PERJALANAN 1.000 KILOMETER

Bagian Kedua: Sosok Hitam Bisu di Kelimutu


Setelah makan siang dengan nasi Padang dan minum es kelapa di tengah panasnya suhu kota Ende kami melanjutkan perjalanan ke danau Kelimutu. Sekitar setengah jam selepas kota Ende perjalanan harus terhenti karena penutupan jalan yang sedang diperbaiki sehabis longsor. Beruntung perjalanan hanya tertunda selama tujuh menit, karena tepat pada jam 3 penutup jalan dibuka.

Melintasi jalan menanjak-menurun yang berliku-liku sepanjang perjalanan ke Kelimutu mengingatkan saya pada jalanan di Sumatera yang hampir sama karakternya. Namun jalan di Flores menurut saya lebih berat karena tikungan tajam yang sangat banyak dan sedikit sekali jalan lurusnya. Jam 4 sore kami sampai di pos pendaftaran sebelum memasuki danau Kelimutu.
“Kita sudah hampir tutup, kalau mau naik, sebelum gelap sudah harus turun. Kalau malam di atas harus steril dari pengunjung” kata petugas tiket mengingatkan kami.


Setelah mendaki sekitar sepuluh menit dari area parkir, kami sampai di view point dua danau. Namun view point tiga danaulah yang lebih menarik. Beberapa ekor monyet mengawasi dan mengintai sebelum sampai di sana, karena bungkusan keripik pisang di tangan bang Sahal.

Sesampainya di lokasi view point tiga danau, saya mengamati Tiwu Ata Polo atau Danau Merah yang letaknya terpisah sendiri. Tampak jauh di bawah, warna airnya merah kehitaman, pohon-pohon menjulang tinggi di setengah bagian pinggirnya, serta kabut tipis menggantung di atasnya. Kesan suram muncul ketika mengamatinya lebih lama, danau ini dipercaya tempat bersemayam arwah yang ketika hidup di dunia tidak berlaku baik. 
Tiwu Ata Polo

Setelah itu saya menikmati Tiwu Nua Muri Koo Fai atau Danau Hijau di sisi Timur. Saat di sana warna yang kami lihat adalah hijau tosca, menggemaskan bagai melihat anak kecil yang baru tumbuh gigi tertawa. Danau Hijau ini diyakini menjadi tempat bersemayamnya arwah anak-anak kecil yang meninggal.
 
Tiwu Nua Muri Koo Fai
Cahaya matahari mulai kekuningan dan kami turun menuju view point dua danau. Dari sini Tiwu Ata Mbupu atau Danau Biru dapat dilihat dari dekat. Danau ini begitu tenang dan menenangkan, bagai melihat seorang biksu yang sedang bertapa. Sementara mata saya terpaku pada permukaan danau yang pada saat itu berwarna hijau tua, tubuh membisu diterpa angin sejuk. Syahdu.
 
Tiwu Ata Mbupu
Setelah itu saya mendaki ke sisi kanan danau, melewati plang dengan tulisan “landslip” dengan niat dalam hati mendapatkan sudut pandang lain untuk menikmati dua danau ini. Awal perjalanan terasa lancar melewati jalanan tanah bergunduk-gunduk. Saya mencari jalan pintas ketika turun. Melewati jalan berbatu yang cukup curam. Ketika sampai di pinggir jalan yang dituju, tebing yang memisahkan kami tingginya sekitar tiga meter. Tidak ada yang lebih rendah dan saya terjebak di bagian yang curam.

Keringat mulai keluar diiringi rasa panik. Bekas pohon yang patah saat saya tergelincir menciptakan teror tersendiri. Saya berbalik mendaki tebing yang berbatu. Pada suatu langkah, jantung berdetak lebih kencang dan keringat mengalir lebih deras. Tanah yang saya injak bergoyang dan secepatnya mencari tempat berpegang. Jika terjatuh, bisa saja kecelakaan fatal akan dialami. Saya menyesal melanggar peringatan yang sudah tertulis dan terpampang di sana.

Saya merasa tenang setelah dapat kembali ke jalan yang seharusnya. Di kejauhan, di ujung bukit antara Danau Biru dan Danau Hijau saya melihat sesosok hitam yang sedang duduk. Saya mecoba mengingat apakah melihatnya sebelumnya, namun tidak terlacak, lalu berpikir apakah ini hanya ilusi. Mata ditajamkan untuk melihat sosok diam yang bagai terserap menikmati suasana danau Kelimutu menjelang sore. Usaha untuk memastikan sosok hitam diam itu sia-sia karena jarak membentang di antara kami. Saya memelihara pikiran baik dan terus berjalan pulang.
 
View Point tiga danau
Jalanan menjelang pos Badan Taman  Nasional Kelimutu begitu lengang, suara binatang hutan mulai terdengar satu-satu. Kami berhenti di warung yang terletak persis di depan gerbang kantor BTNK dan memesan teh hangat dan Pop Mie sambil berbincang-bincang dengan beberapa petugas di sana.
“Nginap di mana mas malam ini?” tanya seorang petugas.
“Belum dapat penginapan, pak”
“Di desa Moni di bawah ini banyak itu penginapan”
“Iya, pak. Kalau di sini bisa numpang nginap, pak? Di Musholla misalnya”
Sejenak bapak petugas tadi tampak ragu menjawabnya.
“Sebulan yang lalu ada teman saya yang nginap di sini” lalu saya menyebutkan nama teman tersebut.
“Oh iya, mas. Di sini dingin lho, tidurnya di lantai saja, nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, pak. Kami bawa sleeping bag, kok”
“Kalau mas mau ke toilet, itu ada di belakang kantor”
“Terima kasih, pak” lalu saya dan bang Sahal berjalan ke Musholla setelah membayar teh dan mie yang masih dijual dengan harga wajar walau berada jauh dari pusat kota.

Saya dan bang Sahal menyembunyikan diri ke dalam sleeping bag masing-masing setelah menuntaskan sholat Isya. Musholla kantor BNTK ini cukup nyaman dan hangat hingga kami bisa tidur lelap setelah perjalanan yang melelahkan. Jam 4 subuh kami terbangun dan mulai bersiap melanjutkan perjalanan untuk menikmati sunrise di danau Kelimutu. Setelah menunaikan sholat Subuh dan merapikan musholla kami membeli tiket masuk lagi sebesar Rp 5.000,-/orang dan jumlah yang sama untuk karcis masuk motor. Di pintu masuk kami bertemu dengan Nino dan Francesco, teman bang Sahal selama LOB dari Lombok-Labuan Bajo dan memutuskan berjalan bersama.
 
View Point tiga danau dari kejauhan
Langit subuh itu dilapisi cahaya keemasan. Garis-garis merah halus memanjang datar di beberapa bagian. Kami mempercepat langkah.
The sun will coming. Hurry up!” kata Francesco
 “Do you want to run to the peak?
Yes, I do
Saya dan Francesco berlari mendaki meninggalkan Nino dan bang Sahal di belakang. Nafas berpacu di tengah dinginnya suasana danau Kelimutu. Di dekat tong sampah menjelang view point tiga gunung saya berhenti untuk beristirahat, sementara Francesco terus berlari ke atas. Dasar bule.

Sekitar enam orang pengunjung dan dua orang pedagang minuman hangat sudah sampai di view point tiga danau sebelum kami. Jam di tangah menunjukkan pukul 5 pagi.
“Mataharinya nanti keluar dari sana” kata seorang warga lokal sambil menunjuk ke balik Danau Hijau. “Pesan teh atau kopi dulu biar hangat” tawaran bapak itu selanjutnya. Saya dan bang Sahal memesan teh hangat dengan jahe segar yang langsung dimasukkan ke dalam teh.
 
Teh hangat dengan jahe
Segaris cahaya melengkung keemasan mucul perlahan di langit tepat di arah yang ditunjukkan si bapak tadi. Keluar perlahan dari balik kabut. Makin lama cahaya itu makin besar dan garis melengkung itu makin jelas membentuk lingkaran. Kamera berebutan mengabadikan keindahan lahirnya sumber cahaya ini. Sepasang turis mengambil foto saat berciuman dengan latar belakang langit yang penuh cahaya. Jam di tangan menunjukkan pukul 5.15 WITA.
 
Matahari pagi di atas Danau Kelimutu
Di view point ini kami bertemu dengan beberapa orang pengunjung lainnya, seperti Airis, solo traveler dari Filipina serta seorang pengunjung asal Sumba yang sudah lama tinggal di Kanada. Hampir semuanya memuji keindahan matahari terbit dari sini, seperti kata Airis “This is the best sunrise I ever seen”.
Setelahnya kami mengambil foto bersama sebelum berpisah.

Sebelum turun, kami menyempatkan lagi ke view point dua danau. sosok hitam duduk yang sebelumnya saya lihat masih ada di sana. Sosok tersebut adalah batang pohon mati. Danau Biru dan Danau Hijau masih tampak menawan seperti kemarin sore. Ketenangan dari warna dan permukaannya dapat memikat mata beberapa saat. Cukup berdiri saja di pagar pembatas tanpa harus melanggar peringatan yang sudah terpampang di sana. Keindahan alam tidak harus dinikmati dengan cara melanggar aturan. Suatu catatan untuk diri sendiri.

Jumat, 6 November 2015. Makassar

Tulisan ini adalah sambungan dari:
1. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian pertama

dan kelanjutannya

3. Perjalanan 1.000 kilometer: bagian terakhir

0 comments:

Posting Komentar