Lima hal ini tidak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelum melakukan perjalanan. Saya hanya berjalan sendiri dan terus berjalan sejak 1 Januari 2015 hingga Juni 2016 dengan tujuan  ingin keliling Indonesia. Namun, sejatinya berjalan sendiri hanyalah sebagian kecil dari perjalanan panjang yang dilakukan, karena saya selalu mendapat kawan baru dalam perjalanan, dan di tempat yang dituju, jadi tidak benar-benar sendiri. Lalu, kenapa masih disebut perjalanan sendiri? Jawaban yang masuk akal adalah karena saya memulai perjalanan dengan sendiri, dan diakhiri sendiri.  

Jika kamu membaca blog ini sejak dari awal, kamu akan mengetahui perjalanan-perjalanan sendiri yang telah saya lakukan. Jika belum, kamu bisa membacanya setelah menuntaskan tulisan ini. Tulisan yang ditulis berdasarkan pengalaman dari perjalanan yang telah saya lakukan. Di bawah ini adalah beberapa hal yang baru saya sadari setelah melakukan solo traveling, saya sebut sebagai perjalanan sendiri.

1. Kejadian selama perjalanan berawal dari dalam pikiranmu sendiri

Berjalan sendiri tidaklah semenakutkan yang ada dalam pikiran banyak orang--saya tidak sempat memikirkan perjalanan ini menakutkan. Menurut saya, keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan sendiri itu sama dengan keamanan dan kenyamanan berjalan berdua, bertiga, atau berombongan. Misalnya, teman saya satu rombongan pernah membayar ongkos lebih mahal karena calo di terminal Ubung, Bali, dan teman yang berjalan sendiri pernah dipaksa untuk naik angkutan tertentu di tempat yang sama. Contoh lain satu rombongan wisatawan dari Jakarta kurang menikmati perjalanan sailing trip di Labuan Bajo, karena terjadi perselisihan di antara mereka. Seorang solo traveler susah berbaur dengan peserta sailing trip yang lain, karena itu dia lebih akrab dengan para kru kapal di tempat yang sama. Keamanan dan kenyamanan tidak tergantung pada jumlah orang saat berjalan. Karena kemananan dan kenyamanan tercipta dari pikiran dan perasaanmu saat berjalan.



Sejak awal memulai, saya selalu memelihara pikiran dan perasaan baik terhadap perjalanan yang akan dilakukan. Lebih tepatnya berpraduga baik untuk setiap keadaan yang akan dihadapi dan orang yang akan ditemui. Misalnya, saya yakin akan mendapatkan tumpangan yang tepat ketika hitchhiking. Alhamdulillah selama hitchhiking saya lebih sering dapat tumpangan mobil pribadi dibandingkan truk. Saya yakin akan bertemu orang yang tepat dan baik selama perjalanan. Seperti waktu di Aceh beberapa minggu yang lalu, saya memilih seorang sopir taksi setelah melewati puluhan sopir lain yang menawarkan jasanya. Okie tidak hanya menjadi sopir taksi yang membawa saya dari bandara ke Banda Aceh, tapi juga terasa sebagai guide yang sangat informatif, hingga dia menemani saya ngopi, makan malam, dan mencarikan hotel. Saya sangat yakin pikiran dan praduga baik yang dipelihara sejak awal perjalanan akan menjadi kenyataan pada akhirnya.

2. Perjalanan sendiri bagai duduk di meja rumah makan Padang

Berjalan sendiri itu ibarat kamu duduk di meja rumah makan Padang, piring-piring di depanmu menyajikan gairah perjalanan, kenekatan memulai, ketakutan dan keberanian menjalani kenyataan perjalanan, rasa kagum terhadap hal baru, orang-orang baru yang ditemui, dan tempat yang didatangi, kebebasan menentukan arah langkah, keterbukaan menerima perbedaan, kedewasaan menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan, kebimbangan dan kecanggungan, keakraban dan persaudaraan yang instan, ketabahan menghadapi musibah, ketahanan untuk terus berjalan, dan kedisiplinan untuk mengabadikan perjalanan  dalam gambar, video, serta catatan. Kamu bebas memilih menu yang tersedia dan hanya akan membayar sesuai yang kamu ambil.


Selama perjalanan panjang, salah satu ketakutan terbesar saya telah dihancurkan. Ketakutan pada ketinggian menghantui sejak menyadarinya pada 2007 yang lalu, pada saat mendaki gunung Marapi, di Sumatera Barat. Mendaki gunung Batur, Rinjani, dan Tambora adalah perperangan yang menumpasnya. Melompat di air terjun Benang Stokel di Lombok dan Cunca Wulang di Flores setinggi delapan meter menjadi perayaannya. Dua kali kehilangan dompet dan isinya tidak mengurangi keyakinan saya untuk melanjutkan perjalanan. Tanpa dompet dan kartu-kartu identitas saya bisa menggunakan seluruh transportasi, kecuali kereta api--karena memang tidak ada di Indonesia bagian Timur. Selama perjalanan bersendiri, saya telah memilih menu-menu yang tersedia, membayar semuanya, dan menikmati rasanya. Dari semua yang dipilih, ada beberapa yang ingin diulangi, sebagian lain ingin dikenang sebagai cerita saja, karena tidak semua hidangan itu sesuai dengan selera, bukan.


3. Magnet di tubuhmu menjadi lebih kuat saat berjalan sendiri

Hal yang membedakan saat berjalan sendiri dan berombongan adalah magnet dalam diri yang lebih kuat. Magnet yang membuat orang lain mendekat, bertanya, bercerita, dan memberikan bantuan. “Sendirian saja?” inilah pertanyaan yang paling sering diajukan, lalu menjadi awal percakapan. Magnet dalam diri itu akan membawa ke dalam perjalanan baru selanjutnya. Ke rumah-rumah masyarakat, ke perkumpulan-perkumpulan kegiatan, dan ke tempat-tempat yang tidak ada dalam rencana perjalanan sebelumnya. 


Ketika mencari tumpangan dari Bali ke Lombok, seorang pengendara motor memberikan motornya untuk dibawa ke Lombok, hingga ditawari menginap di rumahnya. Di Titik Nol Kilometer, Sabang, seorang guide lokal menghampiri saya dengan sapaan "Sendirian saja, bang?". Percakapan lalu mengalir dan esoknya dia menemani saya jalan-jalan di sekitar pulau Weh. Rombongan pejalanpun sering mengajak saya bergabung dengan mereka saat berjalan menuju suatu tempat. Berjalan sendiri tidak akan menjadi benar-benar sendiri karena magnet ditubuhmu akan menarik tubuh-tubuh lain untuk mendekat, dan kaupun tidak sendiri lagi.


4. Saat berjalan sendiri, sebenarnya kamu juga sedang berjalan ke dalam diri sendiri

Satu kemewahan yang didapatkan selama berjalan sendiri adalah kamu memiliki banyak waktu dengan dirimu sendiri. Di kursi bus yang menuju ke suatu kota, di atas sepeda motor yang meliuk-liuk mendaki bukit, di puncak gunung saat menikmati matahari terbit, di bibir pantai yang riuh saat matahari akan tenggelam, atau di atas kasur kamar hostel yang tenang menjelang kamu tidur, menjadi waktu terbaik untuk melihat ke dalam diri sendiri. Melihat apa saja yang telah diraih dan bagaimana dirimu meraihnya, merasakan perubahan-perubahan yang telah terjadi dalam dirimu dan kau tersenyum saat menyadarinya, mengagumi dan memuji diri atas tindakan-tindakan nekat dan gila yang pernah dilakukan, serta menikmati pemahaman-pemahaman baru dan sudut pandang baru dalam caramu melihat dunia.


Selama dan setelah perjalanan saya merasa lebih memahami diri sendiri daripada sebelumnya. Memahami kekuatan dan kelemahan yang tidak diketahui sebelumnya. Melihat lebih jelas jalan ke masa depan yang akan ditempuh. Dari perjalanan sendiri sekitar satu setengah tahun, saya bagai melihat diri dari berbagai macam cermin yang disebut pengalaman. Lalu berbenah dengan tujuan-tujuan baru dalam kehidupan.  

5. Semakin lama dan jauh berjalan, kamu akan semakin dekat dengan keluarga dan sahabat

Ribuan kilometer yang menjadi pemisah antara kamu dan keluargamu akan menumbuhkan kehangatan dan keakraban yang lebih dalam hubungan kalian. Pertemuan setelah perjalanan jauh akan tercipta dengan penuh haru dan suka cita.  Pelukan menjadi lebih erat, lebih lama, dan air mata akan mengiringinya. Berbagi cerita perjalanan ke mereka akan banyak menghiasi percakapanmu. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada tingginya antusiasme mereka terhadap cerita-ceritamu.


Ketika pertama kali pulang ke rumah setelah hampir dua tahun tidak pulang, Ibu menyambut saya turun dari mobil. Kami berpelukan dan saya merangkulnya berjalan ke rumah. Di teras rumah saya kembali memeluknya, lebih erat dan lebih lama. Kebahagiaan besar menyelimuti kami berdua. Saya memperhatikan dengan dekat detail wajah Ibu: garis-garis usia di ujung matanya, mendengar udara yang masuk dan keluar tergesa-gesa dari hidungnya, melihat gerak bibirnya yang selalu mendoakan saya setiap selesai sholat, dan mengamati tubuhnya yang tampak makin menua. Saat itu saya merasa harus berbuat lebih banyak untuk kebahagiaan beliau.


Labuan Bajo, 4 April 2017
  
P.S: Tulisan ini adalah penutup cerita perjalanan sendiri yang belum selesai dituliskan semuanya di blog ini. Kelanjutan dari cerita perjalanan setelah dari Perjalanan Bitung - Ternate akan dilanjutkan di buku yang sedang saya tulis. Tabik!