CATATAN BULAN KETIGABELAS PERJALANAN: RESOLUSI #2



Waktu terus saja berlalu tanpa mau menunggu. Adakalanya kita ingin waktu berjalan melambat, kadang ingin waktu berjalan lebih cepat, tapi itu hanyalan keinginan yang sia-sia saja. Walaupun menyadarinya, kadang saya masih terjebak di dalamnya,

Sudah memasuki bulan keempatbelas perjalanan saya. Artinya, saya--merasa--memiliki hutang untuk menulis catatan bulan ketigabelas perjalanan. Karena hutang harus dilunasi, maka tulisan yang sedang anda baca ini adalah usaha melunasi hutang yang saya buat untuk diri sendiri.


Mungkin, anda setuju, jika tanpa dicari-caripun, selama kita tetap berjalan, kita akan terus belajar dan berkembang. Melihat dan mengamati, berdiskusi dan mendengarkan, membaca dan berpikir adalah semacam sumber belajar yang selalu mengguyur diri selama perjalanan, seperti hujan. Berteduh bukanlah sebuah pilihan yang bisa diambil akal sehat. Begitulah perjalanan, setidaknya menurut saya, saat ini.

Beberapa minggu terakhir tidak ada postingan baru di blog ini. Karena saya malas sedang memikir ulang perjalanan dan tulisan-tulisan yang dihasilkan dari setiap langkahnya. Tentu saja, ini adalah alasan terburuk yang saya buat dan tuliskan di sini. Maafkan ya. Jangan ditiru!

Semenjak postingan ini, ke depannya akan banyak perubahan tentang cerita perjalanan saya-- ingin--keliling Indonesia yang sedang dijalani. Artikel Menari di Medan yang Riuh, beberapa artikel lain, obrolan santai dengan bang Aan Mansyur, Devanosa, dan Lutfi Penggowes menjadi bahan pertimbangan, dan perjalanan itu sendiri.

Catatan bulan ketigabelas perjalanan adalah catatan bulan pertama pada 2016 yang menjadi langkah baru untuk perjalanan saya. Jika setiap tahun kita selalu menikmati eforia resolusi tahun baru, saya tidak bisa mengelak terhadapnya.

Kadang perjalanan membuat saya merasa kembali menjadi anak kecil


Tabik!

0 comments:

Posting Komentar