Hari terakhir saya di Ambon dimulai dengan tidak habisnya sarapan yang disediakan Ibu Ahmad. Semacam alarm dari tubuh yang mengatakan “tidak sedang dalam kondisi sehat”. Selama tiga hari berturut-turut sebelumnya, saya menderita diare. Sekarang, saya menemukan diri duduk di warung kopi di dekat pelabuhan Yos Sudarso dalam keadaan kembung dan lapar. Kopi hitam masih terisisa setengah  dan ketan masih teronggok di atas piring kecil. Saya tidak bersemangat menghabiskan keduanya. Keringat dingin membasahi tubuh. Dua jam lagi kapal Pelni yang saya tumpangi ke Sorong akan berangkat. Muthiah—teman ke Air Terjun Ureng sebelumnya—mengajak saya makan siang, di depan Masjid Raya Ambon.

Setelah makan siang dan membeli obat masuk angin, saya berangkat ke pelabuhan, diantarkan Muthiah. Ratusan, atau mungkin ribuan orang berkumpul merayakan kedatangan dan kepergian, sementara ratusan lainnya mengais rejeki di atas kedatangan dan kepergian itu. Di tangga turun, para kuli berseragam merah bercucur keringat membawakan barang penumpang, di tangga naik, mereka mengangkut barang berdesakkan dengan penumpang. Di tali yang mengikatkan kapal Gunung Dempo ke dermaga, seorang bocah bergelantungan. Sepasang tangannya begitu gesit menarik tubuhnya ke atas, kakinya bergantian menggamit tali yang sebesar betisnya. Dia bergerak lebih cepat dari teriakan petugas pelabuhan yang membentaknya turun. Tidak tampak rasa takut sama sekali. Di atas kapal nantinya, saya mengetahui alasan bocah ini nekat memanjat.
 
Bocah yang memanjat tali kapal
Sesampai di kapal, saya meletakkan barang di tangga antara dek empat dan lima. Di samping saya, seorang nenek dengan cucunya tidur di atas tikar plastik putih. Sementara penumpang lain terus-menerus melintas di depan kami. Saya menitipkan carrier kepada si nenek, lalu turun ke dek tiga dan dua untuk mencari ranjang kosong. Di depan pintu dek dua, seorang ABK menawarkan dan mengantarkan ke suatu ranjang kosong.
 “Terima kasih” saya sampaikan setelah meletakkan carrier di ranjang.
“Hmmm...bayar, mas. Uang rokok saja” katanya
“Kata petugas di atas, tidak ada lagi bayar-bayar di sini (kapal), termasuk ranjang ini, bang”
“Petugas yang mana?”
“Yang pakai baju putih, bang. Dia tadi yang menyuruh saya ke sini” 
“Hmmm..ya sudah lah”

Percakapan di atas seharusnya tidak terjadi jika; Pertama, saya merelakan hak saya sebagai penumpang dimanfaatkan oleh orang lain, lalu membayar untuk mendapatkannya kembali. Kedua, para ABK dengan sukarela membantu penumpang menemukan ranjang kosong. Ketiga, semua penumpang tidur dan meletakkan barang cukup di satu ranjang saja. Salah satu alasan penumpang kapal Pelni tidak mendapatkan ranjang adalah karena semua ranjang—tampak—penuh. Satu deretan yang harusnya diisi delapan orang, kadang hanya diisi lima sampai enam orang saja. Ranjang yang kosong diletakkan barang-barang. Saya tidak tahu apa alasan mereka mengambil lebih banyak dari apa yang seharusnya mereka terima.
 
Gunung Dempo, kapal Pelni terbesar yang pernah ditumpangi

Saat mengambil carrier di tempat si Nenek dan mengajaknya pindah ke dek dua. Tiba-tiba seorang bocah menegur saya, “Kakak yang ambil foto saya tadi ee”. Dia adalah bocah yang memanjat tali kapal. Tangannya menggenggam alasan dia memanjat: selembar tikar plastik putih bekas alas tidur penumpang yang sudah turun, akan dijualnya seharga sepuluh ribu kepada penumpang yang tidak mendapat ranjang. Si Nenek menolak ajakan saya untuk pindah ke dek dua. Dia tampaknya lebih nyaman tidur di atas lantai kayu beralas tikar plastik putih. Seperti tikar yang digenggam bocah pemanjat tadi.

Jam lima sore Gunung Dempo berangkat meninggalkan pelabuhan. Saya menemukan diri terkapar di atas ranjang bertingkat dua di dek dua. Kaos kaki masih terpasang, jaket denim membalut tubuh, kain tenun Ende melingkar di leher, AC di dek dua ini terasa sangat dingin. Demam tinggi mulai terasa menyerang. Banyaknya asap dari perokok yang tidak tahu bahaya merokok di ruang berAC dan tidak memiliki tenggang rasa melengkapi sakit yang saya rasakan. Sesekali saya keluar untuk menikmati udara bersih di kafetaria dan di musholla, walaupun harus melawan angin, menahan dingin.
 
Sunset di tengah perjalanan

Gunung Dempo melintasi laut yang diapit pulau-pulau kecil yang hijau lebat. Sesosok patung Yesus berwarna gelap menyambut di ujung pulau. Memasuki kepulauan Raja Ampat. Kapal bersandar di pelabuhan Sorong tepat pada tengah hari. Saya berdiri di dek lima bagian luar, melihat penumpang berebut turun dan para kuli angkut berpacu naik di dua tangga yang berbeda. Setelah semua kuli naik, seorang petugas pelabuhan di bantu seorang anggota TNI menutup jalan di ujung tangga. Ibu-ibu pedagang asongan berusaha menyelinap di antara tali pengaman tangga dan dibawah ketiak anggota TNI. Dua orang berhasil lolos, satu orang meronta-ronta, berusaha melepaskan bajunya yang ditarik ke belakang, beberapa lainnya masih berusaha menerobos lengan TNI di ujung tangga.

Dua orang ibu yang lolos telah berdiri di samping saya, mengulurkan tali ke temannya yang di bawah. Di ujung tali terikat keranjang biru bertangkai kuning, isinya berbagai macam makanan ringan, minuman, dan rokok. Saya lihat wajahnya begitu sumringah ketika keranjang itu sampai di tangannya. Dia menatap saya dengan tersenyum, sambil menawarkan dagangannya. Lalu bergegas ke dalam kapal, tubuhnya menghilang di balik pintu kayu. Dalam hati saya menyadari: hidup ini memang keras, tidak ada alasan untuk menyerah. Hanya ada satu kata: Lawan!
 
Usaha naik ke atas kapal
Selasa, 23 Februari 2016. Sumba


   
Pada hari ketiga di Ambon, kami yang awalnya berempat—Ahmad Hasanela, Ano, Andi, dan saya—terjebak di halte bus menuju bandara Pattimura. Kami tidak sedang menunggu bus, juga tidak sedang menunggu orang-orang yang ingin menunggu bus. Sepuluh menit sebelumnya, saya yang diboncengi Ahmad ditunggu oleh Ano dan Andi di sini.

Sepuluh menit di paragraf di atas, adalah terlambatnya kami sampai di tempat dan pada waktu yang telah ditentukan saat konser Glenn Fredly. Setelah sampai, kami berempat berbagi kesabaran dalam menunggu teman-teman yang lainnya. Datang dua orang, satu orang, dua orang, dan Satu Orang Terakhir. Satu Orang Terakhir datang dua jam dari waktu yang telah ditentukan. Kepada siapapun di dunia ini, saya yakin kamu akan mendapatkan jawaban sama jika ditanyakan Apakah hal yang paling membosankan?

Foto pertama

Dua jam ketika menunggu akan menjadi dua jam terlama dalam hidupmu. Secanggih apapun gadget di tangan dan sebagus apapun buku yang dibaca, saya yakin tidak akan mampu menghapus semua bosan yang bersemayam dalam dirimu. Ada tiga cara yang dapat kamu lakukan untuk menikmati waktu selama menunggu. Pertama, lakukanlah kegiatan yang dapat mengalihkan pikiranmu dari orang yang ditunggu. Membaca, memainkan gadget, atau berbincang-bincang dengan orang sekitar tentu lebih baik untuk otot lidahmu, dibandingkan dengan berbincang dengan teman atau follower di media sosialmu. Dengan itu kamu seolah-olah dapat terlihat tidak sedang menunggu. Kedua, kumpulkanlah segala rasa kesal, emosi, rindu atau sayangmu selama menunggu untuk ditumpahkan kepada orang yang ditunggu, saat ia datang nantinya. Ketika ia datang, kamu akan menikmati sensasi dari wajah mereka yang telah membuatmu menunggu begitu lama. Perihal menumpahkannya atau tidak, itu tetap pilihanmu, kecuali kamu orang yang suka basa-basi-busuk. Ketiga, menghilanglah dari tempat menunggu sebelum orang yang kamu tunggu sampai. Rentang waktu saat kamu menghilang dari waktu yang telah ditentukan dapat menunjukkan karaktermu sendiri. Misalnya, kamu menghilang pada menit-menit awal, akan menunjukkan sikap tegasmu terhadap komitmen dan tidak ingin menyianyiakan usiamu untuk keteledoran orang lain. Cara yang ketiga memang membutuhkan ketegaan perasaan, tapi saya rasa sangat dibutuhkan saat ini, di mana waktu yang telah ditentukan seringkali  dikaretkan.

Ketika matahari telah beridiri lurus di atas salib yang banyak terpancang di jalan menuju bandara, kami sampai di pantai Huluwa. Satu jam dari halte bus tempat menunggu Satu Orang Terakhir. Di pantai yang berpagar karang tajam ini kami menikmati makan siang. Kegiatan utama para pengunjung pantai ini adalah mengambil foto—selfie dengan latar belakang karang tajam atau lautan lepas. Tidak ada yang berenang karena dasar lautnya dalam dan gelombang kencang. Jika mencari ketenangan sambil menikmati desau angin dan deru ombak, bersantai di bawah pohon-pohon di dekat tebing adalah pilihan terbaiknya. Saya memilih kegiatan yang terakhir setelah mengambil beberapa foto.
 
Salah satu sisi pantai Huluwa
Selepas makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Air Terjun Ureng. “Dua jam lagi,” Ahmad mengatakan lamanya perjalanan ke sana “nikmati saja perjalanannya, Uda”. Cukup jauh. Di sepanjang perjalanan, di sisi kiri jalan, laut dengan buih putih terhampar rapih, di sisi kanan, bukit-bukit yang mulai kuning kecoklatan karena kemarau, di setiap perbatasan kampung, pos penjagaan TNI yang berdiri sejak tragedi kerusuhan antar agama di sini. Di tengah perjalanan, di sisi kiri, satu batu karang pipih berdiri, disebut mirip dengan layar kapal hingga terkenal dengan Batu Layar. Beberapa pengunjung menjadikannya latar belakang foto diri. Saya mengambil foto sambil lewat dari atas motor. Sebagai kenangan. Lumayan.
 
Ketika kita sering mengibarat-ibaratkan dan memirip-miripkan jadilah namanya Batu Layar
Saat kami sampai di pintu masuk Air Terjun Ureng, Adzan Ashar bergema dari masjid terdekat. Di jalan setapak menuju air terjun, kami berpapasan dengan tiga rombongan ABG. Setiap rombongan beranggotakan sepuluh hingga dua puluh orang. Pakaian dan rambut mereka basah, beberapa anak memegang alas kaki di tangan masing-masing. Saya merasa mereka membawa pesan untuk kami: bawalah handuk dan baju ganti agar tidak kedinginan setelah berenang, dan berhati-hatilah menuju air terjun, agar tidak terpeleset karena jalannya kecil, licin, dan berbatu.

Bulir-bulir air terjun dari tebing setinggi dua puluh meter dan sebagian lagi memilih menelusuri tebing batu dan menciptakan warna hitam mengkilat. Tebing batu itu bagai balok-balok batu yang disusun secara miring. Ujung balok-balok batu dapat menjadi pijakan, jika ingin memanjatnya. Inilah keunikan dari Air Terjun Ureng. Saya memanjatnya hingga batas keberanian, seperti yang di foto pertama.
 
Air Terjun Ureng
Perihal memanjat dan melompat, bagi saya itu adalah perayaan atas kemenangan melawan ketakutan pada ketinggian. Sudah begitu lama ketakutan mengikat diri dan membatasi langkah untuk mencoba hal-hal yang sebenarnya lumrah. Karena itu, ketika melompat di air terjun yang kedua--setinggi delapan meter--saya merasa melakukan perayaan kemenangan, untuk kedua kalinya pada hari itu. Saya tidak melakukan perayaan ketiga kalinya di air terjun yang ketiga. Karena air terjun yang ketiga bisa disebut sebagai air turun, karena mengalir di atas kemiringan batu setinggi satu setengah meter.
 
Melompat di Air Terjun Kedua
Air Terjun Ketiga Turun: Karena saya tidak hobi memegang tongsis, biarlah itu jadi bagian si Ahmad
Di Air Terjun Ureng, hitungan banyak pengunjung berbanding lurus dengan banyak sampah yang ditinggalkan juga berlaku. Tidak adanya tong sampah di lokasi air terjun janganlah dijadikan alasan untuk keadaan itu. Selain dari menyediakan tong sampah, perlu juga dilakukan pengelolaan untuk Air Terjun Ureng. Semisal menerapkan retribusi, memasang himbauan, dan menjaga kebersihan secara berkala. Aliran sungai dari Air Terjun Ureng melintasi pemukiman dan menjadi sumber air bersih bagi penduduk. Jika setiap minggunya pengunjung air terjun ini bisa sampai lima ratus orang, akan sangat banyak sampah yang menumpuk di hulu, lalu dihanyutkan ke hilir saat air besar nantinya. Langkah kecil seperti mengumpulkan dan membakar sampah plastik yang kami lakukan di sana, hanya sebatas mengatasi sampah pada hari itu, untuk hari-hari berikutnya kesadaran dalam setiap diri pengunjung adalah penanggung jawabnya.

Matahari baru saja menghilang saat kami sampai di parkiran. Langit keunguan  menjadi latar belakang tarian daun dan pelepah kelapa. Perahu-perahu nelayan berkerlap-kerlip di kejauhan. Kami memilih jalan pulang melalui pesisir pantai ke Utara. Artinya, kami mengelilingi setengah pulau Ambon hari itu. Sebelum ke rumah, kami berhenti di warung bakso untuk makan malam. Hari itu, 22 November 2015 saya makan bakso untuk kali pertama—atau kedua, saya lupa—dalam tahun ini. Entah karena sangat lapar atau baksonya enak, saya makan bakso dua mangkok, lebih banyak daripada teman-teman lainnya. Untung, Ahmad yang membayar semuanya. Asiiiik!
Tabik!

Minggu, 14 Februari 2016. Labuan Bajo


















Waktu terus saja berlalu tanpa mau menunggu. Adakalanya kita ingin waktu berjalan melambat, kadang ingin waktu berjalan lebih cepat, tapi itu hanyalan keinginan yang sia-sia saja. Walaupun menyadarinya, kadang saya masih terjebak di dalamnya,

Sudah memasuki bulan keempatbelas perjalanan saya. Artinya, saya--merasa--memiliki hutang untuk menulis catatan bulan ketigabelas perjalanan. Karena hutang harus dilunasi, maka tulisan yang sedang anda baca ini adalah usaha melunasi hutang yang saya buat untuk diri sendiri.


Mungkin, anda setuju, jika tanpa dicari-caripun, selama kita tetap berjalan, kita akan terus belajar dan berkembang. Melihat dan mengamati, berdiskusi dan mendengarkan, membaca dan berpikir adalah semacam sumber belajar yang selalu mengguyur diri selama perjalanan, seperti hujan. Berteduh bukanlah sebuah pilihan yang bisa diambil akal sehat. Begitulah perjalanan, setidaknya menurut saya, saat ini.

Beberapa minggu terakhir tidak ada postingan baru di blog ini. Karena saya malas sedang memikir ulang perjalanan dan tulisan-tulisan yang dihasilkan dari setiap langkahnya. Tentu saja, ini adalah alasan terburuk yang saya buat dan tuliskan di sini. Maafkan ya. Jangan ditiru!

Semenjak postingan ini, ke depannya akan banyak perubahan tentang cerita perjalanan saya-- ingin--keliling Indonesia yang sedang dijalani. Artikel Menari di Medan yang Riuh, beberapa artikel lain, obrolan santai dengan bang Aan Mansyur, Devanosa, dan Lutfi Penggowes menjadi bahan pertimbangan, dan perjalanan itu sendiri.

Catatan bulan ketigabelas perjalanan adalah catatan bulan pertama pada 2016 yang menjadi langkah baru untuk perjalanan saya. Jika setiap tahun kita selalu menikmati eforia resolusi tahun baru, saya tidak bisa mengelak terhadapnya.

Kadang perjalanan membuat saya merasa kembali menjadi anak kecil


Tabik!