PERJALANAN PERTAMA DI AMBON: MERIAH DAN ROMANTIS DARI KAFE SIBU-SIBU SAMPAI KONSER GLENN FREDLY


Sa su sampai kakak. Pesan singkat mengikuti gaya bahasa Ambon saya kirimkan ke Ahmad Hasanela yang menjemput saya di bandara Ambon. Ternyata beliau sudah menunggu di pintu kedatangan. Saya sampai di Ambon dalam keadaan lapar, karena makan terakhir adalah saat sarapan. Penerbangan ditunda selama hampir satu jam dan harus menunggu bagasi hampir satu jam juga, membuat lapar ini makin terasa. Ini adalah menunggu bagasi paling lama selama saya terbang.
Masjid Raya

“Nyong, langsung ke warung nasi Padang terdekat ya” pinta saya kepada Ahmad. Makan siang hari itu jam empat sore.

Awalnya saya mengira Ahmad langsung membawa ke rumahnya setelah makan, ternyata dia membawa ke pusat kota Ambon. “Kita langsung ke kafe Sibu-sibu yang uda tanyakan kemarin” Ahmad menjelaskan.
 
Suasana meriah di kafe Sibu-sibu
Matahari senja itu membilas langit dan permukaan laut dengan warna keemasan. Saya mendatangi kafe Sibu-sibu, lagi–lagi atas rekomendasi bang Aan Mansyur, penulis puisi di film Ada Apa Dengan Cinta 2 itu. Beliau menjelaskan keadaan kafe yang dindingnya dipenuhi foto-foto orang-orang berdarah Ambon atau Maluku yang terkenal di Indonesia maupun dunia, serta kopi Rarobang yang menjadi favoritnya karena keunikannya. Di dinding terpajang foto Broery, Venga Boys dan miss Universe asal Belanda dan banyak wajah lainnya memenuhi dinding kafe.

Saya memesan kopi Rarobang—sesuai rekomendasi dan khas warung ini. Kopi dengan daging buah kenari di dalamnya, ditemani susu putih dan gula yang terpisah untuk ditambahkan sesuai selera. Kenari menghadirkan rasa hangat di tenggorokan dan menyegarkan. Jika rasa kenari terasa begitu kuat, susu putih dapat ditambahkan untuk menguranginya. Selain saya dan Ahmad, ada tiga orang teman lainnya yang ikut duduk menikmati suasana dan kopi di sini. Malam yang hangat dan nikmat, dan saya sempatkan menuntaskan Catatan Bulan Kesembilan Perjalanan ini.
 
Kopi Rarobang
Hari berikutnya saya hanya bersantai di rumah Ahmad sambil menikmati Titik Nol. Teh hangat dan pisang bulu bebek disediakan mama Ahmad pada paginya. Suasana rumah secara maknanya sangat terasa, hangat dan menenangkan.
 “Malam ini ada konser Glenn Fredly di kota, uda mau ikut nonton?”
“Boleh, Nyong”
“Tapi, kok nonton kakak Glenn sama cowok ya?”
“#%$&***#”

Jam empat sore kami berangkat ke kota Ambon, menempuh perjalanan selama satu jam. Mampir di beberapa tempat dan mengecek jadwal kapal ke Sorong. Setelah menunaikan sholat Magrib di Masjid Raya kota Ambon yang megah, kami menuju ke tempat konser. Masyarakat Ambon dari berbagai usia sudah berkerumun di depan pintu masuk lapangan.
 
Tangan di ataaaassss...
Glenn menyanyikan terpesona dengan suara yang menggoda. Suaranya membuat Cintya—teman di sebelah saya—berteriak histeris. Semua penonton ikut bernyanyi. Tentu saja, nona-nona Ambon yang manis terlihat sangat menarik pada suasana itu. Beberapa pasangan terlihat mempererat pelukan mereka dan bertatapan sesekali. Suasana makin meriah dan romantis. Lalu, satu pikiran melesat ke masa depan. Menonton konser Glenn selanjutnya harus dengan perempuan yang dicinta, bukan dengan babang sigap Ahmad Hasanela. Fix!

Jumat, 15 Januari 2016. Gorontalo

2 komentar: