PERJALANAN 1.000 KILOMETER LABUAN BAJO-KELIMUTU-LABUAN BAJO


Bagian Pertama: Labuan Bajo-Ende

Untuk kesekian kalinya saya percaya kalau mimpi-mimpi itu perlu dipelihara sampai menjadi kenyataan. Tulisan ini menjadi bagian dari salah satu mimpi saya yang telah terwujud, yaitu mengunjungi danau Kelimutu. Dari mendengar cerita-cerita teman dan melihat beberapa foto saya langsung menjadikan danau Kelimutu sebagai tempat yang wajib dikunjungi selama di Flores. Hampir lima bulan saya tinggal di Flores mimpi itu belum terwujud, barulah pada empat hari terakhir di Flores mimpi itu jadi kenyataan.

Berawal dari ikut kapal bang Tami ke pulau Sembilan dan Kanawa saya bertemu dengan bang Sahal. Setelah berbicara tentang keinginan mengunjungi tempat-tempat di Flores, Kelimutu menjadi persamaan dari tujuan kami.
“Gimana cara ke sana yang murah?”
“Sewa motor, bang. Kalau sewa mobil bisa abis sampai satu juta per orang, kalau naik angkutan umum takut nggak nyampe tanggal 30 di sini (Labuan Bajo)”
“Ayo naik motor ke sana”
“Oke, Bang. Besok gue sewa motor dan kita langsung jalan jam 7 pagi ya”
Begitulah percakapan sederhana saya dan bang Sahal dalam memutuskan perjalanan menuju Kelimutu.


Pagi hari Selasa tanggal 26 Oktober kami mulai meninggalkan Labuan Bajo. Perjalanan tertunda satu jam karena motor yang akan kami pakai diganti bannya terlebih dahulu. Jalanan berliku yang menanjak dan menurun perbukitan Flores harus kami tempuh untuk sampai di Ruteng, kota pertama yang menjadi tempat istirahat. Setelah menuntaskan makan siang dengan Nasi Padang kami sholat Dzuhur dan kembali melanjutkan perjalan jam 1 siang menuju Bajawa.

Selepas dari dinginnya Ruteng suhu yang berbeda terasa ketika masuk ke daerah Borong, sekitar satu jam perjalanan setelah Ruteng. Jaket yang melekat di tubuh terasa menggerahkan. Jalanan yang ditempuh masih sama; naik turun bukit dan banyak tikungan. Beberapa tikungan berpasir dan menuntut kehati-hatian tinggi, serta juga melewati jalanan bekas longsor yang sedang mengalami perbaikan. Pemandangan yang dapat dinikmati adalah hamparan bukit-bukit hijau, lalu berganti kecoklatan di daerah kering serta pohon-pohon jati yang menggugurkan dedaunnya. Pemandangan lain yang berkesan adalah melewati kebun pisang dan hutan bambu di kiri-kanan jalan.
 
Kendaraan masih tetap bisa melintas di jalan yang sedang diperbaiki
Jam empat sore kami sampai di kota Bajawa dan langsung menuju masjid untuk menuntaskan sholat Ashar. Suhu dingin kembali menyergap. Dari informasi yang didapatkan di sini ada dua pemandian air panas yang tidak begitu jauh. Satu di dekat bandara dan satu lagi dekat Bena. Kami memutuskan ke air panas di dekat bandara. Ternyata perjalanan ke air panas Mengeruda ini membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Setelah sampai kami langsung membeli tiket masuk seharga Rp 4.000,-/orang.

Kolam air panas alami dengan diameter sekitar 4 meter ini sudah agak gelap saat kami sampai. Beberapa pengunjung tampak berendam menikmati hangatnya air yang memberikan kesegaran. Saya dan bang Sahal langsung menceburkan diri secara perlahan. Kesegaran merambat ke seluruh bagian tubuh. Capek berkendara selama delapan jam terpulihkan. Namun karena rasa lapar dan belum mendapatkan penginapan kami tidak berlama-lama di air panas ini.
 
Gunung Inerie dalam perjalanan menuju Ende
Nasi Padang kembali jadi pilihan makan malam kami, karena pertimbangan rasa dan harganya sudah jelas. Selesai makan kami mencari hotel Anggrek yang pernah disebutkan seorang teman harganya Rp. 50.000,-/orang. Setelah sampai dan melihat keadaan hotelnya, kami memutuskan menginap di hotel Nusantara yang berdiri di dekat sana dengan harga Rp 75.000,-/orang. Hotelnya menyediakan sarapan dan kopi Bajawa yang bisa diseduh kapanpun.

Sebelum meninggalkan Bajawa jam 7 pagi, saya sempatkan untuk mandi dan merasakan dinginnya air. Dingin dari air dan suhu tempatnya memberikan kesegaran sebelum melanjutkan perjalanan jauh ke Kelimutu. Hari itu tanggal 28 Oktober bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda kami langsung ke Ende. Mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno dan Taman Renungan Bung Karno. Karena sejarahnya sebagai tempat pengasingan bung Karno selama 1934-1938 menjadikan Ende sebagai tempat untuk wisata sejarah.

Sebelum memasuki kota Ende kami mampir di Blue Stone Beach yang menjadi pantai penghasil batuan bewarna biru, hijau, dan abu-abu. Batu-batu dari pantai ini sudah diekspor sampai ke Jepang dan Eropa. Di sana saya bertemu bapak Simpli salah seorang pemilik usaha penjualan batu. Beliau menjelaskan proses batu-batu di pantai ini bisa berwarna dan bentuknya yang pipih berdasarkan pengalamannya mendampingi peneliti batu dari Jepang selama enam bulan.
 
Batu-batu berwarna di Blue Stone Beach menjelang kota Ende
“Batu-batu yang di pantai ini adalah hasil dari proses alam seperti longsor, dihanyutkan sungai, terkikis gelombang, mengendap di laut, lalu di bawa ombak ke pinggir pantai selama ratusan tahun. Batu-batu di sini tidak akan habis karena proses itu berlangsung terus menerus” penjelasan pak Simpli atas pertanyaan saya tentang proses dan kelangsungan batu-batu di pantai ini. Setelah mengambil empat butir batu yang berbeda warna, kami melanjutkan perjalanan ke kota Ende, tujuan pertama adalah Rumah Pengasingan Bung Karno.
 
Rumah Pengasingan Bung Karno
Di rumah pengasingan itu kami disambut oleh bang Syarifuddin sebagai pemandu. Beliau menjelaskan informasi tentang rumah dan kegiatan bung Karno selama diasingkan. Hal yang menarik bagi saya adalah dua tongkat kayu yang biasa digunakan bung Karno tersimpan di sini, satunya berkepala monyet untuk menghina penjajah saat berkeliling kota dan satu yang polos untuk bertemu rakyat biasa, selain itu beberapa perabotan, lukisan, foto, dan naskah tonil (drama) karya bung karno juga tersimpan di sini.

Langkah selanjutnya adalah ke Taman Renungan Bung Karno sebagai pelengkap dari rumah pengasingan. Menurut sejarahnya di sinilah bung Karno sering menghabiskan waktunya dan merenung untuk merumuskan dasar Pancasila yang bertahan sampai saat ini. Patung bung Karno duduk tenang di atas kursi panjang seperti mengapung di permukaan kolam di tengah kota Ende. Wajah tenangnya menatap ke laut Ende dengan kaki dilipat penuh wibawa.
 
Taman Renungan Bung Karno
Entah perasaan apa yang datang setelah mengunjungi dua tempat bersejarah itu bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, rasanya begitu bangga dan lega dapat mengenang secuil sejarah dari bangsa ini. Pengasingan tidak dapat membunuh mimpi-mimpi besar dari seorang bapak bangsa ini. Mimpi-mimpi harus terus dipelihara sampai jadi kenyataan. Tabik!

Sabtu, 31 Oktober 2015. Kapal Wilis

Tulisan ini masih berlanjut dengan :
1. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian kedua
2. Perjalanan 1.000 kilometer:bagian terakhir

1 komentar:

  1. Flores selalu bikin kangen.
    Mengunjungi rumah bung karno di Ende, kita jadi tau sejarah perjuangan bu Inggit sama Pak Karno.

    BalasHapus