TENTANG HAK KITA UNTUK MERASA LEBIH HIDUP DARI BIASANYA

“Gimana rasanya jalan-jalan lagi, Da? pertanyaan yang disampaikan oleh seorang teman dekat, saat melihat saya sedang solo traveling ke Danau Toba. ‘Jalan-jalan’ yang dimaksud oleh teman ini adalah solo traveling yang sedang saya lakukan. Solo traveling atau perjalanan bersendiri telah menjadi kebiasaan saya, dan bagi sebagian teman tampak sebagai identitas saya dalam melakukan perjalanan. “Menyenangkan dan penuh kejutan. Gue merasa lebih hidup” jawab saya pada waktu itu.



Merasa lebih hidup, mungkin akan mengusik pikiran dan perasaan kita ketika mendengarnya. Lebih hidup yang bagaimana pada saat kita menjalani hidup ini. Apakah ada hidup yang lebih hidup atau kurang hidup. Apakah ada hidup yang mati atau setengah mati. Apakah ada yang cuma hidup, titik, tanpa penjelasan.

Ketika pertanyaan kapan kamu terakhir merasa lebih hidup saya lempar di Instagram, banyak sekali yang memberikan jawaban. Dari jawaban itu saya menarik kesimpulan bahwa memang ada hidup yang lebih hidup itu. Berikut ini adalah beberapa jawaban dari teman-teman di Instagram yang saya ubah redaksinya tanpa mengubah isinya.

Menurut @rebeccatjinkar perasaan lebih hidup itu “Pas bungee jumping, pas melawan arus di Alor saat menyelam, pas turbulence parah di pesawat. Detik-detik di mana ‘takut mati’, serta pada saat melihat orang yang dibantu tersenyum bahagia, di sanalah merasa lebih hidup.”

Bagi @elisabethhpurba “Ketika melakukan hal yang ditakuti dan tak terbayangkan sebelumnya, serta berani mencoba dan mengambil resiko” adalah saat dia merasa lebih hidup dari biasanya.

@Hafizhahinas malah merasa lebih hidup saat “Lebih banyak lepas dari HP-nya ketika jalan-jalan di Labuan Bajo. Di mana bisa lebih menikmati waktu tanpa harus selalu update di media sosial.”

Ada yang merasa lebih hidup ketika “Putus dari pacar sebelumnya, dunia baru serasa lahir” seperti pendapat dari @hengki_ph

“Ketika menjalani tempat-tempat baru. Hingga keliling dunia menjadi tujuan hidup” adalah jawaban dari @arindatjayendra

@Ruthambarita merasa lebih hidup “Ketika sadar telah membantu orang lain tanpa diminta, dan orang itu selamat dari masalah. Yakin Tuhan telah menggerakkan hatinya dan telah melakukan apa yang Dia mau”

Tanggapan menarik lainnya dari @Nekorashii yaitu “Ketika melakukan sesuatu yang baik terhadap alam, seperti mengurangi pemakaian plastik, tidak membuang-buang makanan, memakai listrik seperlunya, memilah sampah, dan lain-lain”

Jawaban lainnya bisa dilihat dalam POSTINGAN INI. 


Perasaan lebih hidup sepertinya bisa datang dari keadaan apa saja. Tidak selalu datang dari rasa senang dan bahagia, perasan lebih hidup bisa datang dari keadaan dekat dengan maut, saat lepas dari masalah atau menyelesaikan masalah, saat berbagi dan berbuat baik kepada orang lain, saat bertemu seseorang yang dirindukan, saat lepas dari seseorang yang mengikat, atau pada saat tercapainya tujuan-tujuan dalam kehidupan. Merasa lebih hidup bebas diartikan oleh siapapun, dan bisa dirasakan oleh semua orang.

Merasa lebih hidup sama dengan menjadi bahagia. Kita memiliki hak untuk merasakannya. Tidak ada perbedaan antara kamu dan dia yang terlihat lebih hidup dan bahagia di kenyataan, maupun di media sosial. Jika kamu merasa hidup masih ‘begini-begini saja’, mungkin kamu belum memanfaatkan hak yang dimiliki. Mungkin kamu belum tahu atau berani seperti mereka yang menggunakan hak untuk merasa lebih hidup dan menjadi bahagia dalam hidupnya.


Sebagai penutup tulisan ini, jawablah dua pertanyaan berikut. Apa keadaan yang membuatmu terasa lebih hidup? Dan kapan terakhir merasakannya?


Batusangkar, 6 November 2018

0 comments:

Posting Komentar