Pagi Minggu yang riuh menyambut saya di pelabuhan Pelni Makassar. Para kuli angkut dengan nomor-nomor di rompinya berebutan masuk saat pintu kapal mulai terbuka. Ibu-ibu pedagang asonganpun tak kalah gesit berebut masuk. Para penumpang bergegas turun dengan barang bawaan masing-masing, sebagian besar dijunjung di pundak. Saya mengamati keriuhan ini dari dek luar kapal.
 
Percayalah, modelnya bukan penulis yang sedang frustasi
Setelah semua keriuhan ini berlalu, saya dan tiga orang teman lainnya mulai turun. Tawaran taksi dan ojek kami lewati sampai di ujung jalan di luar pelabuhan. Rizki sudah dijemput pamannya, Agus dijemput temannya, dan bang Sahal sudah berangkat ke hotel setelah memesan tiket ke Selayar, saya memesan coto Makassar kaki lima sambil menunggu Dio menjemput.

Dio langsung membawa saya ke rumahnya di Daeng Tata. “Ko mau ke mana di sini”? tanyanya. “Saya cuma penasaran mau ke Fort Rotterdam”. Siang itu saya habiskan untuk beristirahat di rumahnya. Malam pertama di Makassar saya dibawa ke pantai Losari untuk menikmati pisang epe, bersama Patric dan Joy. Namun pameran lukisan di Makassart Gallery sangat menarik perhatian. Sambil menikmati lukisan yang dipajang di sana, saya mencoba mengingat kapan terakhir melihat pameran lukisan. Sudah lama sekali.
 
Salah satu lukisan yang dipajang di MakassArt Gallery
Suatu pesan yang mendadak mengajak Dio ke Zona Night Club. “Ko mau ikut?” tawarnya. “Mau, sih. Tapi saya gak minum ya”. Setelah menunggu temannya selesai tampil, akhirnya kami bisa masuk. Gemerlap lampu berbagai warna, variasi bunyi musik dari DJ yang sedang tampil, serta bartender yang memainkan botol-botol minuman menyambut tamu datang. Lalu tamu makin banyak datang. Menduduki kursi-kursi bewarna gelap. Sebagian mereka adalah perempuan dengan make up dan pakaian yang menarik mata lelaki. Dalam ingatan kembali muncul pertanyaan “kapan terakhir kali masuk klub malam?”.

Hari berikutnnya saya ditraktir makan Sop Konro Karebossi oleh Sofi-- perempuan manis Makassar yang saya kenal waktu di Labuan Bajo. Makan siang yang nikmat dengan cerita yang hangat. Setelah itu saya dan Dio mengunjungi benteng Fort Rotterdam. Bangunan pertama yang kami masuki adalah Museum La Galigo dengan membayar Rp 5.000 /orang.
 
Nyaaaam...
Memasuki museum serasa terbawa ke suatu ruang dalam kenangan. Benda-benda yang mengingatkan pada suatu tempat, kejadian, atau waktu tertentu. Namun kenangan yang paling kuat selama berjalan-jalan dalam museum ini adalah: beberapa peralatan pertanian dan pelaminan yang dirasa mirip dengan peralatan dan pelaminan di daerah asal saya, yaitu, Sumatera Barat.

Satu bangunan yang menurut saya unik adalah bangunan bekas gereja yang terletak di tengah-tengah komplek benteng. Dua jendela di dinding dan lorong dengan atap melengkung di bawahnya seolah manjadi dua mata dan mulut yang menganga siap memangsa orang yang masuk ke dalamnya. Di lorong itu terdapat meniatur benteng, beberapa perlengkapan pertanian masa lalu dan benda bersejarah lainnya. Setelah itu saya dan Dio bersantai di ujung benteng arah ke pantai. Duduk di atas dinding tembok yang banyak dihiasi lubang bekas peluru.
Gedung yang senang makan orang

Es kelapa muda di seberang jalan menarik selera kami. Sambil menunggu Iqbal kami menikmati es kelapa muda yang menghadirkan kesegaran. Pertemuan nyata selalu menghadirkan cerita dan kesan lebih banyak daripada mention di media sosial. Entah mengapa, saya sangat menyukai pertemuan nyata dengan siapapun. Termasuk ketika Iqbal—teman di Instagram—mengajak untuk bertemu pertama kalinya.

Menjelang matahari tenggelam di laut Makassar, kami berjalan ke bekas tempat peluncuran kapal Phinisi. Menurut Dio di sana ada beberapa lukisan kapal Phinisi. Hanya ada dua lukisan saat kami sampai di sana. Setelah itu matahari yang hampir hilang dari langit menjadi lebih menarik. Tiba-tiba Dio datang. “Ko harus ke sini. Cepat. Mau ke Bira, kah?”

Dio dan saya ditawari ikut kapal phinisi ke Bira oleh bang Azwar, tukang interior kapal. Pelayaran selama delapan jam yang menarik sudah terbayang dalam pikiran. Namun jadwal keberangkatan belum bisa dipastikan. Diperkirakan minggu ini atau minggu berikutnya. Selama itu kami menunggu dan menanyakan ulang kepada bang Azwar. Kabar yang kami terima selanjutnya, kapal sudah penuh dan kami tidak bisa ikut. Hufffttt...

Keberuntungan berlum berpihak saat ini, namun Toraja menjadi pengganti yang sangat menarik dalam perjalanan ini. Ceritanya pada postingan selanjutnya.

Sabtu, 28 November 2015. Raja Ampat










Setelah hampir 5 bulan tinggal di Labuan Bajo perjalanan kembali dilanjutkan. Rute perjalanan kembali ke awal, di mana sebelumnya berniat ingin melanjutkan ke Alor. Makassar adalah tujuan berikutnya. Tiket kapal Wilis yang akan membawa ke sana sudah didapat. Di tiket tertera jadwal keberangkatan jam 14.30. saya sampai di Labuan Bajo setelah perjalanan panjang ke Kelimutu jam 13.30.

Segala kesibukkan dan ketegangan berkumpul dalam pikiran dan tindakan. Pamitan dengan teman dan keluarga-keluarga baru di Bajo dilakukan dengan terburu-buru, sambil menyempatkan membeli kenangan buat Haji Radi, orang tua angkat selama di Labuan Bajo. Jam di tangan menunjukkan pukul 14.30.
 
Sunset di dermaga kayu Labuan Bajo
Kapal masuknya telat, kemungkinan jam setengah 4 baru masuk. Pesan dari bang Sahal setelah mengecek jadwal kedatangan kapal ke dermaga. Saya tinggalkan ponsel sambil dicas. Lalu berbaring di lantai. Dalam waktu singkat langsung tertidur.

Setengah jam berikutnya saya terbangun. Rasa capek di tubuh menguap. Setelah pamitan penuh emosional dengan Haji Radi, saya naik ojek ke pelabuhan. Di perjalanan bertemu Ovela dan Asti, dua orang teman di Bajo, dan menyempatkan diri minum kopi di kost mereka. Klakson kapal yang menggema mengakhiri acara minum kopi. Saya bergegas ke dermaga di antar mereka berdua.

Satu kejadian menegangkan terjadi. Bang Sahal yang saya kira sudah di kapal ternyata masih di Tourist Information Center. Tali-tali pengikat kapal ke dermaga sudah dilepas. Kapal mulai bergerak perlahan. Saya melihat bang Sahal di pintu masuk pelabuhan berlari dengan carrier besar dipunggungnya. Setelah sampai di dermaga, beliau hanya pasrah melihat kapal yang sudah menjauh dari dermaga. Beberapa orang berteriak dengan nada pesimis. Lalu beliau lari ke sisi dermaga lainnya diikuti beberapa orang. Satu kapal kayu yang baru bersandar mengantarkannya ke kapal Pelni di tengah laut. Melewati tangga tali, bang Sahal akhirnya sampai di kapal. Ketegangan ini berakhir saat cahaya matahari di Labuan Bajo merah keemasan melapisi permukaan laut.
 
Bang Sahal di atas kapal yang mengantarnya ke kapal Wilis (Pelni)
Di atas kapal, saya bertemu dengan Agus dan Rizki. Mereka berjalan sendiri juga, seperti saya dan bang Sahal. Keakraban terjadi dengan cepat. Cerita saling bertukar di antara kami, diselingi canda dan tawa. Jatah makan malam kami di kapal sudah tidak tersedia, karena batas pengambilannya jam 5 sore. Akhirnya kami berempat membeli nasi kotak di dapur kapal seharga Rp 15.000. Harganya sebanding dengan rasanya. Makan malam yang enak menjadi pengantar yang tepat untuk tidur nyenyak.

Menjelang subuh kapal bersandar di pelabuhan Bima. Air hangat yang tersedia di kapal membuat tubuh terasa segar setelah mandi. Saya turun ke dermaga dan menunggu pak Jay, keluarga sewaktu di Bima. “Kurus sekarang, ya” kesan pertama yang meluncur dari beliau. “Nggak, pak. Mungkin karena rambut yang makin gondrong, jadi kelihatan kurus”. Setelah bercerita beberapa hal, kami berpisah. Kapal bergerak ke tujuan berikutnya. Makassar.
 
Makassar, bukan sekadar singgah, tapi tujuan
Langit kemerahan menyelimuti Makassar. Matahari lahir secara perlahan dan menunjukkan cahaya kekuningan. Dari pengeras suara di kapal terdengar “Satu jam lagi kapal akan bersandar”. Saya, bang Sahal, Rizki, dan Agus berkemas dan menunggu kapal bersandar di luar dek. Dalam hati, Makassar bukanlah sebagai tempat singgah sebelum ke Ambon. Tapi, Makassar adalah tujuan untuk...


Selasa, 24 November 2015. Di atas Kapal Gunung Dempo










Oktober berlalu dengan kewaspadaan. Tindakan-tindakan baru yang memiliki resiko telah dipilih. Bagaimanapun langkah telah diayun dan menunggu untuk terus dilanjutkan.

Pada bulan kesembilan perjalanan, kegiatan mengajar sukarela di kampung Komodo telah selesai. Pada bulan ini saya menyelenggarakan Open Trip untuk menikmati keindahan gugusan pulau Komodo. Kegiatan yang dinamai Langkahjauh Trip ini tidak pernah terpikir sebelumnya. Berteman dengan bang Reno (@dolankarokonco), bang Ari (kapten kapal Surya Indah) serta beberapa kali mendamping rombongan trip di Labuan Bajo membuat saya belajar mengelola trip dan memutuskan untuk menyelenggarakan trip sendiri.
 
Langkahjauh Trip kedua di Gili Lawa Darat
Trip yang rencananya hanya sekali pada tanggal 15-17 Oktober saja, menjadi bertambah dengan tanggal 9-11 Oktober. Tentu saja ini adalah suatu kejutan dan limpahan rezeki. Setengah dari peserta trip ini merupakan hasil rekomendasi dari teman-teman yang pernah saya temui selama di Labuan Bajo. Dua kali Langkahjauh Trip lancar tanpa kendala sama sekali.

Menyelenggarakan trip tentu saja memiliki resiko, misal: trip batal karena peserta tidak mencapai kuota minimal, kecelakaan selama perjalanan, dan ekspektasi peserta yang tidak terpenuhi. Saya bersyukur pengalaman kerja di bidang penjualan dan pemasaran sangat membantu dari sebelum, selama dan sesudah trip dilaksanakan. Selain itu enam kali mendampingi trip sebelumnya juga sangat membantu dalam penguasaan lapangan dan kemungkinan yang akan terjadi selama perjalanan.
 
Kebersamaan di Pulau Gusung
Minggu terakhir bulan Oktober saya dan bang Sahal memutuskan ke Kelimutu menggunakan sepeda motor. Perjalanan pulang pergi sejauh lebih kurang 1.000 kilometer ini dilaksanakan pada waktu Operasi Zebra oleh kepolisian yang konon katanya diselenggarakan di seluruh Indonesia. Saya tidak memiliki SIM sejak kehilangan dompet bulan Mei yang lalu. Karena itu setiap masuk kota, motor dikendarai oleh bang Sahal.
 
Kelimutu
Perjalanan ini sudah dibayangi resiko bahkan sebelum memulainya. Resiko demi resiko selalu lahir dari setiap tindakan. Beruntung perbandingannya wajar antara ukuran resiko dan kepuasaan dari tindakan yang dipilih. Berjalananlah terus, teruslah berjalan.


Jumat, 20 November 2015. Warung Sibu-Sibu, Ambon


Bagian terakhir

Kelimut-Labuan Bajo

Seperti datangnya kesialan, keberuntungan datang dari jalan-jalan yang penuh misteri.


Kelimutu pagi itu tampak begitu segar. Udara yang dingin dan bersih, tetumbuhan hijau tumbuh rapat dan cahaya matahari yang mulai hangat. Semua keindahan harus ditinggalkan. Menjelang jam tujuh pagi saya dan bang Sahal mulai turun. Kami bergegas agar dapat sampai di KM 19 sebelum jalan itu ditutup untuk perbaikan.

Teh hangat dan jahe serta beberapa potong biskuit cukup sebagai sarapan. Setelah mengambil tas yang dititipkan di warung dekat gerbang masuk kami langsung meluncur ke Ende. Jalan penuh liku dan menurun itu terasa sepi. Motor dapat dipacu secepatnya. Jam di tangan menunjukkan pukul delapan. Bagian jalan yang ditutup masih jauh di depan.”Kalau nggak dapat ya gak apa-apa. Kita tunggu sampai jam 9 aja” kata bang Sahal dari belakang.
 
Gunung Inerie
Kabar yang kami terima jalan mulai ditutup jam 8 dan baru dibuka sejam berikutnya. Motor terus melaju dan sesekali berpapasan dengan kendaraan lain. Jam 08.15 kami sampai di bagian jalan yang ditutup. Seorang pekerja tampak berjalan membawa bambu panjang dan bersiap melintangkannya di jalan. Kami berjalan pelan melewatinya, ternyata kami adalah kendaraan terakhir yang diijinkan melintas. Beruntung.

Satu jam berikutnya kami sampai di kota Ende. Sop buntut seharga Rp 25.000,- seporsi menjadi pilihan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan selanjutnya ke desa Bena.  Sebelum sampai di Bena kami berhenti di panorama Manulalu untuk mengambil foto dan melihat keindahan gunung Inerie dan beberapa kampung adat yang kelihatan dari sana.
 
Panorama Manulalu
Panas terik jam 1 siang menyambut kami di kampung adat Bena. Saya menuliskan nama di buku pengunjung dan memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak yang tersedia di sana. Mama Anastasia yang pada hari itu bertugas menceritakan perihal kampung Bena dan kehidupan masyarakatnya. “Rumah baru itu” dia menunjuk rumah kayu di seberang pos pendaftaran “tahun depan akan diupacarakan. Puluhan babi dan kerbau akan dipotong untuk meresmikannya nanti”. Namun mama Anastasia belum tahu tanggal dan bulan pastinya upacara perayaannya.
 
Kampung Bena
Selain melihat kehidupan masyarakat di kampung Bena yang sudah akrab dengan modernisasi dan kemajuan teknologi, seperti penggunaan peralatan elektronik di dalam rumah dan anak-anak mudanya yang melanjutkan pendidikan ke kota-kota besar, saya menghitung banyaknya rahang babi dan tanduk kerbau yang dipasang di depan rumah. Rumah di ujung yang sejajar kapela memiliki 22 tanduk kerbau di dindingnya dan inilah yang terbanyak. Bisa dihitung berapa biaya upacaranya. “Kerbau biasanya dipakai untuk upacara seharga 17-25 juta/ekor dan babi 6-8 juta/ekor” kata mama Anastasia.
 
Kumpulan rahang babi yang dipotong untuk upacara peresmian rumah 

Kumpulan tanduk kerbau yang dipotong untuk upacara peresmian rumah

Setelah dari kampung Bena kami menuju ke Bajawa. Namun jalan yang diambil malah ke kampung lain yang berujung jalan buntu. Sekitar satu jam waktu terbuang karena tersasar. Jam 3 sore kami sampai di Bajawa dan mencari warung nasi Padang di dekat masjid. Setelah makan dan sholat, perjalanan dilanjutkan ke Ruteng yang seharusnya dapat ditempuh sekitar empat jam. Namun di Borong ban motor bocor. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Kami membayar biaya tambal hanya sebesar Rp 10.000,- padahal saya sempat mengira bakal dikasih harga dua kali lipat.

Sekitar 200 meter sebelum lampu merah pertama di kota Ruteng ban motor kembali bocor. Udara dingin seperti menidurkan lebih cepat kota ini. Jalanan sepi dan tidak ada lagi tambal ban yang buka padahal baru jam setengah sepuluh. Setelah mendorong sekitar satu kilometer kami berhenti di warung lalapan di dekat masjid dan memesan makanan. Harga makanan di warung ini membuat saya dan bang Sahal tersenyum kecut, seporsi nasi dan sepotong kecil ayam dihargai Rp 30.000. Masjid terdekat menjadi pilihan menginap. Beruntung sekali takmir masjidnya sangat ramah dan mengijinkan kami tidur di sana sampai esok paginya.

Sambil menunggu ban dalam motor diganti kami sarapan di Kopi Mane di belakang masjid. Menikmati sop buntut dan kopi arabica setempat yang baru saja mendapat juara 1 dalam festival kopi di Jogja beberapa waktu sebelumnya. Kopi nikmat ini diolah langsung oleh si pemilik kafe dengan menyediakan gula merah dan gula putih sebagai pemanisnya. Kopi seharga Rp 10.000,-/cangkir ini membuat pagi terasa lebih bersemangat.
 
Sawah hijau subur dengan latar belakang bukit kerontang di Lembor
Empat jam perjalanan Ruteng-Labuan Bajo menurut saya sangat unik. Sepanjang perjalanan saya merasakan perbedaan suhu dari satu tempat dengan tempat lain yang berdekatan. Misalnya daerah Lembor yang hijau dan bersuhu dingin akan sangat berbeda dengan daerah setelahnya yang kerontang dan panas. Padahal ketinggian dan kontur tanahnya tidak jauh berbeda. Jadi selama perjalanan akan melihat daerah yang hijau subur, lalu tiba-tiba masuk daerah yang kerontang berwarna kecoklatan.

Dalam perjalanan pulang saya tiba-tiba menghentikan motor di kampung Roe. Ada keramaian yang menarik di pinggir jalan. Keramaian itu adalah pertunjukkan tari Caci dalam rangka acara Ta’a nggolo atau mengikat kebersamaan sesama masyarakat kampung Roe. Sekitar 15 orang laki-laki berdiri melingkar dan berputar sambil bernyanyi bersama bersuka cita. Teko berisi sopi (arak khas Flores) diedarkan ke beberapa penari. “Biar tidak sakit saat kena cambuk nanti” kata seorang bapak di samping saya yang sempat menawarkan sopi.
 
Penari Caci yang berbahagia

Tari Cari salah satu pertunjukkan yang menarik di Flores di mana dua orang penari berlaga. Satu menyerang dan satu lagi menahan secara bergantian. Bagian tubuh yang boleh dipukul dari pinggang ke atas. Tidak jarang bekas pukulan cambuk meninggalkan goresan luka dari kulit yang terkelupas di punggung penari. Dapat melihat pertunjukkan tari Caci dengan cuma-cuma bagai suatu keberuntungan besar yang kami alami. Bahkan salah satu panitia menahan kami pulang setelah acara makan siang bersama. Konon mereka telah memotong kerbau untuk acara ini.
 
Perhatikan ujung cambuk yang tepat di pinggang penari sebelah kiri
Salah satu jejak cambuk di punggung salah seorang penari

Setelah berpamitan untuk pulang saya langsung menuju ke parkiran dan mendapati ban motor kembali kempes. Karena yakin ini hanya bocor halus, saya mencari tambal ban terdekat dan segera mengisi angin. Konsekuensi dari hal ini adalah setiap 15 menit sebelum sampai di Labuan Bajo kami harus mengisi angin. Total tiga kali mengisi angin hingga akhirnya sampai di Labuan Bajo jam 13.30. Jadwal keberangkatan kapal ke Makassar jam 14.30. Saya belum menyiapkan apapun. Fiuuuuhh..

Rabu, 18 November 2015. Makassar

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tulisan di bawah ini










Bagian Kedua: Sosok Hitam Bisu di Kelimutu


Setelah makan siang dengan nasi Padang dan minum es kelapa di tengah panasnya suhu kota Ende kami melanjutkan perjalanan ke danau Kelimutu. Sekitar setengah jam selepas kota Ende perjalanan harus terhenti karena penutupan jalan yang sedang diperbaiki sehabis longsor. Beruntung perjalanan hanya tertunda selama tujuh menit, karena tepat pada jam 3 penutup jalan dibuka.

Melintasi jalan menanjak-menurun yang berliku-liku sepanjang perjalanan ke Kelimutu mengingatkan saya pada jalanan di Sumatera yang hampir sama karakternya. Namun jalan di Flores menurut saya lebih berat karena tikungan tajam yang sangat banyak dan sedikit sekali jalan lurusnya. Jam 4 sore kami sampai di pos pendaftaran sebelum memasuki danau Kelimutu.
“Kita sudah hampir tutup, kalau mau naik, sebelum gelap sudah harus turun. Kalau malam di atas harus steril dari pengunjung” kata petugas tiket mengingatkan kami.


Setelah mendaki sekitar sepuluh menit dari area parkir, kami sampai di view point dua danau. Namun view point tiga danaulah yang lebih menarik. Beberapa ekor monyet mengawasi dan mengintai sebelum sampai di sana, karena bungkusan keripik pisang di tangan bang Sahal.

Sesampainya di lokasi view point tiga danau, saya mengamati Tiwu Ata Polo atau Danau Merah yang letaknya terpisah sendiri. Tampak jauh di bawah, warna airnya merah kehitaman, pohon-pohon menjulang tinggi di setengah bagian pinggirnya, serta kabut tipis menggantung di atasnya. Kesan suram muncul ketika mengamatinya lebih lama, danau ini dipercaya tempat bersemayam arwah yang ketika hidup di dunia tidak berlaku baik. 
Tiwu Ata Polo

Setelah itu saya menikmati Tiwu Nua Muri Koo Fai atau Danau Hijau di sisi Timur. Saat di sana warna yang kami lihat adalah hijau tosca, menggemaskan bagai melihat anak kecil yang baru tumbuh gigi tertawa. Danau Hijau ini diyakini menjadi tempat bersemayamnya arwah anak-anak kecil yang meninggal.
 
Tiwu Nua Muri Koo Fai
Cahaya matahari mulai kekuningan dan kami turun menuju view point dua danau. Dari sini Tiwu Ata Mbupu atau Danau Biru dapat dilihat dari dekat. Danau ini begitu tenang dan menenangkan, bagai melihat seorang biksu yang sedang bertapa. Sementara mata saya terpaku pada permukaan danau yang pada saat itu berwarna hijau tua, tubuh membisu diterpa angin sejuk. Syahdu.
 
Tiwu Ata Mbupu
Setelah itu saya mendaki ke sisi kanan danau, melewati plang dengan tulisan “landslip” dengan niat dalam hati mendapatkan sudut pandang lain untuk menikmati dua danau ini. Awal perjalanan terasa lancar melewati jalanan tanah bergunduk-gunduk. Saya mencari jalan pintas ketika turun. Melewati jalan berbatu yang cukup curam. Ketika sampai di pinggir jalan yang dituju, tebing yang memisahkan kami tingginya sekitar tiga meter. Tidak ada yang lebih rendah dan saya terjebak di bagian yang curam.

Keringat mulai keluar diiringi rasa panik. Bekas pohon yang patah saat saya tergelincir menciptakan teror tersendiri. Saya berbalik mendaki tebing yang berbatu. Pada suatu langkah, jantung berdetak lebih kencang dan keringat mengalir lebih deras. Tanah yang saya injak bergoyang dan secepatnya mencari tempat berpegang. Jika terjatuh, bisa saja kecelakaan fatal akan dialami. Saya menyesal melanggar peringatan yang sudah tertulis dan terpampang di sana.

Saya merasa tenang setelah dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Di kejauhan, di ujung bukit antara Danau Biru dan Danau Hijau saya melihat sesosok hitam yang sedang duduk. Saya mecoba mengingat apakah melihatnya sebelumnya, namun tidak terlacak, lalu berpikir apakah ini hanya ilusi. Mata ditajamkan untuk melihat sosok diam yang bagai terserap menikmati suasana danau Kelimutu menjelang sore. Usaha untuk memastikan sosok hitam diam itu sia-sia karena jarak membentang di antara kami. Saya memelihara pikiran baik dan terus berjalan pulang.
 
View Point tiga danau
Jalanan menjelang pos Badan Taman  Nasional Kelimutu begitu lengang, suara binatang hutan mulai terdengar satu-satu. Kami berhenti di warung yang terletak persis di depan gerbang kantor BTNK dan memesan teh hangat dan Pop Mie sambil berbincang-bincang dengan beberapa petugas di sana.
“Nginap di mana mas malam ini?” tanya seorang petugas.
“Belum dapat penginapan, pak”
“Di desa Moni di bawah ini banyak itu penginapan”
“Iya, pak. Kalau di sini bisa numpang nginap, pak? Di Musholla misalnya”
Sejenak bapak petugas tadi tampak ragu menjawabnya.
“Sebulan yang lalu ada teman saya yang nginap di sini” lalu saya menyebutkan nama teman tersebut.
“Oh iya, mas. Di sini dingin lho, tidurnya di lantai saja, nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, pak. Kami bawa sleeping bag, kok”
“Kalau mas mau ke toilet, itu ada di belakang kantor”
“Terima kasih, pak” lalu saya dan bang Sahal berjalan ke Musholla setelah membayar teh dan mie yang masih dijual dengan harga wajar walau berada jauh dari pusat kota.

Saya dan bang Sahal menyembunyikan diri ke dalam sleeping bag masing-masing setelah menuntaskan sholat Isya. Musholla kantor BNTK ini cukup nyaman dan hangat hingga kami bisa tidur lelap setelah perjalanan yang melelahkan. Jam 4 subuh kami terbangun dan mulai bersiap melanjutkan perjalanan untuk menikmati sunrise di danau Kelimutu. Setelah menunaikan sholat Subuh dan merapikan musholla kami membeli tiket masuk lagi sebesar Rp 5.000,-/orang dan jumlah yang sama untuk karcis masuk motor. Di pintu masuk kami bertemu dengan Nino dan Francesco, teman bang Sahal selama LOB dari Lombok-Labuan Bajo dan memutuskan berjalan bersama.
 
View Point tiga danau dari kejauhan
Langit subuh itu dilapisi cahaya keemasan. Garis-garis merah halus memanjang datar di beberapa bagian. Kami mempercepat langkah.
The sun will coming. Hurry up!” kata Francesco
 “Do you want to run to the peak?
Yes, I do
Saya dan Francesco berlari mendaki meninggalkan Nino dan bang Sahal di belakang. Nafas berpacu di tengah dinginnya suasana danau Kelimutu. Di dekat tong sampah menjelang view point tiga gunung saya berhenti untuk beristirahat, sementara Francesco terus berlari ke atas. Dasar bule.

Sekitar enam orang pengunjung dan dua orang pedagang minuman hangat sudah sampai di view point tiga danau sebelum kami. Jam di tangah menunjukkan pukul 5 pagi.
“Mataharinya nanti keluar dari sana” kata seorang warga lokal sambil menunjuk ke balik Danau Hijau. “Pesan teh atau kopi dulu biar hangat” tawaran bapak itu selanjutnya. Saya dan bang Sahal memesan teh hangat dengan jahe segar yang langsung dimasukkan ke dalam teh.
 
Teh hangat dengan jahe
Segaris cahaya melengkung keemasan mucul perlahan di langit tepat di arah yang ditunjukkan si bapak tadi. Keluar perlahan dari balik kabut. Makin lama cahaya itu makin besar dan garis melengkung itu makin jelas membentuk lingkaran. Kamera berebutan mengabadikan keindahan lahirnya sumber cahaya ini. Sepasang turis mengambil foto saat berciuman dengan latar belakang langit yang penuh cahaya. Jam di tangan menunjukkan pukul 5.15 WITA.
 
Matahari pagi di atas Danau Kelimutu
Di view point ini kami bertemu dengan beberapa orang pengunjung lainnya, seperti Airis, solo traveler dari Filipina serta seorang pengunjung asal Sumba yang sudah lama tinggal di Kanada. Hampir semuanya memuji keindahan matahari terbit dari sini, seperti kata Airis “This is the best sunrise I ever seen”.
Setelahnya kami mengambil foto bersama sebelum berpisah.

Sebelum turun, kami menyempatkan lagi ke view point dua danau. sosok hitam duduk yang sebelumnya saya lihat masih ada di sana. Sosok tersebut adalah batang pohon mati. Danau Biru dan Danau Hijau masih tampak menawan seperti kemarin sore. Ketenangan dari warna dan permukaannya dapat memikat mata beberapa saat. Cukup berdiri saja di pagar pembatas tanpa harus melanggar peringatan yang sudah terpampang di sana. Keindahan alam tidak harus dinikmati dengan cara melanggar aturan. Suatu catatan untuk diri sendiri.

Jumat, 6 November 2015. Makassar

Tulisan ini adalah sambungan dari:
1. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian pertama

dan kelanjutannya

3. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian terakhir


Bagian Pertama: Labuan Bajo-Ende

Untuk kesekian kalinya saya percaya kalau mimpi-mimpi itu perlu dipelihara sampai menjadi kenyataan. Tulisan ini menjadi bagian dari salah satu mimpi saya yang telah terwujud, yaitu mengunjungi danau Kelimutu. Dari mendengar cerita-cerita teman dan melihat beberapa foto saya langsung menjadikan danau Kelimutu sebagai tempat yang wajib dikunjungi selama di Flores. Hampir lima bulan saya tinggal di Flores mimpi itu belum terwujud, barulah pada empat hari terakhir di Flores mimpi itu jadi kenyataan.

Berawal dari ikut kapal bang Tami ke pulau Sembilan dan Kanawa saya bertemu dengan bang Sahal. Setelah berbicara tentang keinginan mengunjungi tempat-tempat di Flores, Kelimutu menjadi persamaan dari tujuan kami.
“Gimana cara ke sana yang murah?”
“Sewa motor, bang. Kalau sewa mobil bisa abis sampai satu juta per orang, kalau naik angkutan umum takut nggak nyampe tanggal 30 di sini (Labuan Bajo)”
“Ayo naik motor ke sana”
“Oke, Bang. Besok gue sewa motor dan kita langsung jalan jam 7 pagi ya”
Begitulah percakapan sederhana saya dan bang Sahal dalam memutuskan perjalanan menuju Kelimutu.


Pagi hari Selasa tanggal 26 Oktober kami mulai meninggalkan Labuan Bajo. Perjalanan tertunda satu jam karena motor yang akan kami pakai diganti bannya terlebih dahulu. Jalanan berliku yang menanjak dan menurun perbukitan Flores harus kami tempuh untuk sampai di Ruteng, kota pertama yang menjadi tempat istirahat. Setelah menuntaskan makan siang dengan Nasi Padang kami sholat Dzuhur dan kembali melanjutkan perjalan jam 1 siang menuju Bajawa.

Selepas dari dinginnya Ruteng suhu yang berbeda terasa ketika masuk ke daerah Borong, sekitar satu jam perjalanan setelah Ruteng. Jaket yang melekat di tubuh terasa menggerahkan. Jalanan yang ditempuh masih sama; naik turun bukit dan banyak tikungan. Beberapa tikungan berpasir dan menuntut kehati-hatian tinggi, serta juga melewati jalanan bekas longsor yang sedang mengalami perbaikan. Pemandangan yang dapat dinikmati adalah hamparan bukit-bukit hijau, lalu berganti kecoklatan di daerah kering serta pohon-pohon jati yang menggugurkan dedaunnya. Pemandangan lain yang berkesan adalah melewati kebun pisang dan hutan bambu di kiri-kanan jalan.
 
Kendaraan masih tetap bisa melintas di jalan yang sedang diperbaiki
Jam empat sore kami sampai di kota Bajawa dan langsung menuju masjid untuk menuntaskan sholat Ashar. Suhu dingin kembali menyergap. Dari informasi yang didapatkan di sini ada dua pemandian air panas yang tidak begitu jauh. Satu di dekat bandara dan satu lagi dekat Bena. Kami memutuskan ke air panas di dekat bandara. Ternyata perjalanan ke air panas Mengeruda ini membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Setelah sampai kami langsung membeli tiket masuk seharga Rp 4.000,-/orang.

Kolam air panas alami dengan diameter sekitar 4 meter ini sudah agak gelap saat kami sampai. Beberapa pengunjung tampak berendam menikmati hangatnya air yang memberikan kesegaran. Saya dan bang Sahal langsung menceburkan diri secara perlahan. Kesegaran merambat ke seluruh bagian tubuh. Capek berkendara selama delapan jam terpulihkan. Namun karena rasa lapar dan belum mendapatkan penginapan kami tidak berlama-lama di air panas ini.
 
Gunung Inerie dalam perjalanan menuju Ende
Nasi Padang kembali jadi pilihan makan malam kami, karena pertimbangan rasa dan harganya sudah jelas. Selesai makan kami mencari hotel Anggrek yang pernah disebutkan seorang teman harganya Rp. 50.000,-/orang. Setelah sampai dan melihat keadaan hotelnya, kami memutuskan menginap di hotel Nusantara yang berdiri di dekat sana dengan harga Rp 75.000,-/orang. Hotelnya menyediakan sarapan dan kopi Bajawa yang bisa diseduh kapanpun.

Sebelum meninggalkan Bajawa jam 7 pagi, saya sempatkan untuk mandi dan merasakan dinginnya air. Dingin dari air dan suhu tempatnya memberikan kesegaran sebelum melanjutkan perjalanan jauh ke Kelimutu. Hari itu tanggal 28 Oktober bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda kami langsung ke Ende. Mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Renungan Bung Karno. Karena sejarahnya sebagai tempat pengasingan bung Karno selama 1934-1938 menjadikan Ende sebagai tempat untuk wisata sejarah.

Sebelum memasuki kota Ende kami mampir di Blue Stone Beach yang menjadi pantai penghasil batuan bewarna biru, hijau, dan abu-abu. Batu-batu dari pantai ini sudah diekspor sampai ke Jepang dan Eropa. Di sana saya bertemu bapak Simpli salah seorang pemilik usaha penjualan batu. Beliau menjelaskan proses batu-batu di pantai ini bisa berwarna dan bentuknya yang pipih berdasarkan pengalamannya mendampingi peneliti batu dari Jepang selama enam bulan.
 
Batu-batu berwarna di Blue Stone Beach menjelang kota Ende
“Batu-batu yang di pantai ini adalah hasil dari proses alam seperti longsor, dihanyutkan sungai, terkikis gelombang, mengendap di laut, lalu di bawa ombak ke pinggir pantai selama ratusan tahun. Batu-batu di sini tidak akan habis karena proses itu berlangsung terus menerus” penjelasan pak Simpli atas pertanyaan saya tentang proses dan kelangsungan batu-batu di pantai ini. Setelah mengambil empat butir batu yang berbeda warna, kami melanjutkan perjalanan ke kota Ende, tujuan pertama adalah Rumah Pengasingan Bung Karno.
 
Rumah Pengasingan Bung Karno
Di rumah pengasingan itu kami disambut oleh bang Syarifuddin sebagai pemandu. Beliau menjelaskan informasi tentang rumah dan kegiatan bung Karno selama diasingkan. Hal yang menarik bagi saya adalah dua tongkat kayu yang biasa digunakan bung Karno tersimpan di sini, satunya berkepala monyet untuk menghina penjajah saat berkeliling kota dan satu yang polos untuk bertemu rakyat biasa, selain itu beberapa perabotan, lukisan, foto, dan naskah tonil (drama) karya bung karno juga tersimpan di sini.

Langkah selanjutnya adalah ke Taman Renungan Bung Karno sebagai pelengkap dari rumah pengasingan. Menurut sejarahnya di sinilah bung Karno sering menghabiskan waktunya dan merenung untuk merumuskan dasar Pancasila yang bertahan sampai saat ini. Patung bung Karno duduk tenang di atas kursi panjang seperti mengapung di permukaan kolam di tengah kota Ende. Wajah tenangnya menatap ke laut Ende dengan kaki dilipat penuh wibawa.
 
Taman Renungan Bung Karno
Entah perasaan apa yang datang setelah mengunjungi dua tempat bersejarah itu bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, rasanya begitu bangga dan lega dapat mengenang secuil sejarah dari bangsa ini. Pengasingan tidak dapat membunuh mimpi-mimpi besar dari seorang bapak bangsa ini. Mimpi-mimpi harus terus dipelihara sampai jadi kenyataan. Tabik!

Sabtu, 31 Oktober 2015. Kapal Wilis

Tulisan ini masih berlanjut dengan :
1. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian kedua
2. Perjalanan 1.000 kilometer:bagian terakhir