CATATAN BULAN KESEBELAS PERJALANAN: BERPINDAH


Bulan terakhir dalam tahun ini mulai merangkak. Sebentar lagi, ya, sebentar lagi tahun akan berganti. Begitupun perjalanan yang dimulai sejak awal tahun ini akan bisa diingat dengan satuan tahun. Tapi, bukanlah itu hakikatnya, karena hitungan hanyalah sebagai penanda, sedangkan nilai perjalanan jauh lebih berharga.

Sudah sebelas bulan hidup saya melakukan perjalanan ini, dan inilah kehidupan yang saya jalani sampai sekarang: berjalan dan terus berjalan. Rasanya saya masih seperti orang yang berkemas pakaian kemarin, lalu mulai perjalanan hari ini. Gamang.


Selama bulan November, saya telah berpindah dari Labuan Bajo ke Makassar, Makassar ke Ambon, Ambon ke Raja Ampat. Selalu ada perasaan yang berbeda setiap meninggalkan satu tempat. Misalnya, setelah lima bulan di Labuan Bajo, dan hidup nyaman, ada ketakutan baru yang muncul terhadap perjalanan selanjutnya, ada kenekatan yang menciut, serta ada keberanian yang hilang.

Semua ketakutan perlahan lenyap seiring jumlah hari tinggal di Makassar. Kota ini serasa mengembalikan saya kepada kehidupan selama kuliah di Semarang. Setelah beradaptasi dengan cepat, saya mulai menikmatinya, lalu ada semacam keinginan untuk bertahan lebih lama. Beruntung, tiket perjalanan ke Ambon sudah dipesan, yang memaksa untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Berpindah ke Ambon, dan menginap di rumah seorang teman. Semua kenyamanan kembali tersedia. Mulai dari jadwal makan rutin tiga kali sehari, sampai mencuci pakaian dengan mesin. Kehidupan normal kembali dinikmati. Perjalanan ini terasa seperti berpindah dari satu kenyamanan ke kenyamanan selanjutnya.
 
Sebelum berangkat ke Sorong
Perjalanan baru terasa berat saat sakit menimpa tubuh saya sejak awal meninggalkan Ambon. Panas tinggi itu masih terjadi saat sampai di Sorong. Bahkan puncaknya, adalah malam pertama di Raja Ampat. Panas tinggi ini masih mengekang  selama empat hari pertama di Raja Ampat. Tidur lebih banyak mengisi hari-hari. Perihal kenyamanan, semua yang saya dapatkan di tempat sebelumnya, tidak terjadi sini. Sedikit gambaran kehidupan di sini—sebelum saya ceritakan lebih jelas pada postingan berikutnya— adalah mandi dengan air payau, bertahan dari gigitan nyamuk dan agas, memasak makanan sendiri, serta berbelanja sendiri dengan harga yang lumayan tinggi.

Keadaan ini terasa lebih berat ketika dihadapi dengan tubuh yang sakit. Ketakutan lain datang, yaitu malaria. Suatu malam saya bercerita dengan Deva, tentang perjalanan masing-masing dan pandangan kami terhadapnya. Sampai pada satu kesimpulan: memiliki uang yang cukup dan rasa nyaman pada suatu tempat adalah sumber kelemahan terbesar dalam perjalanan.
 
Naik Becak pertama kalinya di Ambon
Sebelum tidur, saya merenungkan kesimpulan kami sebelumnya. Lima bulan di Labuan Bajo dan jumlah uang yang saya miliki saat itu membuat saya “lemah’ daripada sebelumnya. Hingga ketika mulai berpindah, saya harus membangkitkan lagi nyali yang pernah ada. Selain itu, saya juga menyadari ada tiga hal yang dibutuhkan untuk berpindah dan terus berpindah; mental, fisik, dan modal. Ketiga itu sedapat mungkin dalam level terkuat, paling tidak untuk dua hal pertama.


Rabu, 2 Desember 2015. Raja Ampat

8 komentar:

  1. Membaca ini, kalau Guri anak saya, saya akan berkomentar : :Pulang lah nak, ibu menantimu :)"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduuh. Uni. Perjalanan yang seperti inilah yang lebih mengesankan dan punyak banyak kisah yang menarik diceritakan.

      Hapus
  2. Jadi malam pertama di R4 menggigil ama siapa ??? Belah duren sambil sakit2 nikmat kah ??? #laludigampar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menggigil dalam pelukan sleeping bag mas. hahahaha. Hanya dia yang selalu setia memeluk .#eh.

      Hapus
  3. semoga sehat selalu ya dalam perjalanannya, amiin..paling susah kalau sakit jauh dari rumah dan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Terima kasih doanya mbak Intan. Kesehatan memang perlu sekali dijaga. Bukan hanya karena jauh dari rumah, tapi juga untuk mencegah agar tidak segera disuruh pulang ke rumah.

      Hapus
  4. nggak terasa sudah mau 1 tahun ya mas. semoga senantiasa dilancarkan perjalananya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, rasanya baru kemarin memulai perjalanan. Terima kasih mas Heri. Semoga perjalanannya juga selalu lancar.

      Hapus