PERJALANAN KE MAKASSAR: BUKAN SEKADAR SINGGAH, TAPI TUJUAN


Setelah hampir 5 bulan tinggal di Labuan Bajo perjalanan kembali dilanjutkan. Rute perjalanan kembali ke awal, di mana sebelumnya berniat ingin melanjutkan ke Alor. Makassar adalah tujuan berikutnya. Tiket kapal Wilis yang akan membawa ke sana sudah didapat. Di tiket tertera jadwal keberangkatan jam 14.30. saya sampai di Labuan Bajo setelah perjalanan panjang ke Kelimutu jam 13.30.

Segala kesibukkan dan ketegangan berkumpul dalam pikiran dan tindakan. Pamitan dengan teman dan keluarga-keluarga baru di Bajo dilakukan dengan terburu-buru, sambil menyempatkan membeli kenangan buat Haji Radi, orang tua angkat selama di Labuan Bajo. Jam di tangan menunjukkan pukul 14.30.
 
Sunset di dermaga kayu Labuan Bajo
Kapal masuknya telat, kemungkinan jam setengah 4 baru masuk. Pesan dari bang Sahal setelah mengecek jadwal kedatangan kapal ke dermaga. Saya tinggalkan ponsel sambil dicas. Lalu berbaring di lantai. Dalam waktu singkat langsung tertidur.

Setengah jam berikutnya saya terbangun. Rasa capek di tubuh menguap. Setelah pamitan penuh emosional dengan Haji Radi, saya naik ojek ke pelabuhan. Di perjalanan bertemu Ovela dan Asti, dua orang teman di Bajo, dan menyempatkan diri minum kopi di kost mereka. Klakson kapal yang menggema mengakhiri acara minum kopi. Saya bergegas ke dermaga di antar mereka berdua.

Satu kejadian menegangkan terjadi. Bang Sahal yang saya kira sudah di kapal ternyata masih di Tourist Information Center. Tali-tali pengikat kapal ke dermaga sudah dilepas. Kapal mulai bergerak perlahan. Saya melihat bang Sahal di pintu masuk pelabuhan berlari dengan carrier besar dipunggungnya. Setelah sampai di dermaga, beliau hanya pasrah melihat kapal yang sudah menjauh dari dermaga. Beberapa orang berteriak dengan nada pesimis. Lalu beliau lari ke sisi dermaga lainnya diikuti beberapa orang. Satu kapal kayu yang baru bersandar mengantarkannya ke kapal Pelni di tengah laut. Melewati tangga tali, bang Sahal akhirnya sampai di kapal. Ketegangan ini berakhir saat cahaya matahari di Labuan Bajo merah keemasan melapisi permukaan laut.
 
Bang Sahal di atas kapal yang mengantarnya ke kapal Wilis (Pelni)
Di atas kapal, saya bertemu dengan Agus dan Rizki. Mereka berjalan sendiri juga, seperti saya dan bang Sahal. Keakraban terjadi dengan cepat. Cerita saling bertukar di antara kami, diselingi canda dan tawa. Jatah makan malam kami di kapal sudah tidak tersedia, karena batas pengambilannya jam 5 sore. Akhirnya kami berempat membeli nasi kotak di dapur kapal seharga Rp 15.000. Harganya sebanding dengan rasanya. Makan malam yang enak menjadi pengantar yang tepat untuk tidur nyenyak.

Menjelang subuh kapal bersandar di pelabuhan Bima. Air hangat yang tersedia di kapal membuat tubuh terasa segar setelah mandi. Saya turun ke dermaga dan menunggu pak Jay, keluarga sewaktu di Bima. “Kurus sekarang, ya” kesan pertama yang meluncur dari beliau. “Nggak, pak. Mungkin karena rambut yang makin gondrong, jadi kelihatan kurus”. Setelah bercerita beberapa hal, kami berpisah. Kapal bergerak ke tujuan berikutnya. Makassar.
 
Makassar, bukan sekadar singgah, tapi tujuan
Langit kemerahan menyelimuti Makassar. Matahari lahir secara perlahan dan menunjukkan cahaya kekuningan. Dari pengeras suara di kapal terdengar “Satu jam lagi kapal akan bersandar”. Saya, bang Sahal, Rizki, dan Agus berkemas dan menunggu kapal bersandar di luar dek. Dalam hati, Makassar bukanlah sebagai tempat singgah sebelum ke Ambon. Tapi, Makassar adalah tujuan untuk...


Selasa, 24 November 2015. Di atas Kapal Gunung Dempo








0 comments:

Posting Komentar