Dalam perjalanan, sepasang datang-pergi akan selalu dilalui. Begitulah setelah sebelas hari di Ternate saya harus pergi. Melanjutkan perjalanan ke Bitung, Sulawesi Utara. Perjalanan menggunakan kapal Ferry yang berangkat sore dan dijadwalkan sampai pagi. Tapi jadwal hanyalah sekadar jadwal. Kanyataan seringkali mengingkarinya.

Menurut jadwalnya, kapal akan berangkat pada jam lima sore. Dua jam sebelumnya saya sudah sampai di pelabuhan, diantar oleh Devanosa. Setelah berjalan bersama sejak dari Raja Ampat, akhirnya kami berpisah di Ternate. Jam empat sore saya masuk ke kapal tanpa ada pemeriksaan di gerbang dermaga. Di dalam kapal, saya menemui Chief atau wakil kapten kapal atas rekomendasi teman kuliah dulunya. Berkat pertemuan itulah perjalanan dari Ternate ke Bitung lancar dari segi biaya. Tapi biaya bukanlah satu-satunya yang membuat lancar perjalanan, bukan.
 
Sunset terakhir di Ternate
Selepas matahari tenggelam dan gelap mulai menyelimuti Ternate kapal baru meninggalkan dermaga. Di awal perjalanan saya menghabiskan nasi bungkus yang dibeli dari pedagang asongan sebelum kapal berangkat. Selepas mengobrol dengan beberapa penumpang di dek, saya kembali ke dek VIP yang dilengkapi pendingin ruangan dan ranjang bertingkat, serta kamar mandi. Saya memilih untuk tidur dan berharap pada saat bangun nanti sudah sampai di Bitung. Ternyata perjalanan dengan kapal Ferry dari Ternate ke Bitung tidak sesingkat tidur malam, seperti seharusnya terjadi.

Jam delapan pagi hari berikutnya, saya mendapati diri masih berada dalam kapal yang sedang diayun gelombang besar laut Maluku. Permukaan laut hilang dan tampak dari jendela kapal, berganti dengan langit kelabu yang menurunkan hujan. Dek kapal tergenang karena air hujan dan tempias gelombang yang menyelinap masuk. “Baru setengah jalan ini, mas” kata seorang kru kapal yang saya tanya kapan kapal ini akan sampai di Bitung “mungkin jam dua baru masuk Bitung”. Saya memesan teh manis hangat dan mengeluarkan roti dari dalam tas. Perjalanan panjang yang belum selesai ini membutuhkan sarapan sebelum menuntaskannya.
    
Gunung Gamalama dari jendela toilet kapal
Beberapa jam berikutnya gelombang besar masih setia mengiringi kapal yang saya tumpangi. Duduk di dek penumpang saya ditawari Cap tikus yang diminum serombongan penumpang untuk membunuh rasa bosan perjalanan. Saya lebih memilih membaca Titik Nol untuk membunuh rasa bosan. Jam dua siang kapal mulai masuk ke Selat Lembeh. Setengah jam berikutnya saya turun dan bertemu Rinto—teman sekontrakan waktu kuliah di Semarang—yang telah menunggu di pelabuhan Bitung.

Jam lapan pagi awak lah ka siko (pelabuhan) tadi” kata Rinto yang artinya jam delapan pagi dia sudah ke pelabuhan untuk menjemput. Cuaca buruk serta gelombang besarlah yang membuat perjalanan ini lebih panjang dari seharusnya. Dari jadwal yang seharusnya sampai jam delapan pagi, kenyataanya molor hingga jam setengah tiga sore. Tapi, kenyataan ini termasuk beruntung, karena pada musim angin barat kapal Ferry tidak bisa berlayar karena cuaca buruk yang dapat menyebabkan hal lebih buruk terjadi.
Monumen Trikora di pulau Lembeh dilihat dari selat Lembeh

Perjalanan laut di Indonesia dengan kapal Ferry kadang memiliki ketidak-pastian lebih besar daripada tranportasi darat. Ketidakpastian jadwal keberangkatan dan kedatangan, serta ketidak pastian berangkat atau tidak. Faktor alam (cuaca dan gelombang), teknis (kondisi kapal), dan ekonomis menjadi penyebabnya. Di beberapa tempat seperti di Labuan Bajo (NTT), Sape (Sumbawa), dan Waekabubak (Sumba) kapal Ferry seringkali tidak jalan karena faktor cuaca, khusunya Sape-Waekabubak atau sebaliknya. Beberapa kali saya alami kapal tidak jalan karena pertimbang ekonomis, yaitu sedikitnya jumlah kendaraan yang akan berangkat hingga tidak mampu menutupi biaya operasional. Karena itu kadang menyeberang dengan kapal Ferry bagaikan menyeberang dengan ketidak-pastian, khususnya di daerah timur Indonesia.

Labuan Bajo, 15 November 2016