7 ALASAN YANG TEPAT UNTUK SOLO TRAVELING KE ACEH


Berjalanan sendirian ke suatu tempat kadang menjadi pilihan, kadang menjadi takdir yang harus dijalani. Ada banyak alasan untuk melakukan maupun tidak melakukannya. Ketakutan seringkali mengalahkan hasrat untuk melakukan perjalanan. Pada akhirnya kita menyalahkan keadaan, atau memilih untuk melawannya dengan memulai perjalanan.

Memiliki informasi yang cukup tentang tempat yang dituju, keadaan geografisnya, transportasi yang akan digunakan, memiliki kenalan, serta uang yang cukup dapat melahirkan keberanian untuk mengunjungi suatu tempat, walaupun sendirian. Karena ketakutan seringkali berasal dari ketidak-tahuan.
 
Foto wajib kalau ke Aceh, namun butuh usaha lebih untuk dapat foto ini, karena masih dalam pengerjaan pada waktu itu.

Solo Travelling ke Aceh beberapa waktu yang lalu mengingatkan saya pada perjalanan-perjalanan sendiri ke beberapa tempat di Indonesia bagian Timur sebelumnya. Perjalanan sendiri atau solo travelling ke Aceh terasa lebih mudah dibandingkan ke daerah lainnya. Di bawah ini adalah alasan-alasan yang dapat kamu jadikan untuk memulai perjalanan sendiri ke Aceh.

1. Kota Banda Aceh yang Tidak Begitu Luas

Kota paling ujung di pulau Sumatera ini hanya seluaas 23,63 km2. Pada umumnya objek wisata berada di pusat kota, seperti Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh, Museum Aceh, Taman Putrophang. Semua tempat di atas bisa ditempuh dengan berjalan kaki, menyewa sepeda motor, menumpang becak motor, atau menyewa mobil dalam satu hari perjalanan.

Saya memilih jalan kaki dalam mengunjungi semua tempat di atas. Masjid Raya Baiturrahman ke Museum Tsunami Aceh ditempuh dalam sepuluh menit, Museum Tsunami Aceh ke Taman Putrophang dan Taman Sari Gunongan dan Kandang ditempuh dalam lima belas menit, Taman Putrophang ke Museum Aceh juga ditempuh dalam lima belas menit jalan kaki. Jalan kaki adalah cara menikmati perjalanan yang baik untuk kesehatan tubuh dan kantong.
Taman Sari Gundongan yang terletak di sebelah Taman Putrophang dan Museum Tsunami Aceh

 2. Trotoar yang Nyaman dan Bersih

Semua tempat yang disebutkan di atas dihubungkan oleh jalan dengan trotoar yang nyaman. Ukurannya luas, kebersihan yang terjaga, dan pepohonan rindang yang tumbuh di sepanjang trotoar. Selama menelusuri trotoar di Banda Aceh, saya tidak pernah melihat sepeda motor yang naik ke trotoar, atau pedangang kaki lima yang mengambil jatah pejalan kaki.

Tidak ada rombongan pengamen atau orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan, seperti yang banyak ditemukan di kota-kota besar. Kamu akan merasa nyaman berjalan sendiri menyusuri trotoar di kota Banda Aceh. Trotoar benar-benar hanya untuk pejalan kaki, pada saat itu benar-benar hanya untuk saya sendiri.
 
Pohon-pohon yang rindang di sepanjang trotoar di kota Banda Aceh

3. Pelaku Wisata yang Sopan

Bagi saya, prilaku agresif seseorang akan membuat saya tidak nyaman dan menghindar. Misalnya seperti tawaran ojek dan mobil tumpangan di Probolinggo sewaktu ingin ke Bromo. Seorang tukang ojek berkali-kali menawarkan jasanya, mulai dari cara yang halus hingga seperti gertakan. Hal-hal yang hampir sama juga beberapa kali saya temukan di Bali, Lombok, dan beberapa tempat di pulau Jawa.

Hal di atas tidak saya temukan di Aceh. Sejak dari Bandara, sampai ke tempat-tempat wisatanya semua pelaku wisata berlaku wajar dan sopan. Tukang foto, pengemudi bentor, pemilik penginapan, serta pemandu wisata menawarkan jasa hanya sekali saja, tanpa ada unsur memaksa. Hal-hal seperti inilah yang menciptakan kenyamanan bagi para pejalan, khususnya mereka yang berjalan sendiri.
 
Petugas di gerbang hanya menghitung jumlah pengunjung dan memberikan senyum ramah

4. Tetap Murah Walaupun Sendiri

Ada tempat-tempat yang cocok dan kurang cocok jika dikunjungi sendiri, dari sisi biaya dan kenyamanan. Labuan Bajo, Raja Ampat, Togean adalah daerah-daerah yang kurang cocok untuk solo travelling. Perjalanan reguler yang setiap hari mengunjungi lokasi wisatanya belum banyak tersedia, khususnya di Togean dan Raja Ampat. Jika ingin menyewa kapal atau speed boat sendirian tentu akan mendapatkan harga tinggi. Keadaan ini sangat berbeda dengan kondisi di Aceh.

Pada umumnya masuk ke objek wisata di Banda Aceh gratis, seperti Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh, Museum Kapal PLTD Apung, Taman Putrophang, Museum Kapal di atas Rumah, dan beberapa tempat lainnya. Untuk mengunjunginya bisa dilakukan dengan naik bentor atau berjalan kaki yang lebih menghemat pengeluaran. Jadi walaupun datang sendiri ke Aceh, kantongmu tidak akan banyak.
Salah satu sisi Museum Tsunami Aceh

 5. Objek Wisata yang Cocok Dinikmati Sendiri

Ada tempat-tempat yang lebih menarik jika dikunjungi bersama, seperti pantai, air terjun, dan gunung. Di pantai dan air terjun kamu bisa tertawa lepas atau bergembira bersama teman-teman seperjalanan, di gunung kamu bisa saling bekerjasama atau menyemangati dengan teman sependakian. Tapi di museum dan tempat ibadah, akan lebih menarik jika dikunjungi sendiri. Kamu bisa lebih leluasa menikmati setiap sudut museum dan mengamati setiap kenangan yang disimpannya, atau berdiam diri dan merenung di tempat ibadah, tanpa diganggu atau diajak segera berpindah oleh teman seperjalanan.

Memasuki Museum Tsunami Aceh, sejak dari Lorong Tsunami, Sumur Do'a, serta melihat foto dan menonton video kejadian tsunami tahun 2004 akan lebih menyentuh perasaanmu. Kesendirian akan memberikanmu kebebasan untuk merasakan lebih jauh kisah sedih tsunami. Pikiran dan perasaanmu dapat lebih leluasa merasakan suasana yang ingin disampaikan oleh museum ini. Begitu juga saat mengunjungi Museum PLTD Apung, Museum Aceh, dan Museum Kapal di atas Rumah.
 
Ruangan Sumur Doa yang terdiri dari nama-nama korban tsunami.
6. Pilihan Kuliner yang Beragam

Satu kebebasan mutlak yang didapatkan saat berjalan sendiri adalah kebebasan menentukan pilihan, khususnya pilihan makanan. Kamu tidak harus beradu argumen ataupun mengalah dengan teman perjalananmu dalam memilih tempat makan atau jenis makanan. Apalagi di tempat yang memiliki banyak pilihan kuliner seperti Aceh. Jika kamu berjalan sendiri, maka sebebasnya kamu dapat memanjakan lidah dengan pilihan yang diinginkan.

Mie Aceh, nasi goreng Aceh, ayam tangkap, sop kambing, roti canai, sate matang dan sebagainya adalah kuliner yang dapat kamu nikmati selama di Aceh. Mie Aceh misalnya, ada tiga tempat yang terkenal yaitu, Mie Aceh Razali, Mie Aceh Bardi, dan Mie Aceh Ayah yang masing-masing memiliki keunikan rasa. Jika waktumu terbatas, mungkin tidak semua jenis makanan di atas dapat dinikmati. Karena itu kamu harus memilih, dan memilih penuh kebebasan adalah suatu kenikmatan.
Mie Razali, salah satu yang terkenal di Banda Aceh, meesti dicoba

 7. Kamu Sedang Sendiri atau Jomblo

Kesendirianmu adalah faktor terbaik dan pendukung terhebat untuk solo travelling ke Aceh. Kamu harus mensyukuri kesendirian itu. Selama perjalanan kamu akan tidur sendirian di kamar hotel. Ini adalah keadaan yang baik. Karena jika kamu datang ke Aceh dengan pacarmu, kalian tidak akan bisa tidur sekamar. Bagi pasangan, surat nikah atau salinannya adalah syarat mutlak untuk menyewa kamar hotel di Aceh.

Menurut kabarnya, jika hotel mengizinkan pasangan yang belum menikah menginap dalam satu kamar dan ketahuan, maka hotel itu akan ditutup berdasarkan peraturan daerah. Karena itu pihak hotel selalu meminta surat nikah pada pasangan yang ingin menginap. Beruntunglah kamu yang datang sendiri ataupun sedang sendiri.


Jika kamu laki-laki dan masih sendiri, maka datang ke Aceh mungkin dapat menjadi jalan baik untuk nasibmu. Perempuan-perempuan Aceh yang manis dan berhijab akan mudah kamu temukan di sana. Jika gadis berhijab menjadi perempuan idamanmu, datanglah ke Aceh. Semoga perjalanan membawa keberuntungan buatmu.

13 komentar:

  1. 15 thn ga menginjakkan kaki di aceh lagi :(.. Pengen kesana.. Tp msh blm kesampaian.. Aku beruntung sempet ninggalin banda aceh sebelum tsunami terjadi.. Sjk itu ga pernah lg ksana :(.. Kangen pgn k banda stlh baca ini. Walopun ga tau bakal ngerasa gmn kalo masuk ke museum tsunami nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentuk akan memiliki perasaan yang berbeda saat mengunjunginya nanti mbak. Saya yakin bentuk dan emosinya kota Banda Aceh akan berbeda dalam perasaanmu nanti mbak. Semoga bisa segera kembali ke Aceh. Tabik!

      Hapus
  2. kereennn uda hahahaa,,, gak ke sabang uda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Sabang, kok. Ada ceritanya nanti perjalanan ke Sabang. Tapi sudah disinggung dalam postingan sebelum ini. Silahkan dicek mbak Wulan.

      Hapus
  3. Duh makin banyak aja alasan buat ke aceh...dari dulu sampe sekarang masih stuck ke timur terus, padahal rencana awal ke ujung barat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alasannya ke Aceh kemarin juga kayak gitu mas. Ada keinginan kuat ke Barat karena kelamaan di Timur.

      Hapus
  4. pernah ke Banda Aceh dan suka dengan suasananya yang nyaman.
    dan yang bikin kangen selalu kopi solong dan mie kepiting razali itu lhooo..
    Yummy!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, suasananya itu memang nyaman dan makanannya enak. Jadi bikin pengen balik lagi ke Aceh.

      Hapus
  5. Terima kasih tipsnya, menarik
    tapi berhubung baru aja menikah sama orang Aceh, jadinya kalo traveling ke Aceh ga perlu sendiri. Hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. Anda beruntung sekali, mas.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Satu hal dari Aceh yang selalu menarik buat saya: kedai kopi. Nikmatin segelas atau dua gelas kopi aceh di kedai kopi pinggir jalan. Sendirian. Dengerin warga sana ngobrol pake bahasa setempat yang ga saya ngerti sama sekali. Seru itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. Kedai kopi di Aceh sangat khas dan sederhana. Belum seperti kedai kopi yang jadi terasa tinggi dan ekslusif seperti kebanyakan kedai kopi di kota-kota besar.

      Hapus