CATATAN BULAN KEEMPATBELAS PERJALANAN: FASE PERJALANAN


Sebelumnya saya hanya merasakan hal ini, belum terniat untuk menuliskannya. Tapi, satu pertanyaan dalam wawancara dengan seorang teman  mengharuskan saya untuk menuliskannya. Lewat tulisan ini saya bahas lebih banyak tentang hal itu.

Perjalanan bagi saya ibarat hubungan asmara atau pacaran. Ada fase-fase yang dilewati. Setiap fase memiliki cerita dan pengalaman yang berbeda. Berdasarkan pengalaman dan ingatan saya jelaskan semua fase di atas.
Danau Ranamese, Ruteng

1.   Menyadari. Menjadi fase pertama yang berisi alasan kenapa dan untuk apa harus berjalan. Apapun alasan dan tujuan dapat tercipta sesuai keadaan. Saya telah menuliskan dalam Kenapa Terus Berjalan dan Kenapa Masih Terus Berjalan alasan perjalanan ini.
2.   Memulai. Fase ini adalah saat bercampur-baurnya ketakutan, keberanian, dalam satu tekad saat mengambil langkah pertama. Dalam hubungan asmara ibarat melakukan pernyataan cinta pertama kali kepada orang yang disukai. Penuh ketegangan dan harapan.

3.   Puber. Layaknya hubungan asmara, fase ini adalah masa sedang hangat-hangatnya. Pikiran, perasaan, dan perkataan sepenuhnya mengenai perjalanan. Fase ini biasanya ditandai dengan mulai  melabeli diri dengan julukan traveller, backpacker, solo backpacker, mountainer, petualang, pejalan, dan sebagainya. Seperti mencantumkan nama pasangan dalam bio media sosial.
Menara di pantai Apparalang

4.   Eforia. Fase ini adalah saatnya ingin menunjukkan kepada orang lain tentang apa yang sudah dicapai dan dinikmati selama perjalanan. Kadang, lebih jauh lagi menjadi mengumbar-ngumbar kenikmatan perjalanan, dan membangga-banggakan kepada mereka yang tidak atau jarang melakukan perjalanan. Seperti saat mengenalkan pasangan kepada teman-teman, apalagi kepada teman yang jomblo. Saya jadi malu sendiri, ketika mengingat kejadian yang terjadi dalam fase ini.

5.   Gamang. Fase ini terjadi ketika masalah mulai menghampiri perjalanan. Hal-hal buruk terjadi di luar kendali. Menyesali masa lalu sudah tidak berguna, dan keraguan menghantui masa depan. Bagai baru menyadari sifat-sifat buruk dari pasangan. Pada fase ini mulai timbul keinginan untuk mengakhiri perjalanan. Kembali pada fase pertama adalah salah satu cara untuk terus bertahan.
Sunset di Sumba

6.   Putus Asa. Fase ini terjadi jika tidak mampu melewati fase gamang sebelumnya. Masalah semakin menumpuk, impian-impian semakin terasa sulit untuk digapai. Mengakhiri perjalanan menjadi pilihan. Ibarat pacaran, hanya satu kata yang ampuh pada saat ini: putus. Melewati fase ini, saya memilih berkeluh kesah kepada seseorang yang memahami perjalanan yang dilakukan ini sejak awal. Dalam pacaran ibarat curahan hati sepenuhnya. Karena itu dalam perjalanan panjang butuh seseorang untuk menumpahkan semua cerita atau keadaan.

7.   Selingkuh. Perjalanan juga bisa diselingkuhi ketika kesempatan datang. Misal, merasa nyaman di suatu tempat dan berhenti di sana, mengganti rute atau berbalik--biasanya ini terjadi karena masalah hati, bekerja dan menghabiskan waktu yang lama hanya di satu tempat, hingga tujuan-tujuan yang ingin dicapai terbengkalai. Dua hal terakhir pernah saya alami.

8.   Jenuh. Perjalanan suatu saat terasa membosankan. Dalam perjalanan panjang ini saya pernah mengalami kejenuhan. Di Ternate, saya lebih memilih berdiam di kamar dengan notebook daripada jalan-jalan di kota yang penuh sejarah itu. Bagai menolak diajak ketemuan oleh pasangan dalam pacaran.
Laguna Waekuri, Sumba

9.   Melepaskan. Fase ini adalah saat ingin melepaskan semua hal tentang perjalanan yang melekat pada diri. Bagaikan sudah yakin ingin putus dengan pasangan. Ingin melepaskan diri dari embel-embel traveller, backpacker, solo backpacker, adventurer, petualang, pejalan, dan segala macamnya. Lebih jauh lagi, dalam fase ini adalah menjauhkan diri dari segala hal yang berhubungan dengan perjalanan, seperti media sosial dan lingkungan pertemanan. Seperti menjauh dari mantan dan menghapus semua hal yang berhubungan dengannya. Saat ini saya mengalami hal yang pertama, sedangkan seorang teman seperjalanan saya mengalami hal yang lebih jauh lagi.

10. Memulai kembali, belajar memahami dan menikmati. Perjalanan yang masih dilanjutkan bagai dimulai kembali. Dalam pacaran ibarat balikan setelah putus. Terus belajar dan menikmati selama perjalanan berlangsung. Dalam fase ini, semua fase yang terjadi sebelumnya bisa terulang. Pengalamanlah yang menjadi pembeda saat fase-fase itu terulang.
Pantai Lailiang, Sumba

Semua fase yang ditulis di atas adalah fase yang pernah saya alami selama perjalanan sejak 1 Januari 2015. Saya yakin fase yang nomor 10 bukanlah fase terakhir. Akan ada fase nomor 11,12,13, dan seterusnya. Saya akan menambahkan fase-fase berikutnya jika sudah mengalaminya. Tunggu saja, jika  kamu memang setia.

Tabik!

Sabtu, 12 Maret 2016. Labuan Bajo

0 comments:

Posting Komentar