CATATAN BULAN KELIMABELAS PERJALANAN: MELAMPAUI BATAS DIRI



Dalam perjalanan, sangat penting mengetahui kapan memulai dan kapan berhenti. Tubuh dan pikiran butuh istirahat dari rutinitas kesibukan, maupun rutinitas kesenangan, seperti jalan-jalan. Agar tidak terkapar di perjalanan, apalagi terkapar di tanah surga. Kan sayang.
 
Pulau Padar
Perjalanan berlayar di gugusan pulau Komodo atau biasa dikenal live on board adalah perjalanan yang cukup melelahkan. Selama tiga hari dua malam kegiatan akan diisi dengan snorkeling dan trekking. Menikmati keindahan bawah laut yang menawan dan lanskap perbukitan yang indah. Capek dan puas, atau capek tapi puas. Tergantung kamu merasakannya.

Panas matahari yang menjamah kulit adalah hal yang tidak bisa dihindari. Di hari terakhir, kamu akan menyadari jejak cahaya matahari akan terbawa ke kota asalmu. Mungkin sebagai oleh-oleh untuk teman sekantormu, atau sebagai penanda kamu baru saja liburan.
 
Pulau Gusung yang bisa bikin gosong kalau berlama-lama di sini
Tiga hari dua malam berlayar, mulai dari pagi hari pertama selesai malam hari ketiga. Biasanya, hari pertama selesai berlayar adalah untuk beristirahat. Tapi, akhir bulan lalu, kebiasaan itu berubah. Pada tengah malam ketiga, perjalanan dilanjutkan ke Denge—desa terakhir sebelum Waerebo. Pagi hari berikutnya kami sampai setelah menempuh tujuh jam perjalanan dengan mobil dari Labuan Bajo. Setelah sarapan sederhana dengan nasi dan mie rebus telur di rumah pak Blasius, perjalanan dilanjutkan. Trekking selama dua setengah jam menuju Waerebo. Perjalanan baru sedang dimulai.
 
Menikmati matahari padi di Gili Lawa
Di Waerebo, setelah makan siang, saya langsung tertidur pulas hingga sore. Kombinasi capek dan kurang tidur pada malam sebelumnya membuat tidur saat itu begitu nikmat dan cepat terjadi. Esok paginya perjalanan turun dari Waerebo dan pulang ke Bajo. Trekking selama dua jam dilanjutkan perjalanan tujuh jam  dengan mobil. Perjalanan yang cukup panjang. Tapi belum selesai.

Terhitung dari pagi setelah pulang dari Waerebo, hingga lima hari berikutnya berturut-turut, saya kembali berlayar menemani dua rombongan yang melakukan pengambilan foto pre wedding di Pulau Padar dan Gili Lawa. Pengambilan foto jauh lebih lama dan lebih menguras tenaga dibandingkan menemani trip biasa.
 
Gili Lawa
Perjalanan yang panjang untuk pertama kali. Menguras banyak energi. Menguji kemampuan diri. Melampaui batas diri. Bagi saya, perjalanan panjang ini dimanfaatkan untuk keluar dari kebiasaan-kebiasaan, mencoba hal-hal baru, dan melawan ketakutan. Bukankah perjalanan dan pelajaran itu begitu dekat.


Kamis, 7 April 2016. Labuan Bajo

#Langkahjauhtrip







4 komentar:

  1. Jatuh hati ama LOB nya komodo ini, masakan abk kapal nya juara

    BalasHapus
  2. Ternyata bukan cuma kami yang bilang masakan ABKnya juara. Hahahahha

    BalasHapus
  3. Ternyata bukan cuma kami yang bilang masakan ABKnya juara. Hahahahha

    BalasHapus
  4. mas kok ga dilengkapi cerita bagaimana tinggal di raja ampatnya, apakah bayar homestay, biaya perjalanan ke pulau komodo, etc nya...
    seperti meloncat-loncat ceritanya :D

    BalasHapus