Perjalanan kali ini adalah yang kedua kalinya saya ke Pulau Padar. Keindahannya tetap terasa menakjubkan. Lekuk pantainya, bukit-bukit kecil yang cantik, warna air di masing-masing pantainya, serta udara sejuk yang bersih adalah kenikmatan yang tidak bisa didustakan. Belajar dari pengalaman pertama ke sini memakai baju bewarna gelap, hingga kelihatan berkamuflase dengan latar belakangnya, kali ini saya memilih warna putih terang agar terlihat jelas saat difoto. Bagi kamu yang ingin ke Pulau Padar, silahkan anggap menggunakan pakaian yang berwarna terang sebagai tips agar terlihat menarik dalam foto.
 
Warna putih agar tidak berkamuflase dengan latar belakang
Cahaya matahari mulai terasa hangat, kami kembali ke kapal. Di kapal sarapan  telah tersedia sebelum memulai pelayaran ke Pulau Rinca. Rombongan lumba-lumba muncul dan bermain di sekitar kapal. Bang Ary mengurangi laju kapal dan mengarahkan haluan membentuk lingkaran sebagai tempat bermain lumba-lumba. Sekitar seperempat jam pertunjukkan alam ini dapat kami nikmati bersama. Pagi yang makin indah. Ah...

Menjelang siang kami sampai di Pulau Rinca yang pada saat itu sangat ramai, hingga harus antri menunggu ranger untuk mendampingi. Setelah melihat beberapa ekor komodo di dekat dapur TNK, jalur medium yang melintasi savana dengan pemandangan teluk serta dermaga mulai kami tempuh. Jalan tanah yang membelah padang rumput yang tampak kekuningan begitu menarik dalam kamera, serta pohon-pohon yang tumbuh tegar sendirian di tengahnya. Langit sangat cerah namun tidak terasa gerah, karena angin yang terus berhembus membawa kesejukan.
 
Pohon yang kesepian di Pulau Rinca layak untuk ditemani
Pulau Kelor menjadi tujuan selanjutnya. Pulau yang memiliki tanjung kecil dikelilingi pasir putih dan terumbu karang yang indah mejadi tujuan terakhir sebelum pulang ke Labuan Bajo. Saya, Raisa, Harival, Asha, Baday, Peri, Nadiyya mendaki ke bukit kecil di sana sementara yang lain memilih untuk snorkeling. Dari puncak bukit ini mata disambut oleh pemandangan tanjung kecil dan pasir putihnya, terumbu karang yang tampak di bawah permukaan laut, kapal-kapal kayu yang terapung tenang, biru lautan yang syahdu, serta bukit-bukit di daratan Flores yang berwana hitam dan kekuningan.
 
Jangan biarkan ketakutan membatasi langkahmu
Setelah turun, Raissa memasang hammock untuk bersantai menikmati keindahan dan ketenangan Pulau Kelor. Saya, Harival, Onix, Asha dan juga Eza serta Baday bersenang-senang dengan melompat dari atas dek kapal. Sekali, dua kali, dan berkali-kali kegiatan melompat ini makin terasa menyenangkan. Setelah itu Eza, Baday, dan Asha bermain sampan dengan lucu hingga mengocok perut kami yang melihatnya. Tidak terasa hari hampir sore dan saya menyempatkan untuk snorkeling.
 
Dalam pelukan hammock menikmati senja di Pulau Kelor
Pulau Kelor memiliki keunikan tersendiri dalam hal snorkeling, mungkin beberapa orang pernah merasakan digigit ikan di sini . Hampir setiap tahunnya selalu ada parrot fish yang bertelur di terumbu karang yang tumbuh di sekitar Pulau Kelor. Parrot fish ini akan menjaga telurnya dari orang-orang yang berenang di sekitarnya, dengan gelagat ingin menyerang dan sesekali menggigit.

Langit mulai berwarna keemasan sedangkan diri masing-masing diselimuti kepuasan dari perjalanan. Bang Ary sang kapten mengarahkan haluan seakan mengejar matahari yang hampir tenggelam di lautan. Senja yang indah seakan tidak mau tenggelam dalam perasaan.
 
Senja yang syahdu menjadi penutup perjalanan yang indah
Kapal yang kami tumpangi mendekati dermaga Labuan Bajo. Beramai-ramai kami mengagumi keindahan Labuan Bajo dilihat dari laut saat malam hari. Lampu warna-warni dari bangunan yang tersusun rapat di lereng bukit sekitar dermaga adalah bagian utama dari keindahan yang dilengkapi oleh lampu-lampu di sekitar dermaga. Penutup yang manis dari pelayaran kali ini. Aih..
Tabik!
 
Ki-ka depan: Onix, Harival, Badaya
Ki-ka baris ke dua: Bang Adi (juru masak), Bang Ary (sang kapten), Raisa
ki-ka baris ke tiga: Ical (juru mesin), Nadiyya, Ezza, Peri
Ki-ka belakang: Asha, penulis, Dini, Maza
Minggu, 20 September 2015. Kampung Komodo






: Jalan-jalan pertama di kampung Komodo.

Sabtu sore tanggal 15 Agustus 2015 saya diajak pak Suhardi jalan-jalan sore ke ujung kampung. Beliau menyebut tempat itu dengan Kalong. Kalong merupakan teluk kecil yang terletak di bagian selatan kampung Komodo, di teluk ini biasanya kapal-kapal bermalam saat berlayar ke pulau Komodo dan sekitarnya. Pohon bakau yang tumbuh memagari teluk ini menjadi sarang bagi ribuan kalong yang menghadirkan pertunjukan menarik setiap sore dan pagi hari.
 
Salah satu pantai di pulau Lasa
Perjalanan menuju Kalong ditempuh selama tiga puluh menit jalan kaki. Melewati dasar laut yang mengering karena surut, lalu melintasi hutan bakau. Akar-akar pohon bakau menjadi hal menarik selama perjalanan. Bentuknya yang berpilin-pilin dan warna yang muram terasa menghadirkan suasana seram. Saya mengucapkan bacaan “basmallah” sebelum mengambil foto akar-akar tersebut karena takut.

Keluar dari hutan bakau, sabana yang kekuningan menyambut kami. Rumput-rumput dan pepohonan yang tumbuh jarang itu begitu menarik untuk diabadikan. Saya meminta pak Suhardi mengambil foto saya saat berada di sabana itu. Selanjutnya kami pergi ke arah hutan bakau yang menjadi tempat tidur ribuan kalong itu. Ribuan kalong yang biasanya keluar menjelang sore itu tidak dapat ditemukan, walaupun langit mulai kemerahan. Kami memilih pulang agar tidak kemalaman saat sampai di rumah.
 
Akar-akan pohon bakau yang muncul ketika air laut surut
Saya dan pak Suhardi kembali menempuh jalan yang sama untuk perjalanan pulang. Beberapa ekor babi hutan tampak mencari kerang di dasar laut yang mengering. Mereka menjauh lalu berlari kencang ketika melihat kehadiran kami. Di pantai di ujung kampung saya bertemu dengan mama Wahyu yang baru selesai miti, yaitu mencari tiram yang menempel di batu karang untuk makan malam. Malam itu saya makan malam dengan sop tiram hangat yang lezat. Aih...
 
Sabana di Kalong
Pagi hari Minggu saya datang ke masjid untuk menemui Zaki yang sudah saya kenal sejak di Labuan Bajo, seorang dai yang mengajar mengaji dan ilmu agama di kampung Komodo. Sesampai di sana saya mengetahui ternyata dia sedang di pulau Lasa dengan beberapa anak didiknya. Saya kembali ke rumah dan menanyakan cara agar bisa sampai ke pulau Lasa. Wahyu, anak tertua pak Suhardi meminjam kano kepada tetangganya. Setelah membeli air minum dan sebungkus biskuit saya dan Wahyu menuju pantai dan mulai mendayung kano ke arah pulau Lasa yang terletak di seberang kampung Komodo.

Sesuatu yang kelihatannya mudah belum tentu sama ketika dirasakan. Saya mengambil alih dayung kano dari Wahyu pada awal perjalanan. Haluan lurus ke arah pulau Lasa menjadi suatu hal yang susah. Seringkali kano berbelok ke kanan atau kiri bahkan berputar. “Sini pak, biar saya dayung” Wahyu tampak tidak sabar ingin mengambil alih kemudi. “Nanti saja, biar saya dayung dulu sekalian belajar. Masa kamu bisa, saya nggak?” akhirnya kano sampai juga di bibir pantai pulau Lasa dengan jalan berkelok-berkelok.
 
Wahyu yang jadi travelmate saya
Pasir putih bersih dan landai menyambut, serta air sebening kristal memberi kesempatan pada mata untuk melihat dasar laut dan ikan yang berenang di dalamnya. Pantai yang menghadap ke kampung Komodo ini kurang lebih seluas lapangan bulu tangkis dengan dipagari tebing di belakangnya, serta onggokan batu karang di salah satu ujungnya. Hamparan rumput yang kekuningan karena kemarau dan beberapa pohon yang tumbuh tegar adalah komposisi yang menutupi pulau kecil ini. Saya dengan Wahyu serta beberapa anak-anak kampung Komodo lainnya menjelajahi pulau ini sampai ke sisi sebaliknya. Pasir putih, air sebening kristal, batu-batu karang, serta tumpukan sampai di bibir pantai juga turut menyambut. Saya menyadari kalau pulau kecil ini sangat indah, hanya sampah saja yang merusak keindahannya. Beberapa turis luar kabarnya sering melakukan perkemahan di sini, serta Jebraw dan tim Jalan-jalan Man juga pernah makan malam di pulau Lasa ini.

Setelah puas menjelajahi pulau ini, saya kembali ke pantai di awal. Saatnya memulai penjelajahan selanjutnya. Saya mengajak Wahyu mengelilingi pulau yang luasnya kira-kira satu setengah kali lapangan bola kaki dengan kano. Jalan kano mulai lurus sesuai keinginan. Tantangan datang dari gelombang yang mulai membesar. Kano bergoyang kencang dan haluannya terasa lebih susah diarahkan karena berlawanan dengan arus. Saya memutuskan untuk menghentikan setengah perjalanan mengeliling pulau ini dan kembali ke kampung Komodo.
 
Pantai di pulau Lasa yang berhadapan dengan kampung Komodo 

Perjalanan  pulang ke kampung Komodo bertepatan dengan air pasang, artinya kami melawan arus selama perjalanan. Saya bergantian mendayung kano dengan Wahyu di tengah gelombang yang makin besar. Sekitar setengah jam mendayung kami sampai di dermaga. Berenang dan melompat-lompat dari dermaga kayu adalah kegiatan impian saya sebelum sampai di kampung Komodo. Hari itu impian yang saya pendam akhirnya terujud. Bergantian melompat dan beradu salto dengan Wahyu membuat saya merasa kembali menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan. Bersenang-senang dengan alam dan tertawa lepas di dalamnya. Aih...sungguh bahagia rasanya.

Kancing celana saya putus dan resletingnya rusak hingga memaksa kami segera mengakhiri kegiatan yang menyenangkan ini. Saya pulang dengan tangan mengenggam ujung celana agar tidak kedodoran. Jika saja usia saya sama atau dibawah Wahyu, mungkin saya akan melepas celana itu dan pulang ke rumah hanya dengan memakai celana dalam, begitulah hanyalan selama perjalanan ke rumah. Masa kanak-kanak yang menyenangkan, dan betapa beruntungnya ketika orang dewasa bisa kembali pada masa itu.
Tabik!

Minggu, 13 September 2015. Kampung Komodo.









Rencana datang ke kampung Komodo tertunda selama seminggu karena perjalanan Lima Hari Tiga Malam sebelumnya. Tanggal 10 Agustus 2015, perjalanan ke kampung Komodo saya mulai. Sehari sebelum berangkat saya telah menyiapkan semua perlengkapan untuk dibawa ke Kampung Komodo. Satu carrier besar, satu daypack dan satu dus buku bacaan sumbangan dari bang Alan. Saya pamit kepada bapak Haji Radi yang telah memberi tumpangan lebih dari satu bulan di rumahnya. Beliau tampak emosional ketika saya cium tangannya dan peluk sebelum berangkat dengan ojek yang telah menunggu.
 
Salah satu dermaga di Kampung Komodo
Dermaga TPI Labuan Bajo begitu riuh saat saya sampai di sana. Suara dari penjual dan pembeli ikan, buruh angkut, dan penumpang perahu menjadi nada yang menyatu dalam harmoni pagi itu. Saya langsunng menuju motor ojek –sebutan untuk perahu yang digunakan penduduk kampung Komodo dalam perjalanan kampung Komodo-Labuan Bajo. Beberapa wajah yang duduk di dek kapal sudah saya kenal pada kedatangan sebelumnya. “Pak Guri, kah?” tanya Mama Wahyu ketika saya ikut duduk bersama mereka. “Nanti kita langsung ke rumah saja, kemarin pak Bahtiang sudah kasih kabar kalau kita tinggal di rumah kami”. Saya bertemu dengan keluarga yang akan menerima saya di rumahnya selama dua bulan ke depan, pak Suhardi dan istrinya mama Wahyu.

Suara mesin perahu yang sedikit berisik tidak mampu mengalahkan kehangatan suasa di atas perahu. Saya mendapat banyak pertanyaan dan cerita dari pak Suhardi serta beberapa penumpang lainnya. Tawaran rokok dan makanan selama perjalanan tiga jam itupun datang berkali-kali. Suasana seperti ini membuat mata saya lebih sering bersitatap dengan mata-mata yang bercerita, dibandingkan layar kaca dari ponsel tak kalah menggoda.

Dari kejauhan anak-anak kecil tampak berkerumun di ujung dermaga menyambut motor ojek datang. Perjalanan selama tiga jam dengan biaya Rp 25.000 ini telah selesai. Saya mengambil barang-barang lalu berjalan beriringan dengan keluarga pak Suhardi ke rumahnya. Banyak tegur sapa yang menghampiri saya dari wajah-wajah yang belum saya kenal. “Masyarakat sudah tahu kalau kita mau mengajar di sini” kata pak Suhardi ketika saya tanyakan mengapa mereka menegur saya dengan begitu akrab. (Kita = kamu, yang memiliki makna lebih sopan bagi masyarakat kampung Komodo)
 
Bersama anak-anak SD N Kampung Komodo setelah belajar sore
Saya disediakan kamar sendiri di rumahnya pak Suhardi. Kamar yang biasa ditempati oleh tamu-tamu wisata yang meginap di kampung Komodo. Pak Bahtiang datang menjelang magrib dan menjelaskan kenapa saya ditempatkan di sini. Rumah yang terletak di daerah Kebun ini memiliki air yang lancar, berbeda dengan di rumahnya yang terletak di Kampung Lama yang mesti membeli air Rp 1.000  untuk 1 dirigen ukuran 10 liter. Di sini listrik juga menyala dari jam enam sore sampai jam enam pagi, berbeda dengan di rumahnya yang hanya sampai jam dua belas malam. Bagaimanapun saya senang ditempatkan di mana saja, dengan harapan tidak memberatkan keluarga yang memberi tumpangan.

Jam tujuh pagi esoknya saya telah siap untuk mulai mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SD N Kampung Komodo. Setelah sarapan dengan hidangan ikan, saya berangkat bersama pak Suhardi yang merupakan guru di sekolah yang sama. Saya menemui pak Usman, kepala sekolah yang sebelumnya juga sudah pernah bertemu. Beliau menjelaskan tentang keadaan sekolah dan jadwal mengajar saya. Di ruangan guru pagi itu diadakan penyambutan secara sederhana. Setelah itu saya mulai mengajar pada jadwal yang telah ditentukan.

Hari Selasa saya mendapat jadwal mengajar di kelas 6A dan 6B, dua jam pelajaran untuk tiap kelasnya. Antusiasme siswanya sangat tinggi dan ini memberikan semangat tersendiri untuk saya. Sebagian dari siswa telah memahami percakapan dasar dan sebagian lainnya masih baru memulai. Di luar kelas saya berbagi ilmu kepada siswa-siswa yang datang menghampiri saat jam istirahat.
 
Perayaan menyambut 17 Agustus di Kampung Komodo
Minggu pertama saya di kampung Komodo juga saya isi dengan mengenal masyarakatnya. Saya targetkan mengenal satu keluarga setiap satu harinya. Selain itu juga diisi dengan menghadiri beberapa pesta pernikahan. Menikmati orgen tunggal selama tiga malam untuk satu pesta, serta ikut persiapan menyambut 17 Agustus. Satu kegiatan lain yang sangat saya sukai di kampung Komodo adalah jalan-jalan sore di dermaga kayu di sepanjang kampung.   

Kampung Komodo adalah “kampung baru” dalam perjalanan ini. Saya berusaha mengenal masyarakat dan kehidupan mereka. Suatu saat nanti akan ada postingan di blog ini yang mungkin akan berjudul “Fakta-fakta menarik tentang kampung Komodo”. Selain mengenal masyarakat dan kehidupan mereka, tentu juga saya ingin menjelajah daerah-daerah di sekitar kampung Komodo. Pada akhir minggu saya diajak jalan-jalan sore oleh pak Suhardi ke arah pulau Kalong dan hari Minggu berkano ria ke pulau Lasa yang terletak di seberang kampung Komodo. Pada postingan selanjutkan saya kan ceritakan cerita menarik tentang dua tempat di atas.
Tabik!
 
Selain nyaman untuk jalan-jalan, di dermaga signal internet juga sangat lancar
Rabu, 9 September 2015. Kampung Komodo



Berjalan sendiri tidaklah benar-benar sendiri. Nalurimu akan menuntun kepada suatu pertemanan. Kamu dapat bertemu dengan siapapun dalam keadaan apapun. Berbincang-bincang hangat ataupun bepergiaan bersama. Kelonggaran waktu dan tujuan dapat memudahkan langkahmu. Mungkin inilah bagian dari seni berjalan sendiri.


Perjalanan akan mempertemukanmu dengan siapapun, baik yang bisa diduga maupun tidak. Bulan Agustus adalah bulan ke delapan dalam perjalanan keliling Indonesia yang sedang saya lakukan. Pada bulan ini saya banyak sekali bertemu dengan orang-orang baru. Baik mereka yang saya kenal di jejaring sosial--khususnya Instagram-- maupun yang belum kenal sama sekali.

Awal Agustus saya ikut kapal pak Hussen lalu berlanjut ke kapal bang Ary hingga dapat melakukan perjalanan selama Lima Hari Tiga Malam. Di kapal pak Hussen saya berkenalan dengan bang Syafri, guide asli Flores yang secara tidak langsung mengajari saya ilmu tentang tour guide di Flores. Selanjutnya bertemu bang Reno dari Dolan Karo Konco yang hampir setiap bulannya mengadakan trip ke Flores. Beliau juga tidak sungkan berbagi ilmu tentang trip dan penyelenggaraannya.
 
Dengan rombongan uni Evi dari Jakarta
Agustus terus bergerak. Pertemuan demi pertemuan terjadi berikutnya. Selanjutnya saya bertemu dengan rombongan travel blogger dari Jakarta. Uni Evi, mbak Donna, mbak Yeyen, dan bang Zoffar. Memiliki kesempatan untuk menemani mereka jalan-jalan ke Goa Batu Cermin lalu dilanjutkan ke Puncak Sylvia. Serta berkenalan dengan beberapa orang lainnya selama perjalanan seperti Faiz, Luki, dan Aldi yang jago main ukulele.

Pada akhir minggu pertama Agustus saya diajak ngopi oleh duo Salam Ransel yaitu Asti dan Ovela. Sebelumnya saya hanya mengenal mereka dari Instagram seorang teman, khususnya tato peta Indonesia di tangan Ovela yang pernah diposting Devanosa. Mereka adalah organizer yang selalu membuka trip ke Flores dan menetap di Labuan Bajo.
 
Dengan duo Salam Ransel
Minggu kedua Agustus saya memulai perjalanan baru ke Kampung Komodo. Mengajar bahasa Inggris dasar di SD N Kampung Komodo sebagai pengajar sukarela. Perjalanan ini membawa ke pertemuan dengan orang-orang baru yang menjadi keluarga di Kampung Komodo seperti pak Raco, pak Usman, pak Bahtiang, pak Efen dan banyak lagi yang jika saya tuliskan tentu akan memenuhi paragaf ini hanya dengan nama orang-orang.

Walaupun tinggal di kampung Komodo yang jauh dari Labuan Bajo, pertemuan dengan teman-teman lain terus berlanjut. Si Uga seorang teman di Instagram menyempatkan diri untuk jalan-jalan di kampung Komodo dan mengajak berbincang-bincang sambil ngopi di dermaga. Sebagai “penduduk baru” saya dapat menemani Uga untuk jalan-jalan keliling kampung dan menjelaskan keadaan dan keunikan kampung Komodo, serta bertemu beberapa pembuat patung komodo, khususnya haji Nuhung—pembuat patung komodo pertama di kampung Komodo.
 
Menemani rombongan admin Travellerbaper
Walaupun jejaring sosial kadang menjauhkan yang dekat, tapi saya akui juga dapat mendekatkan yang jauh. Berawal dari saling follow dan berbalas komentar di Instagram. Saya bertemu dengan tiga orang admin Travellerbaper dari Bandung. Setelah berbagi informasi tentang kapal dan perjalanan selama di Labuan Bajo akhirnya menemani perjalanan mereka selama dua hari terakhir mengunjungi tempat-tempat indah di gugusan pulau Komodo. Mereka juga bersama rombongan lainnya sebanyak sepuluh orang—Harival, Raissa, Asha, Baday, Dian, Nadiyya, Onix, Galva, Peri, dan Eza.

Menjelang akhir Agustus pertemenan di Instagram juga mempertemukan saya dengan Ayu. Karena hasrat ingin mengunjungi tempat-tempat indah di gugusan pulau Komodo, gadis asal Bali ini nekat datang dan menyewa kapal sendirian. Saya menemani Ayu selama perjalanannya. Dalam perjalana tiga hari dua malam dengan Ayu, saya juga bertemu dengan Ary—solo traveller dari Jakarta--di Gili Lawa, dan sempat juga berkeliling Labuan Bajo dan ke air terjun Cunca Wulang pada hari terakhirnya di Labuan Bajo.
 
Ki-Ka; Ayu, Saya, Ary, pak Rahma
Agustus memang telah mempertemukan saya dengan banyak orang. Banyak kisah yang dapat dibagi, banyak cerita yang dapat didengarkan, dan banyak pengalaman yag dapat dinikmati. Barangkali semua nama-nama yang saya sebutkan di atas adalah pengganti dari kehilangan satu nama pada Agustus ini. Pada akhirnya suatu kehilangan selalu mendapatkan penggantinya. Terlalu melankolia dan terlalu kepo tidak baik untuk kesehatan perasaan.
Tabik!


Kamis, 3 September 2015. Labuan Bajo

Mereka yang ada dalam cerita:
@dolankarokonco @salamransel @eviindrawanto @donnaimelda @yeyenmaelan @zoffarahmad @lukiputradita @aldiibab @ugaaanurfadhilah @harivalzayuka @ashadinatha @andhikabayu @raisarhmh @leonitangelina @fiknad @mpeew @diniauliad @mazagalva @ezariaserier @komangayutriadnyani @xaryyxx