PERJALANAN 1000 KILOMETER

Bagian terakhir

Kelimut-Labuan Bajo

Seperti datangnya kesialan, keberuntungan datang dari jalan-jalan yang penuh misteri.


Kelimutu pagi itu tampak begitu segar. Udara yang dingin dan bersih, tetumbuhan hijau tumbuh rapat dan cahaya matahari yang mulai hangat. Semua keindahan harus ditinggalkan. Menjelang jam tujuh pagi saya dan bang Sahal mulai turun. Kami bergegas agar dapat sampai di KM 19 sebelum jalan itu ditutup untuk perbaikan.

Teh hangat dan jahe serta beberapa potong biskuit cukup sebagai sarapan. Setelah mengambil tas yang dititipkan di warung dekat gerbang masuk kami langsung meluncur ke Ende. Jalan penuh liku dan menurun itu terasa sepi. Motor dapat dipacu secepatnya. Jam di tangan menunjukkan pukul delapan. Bagian jalan yang ditutup masih jauh di depan.”Kalau nggak dapat ya gak apa-apa. Kita tunggu sampai jam 9 aja” kata bang Sahal dari belakang.
 
Gunung Inerie
Kabar yang kami terima jalan mulai ditutup jam 8 dan baru dibuka sejam berikutnya. Motor terus melaju dan sesekali berpapasan dengan kendaraan lain. Jam 08.15 kami sampai di bagian jalan yang ditutup. Seorang pekerja tampak berjalan membawa bambu panjang dan bersiap melintangkannya di jalan. Kami berjalan pelan melewatinya, ternyata kami adalah kendaraan terakhir yang diijinkan melintas. Beruntung.

Satu jam berikutnya kami sampai di kota Ende. Sop buntut seharga Rp 25.000,- seporsi menjadi pilihan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan selanjutnya ke desa Bena.  Sebelum sampai di Bena kami berhenti di panorama Manulalu untuk mengambil foto dan melihat keindahan gunung Inerie dan beberapa kampung adat yang kelihatan dari sana.
 
Panorama Manulalu
Panas terik jam 1 siang menyambut kami di kampung adat Bena. Saya menuliskan nama di buku pengunjung dan memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak yang tersedia di sana. Mama Anastasia yang pada hari itu bertugas menceritakan perihal kampung Bena dan kehidupan masyarakatnya. “Rumah baru itu” dia menunjuk rumah kayu di seberang pos pendaftaran “tahun depan akan diupacarakan. Puluhan babi dan kerbau akan dipotong untuk meresmikannya nanti”. Namun mama Anastasia belum tahu tanggal dan bulan pastinya upacara perayaannya.
 
Kampung Bena
Selain melihat kehidupan masyarakat di kampung Bena yang sudah akrab dengan modernisasi dan kemajuan teknologi, seperti penggunaan peralatan elektronik di dalam rumah dan anak-anak mudanya yang melanjutkan pendidikan ke kota-kota besar, saya menghitung banyaknya rahang babi dan tanduk kerbau yang dipasang di depan rumah. Rumah di ujung yang sejajar kapela memiliki 22 tanduk kerbau di dindingnya dan inilah yang terbanyak. Bisa dihitung berapa biaya upacaranya. “Kerbau biasanya dipakai untuk upacara seharga 17-25 juta/ekor dan babi 6-8 juta/ekor” kata mama Anastasia.
 
Kumpulan rahang babi yang dipotong untuk upacara peresmian rumah 

Kumpulan tanduk kerbau yang dipotong untuk upacara peresmian rumah

Setelah dari kampung Bena kami menuju ke Bajawa. Namun jalan yang diambil malah ke kampung lain yang berujung jalan buntu. Sekitar satu jam waktu terbuang karena tersasar. Jam 3 sore kami sampai di Bajawa dan mencari warung nasi Padang di dekat masjid. Setelah makan dan sholat, perjalanan dilanjutkan ke Ruteng yang seharusnya dapat ditempuh sekitar empat jam. Namun di Borong ban motor bocor. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Kami membayar biaya tambal hanya sebesar Rp 10.000,- padahal saya sempat mengira bakal dikasih harga dua kali lipat.

Sekitar 200 meter sebelum lampu merah pertama di kota Ruteng ban motor kembali bocor. Udara dingin seperti menidurkan lebih cepat kota ini. Jalanan sepi dan tidak ada lagi tambal ban yang buka padahal baru jam setengah sepuluh. Setelah mendorong sekitar satu kilometer kami berhenti di warung lalapan di dekat masjid dan memesan makanan. Harga makanan di warung ini membuat saya dan bang Sahal tersenyum kecut, seporsi nasi dan sepotong kecil ayam dihargai Rp 30.000. Masjid terdekat menjadi pilihan menginap. Beruntung sekali takmir masjidnya sangat ramah dan mengijinkan kami tidur di sana sampai esok paginya.

Sambil menunggu ban dalam motor diganti kami sarapan di Kopi Mane di belakang masjid. Menikmati sop buntut dan kopi arabica setempat yang baru saja mendapat juara 1 dalam festival kopi di Jogja beberapa waktu sebelumnya. Kopi nikmat ini diolah langsung oleh si pemilik kafe dengan menyediakan gula merah dan gula putih sebagai pemanisnya. Kopi seharga Rp 10.000,-/cangkir ini membuat pagi terasa lebih bersemangat.
 
Sawah hijau subur dengan latar belakang bukit kerontang di Lembor
Empat jam perjalanan Ruteng-Labuan Bajo menurut saya sangat unik. Sepanjang perjalanan saya merasakan perbedaan suhu dari satu tempat dengan tempat lain yang berdekatan. Misalnya daerah Lembor yang hijau dan bersuhu dingin akan sangat berbeda dengan daerah setelahnya yang kerontang dan panas. Padahal ketinggian dan kontur tanahnya tidak jauh berbeda. Jadi selama perjalanan akan melihat daerah yang hijau subur, lalu tiba-tiba masuk daerah yang kerontang berwarna kecoklatan.

Dalam perjalanan pulang saya tiba-tiba menghentikan motor di kampung Roe. Ada keramaian yang menarik di pinggir jalan. Keramaian itu adalah pertunjukkan tari Caci dalam rangka acara Ta’a nggolo atau mengikat kebersamaan sesama masyarakat kampung Roe. Sekitar 15 orang laki-laki berdiri melingkar dan berputar sambil bernyanyi bersama bersuka cita. Teko berisi sopi (arak khas Flores) diedarkan ke beberapa penari. “Biar tidak sakit saat kena cambuk nanti” kata seorang bapak di samping saya yang sempat menawarkan sopi.
 
Penari Caci yang berbahagia

Tari Cari salah satu pertunjukkan yang menarik di Flores di mana dua orang penari berlaga. Satu menyerang dan satu lagi menahan secara bergantian. Bagian tubuh yang boleh dipukul dari pinggang ke atas. Tidak jarang bekas pukulan cambuk meninggalkan goresan luka dari kulit yang terkelupas di punggung penari. Dapat melihat pertunjukkan tari Caci dengan cuma-cuma bagai suatu keberuntungan besar yang kami alami. Bahkan salah satu panitia menahan kami pulang setelah acara makan siang bersama. Konon mereka telah memotong kerbau untuk acara ini.
 
Perhatikan ujung cambuk yang tepat di pinggang penari sebelah kiri
Salah satu jejak cambuk di punggung salah seorang penari

Setelah berpamitan untuk pulang saya langsung menuju ke parkiran dan mendapati ban motor kembali kempes. Karena yakin ini hanya bocor halus, saya mencari tambal ban terdekat dan segera mengisi angin. Konsekuensi dari hal ini adalah setiap 15 menit sebelum sampai di Labuan Bajo kami harus mengisi angin. Total tiga kali mengisi angin hingga akhirnya sampai di Labuan Bajo jam 13.30. Jadwal keberangkatan kapal ke Makassar jam 14.30. Saya belum menyiapkan apapun. Fiuuuuhh..

Rabu, 18 November 2015. Makassar

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tulisan di bawah ini










4 komentar:

  1. Gila abang, naik motor untuk perjalanan sejauh itu.
    Dari 27 Oktober - 7 November saya sama teman juga overland Flores, bang. Cuma gag benar2 overland sih soalnya dari Bajawa ke Labuan Bajo-nya naik pesawat, takut pusing sama jalannya yang seakan gag pernah habis2 kelokannya.

    Salam
    Catur
    www.backpangineer.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, jalan-jalan di Flores itu sudah level tinggi tikungan-tikungannya, tapi kondisi jalan yang mulus dan sepi cukup menyenangkan. Selamat menikmati perjalannya.

      Hapus
  2. wow perjalanan naik motor saya terjauh rasanya ngga sampe 1000 kilometer sekali jalan. kalo narik gojek bisa dapet banyak tuh. *laaah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau jadi driver Go jek bisa beli motor baru ini mas. hehehhee

      Hapus